Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#86


__ADS_3

Devan duduk dengan tenang di samping Kian. Kini mereka duduk di kursi paling belakang, dengan penumpang yang tak seramai pagi tadi, bahkan masih banyak kursi kosong di sana. Begitu leluasa untuk memilih tempat duduk, namun kenapa harus duduk berdua seperti itu?


Devan menyandarkan punggungnya di kursi dan menutup kedua matanya seperti biasa. Tanpa berucap pada Kian. Ya, kebiasaan dingin yang tak pernah hilang.


Berbeda dengan Kian yang dilanda dengan kegelisahan. Menatap ke sekitar seperti ada yang mengganggunya. Namun semuanya nampak baik-baik saja, hanya dalam dirinya saja yang saat ini tidak baik-baik saja.


"Van..." Panggilnya lalu menoleh ke arah Devan yang ada di samping kanannya, " Lo tidur ya? huh." Tanyanya yang melihat Devan menutup mata dengan wajah tenang.


"Hn, kenapa?" Tanya Devan masih menutup mata, namun menggubris panggilan Kian, yang terdengar berbeda dari biasanya.


"Gue mau nanya boleh?" Tanya Kian sedikit ragu.


"Tanya aja. Kalo gue bisa jawab bakal gue jawab. Dan kalo gak, lo bisa tanya profesor Einstein nanti."


Kalimat itu sukses membuat Kian mendelik ke arah Devan, "Gue serius Van!"


"Iya, gue juga. Rata-rata pertanyaan dari cewek itu susah banget buat di jawab cowok. Salah lagi gue?"


"Huh... Van kalo ada seseorang yang nyatain perasaan ke lo tapi pake maksa itu maksudnya gimana ya?" Tanyanya dengan wajah lurus ke depan, memangku dua ikat sayur dan menggenggam erat ujung rok nya.


"Itu cuma perasaan ambisius dia doang bukan karena dia bener-bener tulus sama gue. Emang siapa yang nyatain perasaan ke elo?" Tanyanya santai, walaupun ada sesuatu yang berbeda di sana.


"Bukan gue. Tapi tadi gue lihat ada orang yang nyatain perasaan kayak gitu. Terus kalo dia udah nyatain perasaan ke elo, tapi beberapa saat kemudian, dia malah sama yang lain lagi. Itu gimana?"


"Lu polos apa emang oon sih? Nanya hal ginian. Ya jelas lah tuh orang playboy atau playgirl dan dia gak tulus sama gue, ngapain deket ama dia."


"Oh gitu ya. Terus kalo ada seseorang suka sama lo, tapi perlu pembuktian gimana? Dan lo kayak minta sesuatu dari dia, em... kayak...itu..." Kian menautkan dua jarinya, seolah ada sesuatu yang ingin ia jelaskan namun begitu sulit. Devan yang melihat pun langsung paham.


Pltak


Sentilan mendarat di dahi Kian, tapi tak terlalu kuat. Namun cukup membuat Kian meringis.


"Lo apa-apaan sih Van!"


"Lo tuh yang mikirnya aneh-aneh. Inget ya satu hal, kalo perasaan itu bener-bener tulus, dia suka dan sayang sama lo, dia gak akan pernah minta balasan apa pun atau pun nuntut lo kayak apa yang dia mau. Cukup lo bahagia, dia udah seneng banget. Karena perasaan bukan tentang lo jadi yang sempurna, melainkan kalian berdua bahagia dan bisa terima satu sama lain dengan kekurangan yang kalian punya. Bahkan titik tertinggi dari sebuah ketulusan adalah sebuah keikhlasan. Dan perasaan bukan tentang memanfaatkan sesautu selagi ada. Pembuktian perasaan itu sendiri hanya dengan memberikan tanpa meminta. Paham?! Emang siapa yang buat lo gitu, hn?" Tanyanya dengan mengangkat sebelah alisnya


"Gue kan udah bilang bukan gue. Lagian kok lo tau sih? Emang lo pernah pacaran Van?"


"Hmm... " Devan membuang nafas dalamnya. "Gue gak pernah pacaran. Tapi kalo masalah perasaan suka, gue laki laki normal. Yang tentu aja gue punya perasaan ke cewek."


"Wah... lo yang terkenal misterius juga pernah suka cewek. Siapa Van? Anak mana?"


"Kepo lu." Devan kembali menyandarkan punggungnya di kursi dan melipat dua tangannya, sedikit menyunggingkan senyum di sana tanpa Kian sadari.


"Hmm... gak asik lo." Ucap Kian sedikit cemberut.


"Lo mau tau dia?" Kian mengangguk, " Lo bakal tau dia kalo kita udah lulus nanti."


"Ha? Udah lulus? Nyatain perasaan aja lama lo. Bisa-bisa keduluan diambil orang nanti. Baru nangis lo. Lagian kenapa gak sekalian lo nikahin aja, kan udah lulus?" Celetuk Kian, membuat sunggingan di bibir tipis Devan tambah lebar.


"Gue gak pernah takut kalo dia di ambil orang lain. Kenyataanya paling cuma dua, yang pertama gue salah suka sama seseorang, dan yang kedua berarti dia bukan jodoh gue. Kalo dia mau sih juga gak apa-apa. Gue bakal lamar dan nikahin dia waktu itu juga." Enteng Devan.


"Wah.. Gercep juga lo. Jangan lupa undang gue juga ya." Senyum paksa itu tersinggung di bibir Kian.


"Tenang aja, lo bakal dapet posisi undangan spesial di sana." Ntah kenapa senyum itu tak kunjung luntur dari bibir Devan tanpa Kian sadari.


"Berarti gak bakal lama lagi dong. Terus gue bakal pergi sama siapa kalo gitu? Kalo gue masih juga jomblo, berarti gue bakal pergi sendiri kan?"


'Padahal gue juga gak tau nasib gue abis lulus. Moga aja pikiran ayah berubah, bolehin gue buat lanjutin sekolah. Dan moga lo bisa bahagia sama pilihan lo Van.'


"Hmm... Gue yakin nanti lo bakal pergi sama seseorang yang lo sayang dan tentunya tulus."


"Lo yakin? Gue aja gak yakin." Senyum kecut itu langsung terpancar di sana.


"Stt... Gue capek ngomong terus. Diem! Tuh mulut gak bisa di rem ya?"


"Gunanya mulut buat apa Van kalo gak buat ngomong. Oh ya nih sayuran lo bawa pulang aja ya." Kian meletakkan sayuran itu di pangkuan Devan.


"Kenapa gue? Buat lo aja." Serah Devan balik.


"Yang dikasih kan elo Devan. Kenapa malah gue...."

__ADS_1


"Percuma, gue gak bisa masak." Entengnya, memotong ucapan Kian.


"Serius lo? Jadi selama ini lo???"


"Gue cuma bisa masak telur ama nasi doang. Kalo masalah gituan, paling gue beli di warung depan."


"Oh, oke deh kalo gitu gue bakal masak buat lo sama Gio. Lagian masih ada materi yang belum selesai juga di sekolah tadi. Dan harus kita selsain di rumah." Semangatnya, kini wajahnya terlihat tak semuram tadi.


"Astaga... Gue capek belajar terus."


"Gak bisa. Lo tau kan lawan lo siapa? Bisa-bisa ntar lo...."


"Belajar itu bukan buat tandingan atau pun pembuktian kalo lo pinter gak nya. Lagian gak ada untungnya nunjukin hal kayak gitu." Sinisnya, yang lagi-lagi memotong ucapan Kian.


"Tapi kan lo sendiri yang nantangin dia Van. Kalo lo kalah gimana?"


"Makanya punya telinga tuh pake. Lo inget kan yang dia bilang waktu itu, "Oke! Kalo lo bisa, apa aja yang lo mau bakal gw lakuin." Iya kan? Lagian sebenarnya waktu itu gue juga gak niat-niat amat sampai sana sih. Cuma gue sering liat aja tu anak ngehakimin orang yang di bawah dia. Sombong orangnya. Jadi gue cuma ikut manas-manasin dia doang."


"Lah terus?"


"Berarti disini gue doang yang untung. Dia gak."


"Tapi..."


"Udah lo tenang aja."


Perdebatan itu berhenti, setelah Devan menepuk-nepuk kepala Kian lembut. Agar si mpu bisa diam dan tenang. Jujur saja ia memang sedikit lelah saat ini, dan harus istirahat.


__________


Ceklek


"Assalamulaikum." Seru Kian setelah pintu di buka oleh Devan.


"Waalaikumsalam, kak Kiannnnnn" Teriak seorang bocah dengan suara cempreng dari dalam rumah. Berlari keluar dan langsung masuk ke dalam pelukan Kian, hingga sayur itu Kian lempar ke wajah Devan secara tak sengaja.


"Gio, jangan lari-lari dek. Nanti jatoh" Kian yang berucap lembut seraya mengusap punggung bocah itu.


Tak lama ada seseorang yang juga menyambut kedatangan Kian di rumah itu. " Waalaikumsalam. Eh ternyata ada lo Ki. Pantes aja ribut tadi."


"Eh iya Mik. Lo masih ada juga disini?"


"Hm." Singkatnya, lalu duduk di sofa dengan santainya. "Udah nyaman gue disini Ki. Ngapain lagi gue pindah." Entengnya.


Puk


Mikko yang tadi nya bersantai di sofa, merentangkan kedua tangannya di kepala sofa dan menaikkan sebelah kakinya ke kaki satunya bak seorang bos. Malah sekarang terperanjat, sebab lemparan dari hoodie milik Devan yang tepat di wajahnya.


"Lo apasih Van!! Bau ogeb!!" Ucapnya kesal melempar hoodie itu ke samping.


"Biar lo sadar, dan tau diri." Ketus Devan.


"Eh gue tau diri ya! Gue ngepel, nyapu, cuci piring sama cuci baju juga. Dimana lagi lo dapet orang setau diri gue."


"Kok gue malah mikir lo cocok ya Mik." Seru Kian yang mendudukkan Gio di sofa sebelah Mikko.


"Cocok apa Ki? Jadi suami idaman kan?" Ucapnya sambil tersenyum dan mengangkat dua alisnya naik turun. Tersenyum penuh arti.


"Iya, cocok jadi pembantu!"


"Hahaha... Gue juga mikirnya gitu Mik."


"Aelah lo pada, jahat banget sama gue. Kalo gue pergi dari sini jangan ada yang narik tangan gue, terus mohon-mohon buat tinggal ya.!" Ancam Mikko.


"Kurangi tidur siang lo. Biar gak kebanyakan mimpi. Kalo lo mau pergi, noh pintu ama jendela terbuka lebar buat lo." Ketus Devan.


"Lo kasar banget sih Van. Gue cuma numpang juga... Dan gak bakal lama."


Keduanya masih saja berdebat hal tidak jelas itu. Membuat Kian yang mendengarnya pusing dan segera berteriak untuk mereka diam.


"Kak Kian baru beberapa menit aja disini udah sepusing itu. Apalagi Gio yang tiap hari harus hadapin dua kakak rempong itu. Pusing Gio kak, serasa punya mama dan papa Gio. Mereka cerewet lagi." Roceh Gio.

__ADS_1


"Hahaha... Masa sih Gi. Gak apa-apa, biar rumahnya ramai terus dan Gio gak kesepian. Oh ya Gio sama Mikko udah makan siang?"


"Udah Ki." Ucap Mikko enteng yang langsung saja dibalas plototan dari Devan. Membuatnya gelagapan, seolah tau jika skenario sebelumnya bukan seperti ini.


"Ouh." Cicit Kian.


"Tapi itu juga sama lauk sisa semalam Ki. Soalnya yang biasa belanja makan siang Devan. Tapi Devan aja baru pulang sekarang, yah dari pada laper mending kita makan itu aja." Sendu Mikko yang benar-benar seolah sedih.


Kian pun mengangguk, dan menawarkan diri untuk menyiapkan makan siang untuk mereka. Kian melepaskan tasnya, dan memakai celemek yang tergantung di dinding dapur.


Mulai bergulat dengan beberapa alat masak dan bahan-bahan dapur juga. Mikko yang dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu malah mendapat plototan dari Devan. Ia hanya berdecak dan kembali duduk.


"Iya... iya tau gak boleh." Cibirnya.


Kini Devan sudah berganti pakaian, bergabung dengan Mikko dan Gio yang berada di ruang tamu, duduk sambil asik sendiri. Begitu pun dengan dirinya.


Lima belas menit Kian berkutik sendiri di dapur menyiapkan makan siang untuk mereka dan dirinya juga, hingga akhirnya makanan itu selesai dan tersaji rapi di meja makan dapur.


"Gio, Mikko, Devan ayo makan. Ini gue udah selesai." Teriak Kian.


Dan tentu saja ketiga orang laki-laki itu langsung beranjak menuju dapur. Duduk di kursi masing-masing. Sementara Kian meletakkan piring di depan mereka, seperti seorang ibu yang meladeni ketiga orang anaknya yang hendak makan.


Rumah sederhana milik Devan itu hanya terdapat empat kursi makan. Dan pas untuk mereka berempat. Kian duduk bersebelahan dengan Gio dan berhadapan dengan Devan. Sedangkan Mikko berhadapan dengan Gio dan berada si samping Devan.


Walaupun rumah itu sederhana dan minimalis yang memiliki dua tingkatan namun isinya cukup lengkap. Ada ruang tamu yang langsung bersanding dengan ruang tv, dua kamar tidur, kamar mandi, dapur yang cukup luas. Dengan masing-masing ruangan memiliki perabotan yang amat lengkap. Tak lupa dengan pernak pernik penghias dalam rumah itu.


Kini mereka bersiap untuk menyantap makanan yang sudah ada di depan wajah masing-masing. Mikko dan Devan dengan tidak sabarnya hampir memakan makanan yang ada di piring. Cah kangkung, dan telur balado tak lupa dengan kerupuk bersanding disana. Menjadi menu makan siang mereka. Sederhana? Tentu saja.


"Devan! Mikko! Kalian udah dewasa! Beri contoh yang bener buat Gio!" Roceh Kian.


"Udah kok. Kita udah cuci tangan sama makan dengan tangan kanan juga Ki. Masih salah juga ya?" Tanya Mikko.


"Ish!! Iya lah. Berdoa dulu baru makan!!"


"Eh.. Iya ya. Maafin kak Mikko ya Gi, kak Mikko lupa. Yah walaupun udah makan tadi tetep aja keliatan selera ama nih makanan yang ada di depan." Ucapnya sambil cengengesan, namun malah kaki nya yang ada di bahwa meja mendapat sepakan dari seseorang, membuatnya langsung menoleh ke arah Devan dengan tatapan bingung.


"Hmm... udah ayo kita doa dulu." Ucap Kian, yang sudah menengadah kedua tangannya. Diikuti oleh kedua orang itu, namun Kian menatap dalam Mikko yang berbeda dari mereka.


"Mik, lo....?" Kian sedikit ragu untuk bertanya.


Mikko yang sadar langsung menatap ke arah pandangan Kian, yang ternyata menatap tangannya. "He.. he.. he.. Sorry Ki. Gue lupa bilang. Gue beda ama kalian. Gue non muslim. Gak apa-apa kan?"


"Ya gak lah Mik. Cuma gue rada kaget aja sama lo. Lo keliatan sama kayak kita. Maaf ya."


"Hahaha, santai aja kali. Gue bahkan sering dikatain kembaran Devan kalo di arena balap dulu. Emang kayaknya udah klop gitu sama Devan, lagian kita udah temenan lama banget. Jadi banyak yang ngira gue seagama sama Devan. Padahal gak." Mikko pun langsung mengeluarkan kalung yang tergantung dilehernya yang bermatakan salip itu.


"Gue salut sama kalian. Ya udah yuk lanjutin acara makannya."


Mereka berempat kembali berdoa, dengan tiga orang mengadahkan tangan dan yang satunya menggenggam tangannya. Memejamkan mata, sangat khusuk dalam berdoa. Yang kemudian melanjutkan makan.


Untuk pertama kalinya Kian bisa merasakan hangatnya rasa kekeluargaan. Ya, walaupun di sini tak ada ayah atau ibu, melainkan hanya mereka berempat tapi terlihat begitu harmonis. Dengan Mikko yang selalu saja mengundang canda dan tawa, mencairkan batu es disampingnya yang kemudian mendapat sahutan tawa dari Gio yang berada di samping Kian. Membuat Kian juga ikut tersenyum melihatnya.


Jujur saja sudah lama Kian tak merasakan makan bersama di satu meja dengan beberapa orang. Di rumah ia hanya makan sendiri, di sekolah? Paling hanya bersama Febbry dan Sarah itu pun saat mereka masih baik-baik saja.


Sungguh ini momen yang langka baginya. Makan bersama tiga orang laki-laki yang tak memiliki hubungan darah sama sekali dengan dirinya, namun bisa terasa begitu damai. Membuat Kian berhenti sebentar memperhatikan momen ini.


"Ki!! Jangan ngelamun aja. Ayo makan, ntar lauknya habis loh. Jujur masakan lo enak banget Ki. Sering sering masak ya Ki." Ucap Mikko yang dalam mulutnya penuh dengan makanan, lalu menyedokkan satu buah telur balado ke piring Kian. Kian membalas dengan tersenyum lembut dan mengangguk.


"Kebiasaan ih kak Mikko. Habisan dulu makannya baru ngomong." Protes Gio.


"Iya Gi, iya. Maafkan kakakmu yang ganteng ini ya."


.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2