Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#7


__ADS_3

Sementara di rumah sakit Gio yang baru saja bertemu kakaknya.


"Gio, kamu kemana aja hm? Terus kenapa kamu disini? pantes aja kakak cari di rumah gak ada"


"Maaf kak. Abis nya kakak lama banget jemput aku." Ucap Gio yang tertunduk.


"Terus kamu sendiri kesini?"


"Gak, tadi ada kakak cantik yang anterin aku."


"Kakak cantik? Terus dimana dia?"


"Udah pulang. Katanya ada urusan mendadak."


"Huh" kakaknya membuang napas kasar. Ia berlutut menyamakan tingginya dengan Gio. "Lain kali jangan gini ya. Kakak gak tau harus cari kamu kemana. Kalo kamu ketemu orang jahat gimana, kakak gak mau kehilangan kamu Gio."


"Iya kak. Maafin Gio ya." hening sebentar. "Terus gimana keadaan mama?"


"Mama baik baik aja kok. Ayo kita lihat dia." ucap kakaknya sambil menggendong Gio dan masuk ke dalam ruangan.


______


Mendengar perkataan ayahnya membuat Kian ingin menangis namun ia tahan. Agar bundanya tak ikut bersedih pula.


"Ayah, kenapa ngomong gitu. Kian itu anak baik baik. Dia juga terlambat pulang karna mengantarkan seorang anak ke rumah sakit."


"Kamu itu mudah saja di bohongi. Semenjak kamu selalu ikut aku, anak kamu ini udah mulai nakal!!"


"Dia juga anak kamu Yah."


"Anakku tidak memiliki perilaku seperti ini. Ini kan didikan kamu!!"

__ADS_1


"Ayah bunda udah stop bertengkarnya. Kian yang salah dan Kian minta maaf." ucap Kian dan langsung pergi ke kamarnya.


"Itu lihat didikan kamu!!! Gak ada sopan sopannya jadi anak, orang tua belum selesai bicara dia sudah pergi begitu saja!" bantak ayahnya pada bunda nya.


Kian yang di kamar langsung mandi dan membersihkan diri.


Ia merasa selalu salah di hadapan ayahnya. Mengingat hal itu kembali membuat menangis tersedu-sedu.


'Apasih salah kian sama ayah. sampai segitu bencinya ayah sama kian. Kian pikir ayah udah berubah, ternyata kian salah. kenapa waktu kian sakit ayah berubah baik!! lalu saat kian udah sembuh ayah mulai kembali ke kebiasaan ayah yang selalu marah-marah, bentak-bentak. Kalau ayah gak suka sama kian gpp yah. Tapi jangan sama bunda juga. Bunda selalu aja di buat nangis sama ayah.'


Kian benar benar kesal dengan tingkah dan perlakuan ayah terhadap bunda. Bahkan tak pernah lemah lembut pada bunda. Karna marah Kian hanya mengurung diri di kamar, namun tak lama bunda memanggil. Dan tentu saja ia tidak bisa menolak permintaan bundanya itu.


Kian menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan. Terlihat begitu sepi dan canggung. Ayahnya sudah duduk terlebih dahulu, sedangkan bundanya sedang menyiapkan makanan ayahnya.


"Ki, ayo duduk sini. Makan dulu jangan belajar aja dikamar. Perut juga perlu diisi." ucap bunda yang diangguki Kian. Kalimat yang begitu hangat seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. seperti itulah Bunda kian yang selalu menutupi sakit hati dan kesedihannya.


Kian menarik kursi yang agak jauh dari ayahnya dan duduk di sana. Suasana makan malam yang begitu sunyi. Hanya ada dentingan sendok dan garpu diatas piring. Namun tak lama kesunyian itu terpecah ketika telpon ayahnya berbunyi. Setelah membaca pesan yang masuk ayahnya pun langsung berdiri hendak pergi.


"Yah, mau kemana? emang makannya udah selesai?"


Kian hanya menatap sekilas ayahnya dan melanjutkan makan. Setelah selesai ia beranjak pergi namun ia terhenti sebentar.


"Bunda gpp kan? gak dikasarin ayah kan bund?" tanya Kian yang memperhatikan bundanya yang sibuk.


aktivitas bundanya yang merapikan meja makan pun terhenti karena pertanyaan putrinya itu. Ia menatap Kian.


"Tentu saja Bunda baik baik aja Ki." ucap bunda dengan senyum palsu.


"Saran kian, kalo emang gak bisa dipertahanin mending bunda lepas aja. Dia juga gak bakal berubah, contohnya sekarang. Jangan buat batin dan fisik bunda tersiksa dengan tingkah polanya yang seperti itu."


"Kiann!! Jangan bicara seperti itu! Dia juga ayah kamu nak. Gak baik bicara seperti itu."

__ADS_1


"Kian hargai, selama bunda masih bisa. Tapi kalau pun tidak maka kian pun akan anggap angin lalu." "Dan satu lagi bund, jangan takut bilang ke kian. Karna kian paling gak suka bunda sakit." ucap Kian dingin dan berjalan ke kamarnya.


Malam hampir larut, udara dingin yang berhembus, langit malam yang juga sangat gelap menambah rasa ingin terlelap. Namun tidak bagi Kian, karna hanya makan sedikit waktu makan malam tadi ia kembali merasa lapar. Ia berniat untuk turun ke bawah menuju dapur untuk mengambil beberapa snack. Jam yang sudah menunjukkan pukul satu malam, ia berpikir bahwa orang tuanya pasti sudah tidur.


Ia pun membuka knop pintu kamarnya dan hendak menuruni tangga. Namun....


"Alah kamu tuh curigaan mulu kerjanya! kalo gak diajak pergi ya gini."


"Ya wajar aku curiga yah. Ini udah jam berapa dan kamu baru pulang."


"Kan ayah udah bilang ada urusan kantor."


"Urusan kantor apa sampai jam segini!! Yah, bunda mohon bisa gak kita jaga keutuhan rumah tangga ini demi Kian. Sejak kecil kian selalu melihat tingkah kamu seperti ini. Jangan buat kian membencimu karna ulahmu sendiri yah. Kian juga mau seperti anak anak lainnya yang tumbuh ditengah keluarga yang harmonis."


"Kamu pikir semua yang aku kasih ke Kian itu masih kurang. Aku kerja pulang malam bahkan sampai ke luar kota buat apa?!!! ya pasti buat memenuhi kebutuhan hidup kian, agar dia bisa hidup enak. Sedangkan yang kamu pikiran?!! Malah berpikir yang tidak-tidak!!"


".....Bla.....bla....."


Pertengkaran dua orang dewasa itu masih berlanjut, walupun dengan suara yang tak sekeras sore hari tadi, tapi masih bisa didengarkan oleh kian. Kian memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dan mendadak perutnya sudah kenyang gara-gara adegan yang baru saja ia lihat.


_______


Pagi menjelang, Kian langsung berangkat ke sekolah, tentunya tanpa sarapan. Ia takut jika harus berlama lama dirumah, ia akan mendengar pertengkaran mereka lagi. Saat turun ke lantai satu kian tak menemukan kedua orang tuanya. Ntah dimana dua orang dewasa yang selalu bertengkar itu. Yang setiap kali pertengkaran mereka seakan tak pernah usai.


Sesampai di kelas Ia langsung duduk dibangkunya dan menatap kelas itu. Kelas yang yah, gaduhnya tak ketulungan.


"Woy Kian kenapa lo pagi-pagi dah bengong aja sih?. Kesambet baru tau rasa.." ucap seseorang bemulut pedas, siapa lagi kalau bukan Febbry. Namun hal itu sudah biasa bagi Kian. Ia tak pernah memasukkannya ke hati sedikit pun mengenai omongan Febbry yang terkadang terbilang terlalu kasar.


Kian yang sadar dari lamunannya pun menoleh ke arah febbry.


"Apasih Feb. Pagi-pagi heboh banget. Duduk aja di bangku lo." ucap Kian sewot

__ADS_1


"Abis nya lu kayak orang banyak pikir."


"Sotoy aja..."


__ADS_2