Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#130


__ADS_3

Kian masih berdiri di depan pintu kaca yang amat lebar. Sesekali ada beberapa orang yang lewat pintu itu, bahkan mereka melihat Kian dengan tatapan aneh. Tapi Kian tak perduli, ia memilih diam dengan air mata yang masih mengalir walaupun tak segera tadi. Tak sederas ia meninggalkan ounggung Devan dan melihat Refan yang kesusahan karena beberapa orang yang mengikuti mereka. Membuat laki-laki berkulit putih itu sedikit kelelehan dan mendapat beberapa luka.


Kian mengeratkan genggamannya di ujung baju panjang yang ia kenakan. Menatap ke arah dalam ruangan, dimana Refan sedang bercengkrama dengan seorang wanita dewasa di meja resepsionis. Sesekali wanita itu mengangguk dan tersenyum membalas ucapan Refan yang tak bisa di dengar oleh Kian.


Mata sendu itu terus menatap, sampai sang mpu menghampirinya dan membukakan pintu kaca itu untuknya. Kian hanya sedikit menoleh ke arahnya, dan kembali menatap lurus pintu kaca yabg ada di hadapannya.


"Ayo masuk. Lo di sini gak akan ngerubah apapun. Angin malem makin dingin Ki." Ucapnya yang masih setia menunggu Kian dan membuka sebelah pintu itu dengan lebar.


Tapi Kian tak mengindahkan kalimat itu, membuat Refan menggeram frustasi. Hingga menari gadis itu ke dalam. Awalnya Kian menolak, untuk apa mereka ke sana? Ia tak bisa membayar sewanya dalam satu malam. Ia saja termasuk orang kesusahan untuk sekarang, tapi kenapa malah di pertemukan dengan manusia royal seperti ini? Namun penolakan itu tak berlangsung lama saat Refan langsung menggendong Kian ala karung beras. Membuat gadis itu memberontak tapi tak ada yang bisa menolongnya.


Klak!


"Turunin gueeee!!!! Kurang ajar lo Fan!"


Brak!


Kini mereka sudah sampai di sebuah ruangan yang amat besar. Dimana ada sofa, TV, dan beberapa pintu yang tertutup rapat.


Refan menarik nafas kasar, saat melihat Kian yang berdiri dengan urakan. Akibat perkelahian mereka tadi membuat imbas pada gadis itu, bajunya terlihat kotor dan sedikit berantakan. Tak lupa pemandangan wajah Kian yang begitu sendu dan sembab karena terus menangis. Kian memeluk kedua lengannya, memalingkan wajah itu ke sembarang seolah tidak ingin eyes kontak dengan Refan.


"Sorry gue angkat lo kayak tadi. Gue gak suka aja liat orang-orang mandang lo kayak tadi. Dan ini apartemen gue. Lo bisa tinggal di sini untuk sementara waktu sampai lingkungan lo udah bener-bener aman."


Refan melangkah menuju nakas yang ada di samping TV. Membuka laci yang ada di sana dan kembali lagi ke depan pintu utama. Kian? Sementara Kian masih berada di posisinya tanpa beranjak sedikit pun.


Refan sibuk membaluti kain kasa itu di telapak tangannya. Hingga pada lapisan keempat Kain itu masih tembus bercak merah. Refan yang sudah selesai dengan urusannya menatap Kian dari atas sampai bawah.


"Gak usah takut. Gue gak bakal ngapa-ngapain lo."


Krak

__ADS_1


Refan berjalan ke arah jendela dan membuka jendela yang ada di sisi dinding berlawanan. Kian hanya diam dan terus memperhatikan, walau di sisi lain ia merasa was-was dengab Refan. Sungguh tingkah laku anak itu tidak terduga. Sama seperti yang dilakukannya pada saat berkelahi tadi.


"Lo liat jendela yang di depan itu! Itu apartemen temen gue. Gue tinggal di sana, dan lo bakal tinggal sendiri di apartemen ini. Kalo lo merasa ada sesuatu yang aneh gangguin lo, pake senter ini. Lo bisa kasih tanda ke gue. Gue yakin lo gak akan mau kasih nomor handphone lo ke gue kan? It's okey. Yang penting ikutin aja yang gue kasih tau, gue akan mantau lo terus dari jendela sebrang." Refan kembali menutup jendelanya dan melangkah pergi. Sampai saat ia menggenggam handle pintu, Kian baru bersuara.


"Kenapa lo baik banget sama gue? Bahkan sampai ngebiarin tangan lo luka? Fan, kalo lo berharap gue bantu lo balas dendam sama Devan ---"


"Gue gak nuntut apapun. Lo bisa istirahat sekarang. Baju sama makanan lo bentar lagi dateng."


Refan kembali melangkah, sampai Kian kembali mencegahnya.


"Fan! Gue gak punya apa-apa buat balas kebaikan lo. Plis jangan terlalu baik." Ya, Kian sudah punya hutang pada Devan. Apa sekarang ia akan berhutang juga pada Refan? Apakah hidupnya akan terus membuat hutang pada orang lain?


"Lo gak berhutang, lo cuma numpang tidur."


"Di apartemen semewah ini? Gak ada tempat lain?"


"Ck, ya gue cuma punya apartemen minim ini sih yang paling murah. Atau lo mau tinggal di rumah gue? Sambil kenalan sama calon mertua." Ia tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya kala menatap Kian dengan kalimat barusan.


"Lo masih bisa becanda di tengah luka lo kayak gitu."


"Luka? Oh tangan gue ya?" Ia manggut-manggut saat melihat tangannya yang sudah terbalut kain kasa putih. "Luka gini doang sih gak ada apa-apa nya."


Baiklah, Kian bisa katakan bahwa Refan sudah kembali di mode awal. Dimana kesombongannya tak terkalah sedikit pun.


"Lo harus bersihin lukanya sama air panas dan alkohol. Biar gak infeksi." Kian mencoba menasehati, laki-laki di depannya cukup keras kepala. Padahal ia sudah mengajak Refan untuk ke rumah sakit beberapa kali, namun beberapa kali pula ia menolak dan hanya diam.


"Hn." Ia hendak melangkah lagi, namun dihentikan oleh Kian.


"Fan."

__ADS_1


"Apalagi?"


"Kenapa lo ada di sana tadi?"


"Karena ada pesan dari nomor gak dikenal masuk ke hp gue."


"Kenapa lo ----"


"Karena di pesan itu ada nama lo."


Kian diam, ia sibuk dengan pikirannya. "Udah kan?" Seolah tau dengan apa yang dipikirkan oleh Kian, Refan nyeletuk begitu saja. "Devan baik-baik aja. Paling juga lecet dikit tapi gak akan sampai meninggal."


Kian melotot mendengar kalimat tersebut, hingga mata bulatnya bertemu dengan mata bulat Refan. Saat aura di sekitar Refan tidak dingin, pasti mata itu bukan seperti miliknya. Namun sebaliknya, akan terlihat sangat tajam kalau aura dinginnya keluar.


"Giliran Devan aja langsung berubah raut wajahnya. Udah lah, Devan biar cupu gitu juga jago berantem. Walaupun gue gak suka banget muji dia."


"Lo tau dari mana?"


"Gak perlu lo tau. Udah malem, tidur sana. Good night Ki."


Klak!


"Fan! Makasih."


Ia hanya berdehem lalu melangkah pergi. Tidak ingin jika Kian akan mencegahnya pergi lagi.


Setelah kepergian Refan, benar saja ada pelayan yang datang membawa makanan dan baju ganti untuk Kian.


Kian memandang sesisi ruangan yang amat luas itu. Begitu mewah dan pastinya sangat mahal. Dan apa tadi, Refan mengatakan jika apartemen ini minim dan murah? Orang kaya selalu begitu. Ia melihat ada beberapa pintu lagi, dan melihat satu per satu ruangan berpintu itu.

__ADS_1


Kamar yang lumayan luas, bahkan terlihat seperti tak pernah di gunakan, begitu bersih dan rapi. Kian meninggalkan kedua kamar itu dan langsung melesat ke kamar mandi yang ada di dapur, lalu berlanjut menyantap makanan yang disediakan. Meskipun begitu berat, apalagi setelah kejadian hari ini Kian tetap memakan makanan itu. Refan sudah terlalu baik padanya, hingga sungguh tak tau diri dirinya jika tak menyantap makanannya. Hingga berlanjut ia tertidur di sofa sambil meringkut.


__ADS_2