
"Ki...kian.." Sarah yang terbata bata.
Sedangkan Devan menatap marah pada Kian. Rahangnya sudah mengeras dan wajahnya sudah merah.
"Gw tau lo gak suka sama Sarah. Gw juga tau lo gak suka di ganggu ganggu. Dan kebiasaan sama tingkah laku lo yang selama ini yang bikin kesel semua orang gw gak pernah peduli ya Van. Tapi lo harus tau, bukan berarti lo bisa ngatain sarah kayak gitu!!! Gw gak peduli sama lo yang gak punya hati itu, Tapi gw peduli sama sarah karna dia punya hati. Lo harusnya punya malu buat ngomong gitu ke cewek!!" roceh kian tanpa takut pada Devan. Sedangkan Sarah yang biasa berani pada devan pada saat ini sangat takut.
Devan menarik tangan kian dan menghimpitnya ke tembok. Tatapan mereka bertemu, tatapan sangat benar benar tak suka.
"Kalo gw gak mikir perasaan sarah. Gw pasti udah marah dan ngomong hal itu di depan semua orang di kelas tadi. Tapi gw gak! karna gw juga masih mikir perasaan cewek licik kayak rubah itu ya! Dan lo berani beraninya nampar gw karna nih cewek rubah!! Heh, gw bakal pastiin lo bakal nyesel udah belain cewek kayak dia!" ucapnya langsung pergi.
Sarah yang terdiam sedari tadi mendengarkan kedua manusia itu masih diam terpaku. Kian mendekati sarah.
"Lo gpp kan Sar? Lo gak diapa apain sama dia?" tanya Kian dengan wajah sedikit khawatir.
"Lo yang dibuat kayak gitu tapi lo nanya gw baik baik aja atau gak? astaga kian, gw makasih banget lo mau ngebela gw" sarah memeluk Kian.
"Udah santai aja. Tuh manusia kalo gak dibilangin gak bakal tau juga."
Akhirnya mereka berdua kembali ke kelas dan sudah duduk di bangku masing masing. Kian duduk di bangkitnya semula dan begitu pun dengan sarah. Ia masih saja terseguk sampai kelas, membuat teman temannya bertanya ada apa. Namun ia mengatakan hanya terjatuh.
Jam akhir, Devan tak kunjung masuk kelas. Kian mulai berpikir apakah anak itu akan menyiapkan rencana jahat untuknya atau bahkan akan mencegatnya pulang nanti. Hingga membuat Kian melamun.
Namun tak lama,
Brakhh..
Yah, Devan menduduki bangkunya dan membuat Kian terbuyarkan dari lamunannya. Kian menoleh pada Devan dan begitu pun sebaliknya. Tanpa ada ucapan keduanya hanya saling tatap. Sama sama tak bergeming hanya tatapan mata yang menggambarkan suasana hati mereka.
_______
Semua orang sudah pulang dan begitu juga teman temannya. Ada alasan lain kian ingin pulang terlambat dari orang lain. Yah, di lain sisi juga sebenarnya dia khawatir apa yang akan di lakukan oleh Devan. Jika Devan sudah pulang lebih dulu maka kian akan sedikit lega. Ia berjalan sepanjang koridor dengan sangat hati hati dan tetap waspada.
"Woy Ki lu ngapain masih di sekolah?" seseorang menepuk pundak Kian hingga ia terlonjak kaget.
"Akh... lo ngagetin gw oon."
"Habisnya lu ngapain sih? Kayak di kejar kejar orang aja."
"Gak kok. Gw mau pulang"
"Oh ya? Kalo gitu bareng gw aja mau gak?"
Kian nampak berfikir sejenak dan...
__ADS_1
"Oke. Tapi lo anter gw ke rumah sakit aja gk usah ke rumah gw."
"Lho emang siapa yang sakit? ortu lo? Atau lo mau periksa?"
"Gak kok. Temen bunda di sana jadi gw mau jenguk."
"Oh gitu. Oke deh. Yuk." orang itu pun langsung menggandeng tangan kian.
Sesampai di depan rumah sakit.
"Bener kan ki bukan ortu lo yang sakit?"
"Iya jerry. bukan. Lo gak mau masuk dulu?"
Yah ternyata dia adalah jerry. Tentu anak itu akan sedikit modus untuk mengantarkan kian pulang. Namun karna bukan rumah Kian ia pun menolak.
"Gak. Gw masih ada urusan. Salam aja buat temen bunda ya"
"Hmm..Iya. Btw thanks ya."
"Iya sama sama cantik. Aku pulang dulu ya." ucapnya yang langsung melajukan motornya itu.
Kian pun di buat bingung oleh jerry yang selalu memanggilnya seperti itu. Terlebih lagi dengan bahasa yang barusan ia pakai. Membuat kian merasa aneh. Tanpa pikir panjang lagi kian langsung masuk dan menuju kamar Zanna.
Klak...
"Hai Ma....Gio"
"kak cantik...." teriak gio yang langsung menghamburkan pelukan pada Kian. Kian pun menggendongnya.
"Gio udah makan belum?" tanya Kian sambil berjalan kearah Zanna.
"Belum. Kakak lagi beli makanan buat Gio sama mama."
"Ouh mama juga belum makan ma?"
Zanna hanya menggeleng.
"Berarti tunggu anak mama dulu ya. Oh ya gimana keadaan mama?"
"Mama baik kok Ki."
"Kakak cantik kok panggil mama Gio mama?"
__ADS_1
"Emang kenapa? gak boleh ya?"
"Kalo gitu, mama punya tiga anak dong."
"Iya. Gio gak mau punya kakak kayak kakak cantik ini?"
"Mau sih. Tapi kalo bisa lebih dari kakak gio lebih seneng lagi. hehehe"
"Heh, maksudnya gimana nih?"
"Udah ki. Gak usah di dengerin. Gio emang selalu gitu. Ujung ujungnya juga ngegombal sama kayak kakaknya. Oh ya Ki, kamu pulang sekolah langsung ke sini?"
"Hehe iya ma. Kian kangen sama mama dan Gio. Jadi langsung aja ke sini."
"Oh gitu."
Disela sela obrolan mereka tiba tiba datang seekor nyamuk hap... eh...becanda. Ada seseorang laki laki datang ke kamar Zanna dengan banyak makanan di tangannya.
"Gio, mama makanannya datang" ucapnya dengan ramah. Kian pun menoleh dan.....
"Lo!!" ucap Kian dan Kavindra serentak.
"Kalian udah saling kenal ki?" tanya Zanna
"Eh, itu ma. Itu siapa mama?"
"Itu anak mama Kavindra."
Kavindra pun meletakkan makanan yang ia bawa di meja lalu menyeret kian keluar setelah kian menurunkan Gio dari gendongannya.
Kian terus di tarik Kavindra sampai menuruni tangga. Dan mereka ada di lantai bawah. Kamar Zanna memang bersebelahan dengan tangga menuju lantai bawah.
Lantai itu begitu kosong dan tak ada orang lewat. Kavindra menghempaskan kian ke dinding seperti yang ia lakukan di sekolah.
"Lo ngapain ke sini hah?!" bentaknya
"Gw pikir lo punya otak buat mikir kalo di rumah sakit gak boleh teriak teriak. Dan gw kesini mau ketemu mama Zanna. kenapa? masalah buat lo hn?!" ucap santai
"APA?! mama. Sejak kapan lo manggil mama gw dengan sebutan itu hn?"
"Jauh sebelum ini. Gw udah kenal mama Zanna sedari gw kecil. Terus gw salah mau ngerawat dia pas dia sakit gini? Salah kalo gw dateng kesini?"
"Lo kenapa sih suka banget ikut campur kehidupan orang lain? Gw peringatan lo ya! buat jauh jauh dari keluarga gw."
__ADS_1
"APA hak lo hn!? Lagian gw kesini mau ketemu mama Zanna bukan lo Devan. Jadi gak usah ke GRan lo. Gw bukan kayak cewek lain yang mau deketin lo. Gw cuma mau ketemu sama Gio dan mama bukan lo." ketus kian, lalu beranjak pergi ketika kungkungan itu lepas.