
Zerhh... zerhh...
Kian melajukan sepatu rodanya ke arah Devan yang sedang berteduh di bawah pohon besar yang begitu rindang. Yah, Devan sekarang bak seorang ayah yang sedang mengasuh anaknya.
Kian yang sedari tadi asik bermain di sepanjang jalan setapak, begitu menikmati kesenangannya saat ini. Dengan sangat hati-hati ia lajukan sepatu roda itu, meluncur dengan santainya di jalanan, agar tak menyenggol atau menabrak pengguna jalan lainnya. Setelah merasa puas, ia menghampiri Devan yang sedari tadi juga ikut mengawasi dirinya.
Zerhh!!
Kian hampir menabrak pohon rindang besar itu, untung saja Devan dengan cekatan langsung menarik tangan Kian.
"Hehehe... Makasih Van."
"Hati-hati!!"
"Iya iya. By the way, enak banget ya neduh disini. Pantesan aja dari tadi lo betah banget. Adem, seger, pohonnya juga rindang. Emang nih pohon apaan?" Kian memperhatikan pohon itu dari atas sampai bawah, terlihat begitu asing baginya.
"Lo gak tau?" Tanya Devan seperti tak percaya, Kian hanya menggelengkan kepala.
"Gak pernah liat juga soalnya. Emang apa?"
"Hmm... Ini pohon Akasia. Lebih tepatnya Acacia decurrens. Pohon yang berasal dari Australia. Tanaman ini bisa tumbuh sampai 8 meter dengan diameter antara 20-30 cm . Jadi wajar aja kalo segede ini. Tanaman ini juga dimanfaatkan untuk pengelolaan lingkungan (merehabilitasi lahan kritis). Katanya pinter, tapi kok gak tau." Cibir Devan.
"Ya mana gue tau. Kan bisanya gue cuma belajar di kamar aja, dan liat dari buku. Mana tau wujud aslinya. Lagian pohon Akasia kan jenisnya banyak."
"Makanya, kalo belajar tuh gak harus mendep dalem kamar aja. Pelajaran juga bisa lo dapetin dari lingkungan, dan lo juga bisa lebih paham kalo bisa liat langsung."
"Lo udah pernah ke sini?"
"Udah, ini pertama kalinya."
"Hm.. sama aja belom." Kian mendekat ke arah pohon itu hendak menggapainya. Kian juga termasuk manusia yang punya rasa ingin tau yang tinggi, apalagi terhadap sesuatu yang belum pernah ia lihat.
"Awas, pohon akasia punya getah. Ntar kena baju lo." Devan memperingati Kian, yang kemudian dianggukinya, "Gue juga tau kali."
"Yang kuning itu bunganya kan?" Kian menunjuk helaian berwarna kuning
"Hm." Devan memetik bunga itu lalu memberikannya pada Kian.
"Cantik." Satu kata yang keluar dari mulut Kian, dan ia terlihat begitu kesenangan.
Tak lama seorang petugas taman lewat di depan mereka, Devan pun langsung menghentikannya.
"Permisi Kak? Boleh saya minta bunga Akasia-nya di jadikan buket?"
"Oh iya tentu. Saya akan membuatkannya." Ucap seorang perempuan itu, lalu pergi dari sana.
"Buat siapa?" Tanya Kian penasaran
"Kepo." Acuh Devan.
__ADS_1
"Hm.. Oh ya kita kesini mau ngapain? Jangan-jangan lo mau ketemu cewek lo ya? cewek yang lo kenal di Cafe tadi? Iya kan Van?" Tuduh Kian dengan wajah yang sudah sangat julid.
"Iya." Singkat, namun membuat wajah Kian menjadi muram dan hati yang tak karuan. Ntah kenapa itu ia pun tak tau. Namun ia berusaha serileks mungkin agar Devan tak menyadarinya.
"Ha? Seriusan lo? Ngapain lo ngajak gue kalo gitu. Terus mana ceweknya? Kita udah dari tadi di sini, kok dia belum dateng juga?" Kian menoleh kesana kemari, mencari sesosok yang sedang di tunggu Devan
"Lupa kali."
"Enak aja lo ngomong gitu. Kan udah janjian, ya harus ditepati dong." Seru Kian menggebu gebu.
Tak lama kemudian seorang perempuan, petugas taman itu kembali lagi menemui Devan dengan membawa satu buket bunga Akasia yang berwarna kuning. Devan pun mengeluarkan uang lembaran seratus ribu dan memberikannya pada petugas.
"Aelah Van. Lo yang romantis dikit napa sih? Lo mau kasih tuh buket buat cewek lo kan?" Tanya Kian, yang diangguki oleh Devan. "Lo salah! Lo bener bener salah kalo kasih tuh bunga. Di taman yang gitu luasnya, apalagi banyak pilihan bunga, kayak bunga tulip, bunga mawar yang terdiri dari berbagai warna juga, ada sun flower, Aster, Lily dan masih banyak bunga lain yang bisa lo kasih. Kenapa harus kasih Akasia sih? Jarang banget orang kasih nih bunga. Biasanya juga paling mawar merah kalo mau nyatain perasaan. Aneh lo." Roceh Kian
"Gue emang bukan cowok romantis. Lagian terserah gue dong."
"Ah udah ah. Lo dibilangin ngeyel. Terus kita tunggu dimana nih? Gue udah kenyang makan ama main. Jadi serah lo." Cuek Kian.
"Duduk sini aja." Devan menarik Kian duduk di atas hamparan rumput yang ada di bawah pohon itu. Rumput yang begitu hijau dan segar.
"Yakin lo? Ntar kalo dia udah dateng, gue pulang aja ya. Gue gak mau ganggu." Ucap Kian sambil membuka ikatan sepatu roda yang masih melekat di kakinya.
"Hn." Singkat Devan.
"Oh ya Van. Kita gak jenguk papa lo? Lo udah tau belum gimana kabarnya? Dia masih di rumah sakit atau udah pulang? Ini udah beberapa hari dari hari itu, pasti papa lo udah pulang. Kita jenguk yuk." Ajak Kian dengan senyum sumringah.
"Ngapain bahas itu?!." Malas Devan disertai dengan tatapan tajam.
"Ya itu emang tugas lo kan. Pikir aja caranya, gue gak mau kesana lagi."
"Van, lo gak boleh gitu. Biar gimana pun dia tetep papa lo. Lo gak inget sama sekali, masa lalu lo sama om Daren hm? Nih ya gue bilangin, setiap manusia punya salah. Kadang ketika satu orang pernah melakukan seribu kebaikan, namun tanpa ia sengaja ia melakukan satu kesalahan maka semua orang bakal pergi dan ngejauhi dia karena satu kesalahan yang ia buat. Tapi itu gak berlaku bagi orang baik. Karena dia gak bakal lupa sama seribu kebaikan yang pernah orang tersebut lakuin. Gue yakin lo orang yang kayak gitu. Lagian semarah marahnya lo, dalam benak lo pasti masih sayang kan sama papa lo?."
"Apa yang lo tau tentang gue? Lo cuma tau serpihan dan beberapa keping cerita kehidupan gue aja." Nada bicara Devan mulai terdengar begitu dingin.
"Gue emang gak tau lo kayak apa. Bahkan yang gue tau sekarang tentang lo cuma karena lo yang kasih tau gue baik itu sengaja ataupun gak. Tapi satu yang gue tau, perasaan seorang anak ke orang tuanya gak akan pernah bisa saling membenci Van. Lo bisa menyangkal itu di mulut, tapi gak di hati lo. Lo tau, om Daren tuh baik. Gue juga yakin hal yang lo benci itu, pasti terjadi karena sebuah kesalah pahaman."
"Punya orang tua yang gak utuh demi keutuhan keluarga orang lain itu gak enak!"
"Iya. Mungkin gue gak tau rasanya jadi lo. Punya keluarga kayak gitu gimana rasanya, pastinya sedih dan kesepian. Tapi kalo boleh gue jujur, gue juga tau rasanya gimana itu kesepian. Gue gak mau beradu nasib sama lo. Karena gue yakin semua orang pasti akan beruntung kalo emang udah waktunya."
"Maksud lo?"
"Gue udah ditinggal sama orang tua gue sejak kelas satu SMA. Bukan ditinggal gitu aja sih, lebih kayak itu pilihan gue sendiri yang mau tinggal dan milih buat gak ikut mereka. Kalo ditanya hidup gue bahagia? Gue gak tau harus jawab apa. Gue jawab iya, gue takut artinya gue seneng liat orang tua gue berantem terus tiap saat. Kalo gue bilang enggak, artinya gue gak bersyukur masih punya orang tua yang lengkap." Ucap Kian dengan senyum getir, menjeda ceritanya yang terasa berat untuk dikeluarkan namun berat juga untuk ditelan kembali.
"Terua kenapa lo di usir?"
"Ayah gue gak mau gue lanjutin kuliah. Ayah takut Gue bakal kayak bunda. Bunda dulu kuliah dan bisa dapet kerjaan mapan, gak kayak ayah yang kerjanya pas pas-an dan hanya karyawan biasa. Dari sana bunda emang selalu sibuk, ayah juga, dan gak ada yang punya waktu lebih buat gue. Waktu usia gue masih balita gue biasa di urus sama babysitter. Sampai usia gue lima tahun gak lagi dan semuanya terjadi. Kesalahpahaman antara ayah sama bunda. Hingga keluarga gue jadi sedikit berantakan. Setiap hari mereka selalu berantem, gue yang gak di kasih waktu lebih oleh mereka ditambah lagi dengan waktu itu mereka yang selalu berantem tanpa jeda, sedikit buat gue frustasi. Tapi saat itu mama lo dateng. Dan gue ngerasa nyaman banget dengan hal itu. Mama lo baik dan selalu jadi sandaran gue Van, makanya gue sayang banget sama mama lo. Tapi itu gak bertahan lama, sampai gue pindah dan pisah dengan mama lo. Pindahnya kami bukan berarti buat ayah sama bunda baikkan. Bahkan tambah parah. Kesalahan empat belas tahun lalu sampai sekarang masih punya imbas. Sampai ayah buat pilihan buat gue keluar dari rumah kejar cita-cita gue, atau tetap di rumah dan gak bakal di kasih buat kuliah. Gue tau niat ayah pasti baik supaya gue gak nandingin kerja keras suami gue nanti dan tetep bisa lakuin kerja sebagai seorang istri dan ibu nantinya. Ya cuma bukan karna kesalahan dari satu orang, terus bisa buat orang lain juga kena dan dicap kayak gitu kan? Jadi gue keluar buat kejar cita cita gue. Positifnya, ayahnya nyuruh gue lebih mandiri dan bertanggung jawab sama hidup gue. Gue tau kok walaupun dia suka marah marah dia baik banget dan sayang sama gue. Walaupun kenyataanya sampai sekarang kedua orang tua gue gak pernah akur karena hal itu. Dan begitu pun dengan om Daren ke lo Van. Dia sayang sama lo."
Devan nampak diam tak berucap, mendengarkan semua cerita yang dikeluarkan oleh Kian. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Ia juga tak menyangka jika Kian terlahir dari keluarga yang hampir sama dengannya. Hanya saja masih utuh, dan alasan yang berbeda. Yang satu karena pangkat dan yang satu karena orang ketiga. Seperti itulah pikirnya saat ini.
__ADS_1
Jreng.....
"Ayo pulang."
Suara senar di petik dan ajakan Devan berbunyi bersamaan. Membuat Kian sedikit bingung.
"Permisi kakak, kita boleh hibur kakak dengan nyanyian gak? Soalnya aku liat kakak-kakak dari tadi romantis banget, duduk berdua. Hehehe..."
"Iya kalo ditambah dengan lagu, pasti lebih romance lagi kak." Ucap salah satunya lagi.
Mereka adalah dua orang petugas taman yang bertugas sebagai penghibur di taman itu. Dua orang yang terdiri dari seorang perempuan dan laki laki yang masing‐-masing membawa gitar. Kian sudah melihatnya beberapa saat lalu saat ia asik bermain sepatu roda, mereka berdua berjalan kesana kemari menghibur pengunjung dengan naynyiannya yang menurut Kian sangat bagus dan suara mereka juga sangat merdu.
"Gak, Kita mau pulang. Kalian bisa hibur orang lain." Ketus Devan yang sudah bangkit dari duduknya.
Kian yang mendengar ucapan Devan menjadi tak enak hati. Kian juga tau, mungkin saat ini Devan sedang kesal karena ucapannya tadi. Kian pun menarik kembali Devan untuk duduk di sampingnya. "Gak kok kak. Kebetulan kita juga lagi nungguin seseorang. Jadi sambil nunggu kita bisa denger nyanyian kakak." Ucap Kian dengan senyum mengembang.
Mereka berdua pun membalas senyum itu. Namun tidak dengan Devan, dia hanya memandang datar kedua orang tersebut. Dengan posisi berdiri di depan Kian dan Devan, mereka berdua mulai memetik senar gitar dengan begitu merdunya, dan mulai bernyanyi.
Kian begitu menikmati nyanyian itu, tanpa sadar ia bertepuk tangan bahkan pandangannya tak lepas dari dua orang tersebut. Menikmati setiap jentikan jari dan lirik lagu yang mereka lontarkan dengan ketukan yang pas. Dan itu terjadi sampai lagu yang mereka bawakan selesai.
"Wah, suara kakak-kakak bagus banget. Makasih ya udah hibur kami." Kian mengacungkan kedua jempolnya dan bertepuk tangan setelahnya.
"Harusnya kami yang berterima kasih karena mau mendengarkan lagu kami." Ucap si perempuan.
"Gak mau sumbangin lagu buat pacar kakak yang disebelah?" Laki laki itu membuka suara memandangi Devan yang masih di mode datarnya.
"Eh? Kita gak pacaran." Sahut Kian
"Gak pacaran kok kakaknya bawa bunga. Oh jangan-jangan baru mau jadian ya? Wah kebetulan banget, kakak bisa nembak kakak cantiknya pake bunga dan lagu." Senyum sumringah dari laki-laki itu, membuat Kian menjadi diam dan memandangi Devan.
"Em, tapi temen saya ini gak bisa nyanyi kak. Lagian temen saya mau ketemu pacarnya kak." Ucap Kian setelah beberapa tersadar dari lamunan itu.
"Pacarnya? Ohh gitu. Kirain kalian pacaran habisnya cocok." Ucap si perempuan
"Hehe gak."
"Tapi gak apa-apa loh kak, kalo mau nyanyi buat temannya." Laki-laki itu masih memaksa Devan untuk bernyanyi.
"Gak kak. Serius temen saya gak bisa nyanyi. Suaranya sumbang parah." Kian berusaha menghentikannya, walaupun sebenarnya ia juga tak tau bagaimana suara Devan sebenarnya. Yang ia tau sekarang Devan sedang di mode kesal dan marah, dan hal itu tak akan berujung baik nantinya.
Namun ucapan Kian berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Devan. Devan langsung mengambil gitar yang ada di tangan laki-laki itu. Tapi Kian malah tambah takut karena hal itu. Takut Devan marah dan malah menghancurkan gitarnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc