
Karna tak ada yang menunggu UKS Devan langsung aja masuk. Dan membaringkan Kian di tempat tidur. Kian memang tidak pingsan, namun ia juga sangat lemas. Sehingga hanya bisa melihat tanpa mengucapkan sesuatu.
Devan mengambil kapas serta tisu di dalam lemari. Mengambil jaket yang menutupi hidung Kian dan membersihkannya. Kian hanya bisa diam, karna ia benar benar lemas. Dengan telaten Devan membersihkan darah itu dan menyumbat hidung kian yang masih mengeluarkan darah.
Tak lupa ia juga mengelap darah yang berada di tangan kian. Setelah selesai, ia pun hendak pergi namun tangannya di tahan oleh Kian. Ia menoleh tajam pada Kian.
"Gw tau lo orang yang gak suka disusahin. Tapi hari ini gw makasih banget karna lo udah nolongin gw. Dan gw juga mungkin terbilang orang yang gak tau diri. Tapi plis gw minta tolong banget sama lo Van, jangan sampai orang lain tau ya." ucap Kian lirih dan memohon. Sedangkan Devan hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Termasuk cowok lo yang barusan lo temuin di depan kelas tadi?" menatap penuh tanya pada Kian
"Oh Jerry. Dia temen gw dan tentu saja dia juga gak tau."
"Plis jangan kasih tau orang lain ya. Gw mohon sama lo." lanjutnya
"Heh! emang gw harus ngomong ke siapa ha? dengan keluarga lo? gw aja gak kenal. Sama orang orang sekolah? gw aja gak terlalu peduli. Itu sih terserah lo. Lo yang rasain. Tapi kalo gw kasih saran sih, lo obatin sakit lo sebelum parah."
"Gw gak sakit kok. Cuma kalo terlalu banyak mikir jadi mimisan."
"Oh pantas selama ni lo gak pernah mikir ya, haha. Gw pikir lo mimisan karna liat gw." ucapnya remeh
"Heh dasar aneh. Jangan terlalu pd yak."
Devan pun langsung keluar meninggalkan kian.
Kian yang berada dalam UKS, hanya bisa berbaring sampai darahnya berhenti keluar. Mengingat kejadian tadi, sungguh membuat Kian begitu syok. Devan yang tak pernah peduli dengan sekitarnya bahkan terlihat dari cara bicaranya, menolong nya hari ini.
Saat kian baru ingin memejamkan matanya, ada suara orang yang juga masuk ke UKS. Ia takut orang tersebut temannya ia pun langsung menutup wajahnya dengan jaket.
"Heh, lo ngapain? gw tau lo belom tidur. Nih makan dulu"
Mendengar suara yang tak asing, Kian membuka jaket yang menjadi penutup wajahnya itu. Dan ternyata itu adalah Devan.
"Lo ngapain kesini lagi?" lain menatap bingung Devan.
"Lo baru kehilangan darah, sebaiknya lo makan dulu. Dari pada lo lemes nanti."
"Tumben banget lo peduli."
"Gak, sebagian diri gw yang masih punya rasa kemanusiaan bilang gw harus nolongin manusia yang hampir sekarat kayak lo." ucapnya dingin
"Hmm... ya udah thanks."
__ADS_1
"Lo pikir nih makanan gratis??"
Kian kembali dibuat terkejut dan bingung,
"Hah maksud lo? hmm padahal gw gak suruh. Ya udah berapa? gw gantiin duitnya."
"Gw gak butuh duit lo."
"Terus?!"
"Ntar aja." ucapnya cuek dan langsung pergi. Kian hanya bisa melongo dengan tingkah Devan yang aneh. Karna malas memikirkan hal tersebut, Kian mulai menyibukkan diri memakan makanan dari Devan dan setelah makan ia pun kembali ke kelas.
"Lho, ada kamu Ki? Kamu sakit apa?" tanya petugas UKS.
"Oh cuma pusing aja bu, gara gara belum makan. Tapi tadi udah makan kok dikasih sama temen."
"Oh ya sudah syukurlah."
"Kian permisi dulu ya bu."
Sesampai di kelas Ia langsung berpapasan dengan dua temannya yang heboh.
"Kian lo dari mana aja sih?! Lo tau gak tadi Devan ke kantin lho. Dan untuk pertama kalinya dia ke kantin. Terus dia ngelirik Sarah. Setau gw selama ini dia gak pernah kesana. Tapi waktu sarah sekolah disini dia udah mau kesana. Lo ngerasa gak sih ada yang aneh. Dan lagi kebetulan banget sarah di traktir sama Devan. Pasti ini ada apa apa ya kan?" Febbry yang bercerita panjang lebar pada Kian yang baru saja hendak masuk kelas. Sedangkan Sarah yang mendengarnya hanya bisa menahan senyum.
"Haha... Gw kan udah bilang, Devan bakal suka sama gw."
"Hmm... seneng banget kayaknya sarah."
"Eh, Ki." ucap Sarah yang dibalas tatapan oleh Kian. " Gw boleh gak duduk dibangku lo? hehe......"
"Mau ngapain?"
"Ya, si Kian pake acara gak peka segala." ucap Febbry
"Hmm...iya dh."
"Eh Btw Ki, ini bukannya jaket ojek waktu itu ya?"
"Eh iya. Kemarin mau gw kembaliin cuma gak nemu orangnya."
"Terus sekarang kenapa lo pake?"
__ADS_1
"Gw gak bawa jaket. Jadi gw takut tadinya bocor jadi gw pake aja buat pergi ke toilet."
"Oh, jadi gitu"
"Iya. Udah ah Feb, lo curigaan mulu kerjaannya."
"Hahah... iya deh"
Dan benar saja mereka berdua bertukar bangku. Kian duduk di bangku Sarah dan Sarah duduk dibangku Kian yang tepatnya disamping Devan.
Terlihat semburat senyum di wajah Sarah. Yah sudah tertebak sekali betapa senangnya anak itu bisa duduk disamping Devan.
"Van.... Devan.." panggil Sarah dengan sedikit berbisik agar tak ketahuan guru. Namun Devan tak menggubrisnya, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Bukan Sarah kalau ia mudah menyerah, banyak sekali tingkahnya untuk menarik perhatian Devan. Namun Devan tetap saja tak teralihkan.
"Makasih ya van, traktirannya tadi" ucap Sarah dengan senyum semanis mungkin.
Mendengar hal itu Devan langsung menoleh.
"Gak usah kePDan lo jadi cewek. Lo gak budek kan tadi, si ibu bilang kembaliannya gak ada. Makanya sekalian sama makan lo aja." ucapnya cuek.
"Ye bodo amat. Yang penting lo traktir gw tadi."
"Terserah lo cewek gila."
Bel berbunyi menandakan siswa siswi sudah boleh pulang. Dua orang teman kian sudah pulang, menyisakan kian dan Devan di kelas. Namun mereka berdua seperti biasa seolah tak terjadi apa apa. Kian berjalan ke luar kelas dan ketika sampai di gerbang ia hendak memesan ojek online.
Namun belum sempat ia membalas iya kepada sang ojek online dalam pesannya, ada sebuah motor berhenti di sampingnya. Kian mendadak seperti orang bodoh.
"Ayo naik."
"Eh, gw..."
"Gw bilang naik. Lo budek ya?"
"Lo kenapa maksa, gw kan gak mau. Gw juga udah pesen ojek online juga."
"Lo naik atau gw paksa!? cepet!" "Inget disaat gini lo gak boleh terlalu banyak kena sinar matahari."
Kian pun mengiyakannya, dan naik ke jok belakang. Seperti biasa dia akan menutupi pahanya dengan jaket yang ada di tangannya. Jika ada yang bertanya siapa orang tersebut, maka jawabannya siapa lagi kalau bukan Devan.
__ADS_1
'Kok sama ya? Apa mungkin kebetulan aja samaan. soalnya emang bukan cuma dia sih yang punya.'