
"Kiannnnn" teriak kedua temannya.
Mata elang itu menatap Kian dengan tajam bahkan tanpa berkedip. Wajah yang lupa dan lebam itu membuat Kian terasa juga merasakannya. Lama mereka bertatap hingga laki laki itu berbalik dan mengambil bola basket yang mengenainya itu.
Melempar bola itu dan masuk ke arena lapangan basket.
Kian yang sedetik kemudian sadar dan langsung berlari ke arah teman temannya.
"Lo gpp kan ki? Untung aja ada dia. Kalo gak dah benjol tu kepala."
"Iya iya. Maaf."
"Eh feb, itu bukannya cowok sama geng yang gangguin lo bukan sih?"
"Mana? mana? Lah iya bener. Dia tim basket juga ternyata. Wah, liat dari perilaku dia tadi sih kayak dia juga biang masalah di sekolah. Mana sombong banget lagi. Berarti biang masalah vs biang masalah nih namanya."
"Febbry, mulai lo julid lagi."
"Ya kan emang bener Ki. Gw harap sekolah kita menang. Supaya tuh manusia gak bakal songong lagi."
Cuaca semakin panas, waktu terus bergulir dan hari usah semakin siang. Pertandingan basket antara sekolah semakin memanas, apalagi antara Refan dan Devan. Bahkan terlihat ada beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh Refan. Jerry sebagai ketua tim mereka merasa jengkel dengan hal itu.
Apalagi sekarang skor dua sama dengan perolehan ronde ke lima yang memperoleh nilai dua empat sama. Permainan yang kian memanas dan sengit antara dua tim membuat penonton juga kian heboh. Hingga pada kesempatan terakhir dengan Devan yang membawa bola sedangkan Refan yang berusaha merebut bola itu.
Semua anak SMA Bakti mendukung penuh tim mereka sampai meneriaki semua pemain yang ada. Begitu pun SMA lawan. Devan udah sampai ring dan
wush... Ia berhasil memasukkan bola tersebut namun brukh...dengan sengaja Refan yang tak bisa menangkis Devan yang berhasil memasukkan bola mendorongnya hingga terjatuh. Lagi lagi Devan dibuat emosi olehnya.
Teman teman satu timnya menahan Devan agar tak terjadi pertengkaran lagi, dan Jerry sebagai ketua tim yang melihat adegan tersebut tak tinggal diam. Dia mendekat ke arah Refan,
"Bro, kalo main tuh yang sportif dan kalo kalah ya terima aja." Ucap jerry dengan menepuk bahu Refan.
Refan pun pergi dan menatap sinis kearah tim Jerry. Dan akhirnya pertandingan dinyatakan dimenangkan oleh tim Jerry.
Bel pulang sekolah berbunyi, semua anak berhamburan pulang begitu dengan kelas kian.
"Ki, gw duluan ya." Ucap Sarah. Kian menggangguk
"Ki, mau bareng gw gak? Tapi gw mau mampir dulu ke perusahaan papa." ajak febbry
"Gak usah feb. Lo duluan aja."
"Ya udah kalo gitu. Btw nih, dari Jerry." melemparkan satu batang coklat pada Kian dari bangkunya dan kian menangkap tepat sasaran. "Tadi jerry mau kasih lo. Cuma abis pertandingan lo gak muncul. Ilang gitu aja. Jadi dia nitipin ke gw."
"Ha? buat gw. Ambil aja sih feb. Gak mau gw."
__ADS_1
"Lah kenapa? dari Jerry juga."
"Tuh anak maunya apa sih. Tadi gw liat sebelum pergi, dia nyamperin sarah. Dan sekarang malah kasih gw ini?"
"Iya sih. Gw juga gak ngerti. Tapi mending lo ambil aja sih. Gak baik nolak pemberian orang lain dan jangan berpikir yang buruk juga."
"Ya udah. Thanks."
"Oke. Gw balik dulu ya." Kian mengangguk.
Kian keluar kelas dengan santai, terlihat dari jauh Devan yang berdiri di depan loker sibuk dnegan urusannya. Kian hendak melewatinya, namun...
Tringgggg... Tring...
"Halo"
"........."
"Ha?! Mama? ia baiklah. Terima kasih."
Telpon terputus, Devan lari ke kelas mengambil tasnya dengan terburu buru. Kian yang mendengar kata mama dari mulut Devan pun ikut khawatir. Ia menghadang Devan yang hendak lewat.
"Apalagi sih. Gw buru buru"
Tak tega melihat Kian yang seperti itu Devan pun menjawab yang sebenarnya bahwa ia mendapat telpon dari rumah sakit, dan keadaan mamanya yang kritis saat ini.
"Dah tau kan lo. Sekarang minggir!"
"Gw ikut." pinta kian memohon.
"Tapi gw harus jemput Gio dulu ke sekolahnya."
"Ya udah gw aja yang jemput Gio. Lo langsung ke rumah sakit aja."
"Oke."
Kian pun langsung berlari meninggalkan Devan, bahkan ia lebih terburu buru dari Devan. Namun sesaat ia kembali lagi pada Devan.
"Kenapa?"
"Alamat sekolahnya?"
Setelah mengatakannya, kian langsung pergi lagi dengan menaiki taksi menuju sekolah gio. Sedangkan Devan menaiki motornya langsung melesat pergi ke rumah sakit.
Kian yang sudah sampai di sekolah Gio, langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan Gio. Namun dilihatnya sekolah itu benar benar sudah sepi. Yah, wajar saja jika sekolah ini sudah sepi karna jadwal murid sekolah dasar pulang tidak akan sesiang ini. Banun Devan bilang bahwa adiknya belum pulang. Kian benar benar dilanda kebingungan. Sampai ia bertemu dengan seorang guru yang mengajar di sana.
__ADS_1
"Bu, saya mau tanya murid murid disini sudah pulang semua?"
"Oh iya. Memang kamu cari siapa?"
"Gio bu. Dia dimana ya?"
"Maaf, tapi kamu siapa nya?"
"Saya Kian bu, temen kakaknya Gio. Dan saya di suruh buat jemput dia."
"Oh gitu. Biasanya kakaknya terus yang jemput."
"Iya Bu. Tapi hari ini Kakaknya lagi di rumah sakit."
"Oh ya sudah. Dia ada di kantor. Ayo saya antar."
"Terima kasih Bu. Tapi apakah Gio selalu pulang terlambat seperti ini?"
"Iya. Kadang juga kalau kakaknya menjemputnya cepat dia bisa pulang sama dengan temannya. Tapi kalau tidak yah seperti saat ini. Dia akan menunggu di kantor. Lagi pula para guru belum pulang sampai jam dua siang."
'Pantes aja kadang dia bolos. Ternyata mau jemput adiknya.'
Sesampai di kantor.
"Gio, kamu udah di jemput tuh sama kak Kian"
Gio yang duduk di sana langsung menoleh ke pintu setelah guru itu berucap demikian.
"Kakak cantik." Gio langsung menghamburkan pelukan pada Kian.
"Lho kok kak cantik yang jemput. Kak kavin mana?"
"Kakak kamu lagi ada urusan. Jadi kakak yang jemput kamu." Ucap Kian yang sengaja tak memberitahukan alasannya, karna ia tak mau gio juga terlalu khawatir walaupun dirinya juga demikian.
"Oh gitu."
"Ya sudah salam dulu sama gurunya, kita mau pulang."
Gio menyalami guru guru yang ada disana, tak lupa juga kian pamit pada guru guru itu.
Kian dan Gio menaiki taksi dengan tempat pemberhentian pertama adalah rumah kian lalu baru le rumah gio dan terakhir rumah sakit.
Sesampai di rumah, kian memasak apa yang disukai oleh Gio. Setelah matang, Gio langsung melahap makanan itu karna dia juga memang sedang lapar. Dan begitu pun kian.
Setelah selesai makan, dan berganti pakaian kian pergi ke rumah gio untuk menggangu baju gio. Dan lagi lagi gio terlihat manja. Setelah mandi ia minta digantikan bajunya oleh kian. Kian yang ingat cerita Zanna hanya tersenyum dan menurut.
__ADS_1