Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#112


__ADS_3

Brakh!!


Pintu di buka dengan kasarnya, menampakkan seseorang dengan wajah marah, kesal, geram jadi satu. Masuk ke dalam sebuah ruangan yang megah, yang didalamnya terdapat dua orang dewasa yang sedang berbincang serius.


"Pa! Harus sampai kapan Jerry nunggu Kian?" Kesalnya dengan nafas memburu, menatap nyala salah satu orang dewasa yang sedang duduk di kursi kebangsaannya. Tak perduli di dalamnya ada siapa, yang ia perlu hanya bertemu dengan papanya.


Diam senyap beberapa saat, tak ada kata yang dikeluarkan baik dari papanya maupun orang lain yang ada di ruangan itu. Hanya menatap balik Jerry, dengan terheran. Wajah merah tertampak di sana, membuktikan kalau ia benar benar marah saat ini.


"Jerry, ada apa? Kenapa kau tiba tiba datang kemari dan marah-marah hm? Apa yang terjadi nak?" Tanya orang dewasa yang dipanggil pa itu. Yah, dia adalah Rio.


"Pa, Jerry capek liat Kian sama anak aneh itu terus. Jerry kan bilang, Jerry cuma mau Kian. Gak lebih, Jerry gak perduli sama uang dan harta yang ada di antara papa sama om Bram!!" Bentaknya, yang masih belum sadar dengan orang lain itu.


Rio mengangkat sebelah alisnya, menatap Bram yang sedang duduk di sofa panjang miliknya. "Kau lihat Bram, aku sudah bilang. Kau tau bagaimana anakku ini, jika ingin sesuatu. Bagaimana kau meyakinkannya?" Tanya Rio, seolah meminta pertanggung jawaban pada Bram. Jerry menoleh, dan ternyata ada orang lain di ruangan itu yang baru ia sadari adalah Bram sendiri.


Bram benar benar merasa tersudut dan pusing dengan keadaan, "Jerry, om minta pengertiannya. Om janji setelah lima bulan Kian akan menjadi milikmu."


"Apa? Lima bulan om? Hahaha... Apa om bercanda?"


"Tenanglah, karna hal itu takkan sampai lima bulan Kian akan kembali ke rumah dan menikah denganmu."


"Tidak om. Jerry mau secepatnya, dan Jerry gak bakal nunggu selama itu."


"Iya Jerry, iya. Om akan usahakan. Lagipula waktu segitu itu gak akan cukup untuk Kian."


"Jerry gak perduli itu cukup atau gak om!! Om harus buat Kian cepat nyerah atau Jerry sendiri yang akan ambil paksa Kian dan om akan kehilangan segalanya!. Dan satu lagi, om bukan akan usahakan tapi harus usahakan itu!!!" Jerry menatap tajam Bram, dan mengepal kedua tangannya.


Bram hanya bisa mengangguk cepat, mengiyakan apa yang dikatakan Jerry atau semua yang ia usahakan hanya akan tinggal sia sia. Ia terlalu takut untuk kehilangan itu.


Brakh!!


Jerry pergi setelah mengucapkan kalimat berupa ancaman itu, dan kembali menggeleparkan pintu dengan kuatnya. Menyisakan dua orang di dalam ruangan. Yang satu menyunggingkan senyum seolah menang, dan yang satunya lagi hampir mati ketakutan.


__________


Sore ini Kian pulang seperti bisanya, melakukan kegiatan seperti biasa juga. Seperti membersihkan rumah, mandi, melaksanakan kewajibannya, dan masih banyak kegiatan rutin lainnya.


Jam menunjukkan pukul delapan malam, Kian udah belajar setengah buku dari catatannya. Saat tengah asik belajar, tiba tiba tenggorokan nya terasa begitu kering. Ia lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum namun..


"Yah, airnya pake habis segala lagi. Em, masak aja dulu."


Kian memutar keran yang ada di bak mandi. Mengadahkan satu panci di bawahnya. Setelah oanci itu terisi setengahnya, ia langsung meletakkan dibatas kompor.


Kltak


Kltak


Kltak


Beberapa kali ia memutar knop kompor, namun tak juga menyala. Dilihatnya amper yang berada di regulator gas menunjukkan angka merah.


"Astagfirullah hal'adzim, gas nya juga ternyata habis. Hm.. uang udah hampir habis, gajian belum. Mudah mudah besok udah dapet gaji." Kian termenung sejenak, "Apa minta sama kak Nari aja ya? Ngerepotin gak ya?"


Kian melangkah keluar, mengetuk pintu tetangganya itu beberapa kali. Namun tak juga ada jawaban. Kian memutar knop pintu itu, dan ternyata langsung terbuka. Rupanya rumah itu tak dikunci sama sekali.


"Assalamualaikum, kak Nari??" Panggil Kian, yang masih saja tak ada jawaban.


"Kak Nari, Kian masuk ya. Kian mau minta air minum. Air minum sama gas Kian di rumah habis, jadi Kian gak bisa masak air." Ucapnya setengah berteriak saat melangkah masuk, sambil mencari dimana keberadaan Nari. Tidak mungkin Nari tidak di rumah dengan keadaan pintu yang tidak di kunci.


Tak lama terdengar isakan tangis dari dalam kamar. Kian langsung melangkah ke sana, membuka pintu kamar yang juga tak di kunci oleh si mpu.


Terlihat seseorang yang memunggungi dirinya, masih terisak dalam tangisnya. Tisu berserakan dimana mana, keadaan kamar pun sangat berantakan. Bantal dan selimut yang harusnya ada di atas tempat tidur malah tergeletak berantakan di lantai.


Baju kotor tak lagi di dalam keranjang, alat rias itu tak lagi tertata rapi di meja rias, bahkan lampu malam yang ada di nakas sekarang malah tergeletak dengan keadaan mengenaskan di lantai.


Kian mendekati Nari yang masih tersedu itu, "Kak Nari..?" Panggil Kian, membuat si mpu menoleh dan segera menghapus air mata yang baru saja keluar dari pelupuk matanya.


"Ki.. Kian? Kenapa lo disini? Lo perlu sesuatu?" Suaranya masih terdengar parau, bergetar dan khas sekali orang habis menangis.

__ADS_1


"Kakak kenapa?" Kian begitu khawatir, setelah melihat wajah yang mengenaskan itu.


"Gue gak apa apa Ki. Hiks... Hiks."


"Gak apa apa gimana, kakak sampai nangis gini."


Deru tangisan itu semakin kuat, ketika Kian memeluk Nari. Sesekali ia menghentikan tangisan itu, namun nyatanya begitu sulit. Hingga tangisan itu berlangsung cukup lama. Kian terus memeluk Nari, sambil mengusap usap punggungnya, agar Nari lebih tenang.


"Dia jahat Ki! Dia nolongin gue! Gue benci dia!! Akhhh!!! Laki laki *******!!!" Yang masih disertai tangisan.


"Dia siapa kak?" Tanya Kian, pelukan itu renggang menampakkan wajah Nari yang begitu sembab.


"Pacar gue Ki! Orang yang gue sayang, paling gue percaya, dan selalu gue dukung apapun yang dia mau. Tapi, selama gue pacaran sama dia, gue gak pernah nurutin kemauan dia buat ngelakuin hal lebih. Sampai beberapa hari lalu, gue gak tau kenapa tiba tiba dia bilang dia mau nikahin gue. Gue udah seneng banget, tanpa tau alasan dari dadakannya dia ngomong gitu. Tapi hari ini, semua yang dia omongin beberapa hari lalu itu cuma lelucon. Dia khianatin gue. Dia jalan sama cewek lain dengan mesranya. Padahal sebelum itu, dia kirim pesan ke gue kalo dia sibuk Ki....." Nari terus meroceh, menceritakan alasan ia menangis sampai sesakit itu pada Kian. Kian duduk masih merengkuh bahu itu sambil mendengarkan semua cerita Nari sampai selesai.


"Kian turut sedih kak. Tapi harusnya kakak juga bersyukur. Karna kakak dijauhin dari laki laki yang omongannya aja gak bisa di pegang. Setidaknya walaupun sakit sekarang itu lebih baik daripada sakit kalo kakak sama pacar kakak udah nikah nanti."


"Lo bener Ki. Tapi gue kecewa banget. Di depan mata gue, gue liat dia asik banget ciuman ama tuh perempuan. Kayak gak ngerasa bersalah banget sama omongan dan perlakuan serta status dia selama ini sama gue. Gue tau selama lima tahun gue pacaran sama dia, dia sering minta tapi gue gak pernah kasih."


"Kakak sama dia udah pacaran selama itu? Tapi apa yang kakak lakuin itu udah bener. Kakak tetep jaga diri kakak saat dalam kondisi pacaran. Kian yakin dalam kurun waktu selama itu, pasti banyak kejadian yang bakal jadi sebuah kenangan. Tapi kak, Kian juga yakin kalo kakak gak mungkin mau punya pasangan kayak gitu. Kian percaya suara hari nanti, sakitnya kakak sekarang akan digantikan yang lebih baik. Semangat ya, jangan sedih."


"Makasih Ki. Karna lo mau dukung gue, denger semua keluh kesah gue."


"Iya sama sama, ini kalo Devan tau pasti tuh cowok bakal di bogem habis habisan sama dia."


"Gue percaya itu, karna gue tau Devan kayak apa. Dia paling gak bisa liat cewek disakitin sama laki laki. Tapi gue mohon, jangan lo kasih tau dia ya Ki."


Kian mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan Nari. Sedikit ada rasa mengganjal dalam hatinya ketika ia tau Nari lebih banyak tau tentang Devan. Seolah Devan dan dia tak hanya teman, melainkan ada hal lain. Namun semua itu ia tutup dalam dalam, ia sendiri tak tau kenapa hatinya begitu iri dengan hal itu.


Malam yang semakin larut, membuat Kian kembali ke kontrakannya. Ia juga tak jadi meminta air minum pada Nari. Ntah lah rasa itu hilang begitu saja, rasa haus yang begitu teramat tadinya. Ia merutuki dirinya sendiri yang tak tau apa apa tentang keadaan Nari saat itu. Namun ada rasa sedikit lega juga ketika melihat Nari tidak apa apa, sebab seharian ini setelah pulang kerja ia memang tak melihat Nari dan pintu tumahnya juga tertutup rapat. Tak mau mengganggu, Kian hanya diam di rumah.


Mengingat keadaan kamar yang luar biasa itu, Kian sempat memeriksa telinganya. Bagaimana bisa kelar berantakan itu tak terdengar sedikit pun olehnya. Padahal mereka bersampingan. Namun ternyata, kamar Nari merupakan kamar kedap suara. Kebiasaannya yang sering mendengarkan lagu dengan keras, takut membuat para tetangganya terganggu, hingga ia mendekor kamarnya sedemikian rupa.


_______________


Hari ini, hari terakhir ujian. Kian yang sedikit merasa terganggu dan tidak fokus belajar semalam, membuatnya sedikit kesulitan mengerjakan ujian pagi ini. Namun dengan semua kemampuannya akhirnya ia bisa menyelesaikan semua soal dengan tepat waktu.


"Kiannnnnnn..." Teriak seseorang ketika Kian baru saja keluar dari ruang ujiannya.


Ia memeluk Kian dengan semangatnya, membuat Kian merasa sesak dan menampar nampak tangan yang sudah melingkar di lehernya itu.


"Feb, lepas!! Lo mau buat gue mati sesak ya?!."


"Hehehe... Maaf Ki. Gak usah ngambek atuh, ntar cantiknya ilang." Goda Febbry sambil mencolek dagu Kian yang sudah memasang wajah cemebrutnya.


Plak!


"Gak usah genit napa nih tangan. Lagian kenapa sih? Happy banget, lancar ya?"


"Lancar banget Ki. Bahkan saking lancarnya, soal matematika hari ini gue ngitungin kancing baju. Keren gak gue. Iya lah pasti. Hahaha, Febbry gitu loh." Sombongnya


"Astagfirullah, heh Feb, ini tuh ujian loh bukan latihan atau ulangan biasa. Ujian gak ada kata ulang loh. Gak rugi lo?!"


"Yah, mau gimana lagi Ki. Masa si Doni berlayar kesana sini, gue yang harus ngitung muatan dan banyak bahan bakar yang dia pake sih! Terus juga masa gue yang harus ngitung besar sudut beloknya dia waktu pindah haluan. Belum lagi si Anto sama Toni yang mau nyuri mangga, gue yang harus ngitung berapa ketepatan sasarannya, dari jarak pohon mangga sama mereka yang ada di mercusuar. Kenapa gak suruh mereka sendirik aja yang ngitung. Lagian kalo mangganya udah dapet, belum tentu mau bagi gue juga." Febbry yang sedari tadi bersungut sungut.


"Namanya juga soal Feb. Kalo gak gitu, terus lo mau ngitung apa?"


"Ya setidaknya yang mudahan dikit lah. Ah udah ah. Gue jadi badmood lagi gara gara lo. Padahal harusnya gue seneng karna hari ini ujian kita udah selesai. Gak bakal lagi gue capek capek belajar sampe begadang."


"Gak yakin gue lo begadang." Cibir Kian


"Yakinin aja Ki. Lagian gue bener bener begadang kok. Tapi liat film spider man semalem, hehehe.... Wih tapi asli keren banget tau gak." Ucapnya lagi, dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.


"Apa... apa.....?!" Tiba tiba terdengar seseorang yang berteriak, menyambung obrolan mereka di depan kelas itu.


"Aish, si Siti nyambung nyambung aja. Keliatan banget kayak antena nya." Cibir Febbry


"Ha? maksudnya Feb?" Kian memnadang Febbry dan Siti yang berjalan ke arah mereka secara bergantian.

__ADS_1


"Noh liat aja, tuh kuncir kuda menjulang tinggi dah kayak antena parabol aja. Udah SMA kok kuncirnya masih kayak anak SD."


"Nih, mulut ya mulai lagi. Julid lagi" Kian mencubit pelan bibir itu agar Febbry berhenti.


"Ish!! Apaan sih Ki. Sakit tau. Gue gak bakal mau berhenti karna itu kenyataanya." Ucapnya sambil cemberut


"Kalo gue gak ada nanti siapa yang bakal ingetin lo buat kunci nih mulut lemes he?"


"Emang lo mau kemana? Jauh dari emak bapak lo aja gak bakal dikasih ama mereka. So lo gak bakal jauh dari gue, lagian masih satu planet mana ada jauhnya."


"Iya iya." Kian menyudahi, ia tau berdebat dengan Febbry tak akan pernah ada habisnya.


"Gue denger kalian lagi ngomongin spider man ya? Ih susah banget tuh soal. Btw, jawaban kalian apaan tuh?" Siti yang sudah berada di dekat mereka berdua, sibuk memasukkan buku paket tebal itu ke dalam tasnya.


"Di soal gak ada ya Sit, soal spider man. Lo udah pake kacamata masih aja rabun." Ketusnya


"Eh, enggak Feb. Beneran gue ada soal itu." Bantah Siti


"Wah, nape nih rame rame. Mau acara dugem ya buat penutupan akhir ujian? Ikut dong" Tawanya dengan senyum sumringah.


"Ye, si Bagas ketua kelas otaknya dugem aja. Padahal di sekolah keliatan bijaksana banget, eh taunya otak dugem." Febbry dengan ketusnya


Ternyata Bagas yang baru saja hendak melewati mereka malah ikut nimbrung di tiga orang siswi yang sibuk bercerita itu.


"Bukan Gas. Itu loh soal ujian tentang spider man. Lo kebagian gak?" Tanya Siti yang seolah mencari dukungan dari pernyataannya


"Oh iya. Gue juga kedapatan soal itu tuh. Berapa sih jawabannya?" Bagas yang nimbrung juga ikut bertanya


"Kalo gue sih 45°. Gak ngerti gue kenapa Spider man nembak jaringannya ke puncak gedung pencakar langit, terus kita yang disuruh ngitung berapa sudut yang terbentuk, kalo si Spider man nge-wing gitu aja."


"Lo ngomong apa sih Ti. Gaje banget deh. Malah tambah pusing gue dengernya." Keluh Febbry


"Eh, bener tau. Iya gak Gas. Berapa punya lo? Soalnya gue rada lupa tuh soal."


"Lah kalo gak salah sih empat ratusan lebih sih."


"Eh Bagas, mana ada sudut gitu. Yang paling gede tuh 360° oon." Tukas Siti


"Eh bukannya tuh soal mintanya berapa jumlah sudutnya?"


"Enggak dia minta cuma satu."


"Enggak deh Sit, lo salah baca kali. Dia mintanya banyak kok"


Kedua manusia itu malah menjadi berdebat panjang, membuat Febbry yang mendengarnya kesal dan pusing, lalu menarik Kian menjauh dari mereka berdua.


"Hah!! Emang ya tuh manusia berdua! Gue mau temu kangen ama lo, malah mereka nimbrung bahas soal. Bikin gedeg aja bawaannya."


"Temu kangen apaan sih Feb. Jijyk gue. Lagian kita kan sekolah ketemu terus."


"Iya. Cuma untuk beberapa hari ini lo sibuk mulu. Abis ujian langsung aja pulang. Hari ini jangan ya, kita makan dulu. Gue laper tau."


"Hayeuh, iya deh."


"Traktir yah... yah..."


"Udah ketara banget lo Feb."


Febbry hanya cengengesan, dan mereka berdua pun pergi menuju kantin. Ntah lah bagaimana cara Kian meyakinkan dan memberi pengertian Fennry agar tak terlalu banyak belanja nantinya. Sebab sekarang saja ia sudah benar benar harus berhemat untuk berbelanja. Yah, ada rasa ketar ketir dalam hatinya saat ini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2