Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#89


__ADS_3

Brakh


Pintu di buka dengan kasar, dan Kian terlempar kedalam ruangan itu. Membuatnya terduduk di lantai dengan menangis tersedu-sedu dan pipi yang sudah memerah sebelah. Sudah pasti karena sebuah tamparan yang ia dapat ketika di restoran tadi.


"Ayah!!"


"Diam kamu Intan!!" Ucap Bram dengan mengangkat telapak tangan lebarnya di depan Intan, menyuruhnya diam dan tak ikut campur saat ini.


"Anak ini sudah keterlaluan Intan! Aku sudah katakan untuk tidak membuat ulah, dan mencemarkan nama keluarga ini, tapi dengan mudahnya dia mengatakan hal itu didepan keluar Damien!!" Ucap Bram dengan mata sudah memerah melihat Kian, dada yang kembang kempis menahan semua amarahnya sejak tadi.


"Ayah, kan Kian sudah bilang Kian gak mau di jodohin apalagi sampai nikah yah. Hiks.... Hiks..." Masih dalam keadaan duduk bersimpuh di lantai dengan air mata yang tak menunjukkan akan keberhentiannya.


"Kamu gak mau?! Apa alasan kamu hn?! Apa karena laki-laki yang baru kamu kenal itu? Kamu harus ingat Kian, ayah nikahkan kamu karena ayah gak mau kamu sama laki-laki itu. Laki-laki miskin tak punya masa depan!! Ayah cuma mau kamu hidup terjamin, tanpa harus susah untuk bekerja Kian! Tapi apa?! Kamu malah menolaknya! Membuat malu keluarga itu dan kamu baru saja sudah menjatuhkan nama baik keluarga ini juga Kian! Hanya apa? Demi laki-laki itu?!" Bentaknya, kini urat kepalanya susah terbentuk disekitar dahinya. Menujukkan betapa marahnya seorang ayah pada anaknya.


Kian bangkit dari duduknya mencoba untuk sabar dan menjelaskan dengan baik pada ayahnya. Berharap dan terus berharap agar ayahnya bisa mengerti dengan apa yang ia jelaskan.


"Ayah, Kian nolak dia bukan karena Devan. Tapi Kian emang gak mau di jodohin, dan gak mau nikah. Kian cuma mau sekolah dan gapai cita-cita Kian yah." Ucapnya lembut.


"Apa cita-cita? Ayah mau kamu itu jadi perempuan yang bakti sama suami kamu Kian! Gak yang lain. Lupain itu semua, cukup kamu di rumah dan nikmati jerih payah suami kamu!" Ujarnya dengan nada tersengal, "Terus untuk apa kamu kuliah he? Pasti kerjakan? Buat apa kamu sekolah tinggi-tinggi kalo nanti juga jadi ibu rumah tangga?!" Lanjutnya lagi.


"Kian mau kuliah karena Kian mau gapai cita-cita dan banggain ayah sama bunda. Ayah sadar gak sih laki-laki yang akan ayah nikahin sama Kian itu juga memiliki umur yang sama dengan Kian yah. Emang dia gak kuliah dulu yah? Gak ada cita-cita? Kian gak mau nantinya cuma jadi beban buat dia yah."


"Cukup Kian!!! Ayah cuma mau kamu....."


"Ayah gak mau Kian kuliah atau apalah itu karena Kian cuma dipakai buat balas budi kan yah?" Ketus Kian yang sudah tak tahan lagi.


Plak


Satu tamparan keras mendarat di pipi satunya lagi, dengan nyamannya membuat wajah Kian langsung terhuyung. Perih, sakit bercampur aduk. Namun tak akan sesakit seperti hatinya saat ini.


"Anak tidak tau diri kamu! Ayah besarkan kamu supaya jadi anak penurut dan selalu denger kata orang tua. Bukan jadi pembangkang seperti sekarang, dan nuduh orang tua kamu!!"


"Tapi Jerry bilang sendiri kalau ayah lakuin ini karna ingin balas budi ke keluarga Damien. keluarga itu terlalu banyak membantu kita kan yah?" Tanya Kian, namun lama tak ada jawaban dari ayahnya.


"Jawab Kian yah? Jadi Kian dibesarkan cuma jadi alat barter atau balas budi gitu yah?" Kini Kian sudah menatap ayahnya, takut? jelas, dia adalah ayahnya. Sudah sewajarnya Kian merasa takut, namun Kian ingin mendengar sendiri alasan dari perjodohan secara dadakan ini.


"Iya!" Tegasnya, membuat air mata nya kembali mengucur. Sedangkan bundanya? Bundanya hanya bisa diam dan menangis. Tak tau harus berbuat apa. Kini pertengkaran antara anak dan ayah lagi-lagi terjadi.


"Iya Kian, keluarga itu memang sudah banyak membantu ayah. Tapi kamu lihat, untuk apa ayah melakukan itu! Ayah tidak mau kamu memakan jerih payah bundamu yang selalu berkerja dengan bosnya. Seperti ayah tak bisa menghidupi kamu saja."


"Tapi yah, gak gitu juga caranya. Lagipula yang Kian ingin tuh cuma perhatian kalian. Kian gak tergoda sama sekali dengan kekayaan yang kalian kasih ke Kian."


"Bohong Kian!! Jika tanpa itu semua kamu gak bakal bisa hidup Kian. Kamu sekolah saja masih butuh uang. Hidup sekarang gak ada yang gak pake uang Kian!! Ayah cuma mau kamu bahagia nak, berkecukupan dan gak bergantung dengan orang lain."


"Iya yah Kian ngerti, makasih untuk itu. Tapi yang Kian mau cuma kalian, bukan semua itu. Uang itu bukan segalanya, hidup itu bukan untuk kumpulin kekayaan yah. Kebahagiaan Kian bukan tentang materi, ayah, bunda."


"Lalu apa? Apa tentang laki-laki itu?!"

__ADS_1


"Enggak yah. Devan gak ada hubungannya dengan masalah ini. Kian mau kalian itu gak sibuk sendiri, dan perhatiin Kian aja, udah cukup."


"Kian, ayah sibuk karena cari uang buat hidup kamu. Kamu mau hidup gitu-gitu terus? Kamu pikir kamu sekolah itu uang dari mana? Kamu makan itu uang dari mana? Kalau bukan dari ayah Kian!! Kamu bilang uang bukan segalanya? Sekarang kamu sekolah sana, tanpa uang dari ayah. Kamu keluar, dan usaha sendiri. Buktikan kalau uang bukan segalanya!! Memang kamu pikir kerja sekarang enak? Silahkan Kamu coba Kian."


Keluar?? Kata-kata itu bagai bom atom bagi Kian dan bundanya. Intan tersentak dan membulatkan matanya, tak percaya.


"Yah, maksud kamu... Kamu mau usir Kian dari rumah ini????" Suara Intan seperti tercekak.


"Iya Intan. Anak kamu ini tak pernah menghargai kerja kerasku! Bahkan hari ini dia mempermalukan keluarga kita. Padahal aku sudah katakan untuk tidak membuat ulah!"


"Kian bukan gak hargain usaha ayah. Bahkan Kian hargai usaha ayah seberapa pun itu, tanpa banyak berhutang dengan orang lain. Hiks... Hiks... Jangan usir Kian yah..." Pintanya yang langsung berlutut dan memeluk kaki laki-laki itu.


"Kamu masih kecil Kian masih jadi beban orang tua!! Berlagak dewasa dan nasehati orang tua. Merasa udah pinter kamu iya? Udah pinter karena selalu juara terus?" Ucap Bram yang berusaha melepaskan Kian dari kakinya. Namun Kian masih kukuh tak mau melepaskan kaki itu, meski sudah di paksa oleh ayahnya sendiri.


"Dasar anak gak tau diri. Ayah malu punya anak seperti kamu Kian! Gak pernah denger kata ayah sekalipun!! Kalo kamu udah merasa pinter, hebat sama prestasi kamu itu, silahkan. Bawa itu keluar, sekarang kamu ayah lepas, buktikan ke ayah kalau hidup itu gak cuma tentang uang, dan kamu bisa usaha sendiri buat sekolah dengan prestasi kamu itu. Bila perlu kamu hitung biaya sekolah dan hidup kamu selama ini, dan kembalikan pada ayah. Bisa?" Nada sinis dan remeh itu keluar dari mulut ayahnya, Kian melepaskan pelukan kaki itu dan menatap ke atas, menatap ayahnya yang tersenyum seringai ke arahnya.


"Ayah! Kamu apa-apaan sih!! Kian jangan dengarkan ayahmu nak. Ayahmu sedang emosi Kian, jadi gak bisa berpikir dengan baik." Ucap Intan setengah frustasi, yang sepertinya pertengkaran ini akan melebihi pertengkaran sebelumnya. Membantu anaknya berdiri dan memeluknya erat, namun Kian tak membalas pelukan itu. Ia hanya menatap ayahnya dan ayahnya. Tak ada fokus lain selain ayahnya.


Kian juga membenarkan semua ucapan ayahnya, ia memang tak mungkin bisa hidup tanpa bantuan orang tuanya. Mulai dari makan sampai sekolah memang semuanya masih ditanggung oleh ayahnya. Namun bisakah ia egois sekarang, ia ingin mempertahankan cita-citanya dan menolak permintaan ayahnya? Dan bagaimana ia bisa hidup bersama laki-laki yang seperti itu? Hidup dalam jalinan ikatan pernikahan dengan laki-laki yang masih suka mempermainkan perempuan. Ia takut, jika Jerry akan melakukan hal yang sama pada dirinya.


"Kian beban ayah ya?" Kian membuka suara setelah lama termenung.


"Iya. Semua kebutuhan kamu ayah yang tanggung. Apa itu tidak termasuk beban hm? Jangan sombong Kian, hidup sekarang tak semudah pikiran kekanakanmu itu!" Tegasnya.


"Gak Kian, jangan dengarkan ayahmu nak." Rintih Intan, mengelus wajah itu dengan lembut.


"Ayah akan kasih kamu dua pilihan. Pilihan pertama, kamu tidak perlu keluar dari rumah ini tapi kamu harus menikah dengan putra Damien. Atau pilihan kedua, kamu keluar dari rumah dan kembalikan semua uang yang sudah kamu pakai?" Tanyanya dengan mengangkat sebelah alis, seolah sudah membuat pilihan yang sulit untuk Kian.


"Sadarlah Kian, saat ini kamu hanya punya ijazah SMP. Bagaimana kamu bisa melunasi hutangmu hm?" Ingatnya lagi.


Kian menelan salivanya sedikit sulit, dengan pilihan yang disuguhkan untuknya. Ntah apa arti hidupnya sekarang bagi ayahnya. Apakah hanya semacam beban? alat tukar? atau bahkan tak ada gunanya sama sekali, sampai ayahnya memberikan pilihan bagi hidupnya. Apakah salah jika ia beranggapan ayahnya jahat? Tidak itu salah besar. Ia mencoba melihat semua itu dari hal positifnya.


Benar kata ayahnya jika selama ini dia masih bergantung dengan orang tuanya. Ia yakin, ayahnya melakukan ini bukan untuk memaksakan ia untuk menikah, namun hanya untuk membuat dirinya lebih mandiri. Ia menyetujui ucapan ayahnya, yang memaksanya untuk melunasi semua biaya kehidupannya sampai ini.


"Ayah bener mau usir Kian dari rumah?" Tanya nya lagi dengan mata sendu.


Intan menggeleng cepat, dan menarik tangan Bram untuk memberinya kode tidak mengiyakan apa yang ditanya Kian. Tapi dia adalah Bram. Ayahnya Kian, yang sama sekali tak bisa dipahami bagaimana cara berpikirnya.


"Ya, tapi jika kamu mau menikah maka urusan malam ini selesai. Pikirkan lagi itu Kian, kehidupan di luar sana lebih mengerikan di saat kamu tidak punya siapa pun dan apapun!" Lagi-lagi dengan nada remeh.


Dengan nafas yang memburu, Kian menatap ayahnya. Bukan karena marah, namun rasa bersalah. Ia membuat ayahnya sampai berbuat sejauh ini karena dirinya. Sudah sewajarnya dia untuk membalas perbuatan ayahnya yang begitu berjasa.


"Yah, Kian pilih jalan ini bukan karena Kian membangkang dan mau ngelawan ayah. Tapi karena Kian gak mau dapet suami yang memiliki sikap seperti itu. Kian pilih jalan ini bukan karena Kian sombong, tapi memang sudah selayaknya Kian untuk lebih mandiri. Walaupun kenyataannya sampai kapan pun Kian gak akan bisa balas jasa bunda sama ayah." Ucapnya mantap.


Intan yang tau dengan pilihan Kian, langsung menggelengkan kepala cepat. Menyuruhnya untuk mengurungkan niatnya dan tetap berada di rumah itu.


"Kian bakal keluar dari rumah ini yah. Kian akan berusaha buat bunda sama ayah bangga, dan Kian akan selalu sayang ayah sama bunda. Kian gak marah dan dendam sama sekali sama kalian. Kian malah makasih karena ayah dan bunda udah ngerawat Kian sampai sebesar ini. Makasih yah, bund." Ucapnya, melepaskan rangkuman tangan bundanya, lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar untuk mengambil barang-baranya.

__ADS_1


"Gak!!! Kian!!! Kamu gak boleh pergi. Ini rumah kamu nak, kemana lagi kamu akan berteduh selain di rumah ini, Kian." Teriak Intan histeris, "Yah, bujuk Kian supaya gak lakuin itu." Mohon Intan, menarik narik lengan Bram, yang masih melihat kepergian Kian naik ke tangga menuju kamarnya.


"Yah!!!" Panggil Intan.


Sedetik kemudian laki-laki itu kembali bersuara.


"Jangan kamu bawa apapun Kian. Selain buku dan baju kamu. Jangan coba untuk bawa ATM atau uang!! Karena itu semua kerja keras ayah!!" Teriak laki-laki itu.


Kian yang ada di dalam kamar, dapat mendengar kalimat itu. Kian memang diberikan beberapa kartu ATM oleh bundanya, namun tak pernah dipakai sekali pun oleh Kian. Bahkan tak pernah tersempil di dalam dompet. Semua kartu itu berada dalam lacinya. Empat kaleng tabungan yang sudah kosong itu berderet di nakas. Mengingatkan ia akan tabungannya yang sudah mencapai dua puluh juta itu.


Ia membuka laci nakas, dan semuanya masih utuh. Tersusun rapi di sana, uang, ATM, dan beberapa aksesoris mahal yang tak pernah ia kenakan sekalipun. Ia memejamkan mata sebentar, membuat air mata itu jatuh sempurna ke lantai. Menarik nafas dalam dan memandangi kamar itu sebentar.


'Ntahlah, apa masih bisa kembali lagi kemari atau tidak.'


Dengan kaki tegap, Kian menyandang satu tas yang biasa di pakai untuk sekolah itu. Didalamnya terdapat banyak buku, dan beberapa helai baju saja karena tak muat lagi dalam tas itu.


Kian mengambil Atm dan uang yang berada dalam laci itu. Dan berjalan turun, dengan benda-benda itu ada di tangannya.


Tap


Tap


Tap


"Ini yah. Kian gak bawa semuanya, jangan takut. Bahkan Kian gak pernah pakai uang ayah yang ada dalam ATM ini." Ucap Kian saat berada di ruang utama, meletakkan ATM serta uang tunai itu dimeja tamu.


Dengan senyum ketir Kian menyalami bundanya. Tentu saja malaikat tak bersayap itu langsung memeluk erat Kian, seperti tak ingin lepas. Namun Kian berusaha meyakinkannya kalau ia akan baik-baik saja.


Kian berjalan ke arah ayahnya, namun laki-laki itu membelakangi Kian. Seolah tak suka dengan pilihan Kian, Bahkan mungkin sekarang ia sedang mengutuk anaknya saat ini.


Kian dengan senyum kecutnya melangkah keluar, tapi...


"Ingat Kian, waktunya hanya lima bulan. Setelah lima bulan itu, kau tak bisa membuktikannya pada ayah, maka kau harus tetap menikah dengan putra Damien." Tegasnya, membuat Kian berhenti dan menatap ayahnya lamat-lamat, lalu tanpa sepatah katapun Kian langsung melangkah lagi.


"Hahaha... Anak keras kepala itu tidak akan bisa bertahan di luar sana tanpa aku!! Kita lihat saja berapa lama dia akan bertahan Intan!!" Teriaknya dari dalam rumah, yang masih bisa Kian dengar dengan jelas.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc


__ADS_2