
Tak
Tak
Tak
Seorang lelaki berjas hitam rapi, dengan rambut klimis, sedikit brewok, juga kacamata terpasang rapi dan tersangkut di hidung mancung bak layar kapal. Duduk di singgasana, menyandarkan punggung itu di sana dengan nyamannya. Memandang keluar jendela yang begitu besar dengan ekspresi datar, memunggungi seseorang sambil memainkan pena di tangannya.
Di sisi lain ada satu orang lagi di ruangan itu, yang duduk manis di sofa panjang berdasar ludru. Memakai jas berwarna navy. Menampakkan mimik yang sedikit cemas dan panik menghiasi wajahnya. Menggenggam kedua tangannya, dengan sedikit membungkuk.
"Apa yang terjadi hn?! Kenapa kau melepaskan anak itu! Kau tau perjanjiannya seperti apa?!" Kalimat dingin penuh penekanan terlontar dan terdengar jelas di dalam ruangan itu.
"Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran Rio. Lagi pula aku yakin anak itu tidak akan bisa bertahan lama di luar dengan...."
"Bagaimana jika dia bertemu dengan laki-laki itu hn?!" Potongnya, "Kau tau betapa anakku menyukai anakmu itu!! Harusnya kau tidak membuat putraku kecewa Bram!"
"Sabarlah Rio. Apa yang bisa diharapkan Kian dari laki-laki yang keluarganya saja sudah hancur? Lagi pula dia bukan lagi kebanggaan keluarga Wilson. Sekarang dia hanyalah sampah! Dan tak memiliki uang yang bisa menolong Kianku."
"Apa kau yakin dengan Kalimat mu hm?! Lalu apa rencanamu? Aku tidak mau melihat putraku satu-satunya menjadi marah. Kau tau kan, apapun yang putraku inginkan, selalu ku turuti."
"Hn. Aku menyuruh Kian untuk mengganti semua biaya hidupnya dalam waktu lima bulan. Itu sama saja bukan hal yang mungkinkan? Lagi pula dia takkan bisa melakukan itu semua."
Brakh
Gebrakan meja itu cukup menggelegar, ntah mungkin dia mati rasa atau memang kulit nya tebal, hingga tak menampakkan kesakitan sedikit pun dari telapak tangannya. Sedangkan seseorang yang duduk itu tentu merasa terkejut.
"Apa?! Lima bulan itu waktu yang lama Bram! Kau menyuruh putraku menunggu putrimu selama itu?! Siapa kau? Yang berani berbuat seperti itu pada keluarga Damien! Bahkan ada banyak perempuan di luar sana yang lebih baik dari putrimu tanpa harus menunggu selama itu!!!"
"Hey!! Rio, ingatlah betapa anakmu menyukai anakku, walaupun kau bisa temukan perempuan itu di luar sana." Sombong Bram, yang juga diakui oleh Rio. Ntah apa yang merasuki anaknya, sampai mau dengan anak Bram yang wajahnya tak seberapa itu, menurutnya.
"Kumohon Rio, itu waktu yang singkat. Lagi pula aku yakin dia tak akan sanggup bertahan selama itu." Mohon Bram, setelah mendapat tatapan sinis dari Rio.
"Jika dia bisa?" Tantang Rio mengangkat sebelah alisnya seolah percaya.
"Akan ku pastikan ia takkan bisa Rio. Kau tenang saja. Aku lebih tau putriku dari pada orang lain. Dia takkan sanggup, aku akan membantunya menyerah." Ucap penuh penekanan.
"Dasar gila. Kau menyakiti putrimu sendiri Bram. Kau adalah ayah yang tega dan gila pada putrimu sendiri."
"Aku hanya ingin membuktikan padanya, jika tak kan ada seorang pun yang bisa menolongnya termasuk laki-laki itu!! Lalu dia akan kembali padaku dengan memohon dan menikah dengan putramu. Sederhana bukan? Aku yakin ini akan berhasil."
"Hahahaha.... Aku baru saja bertemu orang tua naif seperti mu Bram. Disaat orang tau lain berlomba untuk memberikan segala hal yang berharga untuk membahagiakan anak mereka, sedangkan kau? Kau malah mengorbankan dan menghancurkan putrimu sendiri. Beralasan semua itu untuk putrimu, padahal menikmati sendiri jerih payah itu dengan mengorbankannya!" Sinisnya yang melirik Bram yang masih duduk di sana.
"Hanya demi apa? Ego mu itu kan? Membuktikan kau bisa dari istrimu! Semoga kau tak kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupmu. Aku akan meyakinkan anakku untuk bersabar. Aku memperingatkanmu tentang batas waktu itu. Jangan sampai kau melewatinya pak tua! Sebab kau tau kau sedang bermain dengan siapa. Jika kau sampai bertindak terlalu banyak dan mengingkari perjanjian maka rasakan sendiri akibatnya! Pergilah!!" Ucapan tegas nan dingin itu membuat Bram pergi dari sana dengan terburu-buru. Tak lupa dengan amplop coklat besar yang ia ambil dari meja.
_________________
Tok... tok....
Tok... tok....
"Assalamualaikum, Ki... Kian.... Buka pintunya." Nada lembut namun sedikit keras itu bersuara.
"Cari Kian, Van?" Tanya seseorang yang baru membuka pintu rumahnya.
"Iya kak. Tapi kok sepi banget ya?" Heran Devan, sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Kian pulang sekolah tadi keluar gak tau kemana Van. Tapi udah pake baju rapi banget sih."
"Dia gak kasih tau kemana kak?" Wajah Devan yang nampak sudah mulai khawatir.
"Gak sih. Cuma bilang ada perlu aja."
"Gitu ya kak. Oke deh."
Devan mengeluarkan ponselnya, mencari nama seseorang di kontaknya yang sudah pasti itu adalah Kian. Ia menekan nama itu dan langsung menelponnya.
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.'
Sudah beberapa kali bahkan lebih dari lima kali Devan menelpon Kian, namun jawabannya tetap sama. Membuat Devan menjadi berkali-kali lipat khawatir, terlihat sekali dari wajahnya.
"Kenapa Van?" Tanya Nari yang masih di sana, melihat Devan yang sudah grasak-grusuk.
"Hpnya gak aktif."
"Mungkin lobet kali. Emang lo ada apa cari dia, wajah lo khawatir banget." Nari sedikit terkejut dengan ekspresi yang baru pertama kali di keluarkan oleh Devan. Mungkin itu sudah sering, namun baginya ini baru pertama kalinya ia melihat ekspresi itu.
__ADS_1
"Dia belum makan siang kak. Harusnya sekarang dia makan siang dulu. Tapi dia aja gak ada di rumah. Ya udah kak gue cabut dulu."
"Eh iya hati-hati. Gue juga bakal kabarin lo kalo dia udah balik ke kontrakan."
"Iya kak. Thanks, assalamulaikum." Pamit Devan yang langsung pergi, masih menggenteng satu tas kecil yang berisi tempat makan di tangannya.
"Waalaikumsalam."
'Gak yakin gue, kalo dia temen lo Van.'
Devan mulai keluar dari gang itu dengan terburu-buru. Ntah kemana dia akan mencari Kian, ia pun tak tau. Selama ini ia merasa kalau Kian tak pernah keluar rumah atau sekedar nongkrong bersama temannya. Membuatnya sedikit bingung namun ia tetap mencari.
Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan ini. Harusnya ia tak meninggalkan Kian sendiri untuk pulang ke rumah, dan langsung memberitahukan ia jangan kemana-mana.
'Duh, Devan lo bego banget sih!! Udah tau Kian masih baru di sini, mana tau dia Jalan di gang ini. Kalo dia kenapa-napa, lo pastinya bakal nyesel Van!'
______________
"Huh!! Gimana? Enakkan?" Tanya seorang perempuan dengan bertekan pinggang, mengangkat kedua alisnya bersamaan dengan senyum penuh arti.
"Enak apanya markonah!!! Capek gue!" Bentaknya.
"Sttttt! Kecilin napa tuh suara, bikin malu aja. Baru juga segini udah ngeluh capek. Waktunya masih ada satu jam-an lagi. Kita selsain aja ya."
"Sumpah! Gue gak kuat lagi! Lo kalo mau, lo sendiri aja. Gak usah nyuruh gue. Gila ya lo, kalo mau bunuh gue tuh bilang, jangan kayak gini."
"Ye, si engkong malah marah. Tapi gue liat dari tadi lo seneng-seneng aja nikmatinnya. Lagian ini bukan pertama kalinya juga lo lakuin itu."
"Seneng apa nya! Rasanya hampir mati gue!! Justru itu makin keseringan cepet capek gue. Bodo ah, gue udah gak sanggup lagi! Gue mau pulang." Ia bangkit dari duduknya.
"Tanggung Bimo!! Tinggal satu lagi aja yang belom lo coba. Gue yakin setelah lo coba nih alat pasti lo nagih. Cowok kok lemot, gitu aja udah ngeluh." Cibir perempuan itu.
"Lo kata nih alat gym semua makanan pake nagih segala. Lo mah enak, cuma ngomong sama ngitung gak jelas. Lah gue?? Gue capek Febbry." Tegasnya, dengan keringat yang sudah mengucur.
"Ye, sekali lagi aja Bim. Pliss plisss yaaa.. yaa.. Udah tanggung juga. Kita dah nyobain smith machine, Lat pull down machine, Pec deck machine, Rowing machine terus yang lain juga udah. Masih satu lagi, buat pendinginan Bim, treadmill. Yah... Yah.." Mohonnya dengan mata yang berbinar.
"Kita? Perasaan cuma gue doang. Lo nya mah yang heboh. Pokonya gak! Kalo lo mau, lo aja sana!"
"Gue kan udah kurus bambang! 45 kg tuh udah mentok ideal gue. Ya kali harus olahraga lagi, bisa tambah kurus nanti." Rocehnya.
"Yak!! Lo nyebelin banget sih Bim. Gue kan usaha juga buat lo. Gue mau nolongin lo!."
Perdebatan anatara Bimo dan Febbry yang ada di tempat gym tak kunjung usai. Sampai-sampai para pengunjung yang ada di sana menatap aneh keduanya. Merasa terganggu? Jelas. Suara Febbry yang begitu cempreng apalagi saat sedang marah akan membuat gendang telinga serasa mendengar raungan kaset rusak. Yang jelas tidak baik untuk kesehatan telinga.
Sadar akan hal itu, Bimo yang menatap ke sekelilingnya langsung membekap mulut Febbry. Dengan berat hati ia pun mengiyakan permintaan Febbry berolahraga dengan satu alat lagi yaitu Treadmill. Bimo paham betul kalau tak dituruti Febbry akan memberontak dan marah-marah seperti tadi. Ia tak mau mengambil resiko, mereka akan di usir lagi dari tempat gym seperti sebelumnya. Ini merupakan tempat gym kedua yang mereka datangi, setelah tempat gym waktu itu. Mereka di usir karena alasan yang hampir sama, sebab Febbry mengganggu para pengunjung.
"Lo apa-apaan sih Bim. Tangan lo bau oon!" Marah Febbry ketika bekapan itu terlepas.
"Berisik lu! Gak malu diliat sama orang-orang disini? Ini yang terakhir ya Feb. Itu pun jangan terlalu lama. Gue udah bener-bener capek. Kalo gue pingsan kasian lo juga harus ngangkat gue." Ucapnya menurunkan tas yang sudah di sandang sebelumnya.
"Hehe.. iya-iya."
Kini Bimo sudah naik ke papan Treadmill, dengan Febbry yang mengotak atik tombol nya. Sebenarnya Bimo sudah melarang, namun itu Febbry bukan orang lain.
"Feb, yang slow aja ya. Jangan yang kenceng. Takut gue langsung melanting nanti kalo kecepetan." Pintanya.
"Iye tau juga bambang. Ampun dah."
Febbry berada di samping kepala treadmill, sambil melihat angka-angka itu bermain dengan cekatannya.
Drttt... Drttt
Ponsel Febbry bergetar, membuatnya teralihkan dan segera menjawab telpon itu.
'Ha?? Tumben nih anak nelpon.'
"Iya halo. Dengan princess Febbry di sini. Ada yang bisa dibanting??" Dengan aksen yang manja dibuat-buat.
"Lo sama Kian?"
"Et dah, woles aja kalik! Gak, Kian gak sama gue."
"Gak boong kan lo?!"
"Eh enggak ya. Bener Kian gak sama gue. Dasar lo! Dateng-dateng nelpon orang, nuduh gue boong lagi. Emang kenapa sih Van?"
__ADS_1
"Oh."
"Woy Van!! Lo jangan macem-macemin sahabat gue ya!! Awas lo. Emang Kian kenapa? kemana?!!" Yang kini juga khawatir, namun tak ada jawaban dari sebrang.
Tut
Gludak
"Astagfirullah." Febbry merasa terkejut. Tentu ada dua hal yang membuat dia begitu, yang pertama karena Devan yang langsung memutuskan sambungan telpon dan yang kedua, suara apa itu tadi? Pikirnya.
Ia langsung melihat ke samping, ternyata..
"Astaga... Lo ngapain tiduran di sana Bim. Kurang kerjaan banget lo." Rocehnya ketika melihat Bimo yang sudah terkapar, dengan badan yang masih berada di atas papan Treadmill dan kepala yang ada di lantai. Menatap tajam Febbry seolah ingin memangsa.
Papan Treadmill? Masih tetap lanjut, sebab Febbry yang memegang kendali. Hingga di detik kemudian, ia langsung cepat-cepat mematikan alat itu. Berusaha membantu Bimo yang terbaring di sana.
"Lo gak apa-apa?" Tanya Febbry yang khawatir.
"Gak apa-apa kepala lo. Sakit Feb, sakit!!"
"Ya udah maaf. Tapi kenapa sampai kayak gini?"
Flash back
Saat Febbry yang sedang asik memegang kendali itu, mengatur kecepatan treadmill sesuai dengan kemauan Bimo. Ia juga tau kalau terlalu cepat bisa membuat Bimo tak seimbang dan jatuh.
Begitu pengertian? Tentu, sebelum Devan menelponnya. Tapi saat itu terjadi tanpa di disadarinya ia terbawa emosi dan mengencangkan kendali.
"Et dah, woles aja kali! Gak! Kian gak sama gue." Saat ia mengatakan kalimat itu, ia sudah menambah kecepatan ke tingkat sedang. Namun Bimo masih bisa menyeimbangkannya.
"Gak boong kan lo?!"
"Eh enggak ya!" Ia sudah menambahkan kecepatan menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Membuat Bimo menjadi mengeluh dan menyadarkannya, "Eh, Feb. Bisa dipelanin dikit gak? Kayak sebelumnya. Gue gak bisa seimbangin nih, huh, huh!" Jawabnya yang sudah terengag-engah.
Namun bukannya mendengar Febbry malah tambah marah-marah dan menambah kecepatan menjadi sangat cepat, "Dasar lo! Dateng-dateng nelpon orang, nuduh gue boong lagi!!! Emang kenapa sih Van?"
"Woy Van!! Lo jangan macem-macemin sahabat gue ya!! Awas lo. Emang Kian kenapa? kemana?!!" Teriaknya menggelegar, dan sangat marah, pada saat itu Febbry sudah menambah kecepatan membuat Bimo tak bisa berkata dan ...
Gludak
"Oh."
Ia terjatuh dan disaat bersamaan Devan menjawab dan langsung menutup telpon itu.
Flash back_off
"Bim, kita udahan aja ya. Gue ada urusan. Kayaknya Kian ada masalah deh." Wajah Febbry cemas.
'Ya kan gue dari juga mau udahan. Lo aja yang maksa. Dasar cewek!'
"Seriusan lo? Ya udah lo sana, temuin Kian aja." Titahnya.
"Tapi lo?" Tanya Febbry yang melihat Bimo yang masih memegang pinggangnya yang kemungkinan besar itu sakit.
"Udah gue gak apa-apa. Lo susul aja Kian." Ucapnya sedikit meringis.
"Gak. Gue bakal anter lo pulang dulu."
"Gak usah Feb..."
"Udah diem. Lagian ada Devan, setidaknya gue percaya ama tuh serigala kutub." Ucap Febbry yang memapah Bimo keluar tempat itu.
_______
Devan berlanjut menelpon Mikko, namun juga jawabannya sama. Mikko tak tau keberadaan Kian. Yang tentu membuat Devan menjambak rambutnya frustasi. Ia kembali menyusuri jalan tanpa beristirahat sedikit pun untuk mencari Kian dengan sesekali menelpon Kian. Tapi jawabannya tetap sama.
.
.
.
.
.
__ADS_1
tbc