Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#104


__ADS_3

"Refan? Udah pulang kamu sayang? Ayo sini kita makan bareng nak." Ucapnya tersenyum penuh arti, di depan meja makan yang sudah tersaji begitu banyak makanan.


Refan yang baru saja pulang sekolah masih menyandang tas di sebelah lengannya, mendekati dan memeluknya sebentar lalu lanjut berjalan. "Refan gak laper ma. Refan mau ke atas dulu." Dinginnya.


"Refan, kok kamu jahat banget sih nak. Kamu gak kangen sama mama hm? Mama sengaja bikin surprise buat kamu. Ini mama baru pulang dari London kamu malah sambut mama kayak gak ikhlas gini sih!" Rocehnya, cemberut menatap punggung Refan.


Membuat Refan yang menaiki anak tangga menjadi berhenti sejenak. Mendelik kebelakang menatap mamanya sebentar, "Refan yakin, mama pulang bukan buat Refan, melainkan ada urusan lain kan? Lanjutin aja." Refan berkata dengan dinginnya, lalu kembali melangkah menaiki anak tangga.


Wajah cemberut itu kini berubah begitu sadis dan penuh amarah. Bagaimana bisa anak kesayangannya bicara seperti itu? Walaupun di satu sisi ada benarnya di sana. Ia menghentak-hentakkan sendok yang ada di piringnya saat ini dengan penuh kekesalan. Menggenggam erat sendok itu, sorot mata mata lurus dan tajam, menampakkan kebencian yang teramat di sana.


'Akhhh!! Dasar anak tidak tau diri. Jika saja kalau bukan karena hal itu mungkin aku tidak akan pernah mau memintamu! Kenapa bisa Zanna mendapatkan kakak beradik itu?! Aku sudah berusaha menyingkirkannya, dan sekarang masalahku hanya anak tertua itu. Kalau saja ia tetap bersikeras maka jalannya akan lebih baik! Dan aku tidak perlu mengotorkan tangan ini!'


Pyar!!


Tak sengaja wanita yang identitasnya adalah mama Refan itu menyenggol gelas yang ada di meja hingga jatuh dan pecah. Namun tak membuat Refan beranjak dan melihat. Ia langsung menyuruh pembantu untuk membereskan kekacauan itu, serta membuang semua makanan yang ada karena marah.


___________


Seperti biasa malam ini Kian dan Devan pulang dari part time job nya. Berjalan beriringan tanpa ada sepatah katapun di sana. Seharian ini pun mereka tak saling berucap. Kian dengan sikap keras kepalanya yang selalu tak mendengarkan omongan Devan, tetap bekerja meski sudah di marahi oleh Devan. Yah, gara-gara perdebatan siang hari tadi membuat mereka berdua menjadi tak saling bicara sekarang.


Angin yang bertiup begitu kencang, hingga membuat dingin menembus ke dalam kulit. Dengan seperti biasa, Kian akan pergi tanpa menggunakan jaket walau di cuaca yang seperti sekarang. Ia beranggapan, ia sudah memakai baju panjang, hingga tak akan merasa kedinginan lagi. Tapi nyatanya berbeda.


Sorot mata Devan yang tau akan isyarat, kalau Kian yang sedang kedinginan membuatnya membuka jaket dan langsung memakaikannya pada Kian. Gerakan spontan itu membuat Kian menjauh dari Devan. Membuatnya hampir keluar pembatas trotoar dan hampir di serempat oleh pengendara yang sedang lewat. Untung saja Devan dengan sigap langsung menariknya, hingga merengkuh bahu itu sebentar.


Lagi-lagi Kian menjauhi Devan. Ia melepaskan rengkuhan itu, dan berjalan menjauh dari sisi kiri Devan. Devan yang melihatnya hanya bisa diam. Ia tau ia juga salah tadi siang sampai bicara seperti itu pada Kian, hanya saja ia sedikit khawatir pada Kian. Kadang terbesit di otaknya, apakah tindakannya tadi siang sangat sangat salah? Sampai reaksi Kian seperti itu?


Tak tahan di diami oleh Kian, Devan langsung menyusul dan menghadang jalannya. Kian tentu saja langsung mencari jalan lain, menghindari Devan bahkan kontak mata saja tidak dengannya. Namun Devan juga sama keras kepalanya, tetap menghadang Kian kemanapun ia melangkah.


"Lo kenapa sih? Mau jaketnya? Nih!!" Kian hampir membuka kembali jaket itu, namun ditahan oleh Devan.


"Maafin gue." Singkat, padat dan jelas. Kini sorot matanya memandang manik mata Kian, dengan begitu dalam.


Namun Kian malah berusaha menghindari kontak mata itu, "Lo gak salah apa-apa. Minggir!" Bentaknya, tapi tetap tak diindahkan oleh Devan.


"Gak, sebelum lo maafin gue."


"Udah Van, gue capek. Gue mau cepet-cepet pulang!" Kesalnya yang sudah mencapai ubun ubun.


"Maaf." Ucapnya lagi, namun tak ada jawaban dari Kian. Hanya mata yang sudah memerah seperti ingin mengeluarkan sesuatu di sana.


"Lo capek? Gue gendong." Devan berbalik dan berjongkok di depan Kian. Lama tak ada juga pergerakan dari Kian, hanya isakan tangis yang terdengar. Membuat Devan kembali berbalik ke arah Kian. " Kenapa hm?" Dua kata yang keluar dari mulut Devan, yang tentu membuat Kian malah nangis menjadi jadi. Sekuat apa pun ia berusaha untuk menahannya, tapi tetap saja ia hanya seorang perempuan yang cengeng dan lemah.


Pandangan Kian yang selalu menghindari Devan dengan air mata yang masih mengucur, membuat Devan menarik dagu itu dan menghapus air mata di pipi Kian yang mengalir derasnya.


"Cerita ke gue." Pinta Devan dengan lembut, membuat Kian melirik wajah itu sebentar dan membuang pandang lagi.

__ADS_1


"Gue lemah kan Van?" Kian membuka suara


Berfikir sebentar, lalu Devan langsung menjawab pertanyaan itu, "Gak, lo cewek kuat."


"Bohong lo!! Tadi siang aja lo bilang gitu!!"


"Gue bilang gitu karena gue gak mau lo capek. Lo ngelakuin sesuatu yang udah diatas kata wajar. Sekolah, kerja, belajar apalagi selalu mempertahankan prestasi itu gak mudah. Gue gak mau lo sampai sakit gara-gara hal itu dan bakal kehilangan semuanya." Jelas Devan menangkup kedua pipi Kian.


Masih dengan tersedunya Kian hendak berucap lagi. Namun belum sempat Kian berucap, Devan sudah menarik tubuh itu lebih dulu. Memberikan dekapan lembut pada Kian. Walau tak ada balasan dari Kian, Devan tetap mengelus surai hitam itu dengan lembut. Tak membiarkan satu helai pun di terbangkan oleh angin yang begitu kencang.


Terdengar isakan yang menjadi jadi dari Kian. Yang tentu sudah membuat baju Devan menjadi basah. Namun ia tak mempermasalahkan itu sama sekali. Ia tetap melanjutkan kegiatannya, sampai Kian kembali bersuara.


"Gue salah apa sama mereka Van? Gue gak tau salah gue apa, tapi mereka selalu aja gangguin gue. Gue capek Van! Gue capek. Gue salah sekolah di sana? Iya, gue salah banget kali ya sekolah di sana. Bahkan mereka bilang gue perebut kebahagiaan mereka. Kebahagiaan kaya gimana sih Van? Bilang!! Kebahagiaan seperti apa yang buat mereka segitu bencinya sama gue!!" Teriaknya dengan penuh kekesalan dan amarah, yang masih berada dalam dekapan Devan.


"Lo gak salah, mereka cuma iri. Karena lo lebih dari mereka. Maaf gue telat nolongin lo tadi siang dan maaf karena omongan gue tadi siang. Lo mau gue bales apa ke mereka?"


Kian mendorong Devan, memberi jarak dalam pelukan itu, lalu langsung memukul dada bidang milik Devan. Dengan begitu kuatnya, namun tetap membuat si mpu hanya meringis dan menahannya. Di sela-sela itu Kian kembali berucap, "Stop kasihani gue Devan. Lo cuma kasihan kan sama gue!! Iya kan. Bener kata mereka gue cuma anak lemah yang kalo gak ada lo gue bukan apa-apa. Lo juga harusnya jauhin gue Devan. Lo tau kenapa mereka kayak gitu? Karna mereka cemburu, mereka suka lo. Sarah juga suka sama lo. Lo harus jauhin gue!!"


Hingga setelah beberapa pukulan berlangsung Devan merasa pukulan itu mulai terasa melemah, ia menarik Kian kembali kepelukannya membenamkan Kian disana, "Gue bakal jauhin dan deket ke orang lain atas kemauan gue sendiri. Bukan atas permintaan lo atau pun mereka. Dan ingat Kian, lo punya perjanjian sama gue yang gak bisa buat lo jauh dari gue! Jangan sekali kali lagi lo nyuruh gue buat jauhin lo!!" Dekapan yang begitu erat seakan tak ingin terlepas membuat Kian hanya diam dalam rasa sesak dan terus menangis.


Yah, ia lupa ia masih punya hutang pada Devan, siapa dia yang bisa menyuruh Devan seenaknya? Perjanjian hutang yang ia buat sendiri, yang memikat dia dan Devan secara bersamaan. Dan hal itu tidak akan bisa membuat ia jauh dari Devan. Itulah kenyataannya.


"Nah, gitu kan enak liatnya." Suara seorang perempuan paruh baya mengagetkan mereka berdua, hingga pelukan itu menjadi lepas. Kian dan Devan menatap perempuan itu dengan tatapan heran ditambah lagi dengan rasa gugup mereka.


Kian bahkan berkalut dengan pikirannya, apakah kedua orang ini melihat apa yang mereka lakukan sedari tadi? Apalagi setelah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh seorang perempuan paruh baya itu.


"Maafkan istriku. Dia tak sengaja memperhatikan kalian dari kejauhan sejak tadi. Aku sudah memperingatinya untuk tidak memperhatikan kalian, tapi dia begitu bersikeras." Ucap seorang kakek yang berdampingan dengan perempuan paruh baya itu. Yah, pasti itu adalah suaminya, begitulah pikir Kian.


Kian tersenyum dan hendak menjawab perkataan si kakek, namun belum sempat itu terjadi sang istri sudah menyeletuk duluan, "Hey! Aku sedang berusaha menasehati cucuku sekarang agar mereka lebih kuat dalam hubungannya. Kenapa kau meminta maaf. Apa aku salah pak tua?" Cibirnya


"Sudahlah, kau mengganggu mereka. Ayo kita pulang, malam sudah semakin larut, tak baik bagi kita yang sudah renta ini masih di luar pada jam ini." Sang kakek menarik lembut tangan istrinya, menjauh dari Kian dan Devan yang masih setia berdiri bersebelahan.


"Hey!! Aku kan hanya ingin menikmati suasana malam, seperti muda mudi ini. Menikmati malam seperti pasangan lainnya. Berjalan berdua, bercerita banyak hal, dan begitu romantis." Ia memaksa cekalan itu terlepas.


"Kita sudah tua, tubuh kita tak memiliki antibody seperti mereka yang bisa bertahan di cuaca yang seperti ini. Dan tak ada lagi kata romantis. Lagipula setiap hari kita sudah banyak bercerita. Cerita apalagi yang kau mau hm?" Tanya lembut.


"Huh, kenapa aku bisa menikahi pria tidak romantis sepertimu. Bahkan dari dulu hingga sekarang kau tidak pernah romantis." Ketusnya.


"Aku sudah katakan itu dulu. Kalau aku memang bukan pria yang romantis. Tapi kau tidak mempermasalahkan dan mau menerimaku saat itu, sampai sekarang pun begitu. Kita juga sudah memiliki beberapa anak bahkan cucu, dimana lagi letak ketidakromantisanku?"


"Hey!! Pria tua mesum. Yang kukatakan romantis itu bukan seperti itu. Yah, kau benar. Kau begitu sok jual mahal dulu. Hingga aku yang harus mengejarmu duluan."


"Yang tua tak hanya aku, kau juga, jadi berhentilah meneriaki ku dengan kata pria tua. Dan asal kau tau saja, sebelum kau mengejarku aku sudah bermimpi terlebih dahulu untuk menghabiskan sisa hidupku ini bersamamu."


"Jadi maksudmu??? (Sang nenek terlihat sedikit syok dengan pernyataan barusan) Kau sudah lebih dulu menyukaiku? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? padahal kita sudah menjalin hubungan bahkan menikah hampir empat puluh tahun!!"

__ADS_1


Puk,,, puk,,,puk, Pukulan pelan yang dilayangkan oleh sang nenek membuat sang kakek mengaduh dan segera menangkap tangan itu.


"Sudah cukup sayang. Kau menyakiti pria tua ini. Iya, aku lebih dulu menyukaimu. Tapi aku terlalu takut, apalagi saat melihatmu yang banyak di sukai oleh banyak laki-laki yang tak sepadan dengan ku. Tapi ternyata takdir berkata lain dan mengiyakan doaku. Aku sangat bersyukur dan sangat berterima kasih pada Tuhan untuk itu. Dia memberikanku sebuah titipan yang lebih berharga dari sebuah permata sekalipun. Tetaplah bersamaku hingga nafas ini terhenti."


Hingga kalimat terakhir itu terlontarkan membuat sang nenek dan kakek berpegangan tangan dengan kuatnya. Saling menggenggam dan tersenyum. Tak lupa sang kakek mengecup kening sang nenek dengan begitu tulus. Terlihat raut wajah yang begitu bahagia terlukis di sana. Dan membuat dua orang yang awalnya di perhatikan malah menjadi memperhatikan dua sejoli yang sudah beruban itu.


"Nih." Ucap Devan memberikan satu lembar sapu tangan pada Kian, membuat lamunan Kian pada kedua orang itu langsung lenyap tak bersisa. Ternyata sedari tadi Kian melihatnya malah menjatuhkan air mata, tanpa di sadari oleh dirinya sendiri. Ntah apa yang ada di bayangan Kian hingga ia menangis.


"Buat apa?" Suara khas seseorang yang habis menangis.


"Menurut lo?" mata elang itu melirik Kian dengan begitu tajam. Dengan sigap ia langsung mengambil sapu tangan itu. Menghapus sisa air mata dan sekaligus cairan yang keluar dari hidungnya.


Mereka berdua kembali berjalan di trotoar, melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Setelah dari adegan mereka berlanjut melihat adegan dua sejoli yang begitu manisnya.


Kian melihat ke sana kemari, ntah sejak kapan jalan itu menjadi seramai sekarang. Padahal beberapa waktu lalu ia merasa hanya ada dia dan Devan saja. Namun tidak dengan sekarang. Benar kata sang nenek, kalau sekarang banyak muda mudi yang notobane nya sepasang kekasih berjalan santai, bergandengan, bercanda tawa dengan senangnya.


Membuatnya menarik nafas panjang, "Emang malam minggu selalu identik dengan pasangan yang jalan berdua ya?" Tanya nya, ntah mengharapkan atau tidak jawaban dari Devan.


"Gak selalu pasangan, tergantung keperluan dari masing-masing orang."


"Hm, bener juga kayak lo sama gue. Yang jalan berdua cuma karena pulang kerja." Ucapnya lesu.


"Ki, berhenti dulu." Titah Devan, ketika mereka dekat dengan satu gerobak sekoteng. Devan berjalan ke arah penjualnya, dan memesan dua porsi sekoteng.


Devan juga memberikan satu kursi plastik untuk Kian sambil menunggu pesanan mereka jadi.


Lagi-lagi Kian tak memberi arah jalan pikir Devan. Beberapa menit lalu ia marah bahkan mengancam dirinya lalu sekarang berubah baik lagi. Sebelum beberapa waktu lalu menjadi dingin.


"Nih, kita angetin badan dulu. Abis ini baru kita pulang." Ucap Devan memberikan satu gelas sekoteng pada Kian.


"Makasih." Singkat Kian yang diangguki oleh Devan.


Mereka menikmati hangatnya minuman itu sambil melihat beberapa orang lewat yang menikmati malam minggu mereka. Hingga Kian terfokus pada dua orang yang sedang asik bermain sepatu roda di tengah taman, yang ada di sebrang mereka saat ini.


Dan tanpa ia sadari Devan juga melihat arah pandangnya saat ini. Melihat arah pandang dan wajah Kian secara bergantian. Hanya dengan mimik wajah datar.


.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc


__ADS_2