Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#95


__ADS_3

Di satu sisi ada seorang perempuan yang memakai baju kemeja biru garis, sepatu putih, celana panjang hitam dan tas kecil hitam yang terselempang di bahunya.


Berjalan sepanjang jalan mencari sesuatu yang memang menjadi tujuannya keluar dari rumah. Namun di saat itu juga dia sadar, mencari yang ia cari memanglah bukan hal mudah.


Grrrrrhhrrr


Suara perut yang begitu nyaring membuatnya malu sendiri. Untung saja tak ada orang di situ yang bisa mendengar keluhan perutnya saat ini.


Hari sudah mulai menjelang sore, namun belum satu pun pekerjaan yang bisa ia lamar. Sedangkan perut sudah meronta-ronta untuk di isi.


Seketika ia mengingat apa yang dikatakan oleh ayahnya. Memang benar jika orang tua tau segalanya, bahkan hal seperti ini. Namun ia masih tidak setuju dengan cara ayahnya mendapatkan sesuatu.


Apa gue jual hp aja ya? Sementara gue belum dapet pekerjaan?


Titik-titik air mulai keluar dari kedua pelupuk matanya. Dengan hati yang gundah, ia merasa semua ini terjadi sebab dirinya. Jika saja ia tak ada, mungkin semua ini juga tak ada. Memikirkan hal itu tambahlah air matanya meluruh dengan lancar.


Sampai di sebuah taman, ia mencoba untuk mengistirahatkan kedua kakinya yang sudah pegal dan letih. Duduk di bangku panjang berwarna coklat di sebuah taman yang lumayan sepi sore ini. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman, tak ada yang dicarinya hanya saja ia ingin menyegarkan mata yang sudah sembab tersebut.


Angin yang begitu sejuk, semilir membelai surai yang sudah agak panjang miliknya. Menarik nafas panjang dengan serakah seperti baru saja keluar dari tempat miskin oksigen yang begitu sempit. Pikirannya kalut dengan masalah yang sedang ia hadapi sekarang. Membuat dirinya sedikit beringsut, menyandarkan bahu ringkih itu di kepala bangku seperti membutuhkan bahu untuk bersandar sekarang ini. Namun siapa? Ia hanya sendiri sekarang.


Sejenak hatinya kembali berkata, untuk mengikuti permintaan ayahnya. Pulang dan hidup seperti dulu tanpa memikirkan suatu hal yang memang harusnya tidak dilakukannya sekarang. Namun kembali lagi pada pernyataan apakah ia mampu hidup bersama seseorang yang memiliki sifat seperti itu? Apakah ia egois sekarang ini, meninggalkan kedua orang tuanya? Jujur saja ia pergi bukan untuk membuktikan ia bisa atau ia benar. Hanya saja untuk menolak perjodohan yang tak diinginkannya.


Sedetik kemudian terdengar suara tawa seseorang. Kian adalah perempuan penakut yang hobi menonton film bergenre horor atau action, selain romantis. Walaupun sebenarnya ia takut. Dan suara tawa di taman yang begitu sepi itu, sedikit membuat bulu kuduknya merinding.


Ini masih sore, masa hal yang gituan udah muncul?!


Kian menghapus air matanya dengan sigap hingga tak menyisakan jejak dan mengedarkan pandangan, mencari asal muasal suara itu. Namun tak kunjung ketemu, ia mulai melangkah untuk mencari lagi. Jalan dengan pelan, bahkan langkahnya pun sampai tak terdengar. Hingga akhirnya setelah berjalan hampir mengitari teman ia bertemu satu pasang sejoli yang sedang asiknya bercanda tawa.


Awalnya ia merasa biasa dan wajar, sedikit lega karena pikiran negatifnya tak terbukti, tapi... Ia seperti mengenal orang itu. Lagi dan lagi hingga ia menyaksikan adegan ciuman antara laki-laki dan perempuan itu, yang kemudian membuatnya langsung membalikkan badan.


Mungkin harinya akan bertambah buruk, jika menyaksikan hal seperti ini. Terbukti saja pada saat ia melihat aksi Jerry di sekolah hingga pulangnya mendapat kabar mengerikan itu.


Ia kembali membalikkan badan untuk melihat. Bukan untuk menyaksikan adegan 18+ itu melainkan untuk melihat siapa orang yang tak tau malu mengumbar kemesraan di depan umum seperti ini.


Setelah kesedihannya tadi, mungkin jiwa jomblo dari seorang Kian malah memberontak. Merasa tak terima dengan hal menyebalkan tersebut.


Lagi-lagi amat disayangkan, betapa menyesalnya ia membalikkan badan.


"Arghh, sial Kenapa gue harus ketemu lo disaat gini lagi sih. Mata gue udah ternodai gara-gara liat tingkah laku lo. Kalo gini caranya berfikir buat pulang aja gue gak bakalan mau!" Rocehnya.


Kian berlalu berjalan tergesa-gesa meninggalkan dua sejoli yang menurutnya tak tau malu. Rasa kecewa tentu menyelimuti dirinya, ntahlah itu karena rasa suka atau bukan Kian tak tau pasti. Hanya saja sedikit sesak, saat melihat adegan panas barusan.


Ia berjalan menjauh dengan niatan untuk pulang, sampai di suatu trotoar ia melihat seseorang yang tentu ia juga kenal.


Grep


"Van, lo kenapa?" Kian sedikit terkejut dengan perlakuannya, perlahan pelukan itu mulai kendur. Namun Kian tambah di buat sesak sebab wajah Devan sangat dekat dengannya.


"Lo dari mana? Kenapa gak ngabarin gue? Kenapa gak bilang kalo mau keluar? Ngapain lo hn?" Cercaan pertanyaan itu membuat Kian sedikit pusing harus menjawab yang mana dulu.


Kian mendorong Devan, sadar akan apa yang ia lakukan Devan juga sedikit menjauh. Menarik nafas panjang memandangi Kian dari atas sampai bawah, untuk memastikan ia tak tergores sedikit pun.


"Jawab Kian, kalo gue tanya." Suara lembut menyapa, sedikit merinding di buatnya.

__ADS_1


"Gu.. gue... gue cuma jalan-jalan kok. Hehehe..." Kian cengengesan, agar Devan tak curiga.


Namun tatapan itu berubah tajam, "Gak usah bohong lo!"


"Gak Van, serius." Ucapnya, tapi Devan malah mendekat kearahnya menatap manik mata Kian yang berwarna grey itu. Membuatnya melempar pandang ke arah lain sebab takut ketahuan jika ia berbohong.


"Kalo lo bohong..." Devan semakin maju membuat Kian gelagapan dan melangkah mundur. Dilangkah selanjutnya ia hendak melangkah lagi untuk menghindar namun pinggangnya malah di tahan oleh Devan. Kini ia benar-benar gugup, jantungnya berdegup kencang, dan pipinya terasa panas. Bahkan saat ini sudah memerah.


Tubuhnya terasa kaku, saat manik mata hitam mengkilap itu bertemu dengan manik matanya. Dunianya bagai berhenti, dan otaknya menjadi kosong. Apakah seperti ini rasanya di hipnotis? Seperti itulah pertanyaan dalam benaknya.


"Ki...." Suara lembut itu keluar lagi, seperti menuntut jawaban. Sadar akan hal itu kedua tangan Kian langsung mendorong tubuh Devan, namun si mpu tak bergerak sedikit pun. Membuatnya sedikit susah untuk melepaskan diri.


"Huh, iya.... iya. Gue cuma mau cari kerjaan!" Kian menyerah sudah dengan perlakuan Devan. Ia tak tau jika Devan bisa senekat ini padanya.


Devan langsung melepaskan pinggang Kian dan menjauh darinya. "Lo belum tamat sekolah, gimana mau kerja? Kerja capek, udah lo tenang aja ada...."


"Stop Van. Gue gak mungkin harus bergantung sama lo terus! Gue gak mau jadi beban lo! Lo udah banyak banget bantu gue, jangan buat gue berhutang banyak sama lo. Gue malu Van. Gue gak selemah itu juga. Biarin gue berusaha!" Kini matanya sudah berkaca, merutuki dirinya sendiri kalau yang dibilang ayahnya tentang dirinya itu benar, sangat benar. Bahkan tak hanya ayahnya, Devan pun merasa begitu, membuatnya sedikit kecewa.


"Maaf, gue gak bermaksud ngeremehin lo. Gue cuma...." Ucapnya terpotong, tapi Kian tetap menunggu kelanjutan dari kalimat itu.


"Cuma apa?!"


"Cuma lo kan belum makan? Cari kerjaan tuh butuh tenaga. Ayo kita cari makan dulu." Ajak Devan, mengusap lembut pipi yang sudah basah itu.


"Gak! Gue udah makan." Ketusnya.


"Jangan bohong lagi bisa? Wajah lo pucat. Emang lo bisa beli makan dari mana?" Alisnya terangkat sebelah. Sangat menjengkelkan bagi Kian saat hal itu terjadi.


"Gue makan bareng kak Nari sebelum berangkat." Kian membuang muka, merasa kesal sebab Devan benar-benar meremehkannya walaupun itu memang benar.


"Lo khawatirin gue?" Tanya dengan sebelah alis terangkat.


"Gak, pede aja lo. Dah! ayok kita cari makan." Ajaknya menarik tangan Kian,


"Itu apa ditangan lo Van?" Tanyanya menghentikan langkah.


"Bukan apa-apa."


Huph


Kian merebut tas di tangan Devan yang sedari tadi ia perhatikan. Tas persegi empat kecil, yang pas dengan beberapa tempat makan.


"Gue makan ini aja."


"Itu makan udah dingin gak enak lagi buat di makan." Devan berusaha merebut tempat makan itu.


"Gak! Makan ini aja. Gue gak mau makan di warung. Inget Van, lo masih banyak yang harus ditanggung. Gue gak mau cuma gara gara gue lo banyak berkorban. Lagian makanan lo enak terus kok." Ucap Kian yang kemudian berlari ke halte yang ada di dekat sana.


"Gak-gak! Kayak gak sanggup aja bayarin lo makan. Jangan dimakan itu! Cuma lo doang gak bakal buat gue jadi gak makan selama sebulan." Sewotnya.


Kian tak mengindahkan ucapan Devan. Ia langsung membuka tas itu. Terdapat satu tempat berisi nasi dengan dua tempat berisi sayuran dan lauk. Kian langsung melahap makanan itu, sebab perutnya memang sudah sangat lapar.


Melihat itu Devan menjadi sangat kesal. Ia melihat sekeliling, dan ternyata ada tukang jual sate tak jauh dari sana. Devan langsung menghampirinya. Sedangkan Kian masih sibuk dengan makananya.

__ADS_1


Zreph


Makanan yang ada ditangan Kian langsung di rebut oleh Devan. Membuat Kian melotot dan hampir marah padanya.


"Makan yang ini!" Devan menyerahkan satu piring sate dengan lontong pada Kian.


"Lo apa-apaan sih Van. Gue mau makan yang itu juga. Kembaliin gak!!" Marah Kian, hendak merebut kotak makan di tangan kiri Devan.


Namun Devan, mendorong Kian untuk duduk kembali, "Gue emang miskin! Tapi gue gak akan biarin lo makan makanan kayak gini. Cepet makan!" Paksanya, meletakkan piring itu di pangkuan Kian, sebab Kian tak kunjung menyambut uluran itu.


Kian yang sebal, hanya memandang piring itu tanpa menyentuhnya. Menurutnya Devan terlalu berlebihan pada dirinya. Ia takut akan lebih banyak berhutang pada Devan. Ia masih mengingat betul kejadian di UKS waktu itu.


"Maaf, gue harusnya kasih makanan yang enak buat lo." Lanjut Devan memandang sendu Kian.


Kian malah memutar bola mata malas, "Van, emang gue siapa lo? Gak usah segitunya juga. Kalo lo kayak gini sama aja nambah hutang gue! Nanti gue takut gak bisa bayar..."


"Makan! Gak usah banyak omong!" Titahnya dengan dingin, lalu membuang makanan itu ke tempat sampah agar Kian tak lagi memandangi kotak makan itu.


Kian mendengus kesal melihat tingkah Devan saat ini. Ia diam seribu bahasa dan terpaksa memakan satu porsi sate itu. Sebenarnya Kian tambah merasa bersalah, sebab Devan hanya membeli satu porsi saja untuk dirinya. Sedangkan Devan sendiri tak makan dan hanya diam di samping Kian.


"Van! Lo gak makan?!" Tanya Kian marah menoleh ke sampingnya. Tampak wajah Devan santai dan hanya menggeleng.


"Bisa gak sih lo jangan kayak gini!! Lo tambah nyiksa gue Devan!!"


"Gue gak ngapa-ngapain lo juga."


"Sebab lo gak ngapa-ngapain jadi nyiksa gue. Lo makan ya, gue jadi gak enak nih." Mohon Kian berharap Devan luluh.


"Lo makan aja. Gue gak bisa, gue alergi kacang." Singkatnya, lalu mengusap kepala Kian lembut.


Kian adalah perempuan normal, yang memiliki rasa malu bahkan bisa dikatakan ia salting dengan perlakuan Devan sekarang. Mungkin jika ada cermin sekarang, dia akan melihat sendiri betapa merahnya pipinya sekarang. Kian langsung buru-buru mengalihkan pandangannya dari hadapan Devan. Takut Devan tau kalau sekarang dia sedang malu.


"Pokoknya apa yang lo lakuin buat gue, harus di masukin dalam daftar hutang. Gue janji akan lunasin itu Van."


"Caranya?" Remeh Devan. Sepertinya sikapnya sudah kembali ke awal.


"Ya gue kerjalah." Sewot Kian.


"Kerja apa? kapan? Dimana? Sama siapa?" Cercanya.


"Ya, ya... itukan lagi di usahain." Sewot Kian, memandang Devan dengan kesal.


"Oh."


Singkatnya yang tentu membuat Kian begitu marah dan tambah kesal pula. Sampai-sampai ia menggigit lidi sate itu hingga patah.


"Sate sama lontongnya masih banyak. Lidinya gak usah dimakan juga, ntar usus lo malah robek." Santai Devan, membuat Kian mengapalkan tangan. Banyak rasa yang Kian rasakan sekarang, seperti ingin mencekik Devan saat ini juga. Dan menenggelamkan makhluk itu ke dasar sungai.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2