
Seperti biasa, Kian yang sepulang sekolah harus membersihkan rumah melaksanakan kewajibannya, mengerjakan tugas dan lain sebagainya. Hingga akhirnya semuanya selesai ia pun pergi ke rumah Devan untuk menemani Gio.
"Kita udah makan, udah belajar, udah bersih-bersih rumah, dan udah main juga tadi. Sekarang ngapain lagi Gi?" Tanya Kian pada Gio. Yang saat ini mereka berada di ruang TV menonton film kesukaan Gio.
"Gak tau kak. Gio juga bosen nih. Kita jalan jalan ke luar aja mau gak?"
"Udah sore Gio. Ntar malah di marahin kakak kamu lagi."
"Bentar doang kak. Ini baru jam lima loh. Ayo.... " rengeknya.
Kian yang tak mau melihat anak itu bersedih, akhirnya mengiyakan ajakan Gio. Setelah bersiap mereka berdua melesat pergi ke sebuah pantai. Menurutnya menghabiskan waktu sore di pantai akan lebih menyenangkan. Udara yang sejuk dan segar serta suasana yang sangat damai dan indah, di tambah lagi dengan sunset di ujung laut membuat siapa pun terpesona melihatnya.
Mereka berdua bermain air di tepian pantai dan tak lupa membeli es krim untuk dinikmati sambil berjalan sepanjang tepian pantai.
"Es krim nya enak kak." Ucap Gio memakan es krim itu dengan lahapnya.
"O ya pastilah. Kakak yang pilih. Abis ini kita langsung pulang ya. Nanti di cariin sama kakak kamu."
"Iya iya.... " Ucap Gio yang malas di ajak pulang karena masih ingin bermain di pantai. Hingga muncul ide jail di otak Gio.
"Tapi tangkap Gio dulu kalo kakak bisa." Ucap Gio yang berlari menjauh dari Kian sambil mengejeknya. Dengan terpaksa Kian harus mengejar anak itu.
Brukh.....
"Aduh.... "
"Gio?" Teriak Kian.
Gio bangun dari jatuhnya dan mendongak ke atas.
"Kau tak apa apa nak?"
"Tidak paman. Aku baik baik saja. Maaf untuk yang tadi." Ucap Gio yang karena asik berlari sambil mengejek Kian, ia malah menabrak seseorang.
"Tidak apa. Kau bukannya anak waktu itu yang bersama Kavin?" Tanya nya.
"Gioooo.... " Panggil Kian.
Gio yang mendengar Kian memanggilnya langsung berlari ke arah Kian tanpa menjawab pertanyaan orang tersebut.
"Gio.... Dari mana sih?"
Gio bersembunyi di belakang Kian hingga membuatnya merasa khawatir dengan Gio.
__ADS_1
"Nak..." Panggil orang itu. Kian pun menoleh.
"Om Daren? Sedang apa di sini?" Tanya Kian.
"Hanya berjalan jalan di sore hari. Kamu yang waktu itu bukan. Kian?"
"Iya om, saya Kian."
"Ahh... Kian. Om ingin bertanya siapa anak laki laki yang sering bersama Kavin itu? Apa dia benar benar anak almarhumah Zanna?"
Pertanyaan itu membuat Kian tak tau harus jawab apa. Kian tau Gio adalah anak Dewi yang Daren tinggalkan dulu. Jika Kian mengatakan itu, ia takut jika Devan akan marah padanya. Jika tidak pun ia harus jawab apa. Kian nampak berfikir dalam diamnya.
'Kenapa om Daren sangat penasaran pada Gio? Apa yang harus gw jawab sekarang? Kalo gw bilang.... ah sudahlah Kian. Membayangkan wajah Devan yang amat marah saja membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana kalau dia benar benar marah nantinya' Batin Kian
"Emm... itu, anu om...." Kian tampak benar benar bingung harus jawab apa. Daren semakin mendekat ke arah mereka berdua berdiri. Membuat Gio semakin beringsut di belakang Kian.
"Kiannnn... Giooooo..." Teriak seseorang yang menghentikan langkah Daren.
"Menjauh dari mereka. Pergi kau!!" Ketusnya
"Kak Kavin.... " Panggil Gio sembari di gendong olehnya.
Ternyata yang datang adalah Devan. Dan tentu saja dengan mata elang itu, ia menatap tajam Daren.
Ajak Devan sambil menarik tangan Kian sedangkan Gio berada di gendongannya. Berlalu pergi meninggalkan Daren.
Keringat dingin membasahi dahi Kian. Ia yang takut akan dimarahi oleh Devan karena hal ini, membuatnya hanya diam tak bersuara.
"Kak Kavin. Kenapa menyuruh papa kak Kavin untuk menjauh? Kenapa tidak katakan saja jika aku adalah anak mama dan adik kak Kavin atau jangan jangan kak Kavin malu ya mengakui Gio?."
"Hey hey Gio, kenapa kau berpikiran seperti hn? Tak semuanya orang lain harus tau. Lagi pula kakak dengannya tak memiliki hubungan darah. Sehingga ia tak boleh mencampuri kehidupan kita. Kakak juga tak mau nantinya kau terluka."
Kian tertenggu mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Devan. Bagaimana ia bisa mengatakan kalau ia tak memiliki hubungan darah dengan papa nya sendiri. Apakah dia benar benar marah dengan papanya? pikir Kian.
'Kakak bahkan tak bisa membayangkan jika suatu hari ia tau, dan akan mengambil kamu dari kakak Gio. Untuk itulah kakak harus bisa berjuang keras mencukupi kehidupanmu, agar kau tak merasa kurang sedikit pun. Bahkan kasih sayang.' Batin Devan
"Dan kalian berdua kenapa bisa sampai di sini hm?" sambil menatap tajam Kian.
"I..i...Itu Van. Gw..."
"Kak Kian gak salah kak. Gio yang ajak kak Kian keluar. Abis nya Gio bosen di rumah, kakak juga belum pulang."
"Lain kali jangan pergi kemana pun tanpa kakak. Paham?" Ujarnya pada Gio, yang diangguki oleh Gio.
__ADS_1
"Ya udah kalian pulang aja. Kak Kian juga harus pulang ke rumah." Ucap Kian pada Gio.
"Yah.... Gak seru dong gak ada kak Kian."
"Ini udah hampir malem Gio. Kak Kian harus pulang. Dia juga butuh istirahat." ucapnya dingin.
'Huh.... Kumat deh tatapan sama gayanya.'
"Hmm... Iya deh." Gio dengan suara lemasnya.
"Ya udah, kak Kian pulang dulu ya." Ucap Kian tersenyum pada Gio. "Dan maaf soal keteledoran gw tadi Van."
"Hn." Dinginnya.
Kian yang hendak berjalan pergi dari mereka berdua, tapi malah di panggil lagi oleh Gio.
"Kak Kian...."
"Kenapa lagi Gi?"
Gio menunjuk-nunjukkan pipinya. Kian sampai bingung melihat anak itu.
"Huh.... Gak peka banget sih. Kak Kian kan malem ini gak bakal jagain Gio, gak bakal peluk Gio sampai Gio tidur. Jadi gantinya harus cium pipi Gio. Biar Gio gak kangen." ucapnya dengan senyum lebar.
"Ha???" Kian mendadak tak percaya dengan ucapan Gio. Ntah dari mana dia tau dengan hal seperti itu membuat Kian hanya menggaruk kepala belakang yang tak gatal.
Kian pun mendekat ke arah Devan dan sedikit berjinjit karena Gio berada di gendongan Devan. Gio mendekatkan kepalanya pada Kian dan,
Cup... satu kecupan mendarat di pipi Gio. Namun anak itu belum puas hingga menyorong satu pipinya lagi. Setelah selesai barulah ia tersenyum puas.
"Sama kak Kavin gak kak?" Tanya nya.
Membuat Kian melotot kaget pada Gio yang kembali berucap hal hal aneh. Sedangkan Devan hanya santai dengan wajah datarnya.
"Gak boleh. Kak Kavin udah gede buat apa. Ya udah kakak pulang dulu. Dah...."
.
.
.
.
__ADS_1
.