Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#120


__ADS_3

Kian merengkuh anak itu, memeluknya dengan begitu tulus dan hangat. "Yang Marcel katakan benar Tara. Kamu tidak sendiri."


"Mata itu terlalu cantik untuk mengeluarkan air mata."


Plak!


"Sakit Tara!"


Oekkkk.... (suara tangisan bayi)


"Lihat, sepertinya Naina terganggu dengan suaramu Marcel. Nando berikan aku botol susu Naina, mungkin dia lapar."


Anak yang di panggil Nando itu pun mengangguk dan segera mengeluarkan satu botol susu dari saku celananya.


Karena melihat Tara yang begitu kelelahan, Kian langsung mengambil alih bayi tersebut dari gendongan Tara dan memberikan susu botol itu padanya.


Tring!!


Satu pesan masuk dan memperlihatkan layar handphone Kian. Layar handphone yang bergambarkan dua orang yang berselfie tidak siap dengan backgroud bunga yang indah.


"Wah... itu bukannya kakak yang tadi ya kak? Kok kalian??? Berarti pacaran ini pasti.... Liat mereka foto di depan bunga. Dan itu, bunga nya cantik banget." Sahut Tara ketika melihat layar hp itu, tanpa di duga oleh Kian Tara ikut nimbrung melihat hal tersebut.


"Enggak Tara..."


"Emang bunga apa Tar?"


"Gak tau juga sih aku Marc. Cuma ciri-cirinya bunganya kecil, bulat, terus banyak warna, tapi warna dominan ya warna ungu, dan kayak bintang, kalo dilihat lihat lagi kelopaknya gak banyak deh sekitar enam gitu. Imut sama lucu banget bunganya. Kamu tau?"


"Kemungkinan itu bunga hyacinth, kalo yang dominan warna ungu berarti itu artinya permintaan maaf." Ucap Marcel dengan senyumnya.


"Loh kok Marcel...."


"Marcel tau segalanya tentang bunga kak. Dia kan tukang bunga, hahaha.... Gak deh bercanda. Marcel suka bunga gara-gara ibunya dulu suka banget sama bunga dan buat taman gitu di rumahnya. Ibunya Marcel selalu bilang ke dia kalo bunga-bunga itu punya makna dan arti tersendiri. Dan Marcel sering denger itu, makanya dia hafal dan tau banget kak. Dia sendiri yang bilang. Jadi bunga itu....?"


"Iya, secara gak langsung mungkin permintaan maaf bisa lewat bunga itu. Tapi itu juga mungkin kebetulan, iya kan kak?" Ia menoleh Kian.


"Marc, kak Kian ada di sebelah kanan kamu." Ucap Tara pelan agar Marcel tak merasa tersinggung, yang membuat si mpu menoleh ke arah yang bersangkutan sambil cengengesan.


Keasikan mereka mengobrol, sampai tak terasa makanan yang mereka pesan sudah berada di meja makan. Tertata rapi dan begitu banyak, bahkan dari ujung meja sampai ujung meja lainnnya.


Devan menarik kursinya tadi, dan duduk di sana dengan wajah yang sama, datar seperti sebelumnya. Ia menepis pandangan dimana ada beberapa orang yang melihatnya dengan tatapan sangat lamat seperti tak teralihkan. Ia juga tak mau mengganggu perbincangan mereka yang terlihat begitu sibuk dari jauh.


Sampai pada detik berikutnya, Devan yang sudah mulai makan mendahului mereka, ada tangan kecil yang menepuk lengannya. Yang tentu saja membuatnya menoleh. Anak itu memperlihatkan beberapa gerakan yang hanya di tatap datar oleh Devan.


"Nando bilang makasih kak. Makasih udah bayar makanan buat kita semua. Bahkan Nando berdoa semoga hal baik yang kakak lakukan hari ini akan dibalas pula dengan hal baik yang lebih besar oleh Nya." Papar Tara.


Iya mengangguk, dan memberikan beberapa gerakan pengulangan pada Nando sebagai tanda balasan. Membuat anak itu ikut tersenyum manis padanya. Berbeda dengan Kian yang menatap tak percaya pada Devan.


"Wah, kakak serem ngerti juga bahasa itu. Nan, abis ini kamu pulang aja, kamu kayaknya capek banget." Gelengan dari Nando pun membuat Tara hanya menarik nafas berat.


"Selain pendiem, kamu batu banget sih kalo dibilangin." Tara yang kesal langsung menyendokkan nasi ke mulutnya.


Acara makan itu hanya di hiasi dengan dentingan piring dari masing-masing mereka. Kian yang masih menggendong Naina sesekali juga memberi ruang untuk nya makan.


"Kak, makasih untuk makanannya."


Kian mengangguk dan memberikan satu kresek yang berisi nasi bungkus untuk mereka.


"Loh kak, tadi kan udah kok di kasih lagi?"


"Gak apa-apa, buat bekal kalian."


"Gak bisa gitu lah..... Nih, kita cuma punya koran. Jadi kita bayar pake koran aja ya. Plis terima yah... yah..."


"Tara, kakak bilang gak usah. Kak Devan sama kak Kian ikhlas kok."


"Kita juga ikhlas kok kasih korannya. Lagian korannya belum laku satu pun. Nanti bisa di marah sama bos kalo korannya gak habis."

__ADS_1


"Bos?"


"Iya, orang yang baik mau nampung kita semua. Tara takut kalo korannya gak habis nanti dia marah dan curiga kalo kita dapet makanan dari mana. Bisa-bisa kita di suruh tidur di luar kayak hari itu. Iya gak?" Tara meminta pengakuan dari teman yang dianggap saudara oleh nya itu. Dan mereka pun mengangguk.


"Baik dari mana? Kalo kalian di suruh tidur di luar." Sewot Kian.


Tara menarik ujung baju Kian, memberikan isyarat agar Kian menunduk ke arahnya. Kian pun menurut, dan anak itu pun membisikkan sesuatu pada Kian. Kian hanya diam dan mengangguk.


__________


Hari ini seperti yang di janjikan dan diminta oleh Febbry kalau ia ingin di bawa ke restoran dan tentu saja tidak hanya itu. Bimo hanya bisa menangis di pojokan sebab pemaksaan yang di lakukan oleh Febbry terhadapnya. Bahkan kejadian siang ini sempat membuatnya malu karena ulah Febbry dan pengunjung mall lainnya. Febbry memang belaja dengan uang sendiri, namun untuk soal makan dia akan menyerahkannya pada Bimo.


"Bim, udah dong diem nya." Rengek Febbry di tengah perjalanan itu.


Bimo hanya menatap malas bahkan tak menyahuti setiap perkataan Febbry. Ia hanya berjalan lurus sambil membawa beberapa barang belanjaan Febbry. Terkadang ia tak habis pikir, apakah Febbry sengaja ingin membuka mall pribadi di rumahnya dengan semua belanjaan brandit yang selalu ia beli di setiap pekannya?


"Maafin gue. Itu gak sejaga aja kok." Masih diam.


"Woy bambang!! Budek bin bolot ya lo!!" Bimo masih asik berjalan sendiri sampai Febbry menarik lengan gempal itu, namun selalu di tepis oleh Bimo. Tetapi dia adalah Febbry yang tak mungkin kehilangan seribu akalnya.


Mereka mampir ke restoran yang ada di mall itu sebab Febbry yang terus merengek kelaparan sedari tadi. Tanpa bicara Bimo hanya menurut dan dengan wajah yang datar dan dingin.


Tak lama makanan pun datang, dan tentu saja selama menunggu Febbry tak berada di kursinya melainkan masuk ke dapur restoran. Ntah lah anak itu selalu punya akses untuk apapun yang ia inginkan, Bimo yang melihatnya tak ingin ambil pusing karena baginya percuma mengatakan sesuatu jika Febbry ingin, maka tentu saja ia akan dapatkan dengan caranya sendiri seperti sebelumnya.


Tersaji sebuah nampan yang berisi berbagai macam makanan, dan tersempil disana kata maaf yang ditulis menggunakan saos dan krim keju. Bimo melihatnya sepintas dan beralih pada Febbry yang nyatanya memasang wajah melas benar-benar melas, bahkan matanya sudah berkaca.


Tak lama kemudian ia menyatukan kedua telapak tangannya, seperti orang memohon. Dengan berat hati dan agak terpaksa Bimo hanya mengangguk dan mulai memakan makanan itu.


"Nah gitu dong. Hadeh... ngebujuk lo susah banget ya tong! Tapi gak apa-apa, yang penting lo udah mau ngomong lagi sama gue, hehehe. Sepi hidup gue kalo gak ada yang mau ajak ngomong." Febbry dengan selalu banyak tingkahnya, memeluk Bimo dari samping sebentar dan berlanjut duduk di kursinya tepat di depan Bimo. Tentu saja saat melakukan itu wajah Febbry biasa saja, tak seperti Bimo yang terlihat sedikit syok karena tindakan spontan itu.


"Malu maluin!"


"Iya maaf Bim. Gue gak bakal gitu lagi. Abisnya tuh ibu-ibu aneh banget, bukannya ngalah malah nyolot. Harusnya dia tau kalo gue tuh lebih muda dari dia, jadi yang tua ngalah dong. Gak tau sama umur banget!!"


"Terus aja... Terusin aja, gue keluar!" Ancamnya yang sudah tak tahan dengan ocehan Febbry.


"Terus lo udah kasih tau sama Kian?"


"Udah kok. Tapi dia bilang gak bisa dateng, karena ada urusan."


"Oh."


"Tenang aja, gue bakal bilang. Dan gue juga mau ngabisin waktu sama sahabat gue itu seharian penuh, belanja, makan, seneng-seneng deh pokoknya." Jari lentiknya yang selalu keluar kala menghitung belanjaan dan rute apa saja yang dilalui dirinya.


Obrolan itu berlanjut terus, sampai makan selesai dan Febbry masih melanjutkan aksi belanjanya. "Gue heran, lo kaya tapi kayak hidup miskin seabad aja. Baru bisa belanja lo?? Setiap minggu barang mahal selalu lo embat habis. Atau lo mau buka toko? Ck, Keliatan banget wajah lo kayak orang..."


"Orang susah ya? Iya gue tau pasti lo mau ngegombalin, wajah gue emang susah di lupain Bim." Febbry dengan pede-nya menjawab. Ntahlah bagi Febbry Bimo sudah seperti Kian, bahkan ia tak segan-segan menunjukkan sisi yang bisa disebut Kian Narsis tak tau malu itu pada Bimo. Mungkin karena alasan nyaman dan sefrekuensi aja kali ya.


"Iya, susah banget. Sampe-sampe gue kayak di teror nenek lampir. Tiap hari mimpi buruk terus gue kalo liat lo Feb! Tiap kali belanja juga selalu ngajak gue. Gue bukan pembantu dan sopir pribadi lo kali!!"


Bukh!


"Jahat lu ama temen sendiri!" Febbry yang terlihat sudah tersulut emosi.


"Maaf anda siapa?!" Tanyanya nyeleneh.


"Kurang aja lo Bimo!! Gue sumpahin lo kangen seabad ama gue!!"


"Gue gak denger..."


"Bolot bin somplak lo!!!"


Febbry dan Bimo terus saja berdebat di sepanjang perjalanan, tanpa memperhatikan sekitaran yang berlalu lalang. Bahkan ada beberapa yang memperhatikan mereka dengan sangat amat tajam, tapi mereka tak menyadari itu.


"Bim, ke photobox yuk!"


"Ngapain?"

__ADS_1


"Mau ngepet!!! Mau cetak foto lah oon!"


"Ihhh, berani bayar berapa lo mau foto bareng sama gue? Udah gak serahim, segender, dan gak sedarah juga, naji*!"


"Masih belum kapok lo ya Bim!!" Geramnya yang langsung menghajar Bimo.


Bukh!!


Brakh!!


"Gue emang beda sama lo oon, emak bapak gue aja beda, gimana ceritanya bisa serahim ama sedarah?!"


"Aaaddduuuh.... Serah lu biji ketumbar! Lagian buat apa sih foto segala!"


"Buat gue isi di buku nikah! Puas lo!"


"Oh... kalo foto lo mau gue isi di boneka jerami sih rencananya. Gak apa-apa kan?"


"Arghhh!!" Erang Febbry yang sudah geram melihat tingkah laku Bimo yang mengesalkan baginya.


"Adohhh sakit iler kuda!!! Kepala gue bisa nyopot woy! KDRT nih namanya!!" Teriak Bimo tak kuasa menahan sakit.


Karena geram Febbry menjambak Bimo seenaknya, sambil menyeretnya seperti menyeret kudanya ke dalam photobox.


Satu jam lebih mereka habiskan di dalam sana, namun tak satu pun foto yang di dapat bagus. Semunya bergaya aneh dan jauh dari kata romantis. Ntahlah, mungkin karena permulaan hubungan mereka yang tak pernah akur di awal kenal sampai saat ini pun sama.


"Aelah... fotonya jelek-jelek amat sih Bim. Ini juga, gaya apaan nih! Gaje lo ya!" Febbry mengomel melihat hasil foto itu.


Febbry sangat mengeluh setelah melihat hasil jepretan dari photobox yang tak satu pun yang bagus menurutnya. Omelan yang di lontarkan oleh Febbry membuat Bimo ikut tersulut dengan membela dirinya sendiri. Beralasan bahwa dirinya memang tidak mau diajak berfoto dan menyalahkan kameranya yang tak bagus. Febbry hanya bisa mendengus kesal.


Padahal buat kenang-kenangan, huh~ Febbry


______________


Matahari tak lagi berada di tengah tengah langit, ia bergeser ke kutub barat dengan terik yang masih sama. Ntahlah akhir-akhir ini, wilayah itu dibanjiri oleh panasnya matahari tanpa ada tangisan. Namun sebaliknya, saat malam kota terasa begitu dingin seperti ingin hujan padahal tidak. Maybe, sama dengan keadaan hati Kian yang semakin menghangat ketika ia bisa melihat seseorang yang sedang ia harapkan berada di sisinya. Dan kembali dingin ketika ia pergi.


Punggung itu sama sekali tak lepas dari pandangan Kian, seakan hari ini adalah hari yang perlu diabadikan oleh iris grey nan cantik itu.


Tuhan, aku ingin dia. Bisakah?? ~ Kian


Angin bebas menerpa wajah Kian, di setiap kayuhan sepeda itu. Membuatnya tak henti henti tersenyum dan merasakan sejuknya tamparan angin. Merentangkan satu tangannya seolah menyapa balik pada angin, sedangkan satunya berpegang pada pinggang laki-laki yang ada di depannya.


Tak ada keluh di sana, meski cuaca sangat panas. Bahkan Kian sadar jika di saat itu, keringatnya sudah mengucur deras. Namun ia tampak diam dan sibuk dengan kegiatannya. Keduanya seolah tetap menikmati teriknya matahari.


Hingga kayuhan itu berhenti di tepian taman. Membuatnya berjalan turun dan begitu pun Kian. Memarkirkan sepeda itu dengan benar, lalu berlanjut menggenggam tangan mungil Kian dan menariknya ke dalam taman.


Percayalah bahwa saat ini Kian merasakan hal aneh. Genggaman itu seakan memberikan sengatan listrik yang berubah menjadi kupu-kupu yang berterbangan di perut Kian.


Ia tak tau kemana Devan akan melangkah, namun ia akan tetap mengikuti arah jalan itu sampai tujuan pun sampai. Tak ada tanya di sela itu, sebab Kian hanya terfokus pada pemandangan yang tersaji untuknya.


Pemandangan yang selalu saja menarik perhatian Kian, sebab keindahan dan kedamaian bagai tak tergantikan.


Bisakah selamanya seperti ini?? Hmm, mungkin tidak ya.. hehe~ Kian


Apakah tujuan ku sudah berlabuh sekarang Tuhan? Apakah dia? Jika memang dia setidaknya berikan sedikit waktu lagi padaku, untuk membuktikannya ~Kian


.


.


.


.


.


#tbc

__ADS_1


__ADS_2