Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#87


__ADS_3

Selesai makan siang bersama, Kian langsung berjalan ke ruang tamu. Tentu saja setelah semua piring kotor selesai di cuci. Ketiga orang itu, Devan, Mikko dan Gio sudah lebih dulu duduk di sana.


Mikko dan Gio sedang asik mengerjakan tugas sekolah Gio, sedangkan Devan? asik dengan ponselnya. Duduk bersantai seperti tak ada beban.


Brakh


Kian mengeluarkan buku-buku pelajaran yang ada dalam tasnya ke meja. Kembali membuka lembar-lembar ilmu itu, yang tentu saja membuat Devan merasa sakit mata melihatnya.


Devan sekilas melihat apa yang dilakukan oleh Kian, menampakkan wajah anehnya terhadap yang dilakukan oleh Kian. Memicingkan mata, mengerinyitkan dahi dan menatap tak suka hal itu.


"Van! Ayo belajar. Lanjutin pelajaran di sekolah yang belum selesai tadi." Ucap Kian yang duduk di lantai beralaskan karpet itu.


Namun Devan tetap seperti dirinya, masih asik dengan benda kecil di tangannya tanpa memperdulikan ucapan Kian. Ntah apa yang dipikirkannya saat ini, tak ada yang tau.


"Van, lo tuh udah di panggil sama guru les nya juga. Masih mantengin hp mulu." Timpal Mikko.


"Tau nih kak Kavin. Belajar aja males! Gimana coba Gio mau minta ajarin kalo kakaknya aja males."


"Hn!" Kesalnya, namun anehnya Devan tetap turun dari sofa dan duduk di samping Kian yang ada di lantai sambil menatap kesal Kian. Walaupun dalam benaknya ia benar-benar tak suka dan malas.


"Kak Kian ajarin kak Kavin sampai pandai ya." Pinta Gio.


"Lah emang napa Gi?"


"Kak Kian, Gio capek minta ajarin kak Kavin. Gio gak pernah ngerti sama ajaran kak Kavin. Makanya sekarang Gio lebih suka belajar sama kak Mikko dari pada kak Kavin. Kak Kavin kalo kasih jawaban, Gio selalu pulang bawa telur mulu. Capek Gio kak."


"Ha... ha... Devan... Devan. Adek lo aja nyerah sama kepintaran lo." Ejek Mikko.


"Lah terus kenapa kemarin negrusuhin kak Kavin hah? Dasar bocah!" Sewot Devan.


"Ya kan siapa lagi kalo bukan kak Kavin? Masa Gio harus lari ke rumah tetangga buat minta kerjain pr sih?"


Dan akhirnya perdebatan antara kakak dan adik itu terus berlanjut membuat Kian sakit kepala. Sekarang ia tau sifat lain dari Devan yang terkenal dingin itu, juga terdapat sifat cerewet kalau bersama orang yang disayanginya.


Kian menghentikan perdebatan itu dengan bedehem, namun tak kunjung juga berhenti. Lalu berlanjut Kian menegur satu persatu dari mereka namun....


"Gio, Devan, bisa diem gak sih. Jangan ribut terus."


Tak ada perubahan dari hal itu, bahkan memperpanjang ocehan dari keduanya.


"Kak Kavin tuh kak. Gak pernah mau ngalah, udah salah juga."


"Kan Gio aja yang langsung marah-marah tadi."


"Udah lah Van, ngalah aja sama bocah." Lerai Mikko namun bukannya berhenti, malah tetap berlanjut.


"Gak bisa gue, nih bocah banding-bandingin gue mulu."


"Lah kan emang bener Gio nya." Bantah Gio.


"Tapi.... hmmmphh!!! "


Mulut Devan langsung di bekap Kian agar tak lagi bicara. Devan yang terkejut langsung memelototi Kian dengan mata hitamnya. Mikko juga ikut tersentak karena perbuatan Kian yang seberani itu pada Devan. Namun di lain sisi juga ia ingin tertawa melihatnya tapi masih ditahannya takut ia akan lebih meronta marah, berbeda dengan Gio yang sudah tertawa terbahak melihat kakaknya yang langsung kicep itu.


Devan menepis kasar tangan Kian, memandang tajam Kian dan hendak membalas Kian yang sudah membuatnya kesal.


"Apa? Gak suka? Kalo gak gitu, lo gak bakal diem." Ucap Kian sambil melihat tangan Devan yang sudah terkepal itu. Membuat Devan mendengus kesal, dan mengurungkan niatnya. Ntah kenapa Kian pun tak ada rasa takut pada Devan saat melakukan itu, walaupun ia tau kalau Devan akan sangat marah jika ia melakukan hal tersebut.


"Udah sekarang ayo belajar!"


Mereka semua sudah fokus pada buku masing masing. Belajar dengan serius, begitu pun Devan. Walaupun dengan wajah setengah tak ikhlas.


Dua jam berlalu, semuanya selesai. Jam menunjukkan pukul tiga siang, Kian memilih untuk pamit pulang pada penghuni rumah itu.


"Mik, pinjem motor lo!" Seru Devan.


"Heh... gak usah Van. Gue bisa pulang sendiri kok." Ucap Kian yang ada di depan pintu hendak keluar dari sana.


"Siapa bilang gue mau anter lo. Gue mau kerja, gak usah kePDan lo." Devan mengambil kunci motor yang ada di tangan Mikko.


Mikko hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar, ia pikir jika Devan juga ingin mengantarkan Kian pulang. Namun ia salah besar, rasa egois dan keras kepala Devan masih menguasai dirinya. Tentu saja Mikko tau, bagaimana kesalnya Devan harus menunda waktu bekerja, dan menurut pada Kian saat ini. Hingga membuatnya melakukan hal itu.


Namun tak bisa Mikko pungkiri juga, walaupun Devan kesal, Devan masih saja mau menuruti Kian. Hal itu terlihat bodoh namun juga menghargai dalam satu waktu. Membuat Mikko paham bagaimana jadi Devan saat itu. Mikko hanya menggeleng pelan, melihat tingkah sahabatnya yang begitu bodoh. Melakukan suatu hal yang tak ia suka, namun karna itu permintaan Kian ia pun menurut.


Apa yang sebenarnya terjadi antara Devan dan Kian? Sampai Devan hanya menurut seperti serigala bodoh. Pertanyaan besar yang terlukis di otak Mikko membuatnya memandangg aneh ke arah Devan dan Kian.


Tap


Tap


Devan keluar rumah dan menggandeng tangan Kian. Ha? Kembali Mikko tak paham dengan tingkah Devan yang benar-benar tak terduga.


"Lepas Van! Lo bilang lo mau kerja. Ngapain narik gue?" Roceh Kian saat mereka sampai di parkiran motor.


"Gue emang mau kerja. Sekalian aja. Cepet naik!!" Titahnya yang sudah naik dan menaikkan standart motor, dan menuruni pedal belakang.


"Tapi gue..."


"Naik!!" Suara yang berubah sangat dingin.


"I.. iya... iya." Ucap Kian yang menurut. Bukannya apa, ia hanya merasa akan lama jika harus menunggu ojek online atau berjalan ke depan gang agar bisa naik angkutan umum. Lagipula ini sudah sore, jika ayah dan bundanya pulang saat ini juga pasti urusannya sangat panjang dan berujung tidak baik.

__ADS_1


______________


Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Kian sudah selesai membersihkan rumah dan dirinya. Ia turun dari kamar untuk menuju dapur, menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri. Makan malam sendiri? Tentu saja. Lagipula dengan siapa lagi ia makan kalau tak ditemani oleh bayangannya sendiri.


Clak


Pintu utama rumah terbuka, membuat Kian sedikit terperanjat setelah menuruni anak tangga.


Terlihat seseorang laki-laki masuk dengan wajah serius dan menatap tajam Kian. Kian hanya bisa mematung, tak tau apa yang terjadi. Dan harus bicara apa?


"Kian! Ganti baju kamu sekarang!!" Titahnya tak terbantahkan


"Emang mau kemana yah?" Tanya Kian bingung yang masih berdiri di depan anak tangga terakhir hendak menuju dapur. Melihat ayahnya sudah berpakaian rapi seperti hendak bertemu seseorang yang penting.


"Ganti baju aja! Jangan lupa dandan yang cantik. Karena malam ini kamu akan bertemu calon suami kamu." Dingin penuh penekanan.


Kaki Kian terasa lemas seketika, tubuhnya terasa tercambuk dan tertumbuk oleh palu besar beberapa kali. Jantungnya kini berdetak sangat kencang, pikirannya sudah melayang kemana-mana. Wajahnya yang semula bingung berubah menjadi pucat tanpa ekspresi.


'Apakah ini akan menjadi akhir dari kisah hidupnya?' Pertanyaan besar yang bersarang dalam benak dan pikirannya.


Kini air matanya sudah luruh tanpa aba-aba, membanjiri kedua pipinya yang mulus bersih itu.


"Yah....hiks... hiks.... Tolong dengerin Kian sekali ini aja yah. Kian gak mau dijodohin apalagi sampai dinikahi sama laki-laki yang gak Kian kenal. Biarin Kian sekolah dulu ya yah. Kian masih....."


"Berisik kamu Kian!!! Bisa gak dengerin ucapan ayah aja!! Kalau kamu masih mau anggap saya ayah kamu, sekarang kamu masuk kamar ganti baju dan dandan yang cantik!"


"Tapi yah....." Kian yang sudah menangis mengucur mendengar kalimat itu, 'Masih anggap saya ayah kamu' Kalimat yang melayang-layang di otaknya. Sebegitu bencikah ayahnya terhadap dirinya? Sampai kalimat itu terlontarkan.


Srakh


Melihat Kian yang tak ada pergerakan sama sekali, hingga tangannya ditarik oleh Bram dan di seret masuk ke kamar dengan paksa. Membuat pergelangan mungil agak bantet nan putih itu kini bercap merah.


"Sakit yah... Kian mohon lepas yah." Rintihnya berusaha melepaskan cekalan tangan besar itu, namun begitu susah.


Brakh


Setelah melempar Kian ke lantai kamar barulah cekalan itu lepas. Walaupun sakit, Kian berusaha meraih kaki ayahnya yang hendak melangkah ke luar, memeluknya dengan kuat. Begitu terasa kalau tubuh Kian sekarang ini sangat bergetar.


Ia memohon pada ayahnya untuk mengerti keadaanya sekarang ini. Moncoba menjelaskan bahwa ia tak mau dijodohkan apalagi dinikahkan dalam waktu dekat ini.


Bukannya iba, ayahnya malah menendangnya, sampai pelukan itu terlepas. Nafas Kian kini sudah sangat tersengal-sengal bahkan susah untuk sekedar bicara dan mengeluarkan satu kata saja.


"Ayah tunggu kamu sepuluh menit di bawah! Jangan coba-coba kabur Kian!"


Brakh


Pintu itu tertutup dengan keras, menampakkan kemarahan yang sama antara suara pintu dan ayahnya saat ini.


Kian hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara. Ia berusaha tenang dan menarik nafas dalam menenangkan dirinya, yang saat ini dadanya begitu perih, menusuk dan sesak. Ditambah lagi dengan kepala yang terasa teramat sakit baginya.


Ia tak tau apa yang akan terjadi nanti, siapa dia? laki-laki yang bagaimana? Bagaimana cara menolaknya? Apakah dia akan setua seperti kebanyakan novel yang ia baca? Dan masih banyak lagi pertanyaan dalam benaknya, menemaninya dikala bersiap.


Dor!!!.... Dor!!!!...


Pintu kamar di ketuk dengan keras, seakan orang yang diluar sudah tak sabar lagi menunggu.


Membuat Kian segera membuka pintu kamar itu dari pada nanti ia akan tidur tanpa pintu.


Clak


Pintu terbuka, menampakkan Kian dengan gaun brokat warna dongker selutut, lengan baju tiga per empat, ikat pinggang pita dengan warna lebih gelap dari bajunya yang membentuk lingkaran pinggangnya yang sedikit bantet itu. Sepatu kream yang melekat di kakinya, jam tangan hitam, dan rambut hitam yang tergerai rapi dengan pita rambut hitam di kedua sisinya kepalanya.


Tampak begitu elegan dan cantik, namun tak membuat seseorang yang ada di depan pintu itu menjadi lemah lembut terhadapnya. Bram langsung menarik Kian turun dari tangga. Untung saja Kian tak memakai high heels. Atau bisa dipastikan kakinya akan patah saat itu juga.


"Kian!"


"Bundaa..." Kian melepaskan genggaman itu secara paksa dan langsung meraih pelukan bundanya.


"Hiks... hiks.. " Tangis itu kembali pecah.


"Bunda... Kian... Kian.. gak mau bund." Rengek Kian.


"Diam Kian!!! Intan seret anakmu itu cepat! Jangan kau berani membelanya, kalau kau tidak mau sesuatu yang kau takutkan terjadi!!!"


"Bund, maksud ayah apa? Kian gak mau bund."


Kian berharap bundanya bisa mengerti dirinya, namun nyatanya wanita cantik itu tak bisa berkutik. Dan malah memberi kode anggukan pada Kian. Intan mengelus lembut kedua pipi Kian sambil membersihkan air mata yang keluar dari kedua pelupuk matanya.


Kian hanya bisa menggeleng, mengisyaratkan bahwa ia tak mau menempuh jalan yang dipilih oleh ayahnya.


"Kian, menikah itu wajib bagi semua orang. Kamu gak harus nikah sekarang nak. Kamu nikahnya setelah lulus. Dan kalau pun kamu mau kuliah kamu bisa minta izin sama suami kamu nanti, ya." Nasehat itu terdengar enteng di telinganya, namun tidak dalam melakukannya.


"Kian tau bund. Tapi dalam menjalani kehidupan setelah pernikahan itu gak gampang bunda. Usia Kian masih jauh buat ngerti dari semua itu."


"Kamu akan tau setelah semuanya terlaksana. Kamu akan belajar sedikit demi sedikit nantinya Kian. Percaya sama bunda. Suami kamu akan bimbing kamu nantinya." Ucap malaikat tak bersayap itu pada Kian.


Kian mengangguk dan pasrah dengan keputusan bundanya. Ntahlah bagaimana kehidupan setelah menikah itu, yang jelas Kian hanya ingin menuruti permintaan bundanya saat ini. Mata sendu itu cukup membuatnya terhipnotis sampai mengiyakan apa yang dikatakannya.


________


Tak berselang lama, mobil itu pun langsung melaju ke tempat yang di tuju. Restoran bintang lima yang sepertinya harga makannya bukan main mahalnya.

__ADS_1


'Kenapa orang kaya selalu saja menghabiskan uang untuk hal-hal seperti ini? Padahal makanan di warung biasa pun tak kalah enak.' Batinnya menggerutu setelah mobil terparkir dengan rapi di parkiran. Terlihat dari parkiran mobil pun, semua mobil sangat berkelas disana tanpa terkecuali.


Bram, Intan dan Kian melangkah masuk ke dalam, tak lupa Bram kembali memperhatikan putrinya itu dari atas sampai bawah sebelumnya.


"Bersihkan sisa air mata kamu Kian!! Jangan buat malu!! Dan jangan sekali-kali kamu menjatuhkan harkat dan martabat keluarga kita di depan mereka!! Paham kamu Kian!! Kamu itu sudah besar, bukan lagi bocah SD yang bisa merengek ketika tak suka dengan sesuatu!!" Ntah itu nasehat atau ancaman yang dilontarkan Bram ayahnya, pada dirinya itu.


Namun untuk Kian sendiri akan lebih menganggap jika itu adalah ancaman untuk dirinya, bukan nasehat dari orang tua.


Ia sempat berfikir, ada kenyataan sebagian anak perempuan akan lebih dekat dengan ayahnya dari ibunya. Namun sepertinya kenyataan itu tidak berlaku untuk Kian. Bahkan ketika ia disuruh memilih maka pilihannya hanya satu yaitu ibunya, tak kan ada yang lain.


Suasana restoran yang begitu ramai namun tenang. Terlihat sekali jika orang orang disini berada di kelas atas. Bahkan ia sendiri belum pernah pergi kemari. Untuk apa? Jika makanan yang ia buat lebih terasa enak di lidahnya. Setidaknya penghematan itu lebih penting. Bukan pelit loh ya.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya Damien."


Kini Kian dan orang tuanya sedang menghampiri sepasang suami istri yang duduk di kursi, di meja pojok. Bram, ayah Kian menyapa mereka berdua yang sedang asik mengobrol, terdengar begitu akrab. Namun bagi Kian sendiri ia tak mengenal sama sekali sepasang kekasih atau suami istri yang ada di depannya saat ini.


"Bram, Intan tak perlu kalian begitu. Kita sudah berteman lama bukan? Untuk apa pakai seperti itu. Ayo duduk." Ucap seorang perempuan dengan ramah, sedangkan Kian hanya melihat canggung perempuan dan laki-laki yang ada di hadapannya.


"Hahaha.. Baiklah." Ucap ayahnya.


"Bagaimana kabar mu Tasya?" Tanya Intan sambil cupika cupiki dengan ramah.


"Aku baik Intan, bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik."


"Hey, apakah ini anak kalian?" Tanya lagi, setelah mereka saling berjabat tangan.


"Iya, Tasya. Ini anak kami. Namanya Kian." Intan memperkenalkan Kian


"Halo tante. Namaku Kian Zeline Zakeisya, biasa di panggil Kian."


"Halo juga sayang, nama tante Tasya. Wah dia cantik sekali. Dia mirip denganmu Intan. Mata bulatnya sungguh menggemaskan. Berapa usiamu sekarang nak?"


"Tujuh belas, tante." Ucap Kian dengan senyum paksa.


"Hmm.. sama dengan anak tante kalo gitu."


Kini mereka semua sudah duduk di kursi masing-masing, setelah saling berjabat tangan, bercengkrama, begitu pun dengan Kian yang sudah memperkenalkan diri pada suami istri itu.


Mereka mulai memesan makanan dan minuman. Kian sedikit pusing dengan makanan apa yang harus ia pilih. Harganya juga begitu mahal, membuatnya sedikit sungkan. Ditambah lagi tak ada yang ia suka di dalam buku menu itu.


"Kian, ayo pesan. Emm.. jangan-jangan kamu sedang diet ya? Wajar saja, banyak sekali remaja sekarang sedang diet."


"Iya tante. Kian diet." Ucap Kian dengan senyum paksa, walaupun dalam sejarah hidupnya tak ada rumus untuk diet. Dan Kian benar-benar risih dengan wanita itu, yang selalu saja menghujaninya dengan pertanyaan.


"Hahaha.. Tak apa. Sepertinya memang kau perlu sedikit diet. Karena yah kau tau lah Kian, he..he... (Ucap Wanita cantik itu dengan menatap Kian dari atas sampai bawah). Tapi tenang saja, tante akan membantumu diet nanti jika sudah menjadi menantu tante." Ucapnya dengan senyum penuh arti


Kian sedikit sulit menelan salivanya setelah mendengar kata diet dan menantu. Apakah wanita cantik di depannya ini tak suka terhadapnya. Apakah dia memang sangat gendut sampai wanita itu melihatnya seperti itu. Menantu? Kian bahkan tak membayangkan bagaimana ia akan menjadi menantu yang mertuanya tak suka terhadap dirinya.


Banyak sekali pikiran negatif yang terbang di kepalanya saat ini. Membayangkan kemungkinan yang akan terjadi apabila ia menjadi menantu dari wanita cantik ini. Sampai Kian menggelengkan kepalanya untuk menepis semua pikiran jahat itu.


"Ada apa Kian? Kau sakit?" Tanyanya. Membuat Kian tersentak dan langsung menggelengkan kepala dan tersenyum.


"Apa kau baru habis menangis? Matamu sedikit bengkak." Tanyanya lagi seperti mengintrogasi Kian dalam penjara.


"Ah tidak Tasya. Kian terlalu banyak membaca hingga mata nya menjadi seperti itu." Intan menimpali.


"Ouh iya. Aku dengar calon menantuku ini adalah orang yang pintar di sekolahnya. Apakah benar itu Kian?" Kian tak menjawab sama sekali.


Jujur saja ia mulai risih berada di antara orang kaya ini. Benar-benar memuakkan, hanya ingin mendengarkan keunggulan tidak dengan kekurangan.


Kian melirik ayahnya sebentar. Kedua pria yang hampir tua itu, sedang asik mengobrol. Tentunya itu masalah bisnis. Takkan ada yang lain. Kian yang ingin permisi pun menjadi mengurungkan niat, takut ayahnya akan marah.


"Hmm.. Kau tau Intan. Aku langsung cepat pulang ke negara ini setelah mendengar jika suami kita akan menjodohkan kedua anak kita."


"Ya, aku dengar kau juga sangat lama di London, bahkan tak pulang sama sekali. Jadi Kian, kamu harus bersyukur mendapat calon mertua yang baik seperti tante Tasya. Bahkan rela pulang hanya ingin bertemu denganmu." Ucap bundanya lembut.


"Tak seperti itu juga Intan."


Kian hanya menimpali dengan senyum aneh, senyum canggung, dan senyum paksa. Bahkan ia lebih banyak diam, memikirkan siapa laki-laki yang akan menjadi calon suaminya itu. Apakah pria tua atau pria kekanak kanakan. Kian kembali termenung dengan hati yang mengguncang penasaran.


"Tasya, dimana dia? Kenapa anak kita belum datang juga?" Suara berat itu membuka suara, yang pastinya itu adalah suami dari Tasya.


"Hmm.. Maaf Intan, Bram, Kian. Anak kami sedikit bandel. Memang tak pernah tepat waktu. Tapi percayalah Kian saat kami bilang kami akan menjodohkannya denganmu, dia sangat bahagia. Dia laki-laki yang baik. Tante yakin kamu akan menyukainya juga." Ucap Tasnya membuat Kian hanya membatin, 'Menyukai seseorang tak semudah menyukai barang tante.'


"Iya Kian. Kau harap maklum ya. Kebanyakan anak laki-laki memang sedikit membangkang. Tapi dia baik, dan tentunya penyayang." Ucap laki-laki itu pada Kian dengan senyum mengembang.


"Tentu saja Rio. Aku yakin Kian juga memakluminya." Timpal ayahnya.


Namun tak lama....


"Hey, kalian sedang menggosipiku ya..." Ucap seseorang yang baru datang dengan suara yang ramah dan sepertinya Kian kenal dengan suara itu.


'Astaga apa mungkin?!'


.


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2