Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#70


__ADS_3

Kini Kian sudah berada di taman kota seperti pinta Devan tadi siang. Dengan sweater panjang, celana panjang cream, sepatu putih polos, tas kecil selempang berwarna hitam dan rambut yang di gerai menutup tengkuknya agar tak dingin.


Ia berdiri di taman itu sendiri melihat keramaian yang ada. Yah malam ini adalah malam kamis, kebanyakan pasangan suka ke luar atau berkencan seperti malam ini, selain malam minggu.


Kian berdiri dengan terus mengedarkan pandangannya, untuk melihat dimana keberadaan Devan dan Gio. Sebenarnya sedikit kekhawatirannya saat ini. Ia takut jika tiba tiba orang tuanya pulang, namun ia dalam posisi tak ada di rumah. Tentu hal itu akan membuatnya kena murkaan dari orang tuanya.


Drrttt.... Drttt...


Ponsel Kian bergetar menandakan ada telpon masuk.


"Hallo assalamulaikum"


"Waalaikumsalam. Heh, neng lo dimana? Kurir gw udah di rumah lo. Tapi dia bilang rumah lo gak ada orangnya."


"Lah ngapain kurir lo ke rumah gw malam malam gini Feb? Sorry gw lagi di luar sekarang."


"Gw mau kasih kado lo oon. Ngapain sih lo di luar jam segini, tau emak sama bapak lo baru tau rasa. Lagian lo sama siapa?"


"Emm... Sendiri. Astaga, kado apaan sih nyet. Lagian ngapain malem? kayak besok gak ada lagi aja."


"Gw mau kasihnya malem ini. Gw takut gak sempet lagi kalo besok."


"Heh! Ngomong apa sih. Jangan aneh aneh ya Feb."


"Ahahaha... udah ah. Ntar lo liat aja kadonya. Gw mau tidur dulu ya, besok gw mau ikut study tour sama camping. Pulang lo jangan di luar rumah mulu."


"Iya bawel. Thanks ya"


Tut...


Telepon itu terputus, membuat Kian kembali mencari sesosok yang ingin ia temui.


Kian hendak melangkah pergi untuk mencari mereka, ia berpikir kalau mereka mungkin tak ada di sana dan sudah menunggu di tempat lain.


"Kak Kian" Teriak seseorang dari belakang membuat Kian menoleh dan....


Brukh..


Pelukan itu langsung menyambar Kian.


"Hey, Gio kebiasaan banget sih. Jangan lari lari gitu." Ujar Kian yang kini Gio sudah berada dalam pelukannya


"Hehehe... Maaf. Abis nya Gio kangen banget sama kakak. Kak Kian udah gak pernah lagi maen ke rumah jadi Gio cuma bisa ikut kak Kavin kerja terus. Gak asik banget kalo gak ada kak Kian."


"Maaf ya sayang. Kak Kian banyak tugas banget jadi gak bisa kemana mana."


"Em, iya."


Cup...


Cup...


"Happy birthday kak Kian" Bisik Gio di telinga Kian setelah mencium kedua pipinya. Kian hanya bisa tertenggu dengan aksi reflek dari Gio itu.


"Wah... Gio sekarang udah pinter modus ya." Teriak seseorang yang juga baru hendak menghampiri mereka.


Kian menoleh ke sumber suara, terlihat dua laki laki jangkur berjalan ke arah mereka dengan sok cool.

__ADS_1


"Lah Mikko, Devan." Ucap Kian melongo melihat ke duanya.


"Iya Ki. Mikko ganteng come back, girl. Ha.. Ha.. Ha.. "


"Tumben ada lo?"


"Yah, ketara banget ya gw kayak mau kacauin acara kalian." Dengan cengengesan


"Bukan gitu Mik. Tumben aja lo disini, gw udah lama aja gak liat lo."


"Masa sih? Abisnya vibe kalian tuh kayak pasangan yang punya satu anak. Jadi kayak gimana ya gw nya. Ha... ha..." Ucapnya garing


"Lo ngomong apaan sih gaje banget. Kan gw udah bilang, karna gw udah jarang liat lo."


"Napa? Lo kangen gw?" Mikko dengan wajah yang begitu menjengkelkan bagi Kian yang melihatnya.


"Becanda kali Ki, serius amat. Sekarang rumah susun yang biasa gw tempatin lagi di renov, jadi gw numpang tinggal di rumah Devan sama Gio. Lo tau lah gimana sibuknya pengangguran kayak gw Ki." Ucapnya sambil tertawa garing.


"Eh, btw happy birtday ya. Sorry gw gak bawa kado, buru buru abis nya."


"Alah, bilang aja kak Mikko emang gak bisa beli kan?" Ucap Gio enteng


"Lah, sembarang nih bocah."


"Eh Gio gak boleh gitu."


"Tapi Gio bener kok" Sergah Devan


"Wah... lu ya Van. Jatuhin harga diri gw di depan gebetan gw." Mikko menujuk nya seolah seperti marah.


"Maksud lo?" Tanya Devan dingin dengan tatapan tajam..


Mereka berdua berdebat pendek dengan Mikko yang lebih banyak mengeluarkan kalimat ketimbang Devan. Devan hanya bermain dnegan ekspresi wajahnya. Sedangkan Kian? Ia hanya melihat kedua manusia berdebat layaknya sepasang kekasih.


"Huh, so Gio? Apa yang bakal kita lakuin?" Setelah berlalu malas melihat kedua manusia itu.


"Kita naik komedi putar yuk kak." Ajak Gio, Kian nampak berpikir yang kemudian mengangguk.


Di taman kota itu, merupakan paket lengkap dan komplit. Sebab di samping taman kota terdapat taman hiburan. Membuat siapa pun pengunjung tak hanya menikmati suasana atau berjalan jalan disana namun juga bisa bermain.


"Kak Kavin sama kak Mikko, udah ah berantemnya, ayo.."


Mendengar celoteh anak itu membuat Devan dan Mikko berhenti dan mengikuti mereka berdua.


Saat ini mereka berdua berada di area komedi putar, yang didapatnya terdapat beberapa bentuk tempat. Seperti ada kuda terbang, unicorn, kuda biasa dan tempat duduk untuk dua orang.


Gio memilih untuk naik tempat duduk berdampingan itu untuknya dengan Kian, dan meminta Devan serta Mikko untuk naik kudanya. Bayangkan saja umur mereka yang sudah seperti itu di suruh untuk menaiki benda aneh itu membuat Devan menatap malas. Namun Gio begitu memohon hingga akhirnya dua manusia itu ikut menaiki benda yang kekanak kanakan itu.


Wajah Devan begitu dingin dan datar, berbeda dengan Mikko yang malah mengganggap kuda itu hidup, menikmatinya walupun saat saat itu dia sudah sedikit mual karena benda itu selalu berputar. Sedangkan dua penumpang di belakang mereka sangat menikmati hal itu, bahkan tak sedikit pun ada guratan khawatir di sana. Hanya tertawa dan tertawa dengan bahagia tak lupa juga dengan Kian yang mengabadikan momen itu.


Setelah itu berhenti, mereka melanjutkan untuk bermain sepeda dan berkeliling di taman. Di tempat sewa sepeda itu tepat tersisa tiga sepeda, satu untuk anak kecil berwarna hitam, satu sepeda lala berwarna biru, dan satu lagi sepeda untuk berdua berwarna pink. Dengan sigap Mikko langsung menyambar sepeda lala itu, sebab Mikko sedikit punya alergi dengan warna pink walaupun itu hanya di sepeda.


Dengan terpaksa Kian dan Devan menaiki sepeda warna pink, dengan Kian yang berada di jok depan. Kini mereka melaju dan saling balapan di taman itu. Mikko dan Gio terlihat begitu senang dan semangat mengayuh tanpa beban. Berbeda dengan Kian yang terlihat begitu kesulitan.


"Woy Devan! Lo bantuin kayuh gak sih? Lo liat kita udah ketinggalan jauh dari mereka berdua." Roceh Kian yang masih tetap mengayuh.


"Hn.. kayuh kok. Lo nya aja yang lemot. Lebih semangat lagi kenapa." Ucap seseorang yang dibelakang dengan enteng

__ADS_1


Kian pun tetap mengayuh, namun lagi lagi itu begitu berat.


"Devan kencengin dikit kayuhnya!! Udah cape nih!"


Tak ada sahutan di belakang membuat Kian menoleh dan mendapati Devan sedang santai tanpa mengayuh, mengedarkan pandangannya ke sekitar taman itu tanpa memperdulikan Kian.


Ckitt...


Sepeda itu berhenti membuat Devan menatap bingung dan mengangkat satu alisnya.


"Huh... huh... pantas aja dari tadi berat. Lo gak ikut bantuin ternyata. Turun lo!!" Devan hanya menurut tanpa bicara menatap datar Kian.


"Gantian sekarang lo yang di depan! Lo yang kayuh dan gw di belakang bantuin. Keenakan banget lo ya nyiksa gw."


Devan menatapnya malas bahkan dari ujung kaki sampai ujung kepala Kian tak luput dari pandangan itu.


Tanpa banyak bicara ia mengambil alih stang depan, menduduki jok itu.


"Buruan naik! Gw tinggal nih."


"Iya bentar." Ucap Kian, "Udah" lanjutnya.


Devan yang merasa jok belakang sudah ada pergerakan yang menandakan seseorang sudah naik mulai mengayuh pedal itu.


Semenit .....


Lima menit ......


Sepuluh menit .....


"Ki, ternyata lo berat juga ya. Bantuin gw lah buat kayuh." Ucapnya yang kini sudah mati matian mengayuh. Namun tak ada suara dari belakangnya, Devan menebak saat ini Kian sedang marah padanya hingga membuatnya betah untuk diam.


Namun tak lama...


"Ayo Van, yang kenceng kayuhnya. Go semangat Devan go." Seseorang berlalu dengan di bonceng memakai sepeda lala biru itu.


Sedetik ....


Dua detik .....


Tiga detik .....


"Woy!!!" Teriaknya tak terima


.


.


.


.


.


.


๐Ÿ’ฌโค๐Ÿ™

__ADS_1


Gabinno


__ADS_2