
Plak....
Satu tamparan melayang ke wajah Kian hingga membuat maskernya terbuka....
"Astaga Kian wajah lo kenapa?" Tanya Febbry khawatir.
"Ki...." Sarah juga ikut terkejut.
Cepat-cepat Kian mengambil masker itu hendak menutup kembali wajahnya. Tapi malah ditahan oleh seseorang.
Dia memandang Sarah dengan tajam bahkan tatapan elang itu seperti menemukan mangsanya.
"Van... gw... gak..." Sarah berusaha menjelaskan bahwa bukan ia yang membuat pipi Kian menjadi seperti itu. Namun tatapan elang itu malah semakin tajam membuat Sarah ketakutan.
Devan membuka jaketnya dan langsung memasangkan pada Kian untuk menutupi kedua pipinya masih bercap itu. Tanpa bicara Devan langsung menarik Kian pergi dari sana. Membawa Kian dan terus menggenggam tangan mungil itu. Sedangkan dua orang yang ada di sana hanya bisa melongo.
Siswa dan siswi yang berada di sepanjang koridor menatap ke arah Devan dan seseorang yang di tarik olehnya. Kian memakai jaket Devan yang berukuran besar hingga kepala dan wajahnya bisa tertutupi oleh topi jaket itu. Membuat mereka tak tau bahwa itu adalah Kian.
"Van, lo mau bawa gw kemana sih? Lo liat orang orang pada liatin gw bege."
Kian yang gelisah, namun tak disahuti sama sekali oleh Devan. Hingga mereka sampai di UKS barulah genggaman itu lepas.
Devan memerintahkan Kian untuk duduk di tepi ranjang, sedangkan ia mengambil kotak obat di lemari.
Ia berjongkok di depan Kian, menuangkan alkohol di kapas lalu memberikannya pada Kian.
"Perlu gw bales gak perbuatan orang nya?" Tanya Devan dingin mantap Kian.
Tamparan yang dilayangkan oleh Sarah sebenarnya tak terlalu kuat. Hanya saja mengenai sudut bibir Kian yang belum terlalu kering gara-gara ulah ayahnya hingga membuat sudut bibir itu kembali mengeluarkan darah.
'Haduh Van kalo lo tau dia ayah gw sendiri yang lakuin ini. Apa masih mau lo nantanginnya.'
"Lo gila ya. Gw gak apa apa kali. Gak usah lebay napa." Ucap Kian tanpa memandang Devan dan mengelap sudut bibirnya dengan kapas yang sudah ada alkoholnya.
"Pipi lo sampai kayak gitu, terus lo bilang gak apa apa? Lo aneh. Gw tanya, lo mau bales tuh orang gak? Kalo mau, gw bakal pinjemin nih tangan supaya tangan lo gak kotor."
"Ini bukan semuanya karna Sarah Van. Jadi..."
"Terus karna siapa?" Belum selesai Kian bicara Devan sudah nyeletuk duluan.
"Kemarin pulang dari pantai gw mampir ke market dulu. Eh pas disana gw liat orang lagi di bully. Jadi gw pengen nolongin dia, tapi gw malah kena gampar."
__ADS_1
"Bodo banget sih lo. Kenapa gak minta orang lain aja buat nolongin tuh orang. Terus siapa mereka?"
"Ye mana gw tau. Orang gak kenal juga. Kok lo yang malah sewot sih. Gw yang rasain juga. Padahal sendiri juga gitu. Tuh muka masih kayak orang abis ikut tinju."
"Gw kan beda. Lo tau kan kalo lagi mabok orang gak bakal sadar lakuin sesuatu. Lagian kalo cowok babak belur tuh dah biasa."
"Mabok aja terus. Kalo lagi ada masalah tuh ceritain ke orang lain yang lo percaya supaya lebih ringan. Jangan rusakin badan."
"Emang lo pikir orang lain gak punya masalah gitu? Cerita ke orang lain cuma tambahin masalah buat orang lain. Gw juga gak bisa percaya sama orang lain."
"Iya deh." Ucap Kian yang menyudahi.
"Udah? Nih pake maskernya. Masker tadi udah kotor gak bagus kalo digunain lagi." Ia memberikan masker baru pada Kian.
"Van, kok lo akhir akhir ini baik ke gw? Kenapa?"
"Ntah, gw juga gak tau." Dinginnya
"Aneh lo. Oh ya hari ini gw gak bisa nemenin Gio. Sampain maaf gw ke dia ya."
"Oh oke. Lo juga perlu istirahat. Sembuhin tuh pipi. Udah bengkak tambah bengkak tuh pipi."
"Nyindirnya alus banget ya pak. Sekalian aja bilang gw bantet."
Kian dan Devan keluar dari UKS. Kian memakai masker dan Devan memakai jaketnya kembali. Mereka berjalan berjajar dengan masih diberi jarak antar keduanya.
Namun lagi lagi siswa siswi di sana melihat ke arah mereka dengan tatapan yang tak biasa.
"Ki, lo gak apa apa? Gw denger dari anak anak lo tadi berantem sama Sarah. Iya?"
Jerry yang tiba tiba menghampiri Kian di koridor. Ia langsung memegang bahu dan kedua pipi Kian yang masih terbalut masker.
"Gak. Gw baik baik aja." Kian berusaha melepaskan kedua tangan Jerry dari pipinya. Namun Jerry enggan untuk melepaskan.
"Jer.... Lepasin gw. Gak malu lo diliatin orang. Lepas gak!"
'Haduh.. Jer. Asal lo tau Sarah marah juga karna lo deket deket gw. Jangan buat gw tambah salah di mata dia Jerry.'
Devan yang masih berada di samping Kian awalnya tak ingin ikut campur. Namun terlihat kalau Jerry sedikit memaksa. Hingga ia pun akhirnya turun tangan.
"Wey.. Si Kian udah minta di lepas. Lepasin dia Jer." Pinta Devan sambil menyingkirkan tangan itu.
__ADS_1
Devan langsung kembali menarik tangan Kian lalu masuk ke dalam kelas meninggalkan Jerry yang masih berada ditempat.
Sepulang sekolah Febbry langsung menghampiri Kian dan mengajak Kian pulang bersama. Untuk kali ini Kian bahkan tak menolak. Ia juga seperti berhutang penjelasan terhadap Febbry. Hingga di perjalanan pulang Kian menceritakan apa yang ingin diketahui oleh Febbry.
"Jadi selama ini lo kenal sama mamanya Devan?"
"Iya. Cuma gw gak tau kalo itu mamanya Devan. Dan gw juga baru ketemu beberapa minggu lalu sama dia setelah beberapa tahun gak ketemu. Dan maaf gw gak cerita, lo tau Devan kayak apa kan? Ini juga gw harap lo gak lemes lemes banget ya."
"Hmmm... Lo kira sahabat lo nih apaan Kian. Terus yang sarah bilang kalo dia saudara tiri Devan itu gimana?"
"Itu masalah pribadi mereka. Cuma yang gw tau papa Devan ninggalin mama Devan buat orang lain. Dan gw gak tau selebihnya."
"Gw bener bener bingung. Keluarga mereka bener bener misterius ya. Pusing gw."
"Hmm... sama. Tapi lo gak marah sama gw?"
"Marah? Oh ayolah Kian. Kita udah sahabatan dari kelas dua dan gw marah cuma gara gara lo nyimpen hal hal kayak gini. Inget sahabat lo nih bukan sahabat baru. Bener kata mereka semua, kalo bukan lo yang mau temenan sama gw siapa lagi. Liat aja mulut gw yang hampir seluruh sekolah gak suka sama gw."
"Eh.... Lo ngomong apasih. Gw kalo temenan gak milih kok. Oh ya gw masih penasaran sama lo dan Bimo."
"Lah... Lo ngomong apaan sih Ki. Gaje banget. Kemaren itu.... bla.... bla.... bla..." Febbry menceritakan semua kejadian dari A sampai Z yang terjadi waktu itu pada Kian.
"Oh gitu... Gak usah ngambek juga kali Feb kalo gak ada apa apa." Ucap Kian yang mendoel dagu Febbry untuk menggodanya.
"Ish... Apaan sih Ki. Bikin bete aja."
"Utututu.... Nona muda pake ngambek segala. Ha... ha... ha..."
.
.
.
.
.
.
"Sahabat yang mengerti kita, tidak akan mudah marah hanya karna ada hal yang tak di beritahukan padanya. Ia juga tidak akan menuntut untuk selalu bercerita jika kita tidak mau. Karna persahabatan yang benar benar tulus adalah ketika kita susah dia akan berusaha membantu, ketika kita senang dia juga akan ikut senang dan ketika kita sedih dia akan meminjamkan pundaknya untuk kita menangis lalu berusaha menghibur kita lagi."
__ADS_1
~Febbry Lovata~