
Hari ini Daren kembali menyusuri setiap jalanan kota, untuk mencari Sarah. Penyesalan menyeruak dalam hatinya, rasa bersalah yang juga sangat bertubi-tubi ia rasakan. Memang harusnya ia tak mengatakan hal itu sebelumnya apalagi sampai di depan umum seperti kemarin.
"Kakak ipar?" Panggil seorang wanita, Daren yang sedari tadi berjalan di trotoar dengan menenteng selembar foto di tangan kanannya. Menoleh ke sumber suara.
"Molly? Apa kabar mu hm?"
Wanita itu langsung memeluk Daren sebentar. Kini mereka duduk di kursi panjang yang ada di trotoar itu.
"Kabar ku baik kak. Dan kau?
"Seperti yang kau lihat, aku baik."
"Syukurlah. Apa yang kau lakukan di sore ini?"
"Mencari seseorang."
"Siapa?"
"Hmm... (tarikan nafas yang panjang), kau tak perlu tau. Sedang apa kau di sini? Bagimana kabar keluarga? Dan bagaimana kabarnya?"
"Hiks.... hiks.... Maafkan aku kakak, harusnya aku hadir waktu kak Zanna menghembuskan nafas terakhirnya. Sodara tiri macam apa aku ini! Yang tega berbuat seperti itu pada kakaknya. Aku sungguh malu, dan maaf untuk hal itu kak. Jadwal penerbangan dari London sedang di off waktu itu. Hingga aku tak bisa pulang. Dan setelah itu kedua orang tua Ken malah kecelakaan dan harus di rawat di rumah sakit, hingga aku tak bisa meninggalkannya. Dan sekarang aku baru bisa bertemu dengannya setelah beberapa bulan." Wanita bernama Molly itu menutup kedua matanya dengan tangannya sebab tak kuasa menahan tangis.
"Sudahlah Molly. Semua sudah terjadi. Kita hanya bisa berdoa untuk kakakmu dan istriku itu, agar ia selalu tenang. Lalu bagaimana dengan suami dan anakmu?"
"Semuanya baik. Hanya saja suamiku tak bisa datang kemari sebab keduanya masih membutuhkan perawatan di London. Dan dia bukan hanya anakku, dia anak kita, dia sungguh berarti bagi keluargamu dan keluargaku kak. Maaf karena keegoiisanku, harus mengorbankan anak kalian. Harusnya aku tak berbuat seperti itu, hiks.... hiks..."
"Kau tau, aku mengerti bagimana rasanya kehilangan seseorang. Dan Zanna juga setuju memberikan anak itu padamu. Trauma yang menimpamu harus disembuhkan, jadi kedatangan anak itu ke dunia memang membawa berkah Molly." Daren menepuk-nepuk bahu Molly agar lebih tenang.
"Kak, terima kasih sudah menyelamatkan aku waktu itu. Tapi sebaiknya kita katakan semua ini pada mereka berdua. Usia mereka sudah remaja, mereka berhak tau kak. Lagipula sekarang traumaku sudah sembuh, namun berbalik fakta menjadi rasa bersalah."
"Apa kau benar-benar menggunakan anak itu sebagai alat penghilang trauma mu hm?" Daren mengintimidasi, seperti tak setuju dengan rencana Molly itu.
"Tidak sama sekali. Aku juga menyayanginya, bahkan sangat. Tapi dia adalah darah dagingmu kak, anak kandungmu dengan kak Zanna. Benar-benar anakmu, tak seperti Kavin."
"Cukup Molly! Walau bagaimanapun aku sangat menyayangi keduanya. Dia bahagia bersamamu, jangan biarkan hal yang sama terjadi padanya. Cukup Kavin yang membenciku, jangan sampai ia juga." Mata Daren kini sudah merah mengingat kesalahan apa yang pernah ia lakukan dulu. "Aku hanya bisa menyakiti orang-orang yang aku sayangi selama ini! Pantas jika aku dijauhi oleh mereka."
"Aku mengerti kak. Tidak semua jadi kesalahanmu, keadaan dan orang di sekitarmu juga memaksa kau untuk melakukannya seperti aku, maaf. Apa Kavin belum juga berbaikan dengan mu kak?" Tanya Molly menoleh ke arah Daren yang tertunduk lesu, yang kemudian menggeleng.
"Kesalahan beberapa tahun lalu antara kau dan dewi sungguh membuat hancur hati Kavin tentunya. Bagaimana kabar anakmu dan dewi setelah kepergiannya?" Pertanyaan itu sukses membuat Daren mendongak kembali dan menatap Molly dengan wajah yang begitu kebingungan.
"Ada apa kak?"
"Maksud yang kau katakan apa Molly?!"
"Kau tidak tau sama sekali? Dewi sudah meninggal kak, setelah melahirkan anaknya. Hanya saja aku tidak tau lagi kelanjutannya. Yang ku dengar ada satu keluarga menolongnya saat itu, ku pikir kau tau dan sudah mengambil anak itu. Aku mengetahui berita ini saja sudah dua tahun dari kepergiannya."
"A... a... Aku bahkan tidak tau dengan hal ini. Karena emosi dan kecewa waktu itu, melihat Dewi menerima amplop coklat dari seseorang, aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya tanpa bertanggung jawab. Lagipula ia terlihat begitu bahagia karna sudah menghancurkan keluargaku. Amplop coklat yang begitu besar mungkin isinya juga banyak, pasti ia sangat senang mendapatkan itu." Ia tersenyum kecut.
"Kejadian serah terima amplop itu memang terjadi. Tapi itu hanya sepihak. Dewi sama sekali tak mengambil uang itu. Dia juga dirugikan dalam hal ini. Dan berarti ia memutuskan untuk merawat jabang bayi itu sendiri."
Mendengar tutur kalimat dari Molly membuat Daren tertenggu tak percaya. Setelah ia melakukan kesalahan besar, ia kembali melakukan kesalahan lagi dan lagi, "Apa?! Lalu kenapa baru sekarang kau memberitahu ku Molly!!! Jika kau tau. Arghh.... Laki-laki macam apa aku ini!!! Tega sekali berbuat seperti itu pada kedua wanita!!" Daren menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.
"Kak sudah. Jangan menyakiti dirimu seperti ini."
"Aku kehilangan semuanya Molly!! Semuanya!! Gara-gara keegoisan diri ini. Arghhh...."
Plak
__ADS_1
Plak
Plak
Daren menampar dan memukul dirinya sendiri dengan keras. Molly berusaha untuk menghentikan tingkah kakaknya itu.
"Kak sudah. Berhentilah menyakiti dirimu, kau begini tak akan mengubah situasi!"
"Kau benar Molly. Harusnya aku tidak begini, harusnya aku mati saja! Aku telah menyakiti dua wanita yang ada dalam hidupku, memalukan!!" Teriaknya.
Brukh
Daren jatuh pingsan di sana.
"Om Daren....!!" Suara Kian melengking memanggil Daren yang tersungkur di trotoar.
___________
"Akh... akhirnya selesai juga nih study tour. Capek gue!"
"Nape sih Feb, dari dateng sampai pulang wajahnya kusut banget, suka ngeluh lagi."
"Gak enak di sini. Mana gak ada Kian lagi, males banget gue."
Febbry dan Siti yang sedang berkemas barang-barang mereka termasuk dari tenda dan barang lainnya.
Drap
Drap
Derap langkah dari gerombolan laki-laki lewat di samping mereka dengan masing-masing membawa ransel bawaan tanpa terkecuali.
"Mau tidur. Ya mau pulang lah Feb."
"Nah kebetulan juga. Tolongin gue bawa nih ransel ya."
"Enak aja lo. Emang lo siapa mau nyuruh-nyuruh kita?!"
Febbry menatap satu persatu dari laki-laki yang ada. Mereka terdiri dari lima orang dan tentu saja ada satu orang yang begitu Febbry kenal disana. Hingga tatapan matanya berhenti pada laki-laki itu. Sebenarnya laki-laki itu enggan untuk menoleh ataupun berceloteh namun pandangan Febbry yang selalu mengarah kepadanya, membuatnya merasa tak nyaman dan .....
"Iya.. iya. Sini." Laki-laki itu langsung menaikkan ransel Febbry di pundaknya.
"Bimm... Lo kenapa?? Lo ketempelan ya?!"
"Atau jangan-jangan otak lo udah di cuci sama nih perempuan?"
"Di cuci pake apa emangnya Kar? Deterjen atau sabun kompas? atau pake sabun colek?" Tanya Noel yang sedikit polos.
"Bukan itu oon. Dah lah gak usah ngomong lo!"
"Berisik kalian berempat yak. Ya udah Bim, kita jalan aja dari pada dengerin laler gosipan."
Bimo dan Febbry berjalan lebih dulu dari mereka, sedangkan mereka berlima yang di tambah oleh Siti berjalan dibelakang mereka dengan jarak yang tak terlalu jauh.
"Gila makin ngeri aja guengebiarin Bimo gaul ama Febbry. Bimo lagi mau-maunya aja di suruh ama tuh nenek lampir."
"Ho oh. Terus ntar gue takutnya Febbry malah morotin Bimo lagi... Hih."
__ADS_1
"Morotin apanya?"
"Celananya El. Heran gue ganteng-ganteng lo lemot banget ya."
"Gue pikir Febbry gak mungkin ngelakuin itu. Toh ortunya aja kaya, ya Kali mau morotin orang lain. Kalian berempat gak usah sembarang deh. Tapi ya....."
"Tapi apa Ti?"
"Dino, Afkar, Dion, dan Noel,...." Keempat orang tersebut malah semakin mendekatkan kepalanya pada Siti yang hendak bicara itu, "Jangan-jangan...."
"Jangan jangan..." Mereka mengikuti ucapan Siti
"Jangan jangan si Bimo punya hutang sama Febbry makanya di gituin."
"Huh... Aelah gue mikirnya apaan coba." Sorak mereka.
"Lah emang kenapa? Kan bisa aja mereka ada perjanjian atau hutang terus malah jadian."
"Emang buat apa?"
"Ya buat apalagi kalo bukan buat di lakuin."
"Tapi spekulasi gue sih mereka berdua pacaran!" Timpal Afkar
Uhhuk....
Uhhuk...
"Bener, gue juga mikirnya gitu. Tapi kok bisa ya mereka pacaran. Jangan-jangan dipelet ama Febbry lagi." Ucap Dion ceplos.
"Ya kali Yon, kalo mau pake pelet ya jangan tanggung tanggung lah. Yang berkilau sedikit lah masa modelan gitu." Cibir Siti.
"Lo mau berkilau? Lo pacaran aja sama kaca. Dijamin lo gak bakal liat dia di sana, dan selalu kinclong" Sahut Afkar.
"Tau tuh, kalian liat aja kemaren si Bimo selalu di suruh-suruh ama Febbry."
"Bener tuh. Kayaknya temen kita nih emang ga beres deh."
Kelima orang tersebut asik mengobrol lebih tepatnya menggosip tanpa henti, sedangkan dua orang yang berada di depannya malah asik fokus dengan jalannya.
"Woy Feb... Lo isi nih ransel pake apaan sih? Gila berat banget!"
"Ya maklumlah Bim. Gue gak mau ada kekurangan satu pun makanya gue bawa semua."
"Tapi ini lo nyiksa gue namanya." Keluhnya.
"Eits mau apa gak? Pulang ini lo coba deh buat timbang berat badan lo. Gue yakin pasti turun. Oh ya nanti gue bakal kirim jadwal makan lo supaya olahraga lo gak sia-sia karena lo banyak makan. Lo harus makan dengan menu yang seimbang gak boleh terlalu banyak dan nanti vitamin juga perlu supaya lo gak drop."
Bimo yang mendengarnya hanya bisa diam walaupun dalam hatinya sudah begitu murka. Bagimana tidak, jika selama tour ini dia malah disuruh Febbry olahraga, berlari, berenang, manjat pohon, push up, dan lain sebagainya. Jika temannya bertanya maka ia akan menjawab, 'Gw cuma lakuin hal biasa gw di rumah.'
Sedangkan keempat orang temannya tau jika ia tak pernah ingin olahraga. Semua temannya merasa aneh dan menatap bingung pada Febbry dan Bimo.
.
.
.
__ADS_1
.
Tbc