
Sampai di kelas yang benar saja, sudah ada tugas Bahasa Indonesia yang terpampang jelas di papan tulis. Mereka bertiga pun menuju bangku masing-masing untuk mengerjakannya. Karna di kelas ini siswa dan siswinya harus duduk sendiri, maka kami bertiga pun berpisah.
Sarah duduk dibangku nomor tiga dibarisan pertama, dan Febbry duduk di belakangnya. Sedangkan Kian duduk dibangku terakhir yaitu nomor lima baris ke empat. Dan satu lagi ia bersebelahan ama Devan.
Karna kelas tidak ada guru, maka seperti biasa kelas akan ribut, dan kebebasan pun menjadi hak milik semua siswa di kelas. Sampai bangku tidak lagi teratur karna mereka duduk di tempat yang mereka suka. Termasuk Febbry dan Sarah.
Febbry dan Sarah menuju ke meja Kian yang berada paling belakang. Dan mereka menarik urus yang ada disamping kanan dan kiri kian lalu duduk disana.
"Nah, gini kan enak. Ki tolong ajarin gw ya" pinta Febbry dengan mata yang berbinar.
"Alah basi tau gak Feb. Gayanya aja minta di ajarin padahal nanti malah nyalin jawaban gw. Bahkan dari A sampai Z di tulis semua." ucap Kian malas
"Lah harus dong. Kalo kekurangan huruf kan malah gak bisa dibaca dan artinya pun gak sampai. Gimana sih lo"
"Udah udah gak usah ribut. Katanya temenan tapi kok dari tadi ribut sama tengkar mulu sih kalian." kesal sarah
"Ya gitu deh Sar. Persahabatan tu beda beda. Ada yang sweet banget bahkan ada yg gak berantem tuh gak sah aja rasanya. Contohnya kayak kita. Berantem dan debat itu dah biasa, tapi kita tetep baek baek aja tuh. " jelas Febbry
"Ya iyalah baek. Wong Kiannya yang merasa tertekan gara gara lo Feb" timpal Bagas si ketua kelas yang lewat di bangku mereka.
"Heh, asal ngomong aja lo. Kian gak gitu ya"
"Nyenye serah lah. Oh ya Kian kalo lo udah gak mau lagi sahabatan ama dia, gw siap kok jadi sahabat lo." ucap Bagas tersenyum kikuk.
"Ngomong lagi lo, nih sepatu melayang ke arah lo ya!!"
"Yang kadang buat ribet tuh mulut lo tau gak Feb. Udah gak usah diladeni. Lo ribut terus ama anak anak, kenapa sih? kurang asupan lo ya?"
"Iya mangap Ki. Mereka tuh yang ngeselin"
"Maaf Febbry bukan mangap" ucap Kian yang sudah tak tau harus berbuat apa, sebab temannya yang satu ini memang super aktif bahkan mulutnya dua kali lebih aktif dari anggota tubuh lain.
"Ya udah kita mulai aja ya kerjainnya" ajak Sarah yang sudah tak mau mendengar ocehan keduanya. Mereka bertiga fokus dengan buku masing masing, berusaha mengerjakannya walaupun salah satu dari mereka bukunya tetap saja masih kosong dikolom jawaban.
Hening, sepi, dan tertib itulah penggambaran suasana di meja Kian, Sarah, dan Febbry. Namun itu hanya berjalan beberapa menit saja.
__ADS_1
Satu menit berlalu....
Tiga menit berlalu....
Lima menit berlalu....
Sepuluh menit berlalu....
Akhirnya kefokusan dan keheningan itu dipecah oleh Sarah. Sarah membuka pemerbicara di tengah suasana itu.
"Em.. guys, pulang sekolah kita jalan yuk. Mau gak? Tenang aja gw yang traktir."
"Acara apaan nih?"
"Ya gw cuma mau ngajak jalan kalian aja. Itung itu sebagai ucapan terima kasih aja karna kalian mau jadi temen gw."
"Lah emangnya biasa lo gak punya temen ya Sar?"
"E... eng..... enggak gitu juga maksud gw."
"Lho kenapa Ki?"
"Si Kian kalo mak sama bapaknya gak ada di rumah, gak dibolehin kemana mana."
"Ouh gitu ya. Ya udah kalo gitu gw main ke rumah lo aja gimana?"
"Ide bagus tu Sar. Kebetulan gw juga laper nih."
"Maksudnya?"
"Gini lho Sarah. Nih anak Bu Nani, kaya tapi pelit. Makan aja numpang di rumah orang."
"Gak sering juga tapi ya."
"Gw sih oke aja. Nanti pas waktunya bakal gw buat nota terus kasih aja ama Bu Nani. Tagihan anaknya selama ini di rumah gw, hahahaha"
__ADS_1
"Jahat banget dah lu Ki. Jadi orang gak boleh pelit lho."
"Yang pelit itu lo markonah. Yang kalo laper aja gedorin pintu rumah gw."
"Ya kan itung itung temenin lo pas ortu lo gak ada di rumah"
"Iya in aja." ucap Kian pasrah
"Emang Kian gak bisa tinggal sendiri apa?"
"Dih, ni anak gak bisa lah Sar. Oh ya ntar lo mau masak apa Ki?"
"He Em. Ntar sekalian gw bawain deh makanan atau bahannya buat kalian berdua."
"Oh ya nanti kita ngapain aja Feb di rumah Kian?" lanjutnya.
"Biasanya sih kita nonton atau gak makan sambil ngobrol aja. Tapi mending kalo lo mau nonton bawa film atau kaset dari rumah aja. Dirumah kian cuma ada Drakor sama video oppa oppa nya doang" ucap Febbry pada Sarah. Mereka berdua asik bicara sedangkan Kian hanya mendengarkannya saja.
"Eh emang Kian suka yang gitu ya?"
"Ya iyalah....... bla....... bla......." ucap Febbry panjang lebar. Jika ada febbry tentu saja heboh. Dan mereka berdua sibuk berbincang, tertawa, tanpa henti. Kian dengan setia mendengarkan kedua anak manusia itu bercerita yang sesekali sambil menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia mereka.
Namun tak lama kemudian ada seseorang masuk kelas. Karna kelas yang begitu sibuk sendiri, mereka tak menyadari kedatangannya. Ia masuk dengan santainya, dan langsung menghampiri bangkunya yang ada di samping Kian. Tapi saat ia tiba, ia malah tak menemukannya kursinya. Ia menatap tajam ke arah Sarah.
Namun karna si mpu membelakanginya maka tentu saja Sarah tak tau dengan keberadaan Devan yang ada di belakangnya. Ia pun beralih menatap Kian. Kian yang sadar pun langsung mengode Sarah dengan mendorong kursinya memakai kaki. Sarah yang sadar yang langsung menengok ke arah Kian dan memberikan isyarat ada apa.
Kian kembali mengode menggunakan kepalanya, seperti memberitahukan ada seseorang dibelakangnya. Namun Sarah terlihat bingung dan tak mengerti maksud Kian. Dengan suara datar pun Kian berucap,
"Kursi yang lo dudukin tu balikin. Si empunya nyariin noh."
"Hah? maksudnya ada Devan disini?"
"Iya Sarah. Mending sekarang lo balikin atau tuh orang bakal ngamuk" Ucap Kian menatap Devan sekilas.
Sarah pun dengan buru buru langsung berdiri dan hendak mengembalikan kursinya. Bahkan ia tak membalikkan badannya ke arah Devan sedikit pun. Sebab tatapan tajam setengah jam lalu masih terlintas di otak sarah. Namun karna buru buru ia malah tersandung dan hampir jatuh. Untung saja Devan sigap dan langsung menangkap tubuh Sarah. Dan terjadilah aksi seperti pada umumnya, saling tatap menatap.
__ADS_1