Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#27


__ADS_3

Brukkhhhh...


"Heh!! Lo bisa gak sih jalan tuh pake mata biar gak nabrak."


"Maaf ya. Kayaknya perlu di ralat. Jalan tuh pake kaki, kalo liat baru pake mata." sedetik kemudian setelah meroceh febbry melihat orang yang ditabraknya.


"Hah!!! Lo!!" serentak


"Pantes aja rasanya gw mental. Yang di tabrak kayak bemo gedeanya."


"Mulut lo tuh ya. Pengen gw sentil!! Kalo gak kuat gak usah. Badan kecil gayaan mau bawa sebanyak itu" remehnya


Febbry bangkit dari posisi duduknya. Karena merasa tak terima di katain lemah, febbry langsung memasukkan barang yang berceceran di lantai ke dalam kotak. Dan mengangkatnya namun.....


"Aduh....." ringisnya.


"Lo kenapa feb?"


"Kaki gw sakit Bim. Kayaknya terkilir deh." ucapnya. Bimo adalah orang yang ditabraknya tadi. Ia mendekati febbry dan melihat kaki febbry dan...


Kretakkkkk...


"Astagfirullah haladzim. Aaaddddoohhh sakit gob*ok. Seenaknya lo puterin kaki gw."


"Sorry sorry. Gw cuma benerin urat lo yang salah doang kok. Bisa jalan gak? atau mau gw gendong ke UKS?"


"Gak ada gak ada. Makasih." mulai bangkit lagi dan hendak menggapai kotak, namun bimo sudah duluan mengambilnya.


"Ditaruh dimana?"


"Gudang" cuek febbry. Bimo mengangkat dua kotak yang lumayan besar itu dan sama saja menutupi pandangannya namun tak separah febbry.


Febbry yang tak mau kejadian tadi terulang kembali, malah menjadi pemandu Bimo, jika ia salah jalan Dan orang orang sepanjang koridor yang dilalui mereka, febbry suruh minggir agar tak lagi menabrak.


Kian dan Jerry yang sudah ada di perpustakaan mencari beberapa buku. Kian juga berkeliling perpus untuk mencari febbry dan Sarah.


"Lo kenapa Ki? Cari apa?"


"Gw lagi cari sarah sama febbry. Tadi mereka pamit ke Perpustakaan. Tapi kok gak ada ya?" menggaruk kepala yang tak gatal.


"Mungkin mereka dah selesai kali. Oh ya thanks udah bantuin gw pilihin buku. Lo gak ada yang mau di pinjem?"


"Emm...ntar Gw cari dulu."


Kian mencari cari buku yang ia mau, namun ketika di temukan malah terdapat di rak yang tinggi. Ia mencari kursi di sekitar sana namun tak menemukannya. Akhirnya ia mencoba meninjit sebisanya bahkan menaiki papan rak yang paling bawah. Tapi hanya bisa merabanya tanpa bisa mengambil.

__ADS_1


"Lain kali kalo gak sampai tuh bilang. Jangan naik gitu. Ntar lo jatoh lagi." ucap Jerry yang ada di belakangnya mengambil buku yang diinginkan kian. Sedangkan posisi kian masih seperti tadi. Seolah jerry memelukanya dari belakang.


"Huh....nih" ucap jerry yang tak lagi menghimpit Kian. Kian berbalik dan mengambil buku itu. Kedua pasang mata itu bertemu satu sama lain. Jerry yang memang lebih tinggi dari Kian memaksa kian untuk mendongak ke atas untuk melihat jerry yang jarak keduanya memang kurang dari satu langkah.


"Thanks"


"Iya. Udah yuk" ucapnya sambil mengacak rambut kian, lalu berjalan mendahului kian.


Setelah dari Perpustakaan Jerry kembali menuju kelasnya sedangkan kian lanjut mencari kedua temannya yang ntah pergi kemana.


Tap....tap...tap....


Ia berjalan tanpa tujuan. Melihat setiap sudut yang ia lewati siapa tau temannya ada di sana.


"Sendiri aja Ki? Tumben gak sama lambe turah." Dion menyapa kian.


"Eh iya yon. Ini lagi mau cari dia. Liat gak lo?"


"Enggak. Tapi tadi gw liat sarah di ruang serba guna"


"Oh gitu. Okelah. thanks infonya."


Kian langsung melesat pergi ke sana.


"Eh kian. Gw suruh sama pak samsul. Febbry juga."


"Mana febbrynya?"


"Di suruh anter barang ke gudang tapi gak balik balik lagi sampe sekarang. Mungkin langsung ke kantin kali ye." yang masih asik menyapu


"Yah, tu anak ya. Ngapain lo bersihin ini sar?"


"Gak tau. Katanya sih ada acara tapi gw gk tau acara apaan."


"Oh. Gw tadi abis dari perpus sama Jerry sambil cari kalian berdua. Pantes aja gak nemu orang kalian aja di sini."


"Si Febbry tuh yang ngajak jalan. eh tau nya malah di suruh gini."


"Ikhlasin aja sih Sar. Btw, febbry bukan sih tuh" tunjuk kian.


"Eh iya. Kenapa tuh dia jalan gitu.?"


Febbry yang sudah selesai mengantar barang itu, kembali menemui sarah dengan jalan sedikit pincang.


"Eh ada Kian"

__ADS_1


"Kaki lo kenapa Sar?"


"Oh gak sengaja jatoh tadi. hehe"


"Makanya kan gw udah bilang, sok kuat sih lo."


"Elah cerewet banget sih lo sar. Ya udah nih udah selesai kan kita langsung ke kelas aja yuk."


"Gak mau ke UKS??"


"Gak usah."


Akhirnya mereka kembali ke kelas, dengan febbry yang di gandeng tangannya oleh Kian dan Sarah.


_________


Malam hari kian yang sudah melaksanakan kewajibannya dan hanya bersantai di tempat tidur, membolak balikkan halaman demi halaman buku yang ia pinjam tadi siang. Seketika rasa bosan menyerangnya. Ia membuka whatsapp siapa tau ada notif dari seseorang. Namun yang di dapat hanya pesan grup sekaligus pesan dari Jerry yang selalu menanyakannya sedang apa.


Terkadang ia bingung. Ia tau kalau dirinya hanya sebatas teman dan ia rasa jerry juga merasa begitu. Tapi sikap jerry yang selalu perhatian padanya membuatnya sedikit risih. Apalagi ia tau saat ini jerry sedang mendekati Sarah. Ia tak mau jika nantinya sarah yang juga memiliki perasaan yang sama terhadap jerry berpikiran yang tidak tidak terhadap dirinya.


Ia membuang napas kasar memandangi keluar jendela dari tempat tidur, ia begitu merindukan orang tuanya. Tanpa pikir panjang ia mencoba menelpon bunda dan ayahnya. Namun lagi lagi tak ada jawaban. Karena tak mau mengganggu mereka, kian berhenti untuk menelpon kedua orang tuanya.


Ia menatap ke arah dinding dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. Ia bergegas langsung berganti pakaian. Menggantikan baju tidurnya dengan dengan sepan kulot dan baju sweater lengan panjang tak lupa membawa tas.


Ia tau jika jam segini Zanna pasti sudah istirahat. Namun untuk mengobati rindunya, ia hanya ingin melihat saja dari luar tanpa mengganggu zanna. Jika sudah pun ia akan langsung pulang pikirnya.


Karna cuaca di malam hari yang dingin ia memutuskan untuk menaiki taksi.


Sepuluh menit berlalu akhirnya ia sampai di rumah sakit. Hal ini dikarenakan jalanan yang tidak macet sehingga jalan bebas hambatan.


Kian yang memasuki rumah sakit dengan santai tak lupa menyapa beberapa orang di sana. Sampai di depan lift, ia pun masuk dan hendak menekan tombol dua karna kamar Zanna terletak di lantai dua. Namun saat berbalik ia tak sengaja melihat Devan ada di depan meja administrasi, terlihat begitu khawatir.


Karna penasaran kian menunda untuk naik lift tersebut, dan hendak menghampiri Devan.


"Kami sudah memberi jangka waktu untuk melunasi biaya rumah sakit ini. Tapi kenapa belum dibayar juga. Kami sebagai pihak rumah sakit tidak bisa membantu pasien jika biayanya belum di lunasi." ucap salah satu petugas administrasi itu pada Devan.


"Emm.... Begini bu, saya bayar setengahnya dulu. Dan setengahnya lagi akan saya bayarkan nanti."


"Tapi kapan?"


"Secepatnya. Saya mohon bu. Saya akan berusaha untuk membayarnya. Tapi untuk sekarang saya bayar setengah dulu."


"Hmm... baiklah. Tapi kami harap kamu sebagai pihak keluarga bisa melunasi biayanya. Agar Ibu Zanna bisa terus mendapat perawatan dari rumah sakit."


"........"

__ADS_1


__ADS_2