
"Mom... Dad..." Panggilnya balik dengan senyum sumringah.
Namun ekspresi itu mendadak berubah ketika ia melihat wanita yang duduk di kursi roda, "Apa yang terjadi dengan mu mom?" Tanya nya khawatir langsung mendekati mereka berdua.
Sam yang melihatnya begitu tak percaya sampai sampai ia hanya bisa diam membisu. Mulutnya benar benar terkunci rapat tak bisa berucap. Air bening itu tiba tiba meluncur bebas begitu saja dari dua matanya.
Seseorang yang di panggil Son itu hendak memeluk wanita yang ada di kursi roda. Namun belum sampai pelukan itu,...
Plak... Plak...
Rotan sudah menyapa tubuhnya duluan. Membuat semua mata yang ada di sana membulat sempurna karna perlakuan wanita itu. Sedangkan ia yang terkena pukulan hanya bisa diam, karna merasa bersalah dan berfikir bahwa ia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Namun dia tetaplah seorang wanita yang tak akan tega memukul anaknya terlalu keras.
"Claudia hentikan!! Kau bisa menyakitinya!" Cegah Sam.
"Diam lah Sam. Aku ingin memberi pelajaran pada anak pembangkang yang satu ini." Ucapnya tanpa menoleh pada Sam. Ia terus memukuli orang yang ada di depannya itu, namun si mpu bukannya menghindar malah berlutut di depan wanita itu seperti memang memberikan wanita itu kepuasan dengan apa yang ia lakukan.
"Dasar anak nakal!! Kau sengaja meninggalkan kedua orang tua mu ya?!. Bahkan kau tidak menghubungi kami selama ini. Kau tidak memberi kabar atau pun sebaliknya, kau juga tidak memberitahukan dimana kau berada selama ini. Kau tau berapa lama kau sudah pergi hah?!! Delapan belas tahun Geor!!! Itu bukan waktu yang sebentar, bahkan aku hampir tak mengenalimu sebagai anakku." Ucap Claudia yang sudah berhenti memukuli Geor yang ada di depannya. Air mata yang awalnya ditahan kini sudah meluncur bebas.
Ia mengulurkan kedua tangannya berharap di balas oleh Geor. Namun dia hanya menunduk dengan tetap posisi berlutut di depan Ibunya itu.
__ADS_1
"Kau lihat Sam. Bahkan anakku tidak merindukan ku sama sekali." Ucap Claudia
Merasa tak ada pukulan lagi yang ia terima, ia mendongak dan ternyata ibu nya sudah mengulurkan tangan. Langsung ia membalas uluran tangan itu dan memeluknya erat begitu pun dengan Claudia.
"Kau pergi dari rumah ini tanpa mengucapkan sepatah katapun pada kami selam belasan tahun. Aku tak pernah berpikir kalau putraku akan mati dengan sia sia diluar sana. Karna aku tau bagaimana keras kepala dan kuatnya Geor ku. Ia takkan mau mati dengan semudah itu. Tapi kau tau son, aku adalah ibumu yang tentu saja merasa khawatir dan juga merindukan mu. Kau lihat sekarang kepala ku dan ayahmu sudah mulai tumbuh rambut putih seperti ini. Apa kau tidak rindu sama sekali dengan kami? Apa kau ingat bagaimana kami sebelum kau tinggalkan? Dan sekarang seperti apa kami. Aku yang sudah tak kuat lagi berdiri ini sekarang memakai kursi roda." Yang masih dalam isak tangisnya.
"Maaf" Satu kata keluar dari mulut George
"Aku pikir kau sangat memikirkan kami. Ternyata aku salah kau pergi. Sudah ku katakan apapun yang dilakukan oleh mereka aku takkan percaya. Mereka hanya memfitnahmu. Walaupun dunia berkata kau begitu tapi kenyataanya kamu tidak akan seperti itu. Kau anak baik." Ucapnya mengelus kepala itu dengan lembut.
Deg...
Kalimat terakhir itu bagai bom atom bagi George yang mendengarnya. Hal itu awalnya memang hanya fitnah sampai akhirnya ia benar benar melakukannya. Hingga ia menyesali apa yang ia perbuat.
Delapan belas tahun yang lalu~
Yang saat itu George masih berumur 20 tahun. Dunia club memang sudah biasa bagi anak orang di kalangan atas seperti dirinya bahkan orang biasa. Malam itu ia dan teman temannya memutuskan untuk pergi ke club untuk merayakan kemenangan dan kesuksesan perusahan yang ia bangun bersama sama teman temannya.
Geor memang sangat tertarik dalam berbisnis hingga di usianya yang baru tamat SMA ia tak mengambil jalan kuliah sama seperti teman-teman seangkatan lainnya. Melainkan mengajak orang orang yang lebih dewasa darinya untuk membangun suatu perusahaan yang tentu saja itu dari nol. Kedua orang tuanya sangat menyayangkan itu, bahkan karna Geor yang sangat tertarik dengan dunia bisnis orang tuanya rela memberikan perusahaan yang mereka punya. Namun Geor menolak itu mentah mentah. Padahal seperti orang tuanya katakan bahwa 'Siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan itu kalau bukan anaknya'. Tapi disisi lain orang tuanya juga tau kalau Geor merupakan anak yang keras kepala. Hingga mereka hanya pasrah dengan kemauan anak pertamanya itu.
__ADS_1
Dan setelah dua tahun bergelut dengan teman temannya akhirnya perusahaan itu terbangun dan sukses. Tapi tanpa ia sadari salah satu temannya itu memiliki rencana jahat terhadap dirinya. Temannya tak suka dengan kepandaian serta kehidupan mulus yang ia punya.
Hingga pada malam itu, terjadilah hal memalukan di club. Awalnya ia mendengar seorang wanita yang berteriak di dalam kamar saat ia hendak pergi ke toilet. Namanya club tentu sangat bebas dalam melakukan apapun termasuk hubungan kejam itu. Namun Geor bukan lah orang yang hatinya keras walaupun ia memiliki sifat keras kepala dan lebih banyak tak perduli dengan urusan orang lain.
Melihat kamar itu tak sepenuhnya tertutup ia pun penasaran dan melihat apa yang terjadi. Geor melihat ada seorang wanita yang di todong pistol dan hendak di tembak oleh seseorang yang memakai pakaian serba hitam.
Sedangkan wanita itu sudah berpakaian compang camping, dan robek di kanan kirinya. Geor pun langsung peka hal apa yang sedang terjadi di sana. Belum lagi darah yang keluar dari sudut bibir wanita itu. Tentu ia sudah menerka kejadian kekerasan baru saja terjadi. Wanita itu terus meminta tolong membuat Geor iba dan menolongnya.
"Hey!!!" Teriak Geor dari luar dan langsung masuk begitu saja. Menendang punggung orang yang memegang pistol itu hingga tersungkur. Dan membuat pistol itu terlempar jauh darinya.
Perkelahian antara Geor dan orang itu tak bisa dihindari. Tinju, tendang dan sikut dilayangkan satu sama lain antara mereka. Wanita yang ada di ruangan itu hanya menangis tersebut sedu melihat keduanya berkelahi.
Sampai Geor mendapatkan pistol itu dan menodongkannya pada orang tersebut, agar ia tak banyak tingkah lagi dan tak melawan.
Geor bukanlah anak yang rela membunuh orang lain tanpa sebab. Ia juga lebih memilih jalan yang harus nya dipilih. Ibunya selalu menitipkan pesan pesan yang sangat baik padanya. Bahkan ia pun dilarang oleh ibunya untuk berkelahi kalau bukan hal mendesak.
Ia berniat untuk menyerahkan orang tersebut ke kantor polisi namun orang tersebut terus saja memancing emosi Geor.
"Hey, kau sudah memegang pistol itu. Tunggu apalagi ayo tembak aku. Apa kau takut anak manis?" Tantangnya dengan senyum remeh.
__ADS_1
"Geor bunuh saja dia!! Dia hampir mengotoriku." Ucap perempuan itu. Geor sedikit tersentak mendengar kalimat itu bagaimana bisa wanita itu tau dengan dirinya sedangkan dia saja sama sekali tak kenal mereka yang ada di dalam kamar itu. Ia hanya mau menolong karena masih punya rasa kemanusiaan.
Dor....