
"Lo mau sampai kapan narik tangan gw?" Devan membuka suara, sontak membuat Kian melepaskan genggaman itu dan berjalan lebih dulu Devan.
"Woy! Kutu buku. Lo mau jalan sampai rumah ya?" Teriak Devan
"Ya gak lah. Gw mau cari ojek." Ketusnya
"Di sekitar sini gak ada ojek oon." Devan yang merupakan mantan ojek itu tentu tau dimana saja biasanya ojek mangkal, dan Ia sudah hapal sekali.
"Bodo. Ntar gw naek apa kek buat pulang."
Devan berdecak kesal mendengar Kian yang melontarkan kalimat itu, hingga ia menyusul Kian.
"Lo kenapa batu banget sih. Ikut gw" Ia menarik tangan Kian, yang kemudian tak lama bus lewat.
Mereka pun ini bus itu untuk pulang.
Karna kursi sudah penuh di duduki penumpang memaksa mereka untuk berdiri dan berpegangan pada kaitan yang tergantung di sepanjang dalam bus.
Kian berdiri di samping Devan dengan sedikit lebih jauh.
Grudak...
Bus berhenti mendadak membuat penumpang di dalam bus sedikit terguncang dan begitu juga Kian yang hampir nyungsep ke kursi di depannya. Tapi untung Devan menahannya, hingga ia tak jadi jatuh ke pelukan seorang laki laki yang duduk di depannya.
Pegangan yang menggantung itu cukup tinggi membuat Kian sedikit berjinjit untuk memegangnya. Dan gara gara bus yang berhenti mendadak itu membuatnya tak seimbang dan hampir jatuh.
Devan yang awalnya tak perduli dengan Kian yang berjinjit, memindahkan tangan yang bergantung itu ke sandangan tali tasnya. Menyuruh Kian untuk memegang tali itu dengan kuat agar tak jatuh. Kian hanya menurut saja tanpa banyak bicara, sampai seseorang datang.
"Kian?" Sapa nya, membuat si mpu menoleh.
Dan betapa terkejutnya Kian saat menoleh dan melihat orang tersebut. Perasaannya campur aduk antara senang, kaget dan malu juga, apalagi mengingat kejadian saat mereka pertama kali bertemu waktu itu. Membuat kian hanya menyunggingkan senyum dengan cengirannya.
"Kita bertemu lagi. Dan di bus yang sama. Seperti nya kita memang jodoh." Ucapnya blak blakkan. Membuat kian membelakkan mata lebar.
Sedangkan dalam hati Kian jangan di tanya lagi. Ia benar benar merasa begitu senang dan hampir meledak saat ini (alay banget ya). Menatap wajah tampan itu lagi seperti mimpi, bahkan setelah laki laki itu mengucapkan kalimat barusan membuat Kian merasakan seperti ada kupu-kupu dalam perutnya, ia hanya ingin tersenyum dan tersenyum tapi ia tetap mengkondisikan diri agar tak terlihat salting.
"Hahahaha bapak bisa saja."
"Astaga Kian, usia ku tak setua itu sampai kau memanggilku dengan sebutan bapak."
__ADS_1
"Hehehe... saya bingung harus panggil apa."
"Panggil Kakak saja. Paling aku cuma beberapa tahun lebih tua darimu. Bagaimana dengan sekolahmu? Apa kau masih membolos saat jam bahasa inggris hm?" Tanya nya, membuat Kian malu setengah mati.
"Hehehe... Gak lagi kok kak."
Melihat Kian yang dengan senang berbicara dan mengobrol dengan orang itu tanpa memperdulikan dirinya, membuatnya berpindah posisi. Yang kini membatasi antara Kian dan orang itu.
"Hoho... Bung ada apa denganmu? Kian, who is he?"
"Kenalin kak dia Devan, teman kelas Kian." Kian yang cengengesan berharap membuat bule yang di depannya itu tidak tersinggung dengan apa yang di lakukan Devan. Ia bahkan tak tau kenapa Devan bersikap seperti itu.
"Ohh.. Kian aku ingin meminta nomor mu boleh?" Tanya nya, yang kini membuat Kian serasa ingin kejang di sana. Bagaimana tidak, bule yang ia temukan waktu itu yang begitu tampan yang menurut Kian siapa pun pasti menyukainya kini meminta nomor ponselnya. Sungguh kejadian yang tak terduga pikirnya.
Ckitt...
Bus sudah berhenti, membuat sebagian penumpang turun, begitu juga Kian. Devan menariknya keluar bus karena sudah sampai di depan kompleks rumahnya. Padahal Kian belum sempat memberikan nomornya pada laki laki itu.
"Hey!!! Lo kenapa sih Van. Gw belum juga kasih nomor gw ke dia. Lo udah main tarik aja." Marah Kian yang kini mobil bus itu sudah melaju. Kian hanya bisa memandang laki laki itu lewat jendela bus yang kemudian di lihat balik oleh nya juga.
"Udah sampai di tujuan lo. Emang lo gak mau turun? Kalo lo gak turun bisa bisa lo di bawa lagi ama tuh bus." Roceh Devan dengan wajah datarnya.
"Iya sih. Terus kenapa lo ikut turun juga? Ini kan alamat gw. Harusnya lo pergi ke cafe kan, kenapa malah turun?"
"Heh!! Ngomong apa lo?! Dia bukan cowok albin* ya, dia tuh bule. Lagian ganteng gitu dibilang albin*."
"Ganteng dari mamanya coba?! Putih kayak tepung gitu belum lagi rambutnya kayak jamet!"
"Loh kok elo yang sewot sih bambang. Elo nya aja yang keiteman, pake ngatain orang albin* gara gara putih. Lagian dia ganteng tau. Haduh... Kok bisa ya gw ketemu lagi sama dia di bus yang sama. Mana dia ngomong gitu lagi..." Ucap Kian yang sudah bagai cacing kepanasan.
"Norak lo. Ketemu cowok baru kenal aja udah pake mau ngasih nomor segala." Ketusnya
"Lo kenapa sih?! Lagian dia yang minta bukan gw. Itu juga bukan pertama kalinya."
"Oh ya? Emang udah berapa kali? Udah kenal lama? Lo udah tau dia kayak gimana? Tinggal dimana? Baik gak orangnya? Atau jangan jangan mau manfaatin lo doang."
"Ya gak sih. Emang belum, kan tadi baru mau tukeran nomor wa. Kok lo cerewet banget sih Van? Harusnya lo seneng dong ada cowok yang deketin gw ganteng juga. Eh tapi kalo dipikir pikir ketemunya gw ama dia tuh kayak film film atau novel gitu gak sih. Wah kalo di jadiin cerita bagus nih. Kayak judulnya Jodohku adalah dia yang kutemukan dalam bus. Atau kalo gak Cinta pandangan pertama di bus kota."
"Alah kebanyakan nonton sih lo. Halu banget." Ketus Devan yang malah di balas cemberutan oleh Kian.
__ADS_1
"Dari pada lo, kebanyakan berburuk sangka sama orang. Itu lebih gak baik lagi tau. Mana cuma marah marah doang kerjaannya, semua orang mau di pukul dah tu." Cibir Kian
Devan nampak kesal dengan cibiran itu, bahkan ia memandang tajam Kian. " Iya, gw emang tentramen banget orangnya. Suka marah marah dan mukul orang juga. Karna apa?! Karna gw bukan cewek polos kayak lo yang mudah di tipu dan pasrah aja. Lo gak suka? Jauhi aja"
'Plis itu cuma omongan mulut gw doang, tapi gak sama hati gw.' Batin seseorang menjerit.
"Kok lo malah nyolot sih!!" Bentak Kian yang rasanya ingin menjambak Devan saat itu juga.
Devan yang malas berdebat dengan Kian memilih untuk diam yang diikuti oleh Kian. Yang akhirnya mereka sampai di depan rumah Kian. Sebab dari halte depan kompleks mereka harus berjalan lagi baru sampai rumah Kian.
"Astagfirullah..."
Devan mengerinyitkan dahi, "Kenapa?"
"Aduh Van, kado dari Jerry ketinggalan di kelas. Haduh... masa gw harus balik lagi ke sekolah."
"Oh yang kotak gede di pojok kelas tadi ya?"
"Ho oh."
"Udah besok aja. Lagian siapa sih yang mau ambil kado gitu. Paling juga kucing. Udah sana lo masuk aja." Titah Devan
"Apa? Lo pikir tuh kado ikan apa sampe kucing yang ambil. Oh ya terus lo pergi ke cafe nya naik apa? Masa mau naik angkutan umum lagi?"
"Hn.. Iya."
"Kalo gitu kan bakal boros." Ucapan Kian tak di gubris sama sekali oleh Devan. Ia sudah berjalan lebih dulu tanpa mendengarkan ocehan Kian.
Melihat punggung itu mulai menjauh, "Makasih ya Van udah nganterin gw. Ati ati lo, salam buat Gio ya." Teriak Kian, yang kemudian di acungi jempol oleh si mpu dengan tetap memunggungi Kian.
'Kenapa lo aneh banget sih Van. Hmm'
.
.
.
.
__ADS_1
.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀