
"Hmm... baiklah. Tapi kami harap kamu sebagai pihak keluarga bisa melunasi biayanya. Agar Ibu Zanna bisa terus mendapat perawatan dari rumah sakit."
"Iya bu. Dan bagaimana dengan operasi ibu saya?" sambil menyerahkan amplop coklat pada petugas administrasi itu.
"Sampai saat ini pihak rumah sakit belum menemukan sumsum tulang yang cocok dengan ibu Zanna. Dan apabila ditemukan biaya tak tanggung tanggung. Bisa mencapai ratusan juta." Devan yang mendengarnya sedikit syok namun tetap berusaha tenang.
"Baiklah kalau begitu bu. Terima kasih."
Setelah itu selesai, Devan berbalik hendak menuju lift yang sama dan hampir di pakai oleh Kian. Namun saat ia berbalik, ia malah melihat Kian yang berdiri tak jauh dari posisinya saat ini. Diam mematung menatap dirinya. Devan menatap tajam kian lalu melewatinya.
Devan yang sudah berada di dalam lift, hendak memencet tombol menuju lantai dua. Kian yang tadinya melamun menjadi tersadar dan menyusul Devan yang berada dalam lift. Untung saja lift tersebut belum tertutup.
Nampak keduanya saling diam dan jarak yang masing masing berada di ujung lift. Hening melanda tak ada yang bersuara, walaupun hanya sekedar berdehem. Wajah Devan yang terlihat datar itu membuat Kian sedikit canggung hanya untuk menyapa. Sesekali ia melihat kearah Devan, namun Devan tampak cuek dan tak peduli.
Tingg.... lift sudah sampai di lantai dua.
Mereka berdua sama sama keluar secara bersamaan.
"Ngapain lo ngikutin gw dari tadi?" tanya Devan yang kesal.
"Gw gak ngikutin lo. Gw cuma mau ke kamar mama Zanna."
"Terus tadi lo nguping kan?!"
"I...i...itu......"
"Lo udah tau. Gw harap lo diem jangan sampai mama tau!." ucap Devan penuh penekanan menghadap kian dengan mata yang setajam elang bagai melihat mangsanya. Wajah Devan yang memang tampan, memiliki rahang yang tegas, hidung mancung, alis mata tebal, bulu mata lentik, kelopak mata tanpa lipat dan bola mata yang hitam pekat. Yang apabila ia sudah menatap membuat seseorang yang di tatap akan bergidik ngeri.
"I...iya. Gw gak bakal bilang. Gw kesini juga cuma mau liat mama Zanna dari luar."
Tepat di depan kamar Zanna kian berhenti menatap Zanna dari luar kamar, sedangkan Devan masuk kamar tersebut untuk mengambil jaket lalu keluar lagi.
__ADS_1
"Awas lo sampai gangguin mama" ucapnya dingin. Sedangkan Kian hanya mengangguk. Memang terlihat dalam kamar itu, Zanna yang tidur di ranjang dan Gio yang tidur di sofa dengan selimut yang terlihat begitu nyenyak walupun tanpa bantal.
Devan melewati kian yang ada di depan pintu.
"Lo mau kemana?" tanya Kian tanpa ragu.
"Kerja." simple tapi sangat jelas. Kian tak lagi mau bertanya dan kembali melihat keadaan kamar itu. Kian memikirkan masalah yang sedang di hadapi oleh Devan. Ingin sekali ia membantu, namun orang tuanya belum pulang. Di telpon pun tak pernah dijawab. Uang yang ia tabung pun belum tentu cukup. Dan bagaimana dengan Devan? apakah dia akan menerima bantuan dari dirinya. Kian teringat dengan sarah yang hendak membayar kas Devan namun malah di bentak bahkan dikatai oleh Devan. Ia berfikir apakah ia akan bernasib sama dengan sarah waktu itu.
"Wehhh..... napa tu muka Van?. Kok ditekuk mulu" sapa seseorang ketika Devan sudah sampai di tempat kerja malamnya dan mengambil celemek di gantungan.
"Hem... Gw lagi ada masalah dikit Ar" ucap Devan.
Arya Sebastian adalah seorang pemilik cafe tempat Devan bekerja. Ia adalah pengusaha muda yang jauh dari keluarga. Walaupun cafe itu tak terlalu besar namun ia sudah memiliki lima orang anak buah dengan Devan salah satunya. Dan bahkan cafe itu cukup ramai di datangi para pengunjung. Arya adalah pemuda yang lumayan tampan dan lebih tua dari Devan. Ia merupakan teman Devan yang sudah cukup lama. Devan sudah bekerja di sana mulai kelas satu SMA. Perkenalan keduanya bermula dari Devan yang menolong Arya yang hampir tertabrak mobil saat menyeberang. Hingga sampai saat ini keduanya berteman. Dan Arya pun sudah tau dengan keadaan dari keluarga Devan.
"Masalah apa van?"
"Gw perlu duit."
"Lima puluh juta."
"Astaga...buset. Banyak banget Van. Kalo segitu sih gw gak punya. Gw kira sepuluh jutaan. Kalo segitu sih ada. Selebihnya gak ada. Emang buat apa?"
"Sakit mama tambah parah. Dan harus segera dibayar biar mama selalu bisa dapet perawatan dari rumah sakit."
"Sabar ya. Gw tau lo pasti kuat. Lo adalah cowok yang bener bener bertanggung jawab sama keadaan mama lo. Job lo yang satunya?"
"Balapan sepi Ar. Lo tau kan, balapan yang biasa gw lakuin itu di jalan raya. Sekarang aja masih di jagain sama polisi. Jadi gak ada yang berani. Apa gw jual aja sih tu motor."
"Motor yang lo jual gak bakal laku banyak Van. Apalagi kalo orang tau lo lagi butuh banget duit pasti bakal tambah murah. Kenapa gak minta tolong papa lo aja?"
"Kalo gw tau dia dimana pasti udah gw temuin walaupun gw benci banget."
__ADS_1
"Ya udah sabar ya. Ntar kalo gw punya lebih nya, gaji lo bakal gw naikin dh. Tapi gw gak janji banyak."
"Thanks, lo emang temen gw."
"Yoi lah, kan kita saling bantu."
Jam satu malam Devan baru selesai bekerja. Yah cafe Arya memang tutup malam, apalagi jika masih banyak orang. Cafe itu baru akan tutup setelah mereka semua pulang. Devan melajukan motornya menuju rumah sakit. Sebenarnya ia sangat benci dengan keadaan ini. Keadaan dimana jika mamanya tanpa perawatan rumah sakit maka tak akan bisa apa apa. Hal ini karena ia tau kenyataan yang dikatakan dokter bahwa mamanya kemungkinan kecil untuk sembuh.
Sembuh pun bila mengganti sumsum tulang belakang mamanya dengan yang lain. Hal itu pun sangat mustahil rasanya. Menemukan tulang sumsum yang cocok untuk mamanya sangatlah sulit.
Tanpa sengaja ia meneteskan air mata mengingat hal itu. Ia merasa benar benar tak berdaya, usahanya yang selalu ia lakukan tak membawa banyak perubahan terhadap mamanya. Bentuk penyesalan pun hadir dalam benak dan pikirannya. Penyesalan dimana ia merasa bahwa yang ia lakukan belum maksimal sehingga membuat mamanya belum bisa sembuh. Betapa ia belum siap untuk kehilangan mamanya itu.
krekk... pintu kamar Zanna terbuka. Menampakkan mereka bertiga tidur terlelap. Devan sedikit kaget melihat Kian yang masih ada di kamar Zanna. Padahal ia sebelumnya bilang kalau ia tidak akan masuk ke dalam.
Dilihatnya kian tidur lagi lagi dengan keadaan duduk sambil memangku kepala Gio di pahanya.
Karena sudah larut dan Devan sangat lelah, ia memutuskan untuk duduk di samping kian dan ikut terlelap dalam keadaan duduk.
Malam yang semakin larut dan dingin membuat satu sama lain mencari kenyamanan dalam keadaan mata tertutup. Tanpa di sadari dirinya sendiri kian merebahkan kepalanya di bahu Devan yang lebar. Dan Devan pun demikian merebahkan kepalanya di kepala Kian.
.
.
.
.
.
"Terkadang usaha yang sudah kita lakukan sudah di rasa maksimal namun belum membawa sesuatu yang diinginkan. Padahal terkadang sesuatu terjadi karna memang sudah digariskan. Dan bisa jadi akan digantikan dengan hal yang lebih besar lagi."
__ADS_1