
09:00
Cuaca sudah cukup panas untuk keluar sekarang. Walaupun begitu, Kian sudah beres kerja mulai dari cuci baju, membersihkan rumah sampai halaman depan dan belakang, mandi serta tentu saja sarapan pagi untuk bekal meneguk obatnya.
Kini ia keluar dengan baju blouse berwarna biru muda lengan panjang dengan kerah kerut, sepan panjang hitam, dan sepatu warna putih kapas.
Klak
"Ciah... Mau kemana nih pagi-pagi? Jalan ya? Atau pergi..."
"Apasih kak Nari. Kian cuma pake baju biasa aja, mau nemenin Devan tapi gak tau mau kemana."
"Ohh... Kirain. Terus itu kaki kamu bener udah baikkan?"
"Loh emang kaki Kian kapan marahan kak? Sampe harus baikan segala, hahaha..."
"Ihhhh!! Kian.... Gue serius ya.... Jokes lo garing banget."
"Hahaha... Becanda kak. Lagian emang udah baik sih."
Ditengah percakapan di depan pintu kontrakan itu terdengar suara bak lebah pekerja yang sedang berkerumun.
"Devan!!! Udah lama gak ketemu."
"Maaf aja ya bakmie, anda siapa yang harus ditemuin ama Devan?"
"Elo sirik aja. Udah makan belum? Kalo belum yuk kita sarapan dulu."
"Gak ya bakmie dia sarapan sama gue!"
"Dih karung goni ama mie berantem, gak tau diri. Devan mending sarapan di kontrakan aku aja yuk, aku lagi masak banyak banget, ada semur jengkol, rendang jengkol, sayur pare, ayam, lalapan..."
"Situ mau nawarin makan apa jualan mbak, pake disebutin semua yul!"
"Hai!! Devan ke sini mau ngapain? Ketemu gue ya?" Ucapnya dengan senyum manis.
"Gak usah mimpi Chacha, dia kesini mau ketemu gue!"
"Gak! Gue!!"
"Gue!!"
Devan yang berada di tengah lapangan kontrakan itu kini jadi bahan rebutan wanita-wanita yang ada di depannya. Bahkan saling tarik menarik, dengan tangan Devan yang menjadi sasaran.
"Kalian bisa berhenti gak sih!! Devan tuh kemari mau jemput gue. Kita mau jalan. Iya kan beb...." Ucap satu orang perempuan baru datang yang bisa dibilang lebih putih dan cantik dari yang lain, menyingkirkan mereka yang berada di sekitar Devan dan merangkul lengan itu.
Sedangkan di tempat yang berbeda, dua orang terus memperhatikan kerumunan itu dari kejauhan.
"Gak cemburu Ki? Devan di deketin apalagi sampe di pegang begitu?"
'Cemburu sih gak kak, cuma kesel aja liatnya. Devan juga kenapa mau maunya sih dipegang sama mereka. Kalo dilempar Devannya bakal di cariin gak ya kira kira ama mereka?' Batin Kian
"Hahaha... mana mungkin cemburu kak. Ngapain juga." Sahut Kian dengan cengiran.
"Heumm...." ucapnya sambil menyenggol bahu Kian. "Woy Van!! Mau sampai kapan lo di sana? Gue suruh Kian masuk nih!" Teriaknya menggelegar mengacaukan segerombolan orang yang sedang bercengkrama tersebut. Devan berhenti menatap riuh di depannya, beralih menatap Kian dari kejauhan dengan wajah flat nya.
Devan yang sedang berada di sana sebenarnya juga merasa risih, bahkan ia hanya memasang wajah datar tanpa senyuman. Namun walau begitu ia juga sadar ia tak bisa berlaku kasar pada perempuan, hingga membuatnya hanya diam. "Gue cuma lewat aja kok kak." Ucapnya sambil menyingkirkan beberapa wanita yang ada di hadapannya.
"Devan, ngapain sih lo deket deket tuh cewek. Mending jalan aja ama gue. Gue bakal kasih apa aja yang lo mau." Ucap salah satunya, yang membuat Devan berhenti melangkah dan berpikir.
"Sebenarnya sih ada yang pengen gue minta, tapi....."
"Bilang aja Van, Gue bakal kasih apa aja yang lo mau!" Timpalnya buru-buru.
Devan melirik sesuatu yang terparkir di depan salah satu kontrakan yang ada di sana, dan memandang secara bergantian antara barang dengan wanita tersebut, "Gue boleh minjem itu gak kak?"
Ia menoleh, "Boleh dong. Kita mau jalan kemana emang?"
"Gue cuma mau pinjem barangnya aja kak, gak sama orangnya." Santai Devan, namun dipastikan akan membuat sakit hati wanita itu.
"Bwuahahahahha..." Semua perempuan yang mengerumuni Devan malah tertawa puas.
"Yeuh, ya udah pinjem aja. Setidaknya barang di rumah gue pernah di pinjem ama Devan. Gak kayak kalian." Ucapnya berbangga, sedangkan yang lain hanya mencebik. Wallahu setengah hatinya merasa tak rela.
Devan langsung menghampiri Kian yang masih berada di depan kontrakannya bersama Nari. sedangkan mereka yang berkerumun tadi malah menatap tak suka pada Kian.
__ADS_1
"Tuh Devan udah nyamperin lo Ki. Cieee... bakal sepedaan bareng nih. Boncengan lagi, aaaaaaa so sweet!" Nari yang semakin menjadi-jadi menggoda Kian.
"Udah kak, dramatis banget." Timpalnya yang hendak melangkah turun dari lantai terasa rumah.
Namun, Nari langsung menghentikannya dengan melontarkan satu kalimat sebelum Devan bebar-benar sampai di sana, "Em, Ki. Gue mau tanya. Seberapa banyak temen cowok lo yang tau alamat rumah lo?"
"Ha? Setau Kian sih cuma Devan aja. Emang kenapa kak?" Kian yang terlihat begitu heran, menautkan kedua alis nya itu.
"Ohh iya, gak apa-apa. Udah jalan aja sana, hati-hati. Moga lancar aja ya date nya hahaha...." Kian mengangguk.
___________
Sepeda mulai di kayuh oleh Devan, sepeda biang lala berukuran besar berwarna biru itu mengantarkan mereka jalan di pagi yang cukup cerah.
"Mau kemana? Kenapa pakai sepeda? Gak capek? Gue berat loh, Van."
"Mau sarapan apa?"
"Gue tanya malah balik tanya. Lagian gue udah sarapan tadi. Ini sepeda kak Lola gak di marahin apa?"
"Gak, kita langsung makan siang aja. Mau makan apa?"
"Tapi kita mau..."
"Gak usah banyak tanya! Mau makan apa?"
"Terserah." Ketus Kian setelah nada otoriter itu kembali menyapu pendengaran Kian. Sedangkan batinnya meroceh tak henti-henti. Sekali manusia balok es ya tetep balok es!
"Oke."
Setelah beberapa lama mengayuh sepeda mereka sampai di sebuah warung yang sederhana di pinggir jalan. Cuaca yang begitu panas terik padahal baru bebrapa menit lalu Devan mengayuh sudah membuatnya bercucuran keringat dengan deras. Ia berniat ingin mengadem dan mengistirahatkan dirinya sejenak di warung tersebut.
Namun belum sempat itu terjadi, ketika sepeda itu baru berhenti Kian melihat sesosok yang familiar untuknya. Dan yang pasti itu sangat membuatnya takut bukan main.
"Van..." Panggil Kian setelah menepuk pinggangnya beberapa kali "Gue tiba-tiba pengen makan soto." Lanjutnya lagi.
"Ya udah kita sekalian pesen di sini."
"Gak!! Gue pengen yang ada di perempatan jalan sebelumnya." Ucapnya menggebu-gebu.
Beberapa menit mengayuh, akhirnya mereka sampai di warung yang di tuju. Namun sayangnya mereka tak langsung masuk, sebab Kian dengan bebasnya terjun dari sepeda dan menghampiri beberapa anak yang tak jauh di sana. Dengan berlari sedikit pincang Kian memaksakan diri untuk menghampiri mereka.
"Dia kenapa? Kita bawa ke rumah sakit aja, ayo!!" Kian menimpali ketika melihat kondisi seorang anak yang sudah seperti ikan tanpa air.
"Gak usah kak. Nando udah biasa kayak gini." Ucapnya pada Kian yang terlihat panik. "Nando, coba sabar dan rileks ini pakai alatnya." Seorang anak perempuan memberikan sebuah alat pada anak yang di panggil Nando itu.
Setelah adegan itu, tak lama sang anak yang tadinya terbaring sekarang terlihat lebih baik. "Nah, kan kak dia baik-baik aja sekarang." Ucap anak perempuan dengan senyum manis dan mengusap kepala anak laki-laki itu.
Grrrrrrrrlllll.....
Kian memandangi mereka, kemudian mengajak mereka untuk ikut bersamanya ke warung soto yang di tuju sebelumnya.
Kian berbalik dan melihat Devan yang menampakkan wajah khawatir. Tak banyak yang ia lakukan, ia hanya berdiri tak jauh darinya sekarang. Kian hanya bisa cengengesan membalas tatapan khawatir yang notabene-nya terlihat tajam itu.
_____
Kini kursi-kursi yang ada di meja itu sudah terisi penuh. Tiga orang anak, dua orang remaja, dan satu orang bayi melengkapi satu meja persegi panjang itu. Di saat yang bersamaan, mereka hanya menatap satu sama lain. Terlebih lagi Devan, yang sama sekali tak mengenali anak-anak itu, sangatlah asing.
Sebenarnya pemandangan itu lebih bisa di sebut sebagai satu keluarga dari pada beberapa orang asing yang saling berkumpul.
"Ekhemm!!" Kian berdehem ketika anak anak itu menatap satu sama lain pada Devan.
"Kenalin nama kakak Kian, yang itu (menunjuk Devan yang berada di sebrang) kak Devan." Kian memperhatikan satu persatu dari mereka.
"Namaku Tara kak." Ucap seorang perempuan yang berada di samping kanan Kian sambil menggendong seorang bayi, "Yang ini Naina. Em.. yang di sebrang itu namanya Nando, dan yang ada di belah kiri kakak itu Marcel."
Nampak pertanyaan besar tergambar dari wajah Kian ketika sang bocah perempuan bernama Tara itu memperkenalkan mereka. Namun ia coba tepiskan itu sebisa mungkin, karena di rasa hal terlalu privasi jika dilontarkan.
Mata Kian terkunci di saat anak-anak lain berpandangan satu sama lain, ada satu orang anak yang bahkan matanya mengarah ke arah lain. Padahal jika dilihat semua baik-baik saja, atau....
"Baiklah, salam kenal semua...." Kian berusaha ramah di tengah canggungnya dan dingin atmosfer di meja itu. Bagimana tidak, ekspresi Devan sangat datar dan dingin, bahkan tak menunjukkan ekspresi bersahabat sama sekali.
Tring!!
Devan merogoh hp nya yang berada di saku sepan, untuk mengecek notif dari siapa itu.
__ADS_1
Dan.. setelah ia membaca pesan itu, ia menatap nanar Kian, sambil mengangkat atau alisnya.
Tring!!
Lagi... pesan itu masuk ke hp Devan. Membuatnya hanya menghembuskan nafas berat melihat isi pesan itu.
"Jadi kalian mau pesan apa?" Tanya Devan dengan wajah dingin
"Tidak, terima kasih kak. Kami tidak punya uang untuk membeli makanan." Ucap Tara.
"Tara, kakak ajak kamu sama teman-temanmu ke sini karena kita mau makan. Jadi katakan saja kalian mau makan apa, kak Devan yang akan memesan dan membayarkannya."
"Mereka bukan teman-teman Tara kak, mereka adalah keluarga. Aku pikir, aku akan sulit menelan satu butir nasi pun jika kakak berwajah datar itu yang membelinya. Benar-benar menakutkan."
"Tara... bisakah kau jaga ucapanmu. Aku rasa kakak-kakak yang bersama kita ini baik, tak pantas jika kau berbicara seperti itu."
"Aku berkata sejujurnya Marcel. Kau saja yang tak melihat wajah kakak itu."
Perdebatan kedua bocah itu dimulai, Devan nampak sangat marah setelah kalimat barusan terlontar di tambah lagi dengan percakapan keduanya yang Kian memanas.
Krak...
Devan bangkit dari kursinya, sontak membuat kedua orang itu diam. "Aku akan memesan makanan." Pamitnya yang dibalas senyuman oleh Kian.
"Dia pacar kakak?" Ketusnya.
"Tara!! Jangan melewati batasanmu!"
"Sudah-sudah jangan bertengkar. Tara, dia teman kakak."
"Ouh... ku kira dia pacar kakak. Jika dilihat wajahnya sangat seram, tapi mungkin saja tidak dengan hatinya."
Kian nampak berfikir dengan kalimat itu, "Yah kau benar Tara. Lalu Nando apa kau sudah merasa benar-benar baik? Apa mau kakak bawa ke rumah sakit?"
Anak yang di panggil Nando itu tak bersuara, hanya mempraktekkan beberapa gerakan tangan yang mengarah pada Kian.
Kian nampak kebingunan menangkap maksud Nando sampai... "Nando bilang dia tidak apa-apa kak. Dan terima kasih sudah mengkhawatirkannya." Sambung Tara.
"Ohh begitu, syukurlah. Lalu dimana alamat rumah kalian? nanti kakak akan pesankan taksi untuk mengantar kalian pulang."
"Kami tidak bisa pulang sebelum koran yang ada di tangan kami habis kak."
Benar saja, sedari tadi ia baru menyadari kalau masing-masing dari mereka menggenggam koran. "Tapi kenapa?"
"Apanya yang kenapa? Kami penjual koran. Setiap hari akan begitu. Karena hari ini belum ada koran yang laku, jadi makanya kami belum bisa makan. Tapi untung saja ada kakak cantik dan kakak seram yang menolong kami. Biasanya jam segini kami sudah bisa membeli makanan walaupun hanya sebungkus bagi tiga. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Namun permasalahannya sekarang koran belum ada yang laku." Ucap Tara dengan lemas.
Mendengar penuturan anak itu semakin membuat Kian pusing, "Tunggu, ini maksudnya kalian penjual koran? Dimana keluarga kalian? Seharusnya di usia seperti ini kalian belajar bukannya bekerja."
"Ini adalah keluarga kami kak. Keluarga mana lagi yang kakak tanya?"
"Maksud kakak orang tua, dimana orang tua kalian?"
"Ohhh... kalau itu sangat susah di jawab kak."
"Ha?? Bagaimana mungkin?"
"Hmm... Sebenarnya kami berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Kami bukan saudara kandung. Kami hanyalah orang asing yang bertemu karena satu nasib yang kemudian membentuk sebuah keluarga. Kakak lihat Nando.. Nando itu tidak bisa bicara, dia pergi dari rumah. Tapi aku tidak tau alasannya apa, dia tidak pernah bilang. Sedangkan Marcel itu tidak bisa melihat. Dia bilang hal ini karena kecelakaan yang dialaminya bersama kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya tidak selamat, dan ia mengalami kebutaan. Awalnya dia di urus oleh paman dan bibinya sampai pada suatu hal membuat dia ditinggalkan di pinggir jalan oleh kedua orang itu. Naina? Bahkan Naina lebih miris dari itu kak. Usia Naina mungkin baru menginjak beberapa hari setelah di lahirkan, sebab kulitnya masih begitu merah dan lembut. Dan kakak tau dimana kami menemukannya?" Tanya Tara pada Kian yang sudah mematung mendengarkan cerita itu.
"Di bawah jembatan selokan. Untung saja saat itu selokan belum terisi penuh dengan air. Sungguh orang tua Naina sangat jahat." Wajah Tara sangat merah ketika menceritakan hal tersebut.
"Dan kau?"
"Aku? Sama seperti Marcel. Hanya saja terjadi sebab ayah menikah lagi, dan tak menginginkan anak perempuan. Haha... orang tua ku lucu ya kak." Perempuan itu tertawa di sela dengan tangisan pula. Satu tangan meraba sekitaran meja mencari sesuatu yang ia inginkan.
"Tara... masih ada aku, Nando dan Naina disini. Jangan menutupi sedih itu dengan tawa. Kau tidak sendiri, kita keluarga dan kami tetap mengharapkanmu." Tangan itu menggenggam tangan Tara dengan erat.
"Hiks... Hiks..."
.
.
.
.
__ADS_1
#tbc