
"Ki, pulang." Kalimat singkat, padat dan tidak jelas. Ntah itu permintaan atau perintah untuk Kian, Kian pun tak tau. Ia hanya memandang Devan dengan penuh tanya. Melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul tiga sore. Jauh dari waktu pulang kerja biasa di sore hari. Yang biasa terjadi di pukul lima sore.
"Ini baru jam segini loh Van. Lo mau korupsi waktu ya? Cukup di sekolah aja lo sering bolos, kerja jangan." Ucap Kian yang masih sibuk membereskan meja toaster-nya.
"Tapi ini udah waktu pulang. Iya kan Ar?" Tak sengaja Arya lewat di sana, dan langsung ditanya oleh Devan membuat Arya berhenti.
"Eh?" Arya yang masih tak tau apa-apa.
"Emang iya kak? Biasanya kan kalo hari minggu sip pagi sampe siang pulang jam lima. Ini baru jam tiga sore loh, kenapa?" Tanya nya, sedangkan Arya memandangi Devan dan Kian secara bergantian. Ntah pembicaraan apa yang sebelumnya terjadi di sana, sampai ia harus terlibat juga.
Saat ia melihat Devan, tatapan Devan seperti menuntut sesuatu padanya. Seolah menyuruhnya mengatakan iya tanpa memperpanjang pembicaraan. Tatapan mata pekat itu membuat Arya sedikit gerah melihatnya. "Hari ini sip pagi di perpendek jam kerjanya kan Ar?" Devan mengangkat sebelah alis, seperti tak memberi pilihan lain selain kata ya.
"Oh itu Ki. Iya, heheh Iya. Hari ini sengaja gue pendekin jam kerjanya. Lagian besok kalian mau ujian. Jadi sekarang kalian pulang istirahat, siapin diri, belajar nanti malem buat besok." Arya sedikit menyengir di sana.
"Kenapa gak bilang dari pagi kak? Dadakan banget. Lagian kalo pulangnya jam lima, kita masih bisa juga kok malamnya belajar."
"Disini kan bos nya Arya, kenapa lo yang ngatur?" Tanya Devan dingin, "Dia udah keluarin perintah dan aturan tinggal diikuti aja kali. Susah banget idup lo!"
"Seharusnya Kalimat itu berlaku buat diri lo sendiri Van!! Emang bener di sini gue bosnya. Tapi kalo menyangkut Kian gue serasa babu lo. Gue yang gak tau apa-apa, selalu diperintah buat nurutin omongan lo." Hati seseorang menjerit tanpa terdengar orang lain
"Iya iya. Maaf. Ya udah kak, Kian pulang dulu. Maaf buat pertanyaan Kian yang gak sopan."
"Eh, gak apa apa kok Ki. Santai aja. Langsung pulang aja ya, jangan sampe kecapean lo." Ucapnya dengan senyum manis, namun langsung mendapat lirikan tajam dari Devan. Membuat bibir yang mulanya tersenyum lebar malah mengkerut kembali.
__________
Kian dan Devan berjalan menuju halte. Menunggu bus yang biasa mereka tumpangi untuk pulang. Namun saat bus itu datang, tangan Kian malah di cekal Devan. Menahannya untuk tidak naik bus itu.
"Loh Van, kenapa? Kan kita mau pulang. Ayo cepet naik, ntar bus-nya keduluan berangkat." Kian berusaha menarik tangan itu
"Kita naik bus, tapi bukan yang ini."
"Emang mau kemana? Kalo lo mau kemana mana silahkan lo aja. Gue mau pulang." Ketus Kian hendak melangkah, namun langsung di tahan Devan. "Lepas Van! Heran gue seneng banget pegang tangan orang." Kesal Kian namun tak di gubris sama sekali oleh Devan.
Setelah bus itu berlalu, barulah Devan melepaskan genggaman tangan Kian. Yang tentu saja membuatnya merasa begitu murka.
Tak lama bus kedua datang dengan tujuan yang berbeda. Devan langsung menarik tangan Kian dan masuk dalam bus itu. Tersisa satu kursi saja yang ada di dalam sana, hingga Devan menuntun Kian untuk duduk sedangkan ia berdiri tepat di samping Kian.
Sesekali Kian melirik Devan, dengan mendongak. Namun sepertinya Devan tak menyadari itu, dan lebih fokus ke jalanan. Bus kota yang tak pernah di naiki oleh Kian, dan ia juga tak tau kemana bus ini akan menuju, membuat nya penasaran hendak bertanya pada Devan. Namun kenyataannya Devan tak akan pernah mau bicara jika di tanya hal itu.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di suatu tempat. Tempat yang begitu indah nan luas. Bahkan lebih luas dari taman kota yang biasa ia kunjungi. Begitu asri dan sejuk, serta ditumbuhi berbagai macam tanaman bunga yang berwarna warni dan begitu ramai. Tak lupa di sana terdapat jalan setapak yang bisa dilalui oleh pengunjung.
Sebelum masuk mereka harus membeli tiket terlebih dahulu. Melihat harga tiket itu, membuat Kian menarik kembali tangan Devan yang hendak meraih tiketnya. Devan menatap nanar Kian, sebab tak membiarkan dirinya mengambil tiket itu. Dengan sigap, Kian langsung menggeleng cepat.
"Van, tiketnya mahal. Gak usah masuk ya." Pinta Kian.
"Yang mau ke sini siapa? Lo atau gue? Terus yang bayar siapa? Gue kan? Mending lo diem aja." Ketusnya.
"Ya udah, lo aja yang masuk." Kian melepaskan lengan Devan yang sempat ia rangkul.
"Yakin?" Devan mengangkat sebelah alisnya, tertampak wajah Kian begitu bimbang. Seperti ia ingin sekali masuk, namun setelah melihat harganya membuatnya mengurungkan niat. "Kebanyakan mikir lo! Ayo"
"Ya Van, yang bener aja dong. Masa masuk ke sini satu orangnya 50 ribu? Kalo kita berdua berarti 100 ribu dong? Sayang uangnya Van. Kalo di taman kota gak bakal bayar deh."
"Lo cerewet banget ya!! Lama-lama lo yang gue tanem di taman ini! Mau lo?!"
"Eh... enggak enggak."
Devan pun langsung menarik paksa Kian masuk ke area taman. Banyak muda mudi yang berjalan di jalan setapak yang lumayan besar itu. Tak habis habisnya Kian dibuat tercengang dengan keindahan taman yang terdiri dari berbagai tanaman itu.
"Van, mau ngapain lo ngajak gue ke sini?"
__ADS_1
"Bersihin taman."
"Gila kali lo! Nyuruh gue, dateng jauh-jauh kemari cuma mau bersihin taman yang luasnya berhektar hektar gini."
"Kalo gak mau, ya udah nikmati aja." Cueknya yang masih memandangi sekeliling.
"Aneh lo."
Mereka terus berjalan di sepanjang jalan itu, menikmati pemandangan yang begitu indah. Hamparan bunga, beberapa pohon besar dan ada juga beberapa stand penjual di sana, membuat Kian ingin terus berjalan menyusuri setiap sudut dari taman itu. Namun di sisi lain ada panasnya matahari yang masih bersinar terang menemani mereka, membuat Kian menjadi kepanasan. Keringat sudah mengucur di kedua dahinya. Devan yang sadar itu langsung menarik Kian ke stand pernak pernik yang ada di sana.
Ia membeli satu topi berwarna putih bertuliskan Mine berwarna hitam. Memakaikan nya langsung ke kepala Kian. Kian hanya mendelik menatapnya, "Supaya lo gak kepanasan. Kalo pake payung sekarang lagi gak hujan." Ucapnya yang seolah tau isi kepala Kian.
Mereka melanjutkan jalan, menjelajahi seisi taman. Sampai di suatu tempat yang banyak ditanami dengan bunga tulip putih, Kian meminta Devan berhenti dan mengambil gambar dirinya di sana.
"Van, foto gue di sini ya."
"Hn, berdiri lo di sana." Tunjuk Devan yang sudah menyiapkan ponselnya.
"Tunggu bentar. Gue mau dandan dulu." Ucap Kian mengeluarkan lip balm berwarna pink dari dalam tasnya. Namun belum sempat ia memakainya Devan sudah lebih dulu mengambilnya.
"Foto yang natural aja, gak usah kayak tante tante."
"Sembarang lo ngomong. Itu cuma lip balm doang Devan. Warnanya juga pink soft bahkan hampir gak keliatan pake lipstik. Dimana ada kayak tante tantenya sih. Lagian gue kan mau foto, ya jelas lah mau keliatan cantik. Ya kali foto kayak pembantu, lecek banget." Roceh Kian
"Biar apa? Biar semua orang tau kecantikan lo? Terus nanti lo posting tuh di ig, banyak cowok yang nge-like gitu? Iya?"
"Kok lo malah nyolot sih. Ya kan gak apa-apa. Cuma mau isi beranda ig gue doang. Kenapa lo yang marah? Lagian kan tadi lo juga udah tuh foto sama cewek-cewek yang cantik waktu di Cafe. Gue marah juga gak. Terus kenapa pas giliran gue mau foto pake lip balm doang gak dibolehin. Dandanan mereka aja mencolok banget, gak masalah tuh lo nya. Bahkan lo keliatan seneng banget ngeladen mereka, deket-deket mereka. Iya ka?! Ngaku aja lo."
"Kok lo bahas waktu di Cafe? Terus juga kok lo bisa tau?" Curiganya, membuat Kian sedikit gelagapan.
"E.. e.. itu karna lo nya yang lama. Gue pikir kenapa, soalnya lo gak balik balik ke dapur bawa note pesanan. Bikin gue nunggu, terus kerjaan gue jadi numpuk tau gak. Lo udah buang-buang waktu gue tadi pagi!"
"Gimana gue mau bawa note, mereka pesen aja belom."
"Ngomong sekali lagi!" Titahnya dingin
"Murah banget lo, mau diajak foto ama tuh cewek cewek." Kian semakin kesal
Devan yang geram mendengar kata-kata Kian, langsung menarik pinggang itu mendekat. Tentu membuat Kian terkejut bukan main, bahkan ia menoleh ke arah Devan dengan mata yang melotot.
Cekrek
Foto selfie yang diambil oleh Devan pun jadi. Dimana Devan merangkul pinggang Kian dan wajah mereka berdua hanya berjarak satu jengkal saja. Background yang terambil pun bukan bersama bunga tulip putih melainkan hamparan bunga hyachinth.
"Devan!!!!" Teriak Kian langsung mendorong tubuh itu menjauh dari nya. Ia langsung berjalan menjauhi Devan yang masih berdiri di sana.
Lama Devan melihat punggung itu yang tentu saja ia tau, kalau si mpu yang punya punggung pasti sedang marah besar. Ia hanya mengulum senyum mengingat tingkah Kian yang begitu polos.
Kian yang sedikit lelah duduk di kursi panjang taman dengan wajah yang cemberut. Mempoutkan kedua bibirnya dengan mata yang tak menatap kedatangan Devan yang ada di sana.
"Minum dulu. Hauskan?" Devan memberikan satu botol air mineral kepada Kian. Tapi tak kunjung diambil dan disauti oleh Kian.
"Ki..."
"Gak usah ngomong sama gue! Lo pikir dong pake otak. Gue perempuan, dan gue malu Devan!! Tiba-tiba aja lo langsung gitu. Lo sih udah biasa tapi gue gak! Gue bukan cewek-cewek tadi pagi ya yang bisa lo buat kayak gitu dengan gampangnya!! Arghhh! Mana diliatin banyak orang lagi." Marah nya, yang membuat wajah itu merah.
"Salah lo juga ngatain gue." Santai Devan, seperti tak merasa bersalah sama sekali.
"Ya kan emang bener! Lo seneng di pegang sana pegang sini sama tuh cewek-cewek! Salah gue dimana?!"
"Lo liat?"
__ADS_1
"Tuh kan bener!! Gak usah deket-deket gue!!" Titah Kian yang menggeser duduknya agar lebih jauh dari Devan.
"Apa ruginya lo kalo gue di pegang-pegang sama cewek? Lo marah cuma gara-gara itu? Kenapa?"
"Eh.. itu...!!" Kian menjadi tambah gelagapan, diam sebentar nampak berfikir, ia sendiri pun tak tau kenapa dengan dirinya yang tiba-tiba marah seperti itu. Padahal apa yang dikatakan Devan benar juga. Itu harusnya tidak berpengaruh pada dirinya. "Gue mau es krim!" Ucapnya ketus dengan wajah yang masih dipalingkan dari Devan. Ia mengalihkan topik pembicaraan agar tak bertambah panjang.
Devan hanya menarik nafas panjang, lalu bangkit dari duduknya. "Es krim gak bakal dateng dengan sendirinya ke sini. Ayo cepet!" Devan mengulurkan tangan pada Kian, bermaksud agar Kian berpegangan dengan tangannya.
Namun nyatanya tidak, Kian hanya melihat sekilas wajahnya dan langsung berlari ke tukang jualan es yang ada di sana. Devan berjalan lesu menyusul Kian yang aktif jika ada sesuatu yang dimaunya.
Kian tetaplah Kian, ia tak hanya membeli es krim saja, melainkan juga beberapa cemilan yang ada di sana. Seperti kue, wafel, dan lain sebagainya.
"Lo bilang mahal, tapi kenapa di borong semua?"
"Ehehehe... Gue ngutang dulu ke lo ya Van. Nanti kalo udah dapet gaji gue bayar deh. Gue laper Van, ini juga salah lo sendiri ngajak gue kemari. Coba kalo langsung pulang gak bakal gini kan, dan gue juga bakal makan di rumah." Roceh Kian yang masih asik dengan makanan di kedua tangannya.
Devan hanya diam, memandangi sekitar dengan ekor matanya yang tajam. Seperti mencari seseorang yang sedari tadi ia cari. "Lo mau?" Tawar Kian mengalihkan pandangan Devan.
"Gak, gue kenyang." Singkat Devan, yang kemudian diangguki oleh Kian. Ia pun lanjut memakan makanan yang sudah dibelinya memakai uang Devan.
Setelah kenyang, Kian bangkit dari kursi dan hendak berjalan menikmati keindahan yang disuguhkan. Lagipula mereka sudah membayar tadi, akan sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja. Sampai ia melihat seseorang yang menyajikan berbagai mainan. Seperti sepeda, skateboard, skuter, dan sepatu roda.
"Van...." Panggil Kian membuat Devan menoleh ke arahnya.
"Gue mau itu." Tunjuknya pada orang yang menyediakan rentalan berbagai mainan itu. Devan mengangguk, dan langsung di tarik Kian menuju stand mainan.
"Pak, satu pasang sepatu roda warna coklat itu ya." Pinta Devan dengan sopan.
"Dua pak. Dua pasang."
"Buat siapa?"
"Buat lo lah."
"Gue gak mau. Lo aja. Lagian gue gak terlalu bisa mainnya."
"Tenang, lo bersama orang yang profesional disini. Gue bakal ajarin lo deh."
"Gak." Singkat Devan, berlalu memilih duduk di bangku yang tak jauh di sana. Membiarkan Kian main sendiri di dalam arena itu.
Zerhh....Zerhh..
Suara sepatu roda mendekat ke arah Devan. Kian berjongkok di depan Devan yang sudah menyiapkan satu pasang sepatu roda. "Ngapain lo disini? Udah sono maen di dalem."
"Gak, tanpa lo. Lo kesini ngajak gue, masa gue happy nya cuma sendiri? Gak asik ah. Ayo!" Kian membuka sepatu Devan menggantikan sepatu itu dengan seoatu roda berwarna hitam. Devan menolak paksa adegan itu, namun Kian terus bersikukuh.
"Ya emang gitu tujuan gue kali."
Kini mereka berada dalam arena sepatu roda yang ukurannya tidaklah besar. Terdapat beberapa orang di dalamnya. Arena khusus untuk mereka yang belum mahir bersepatu roda. Benar kata Devan, bahwa dirinya sendiri memang tidak bisa bermain sepatu roda.
Kian mengarahkan kedua tangan Devan di pundaknya, lalu ia menuntun Devan berjalan. Devan masih begitu kaku, bahkan tak tanggung-tanggung ia terjatuh hampir lima kali dengan beberapa gaya.
Hingga akhirnya Devan lelah dan menyerah, berbeda dengan Kian yang malah asik menertawai dirinya seperti tanpa beban. Tertawa lepas dengan begitu manis menurut Devan.
Kian masih belum puas dengan mainannya, sampai ia berjalan jalan di taman bunga megah itu masih menggunakan sepatu roda.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc