Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#8


__ADS_3

"Ki, kantin yuk" ajak sarah yang sudah siap dengan Febbry untuk pergi.


Kian yang merebahkan kepalanya di meja pun terangkat.


"Gak ah. Kalian aja. Gw lagi males."


Mendengar kalimat itu pun mereka berdua langsung mendekat ke bangku Kian.


"Lo kenapa? sakit Ki? pucat gitu."


"Gak kok Feb. Mungkin baru mau datang bulan. Dari Tadi perut gw sakit aja gitu."


"Kalo lo gak makan tambah lah perut lo bakal sakit."


"Tau nih. Yuk lh"


"Gw udah sarapan tadi. Kalian duluan aja gih." ucap Kian dengan senyumnya.


"Bener lo gpp? Apa mau kita beliin?"


"Iya gw gpp. Gak usah Febbry. Udah kalian ke kantin aja sana."


Setelah bujukan dari Kian mereka berdua pun langsung melesat pergi ke kantin. Sehingga di kelas itu hanya tinggal kian dan manusia kutub yaitu Devan. Tak ada obrolan disana, sebab mereka sibuk sendiri. Kian sibuk dengan rasa sakitnya sedangkan Devan sibuk mengotak atik ponselnya.


Namun tak lama kemudian ada seseorang yang memanggil nama Kian. Merasa namanya dipanggil ia pun berangkat dari bangkunya.


"Kiannn..."


Karna panggilan itu ia pun bergegas mendekat ke arah orang tersebut.


"Elo Jer. Kenapa?"


Yah dia adalah Jerry teman satu organisasi Kian namun beda kelas. Dan juga merupakan kapten basket di sekolah itu.


"Nih, kemarin lusa lo ninggalin barang lo. Kemarin gw mau kasih cuma gw sibuk. Sorry ya baru gw kembaliin sekarang. Ini juga anak-anak organisasi yang bilang gw."


"Oh gitu thanks ya."


"Emm..." ucapnya sambil mencari seseorang. Memandang ke arah dalam kelas kian. Namun yang ia temukan hanya Devan. Ia sudah tak memandang aneh jika Devan ada di kelas. Mau bersama siapapun itu. Sebab dia tau kebiasaan Devan, dan Devan juga masih termasuk anggota dari tim basketnya.

__ADS_1


"Cari apasih Jer? kelas gw sepi." ucap Kian yang heran.


"Itu, anak baru yang cantik itu. hehe"


"Oh si sarah. Dia lagi sama Febbry ke kantin."


"Lo kenapa gak ikut?"


"Lagi males."


"Lo sakit? mau gw bawa ke UKS?"


"Gak. Mungkin mau dateng tamu aja."


"Emm... mau gw beliin apa?" tanya nya. Yang tentu saja membuat Kian mengerinyitkan dahi sebab terheran dengan sikap Jerry yang seperti itu.


"Ya kan biasanya, kalo orang lagi gitu pengen makan yang pedes atau manis. Hehe...." lanjutnya.


"Tau dari mana lo? Ouhhh pasti mantan kan?"


Ya Jerry memang tampan, baik serta pintar juga. Bohong sekali tak ada yang menyukainya. Bahkan mantannya juga bertebaran dimana-mana.


"Gak usah. Lo mau apa? gw tau pasti ada batu dibalik gajah nih, Iya kan?"


"Hehe...Emm itu, gw mau minta nomor sarah boleh gak?" tanya nya sambil cengengesan


"Hmm...dah ketebak sih pasti ada maunya makanya baik. Ntar gw tanya sama sarah dulu. Kalo dikasih gw bakal kirim ke elo. Tapi kalo gak ya gw gak bisa."


"Kenapa gak langsung kirim aja sih Ki?"


"Haduh Jerry, gw bukan tipe yang kayak gitu. Bukannya gw gak dukung temen yang lagi mau pdkt. Tapi nomor hp tuh sifatnya privasi. Kalo gw kirim langsung terus si sarah gak suka lo ganggu-ganggu berarti gw udah melanggar privasi orang lain dong. Makanya gw tanya dulu ntar."


"Hehe iya deh."


"Terus kenapa lo gak langsung aja sih minta ke dia?"


"Malu gw."


"Aelah padahal ini udah gebetan dan calon pacar kesekian nya." ucap Kian malas.

__ADS_1


"Issh tau aja temen gw nih. Haha....." ucapnya sambil mengusap-usap kasar pucuk kepala Kian, yang membuat rambut kian sedikit berantakan.


"Jerry lo apa apaan sih. Gila lo ya!" kesal kian sambil membenarkan rambutnya.


"Hahah.... gak. Gw gemes aja sama lo yang selalu tau sama gw. Oh ya gw mau ke kantin nih. Mau apa gak gw beliin makanan"


"Gak usah. Sono pegi. Bikin orang kesel aja lo." ucap Kian yang kembali lagi ke bangkunya sebab sudah tak tahan berdiri lama lama, dan Jerry pun sudah pergi. Tanpa kian sadari ada seseorang yang memperhatikannya.


Karena haus kian pun hendak mengambil air yang berada di pojokan kelas. Air mineral tersebut memang selalu tersedia di setiap kelas beserta dispensernya. Namun tanpa sengaja Devan pun melakukan hal yang sama. Sehingga mereka saling adu tatap.


"Gw dulu ya. Gw udah haus banget." pinta Kian.


"Gw juga." ucap Devan tak mau kalah. Nada suara keduanya biasa saja, tidak ada penekanan, kebencian atau pun meninggikan suara.


"Hmm... iya deh. Noh duluan. Gw males debat." ucap Kian. Namun bukannya mengambil air, Devan malah menatap serius Kian. Tentu kian merasa risih.


"Kian!! hidung lo berdarah!"


Ucapan dari Devan sukses membuat Kian terkejut dan melotot. Dan untuk pertama kalinya Kian mendengar Devan memanggil namanya.


Karena tak membawa tisu ia pun buru buru langsung mengelap darah itu dengan tangan. Namun ternyata darahnya banyak sekali keluar hingga mengalir ditangannya. Tentu kian khawatir sebab biasanya tak ada yang melihat ketika ia sedang seperti ini.


Devan memberikan sapu tangannya pada Kian. Tidak menutup kemungkinan, kalau Devan juga merasa sedikit cemas pada perempuan yang ada di hadapannya itu. Namun sapu tangan yang ia berikan itu malah berhamburan darah. Kian yang tanpa pikir panjang lagi langsung mengambil jaket abang ojek yang ada di paperbagnya. Untuk menutupi hidungnya.


"Lebih baik lo ke UKS sekarang." titah Devan


Kian nampak berpikir. Bagaimana dia bisa ke UKS, jika ternyata diluar banyak siswa siswi tentu akan sangat heboh. Dan mereka akhirnya tau mengenai Kian.


Namun di sisi lain ada seseorang yang kesal dengan Kian. Ia langsung menggendong Kian, dan tentu saja Kian terkejut. Dan sempat memberontak.


"Lo apa apaan sih!" walaupun dengan suara serak dan lemahnya.


"Cewek emang selalu lambat geraknya apalagi lo. Kalo lo berdiri terus yang ada lo bakal kehilangan banyak darah. Wajah lo aja udah pucat kayak gitu."


"Tapi...."


"Diem atau gw lepas nih? biar lo ngerasain kayak teman lo waktu itu." Ancam Devan. Yang tentu saja membuat Kian diam. Bukan karna ancaman itu namun karena kepalanya juga terasa semakin pusing. Ia sudah berusaha menahannya sedari tadi. Namun akhirnya ia malah tak sanggup. Dan sekarang dia pasrah jika ada orang lain melihat dan mengetahui kenyataannya.


Namun kenyataan berkata lain. Saat jam istirahat sepanjang lorong malah sepi. Disebabkan mereka semua mengantri di kantin. Sehingga hari ini bisa dibilang kalau Kian masih beruntung. Devan menggendong kian, sedangkan Kian menutupi wajahnya dengan jaket.

__ADS_1


__ADS_2