
tes....tes....
Pandangannya sedikit berputar dan buram. Dan darah pun mengalir dari hidungnya dan jatuh di wastafel.
'kenapa harus sekarang lagi sih!! arghhh...'
Dengan segera kian langsung mengelap dan membuka keran air itu agar darahnya bisa hanyut dengan air.
Dorrr....Dorrr....
Pintu digedor dari luar. Kian yang sudah tau akan begini maka ia mengantisipasi mengunci pintu toilet.
'Apalagi ini. Huh....'
Dengan segera ia merogoh saku celananya dan menelan beberapa pil yang lumayan besar.
Namun dirinya masih belum stabil sehingga membuatnya terjatuh dan duduk di lantai. Ia menenangkan dirinya sembari pil pil itu bereaksi.
Sementara orang yang diluar masih seperti tak tenang membiarkan Kian di dalam.
"KIANNN....LO DI DALEM KAN. GW TAU PASTI LO DI DALEM. BUKA PINTUNYA KIAN. KALO GAK GW DOBRAK NIH PINTU." ancem dari luar.
"Iya Kian... BUKA pintu nya. Lo kenapa? Lo kekunci atau gimana?"
"KIANNNN JAWABBB WOOYYYYY....."
Dorrr....Dorrrr....
Pintu kembali digedor oleh mereka yang ada di luar.
'huh....tak bisakah kalian membiarkan ku istirahat sejenak heh! menyebalkan.' gumam Kian.
Ia pun sedikit mengesot untuk meraih pintu toilet. Namun itu sangatlah lambat. Suara diluar sudah sedikit hening, membuat Kian terbelak heran. Dan sedikit khawatir.
Setelah keheningan itu berlalu, diganti dengan suara laki laki.
"Kiannn!! kalo lo kekunci di dalam gw harap lo mundur dari pintu. Gw bakal dobrak nih pintu!!"
Mendengar suara laki laki itu membuat Kian langsung berdiri dan membuka kunci toilet itu. Ia tak asing dengan suara itu, dan tentu itu membuatnya sedikit takut.
Klak.. (kunci terbuka)
krekk... (pintu dibuka oleh kian)
Ciittthh..... (seseorang yang berhenti mendadak di depan kian)
Tatapan dua pasang mata itu bertemu. Ternyata Laki laki itu hampir mendobrak pintu itu namun kian sudah membukanya terlebih dahulu, membuatnya berhenti di depan pintu dan kedua tangan panjangnya bertumpu pada dua dinding, kanan dan kiri di samping pintu agar tubuhnya tak menabrak kian. Sedangkan Kian nampak terkejut dan jarak mereka hanya tinggal setengah langkah lagi bersentuhan.
Karena tubuh laki laki itu lebih tinggi darinya, Kian meninjitkan kakinya, dan kepalanya muncul dari balik pundak kanan laki laki itu. Sehingga membuat kedua temannya bisa melihat Kian.
__ADS_1
"Hehehe.... guys ada apa?" tanya nya ambil cengengesan
"LO NANYA ADA APA?! KITA DI LUAR KHAWATIR SAMA LO YANG DI DALEM GAK KELUAR KELUAR DARI TADI. LO NGAPAIN HAH?" siapa lagi itu kalo bukan Febbry dengan suara cemprengnya.
"Tau nih. Hampir aja kita mau panggil guru tadi. Lo ngapain di dalem selama ini?" ucap Sarah
"Ah itu, tadi niatnya mau ganti baju. Takut ada yang masuk jadi gw kunci. Tapi gak jadi soalnya tiba tiba cincin gw jatoh. Dan gw nyari tuh cincin dulu. Makanya lama bukanya. Maaf ya udah bikin kalian khawatir."
Jelas Kian pada teman temannya yang kemungkinan besar percaya, namun ada satu orang yang menatap Kian dengan tajam tak percaya.
"Huh...Ya udah deh. Yang penting lo baik baik aja. Makasih ya Dev...." belum selesai sarah mengucapkan namanya Devan sudah berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Dih... Dah kabur anaknya." ucap febbry
"Hayeuh, ya udah besok ya bakal bilang makasih dan maaf sama dia sebagai perwakilan dari kian" ujar sarah.
"Heh, bilang aja lo yang mau. Dasar emang"
"Ya biarin dong. Sewot aja lo"
"Udah udah. Tapi kok bisa dia disini?"
"Tadi itu kita ribut banget Ki, sampai dia lewat mau pulang. Nanya kenapa, terus kita bilang aja lo di dalem. Eh dia mau bantu kita akhirnya. GW heran dh sama lho tiap abis olahraga pasti lama banget di toilet. Lo ngapain? mandi? sampe udah jam pulang gini." ujar Febbry panjang lebar. Yah mereka semua sudah menyandang tas dengan niat mau pulang. Namun karna febbry tak melihat Kian setelah dari lapangan ia pun mencari kian.
"Ya udah thanks ya. Kalian emang teman teman gw paling baik. Ya udah gw ke kelas dulu ambil tas."
"Pulang bareng gw aja Ki" ajak Febbry
"Emang mereka belom pulang?"
"Belom. Lo tau kan bentar lagi mereka mau lomba, jadi kita yang senior harus bantu mereka."
"Oh ya udah. Kalo gitu kita duluan. Yuk sar." ajak Febbry.
_______
Setelah selesai dengan urusannya di sekolah Kian pun pulang dengan ojol yang dipesannya. Dan ketika sampai di rumah, seperti biasa mandi, memasak dan memakannya sendiri. Menyelesaikan pekerjaan rumah dan bersiap untuk pergi keluar.
Karena tak ada tugas sekolah yang harus ia kerjakan, ia pun memilih untuk pergi ke toko buku untuk membeli beberapa buku persiapan ujiannya.
Setelah bersiap, ia pun menaiki bus angkutan umum. Cuaca yang cerah namun begitu panas. Membuat Kian malas untuk duduk di bangku penumpang. Melihat ada seorang nenek yang tak kebagian kursi, ia pun mempersilahkan nenek itu duduk sedangkan ia sendiri memilih berdiri di depan pintu seperti kernet.
Saat bus berhenti di halte pertamanya, banyak penumpang yang turun dan juga naik. Namun karna Kian belum sampai tujuan ia pun tak turun dan masih mantap di posisinya seperti kernet. Sehingga ada yang mengira kalau dia adalah kernet betulan.
"Excuse me, miss. I want to go to the downtown bookstore. And how much does the bus ticket cost?" ucap seseorang yang hendak masuk bus dari pintu belakang dan berpapasan dengan Kian. Sebenarnya kian sudah melihat bule ini dari jauh. Dan dia sangat berharap kalau bule ini tak berbicara padanya. Namun takdir berkata lain.
"Ha?? Sorry sir, but i don't know. Because I'm the only passenger on this bus" Ucap Kian yang hanya mengerti sedikit bahasa inggris.
"Oh really? Then forgive me miss" ucapnya lagi
__ADS_1
"Yeah, it's okey."
Orang tersebut langsung masuk lewat pintu depan menemui kernet bus. Dan akhirnya ia mendapat bangku paling belakang di samping kian. Kian hanya melirik sebentar dan kembali melihat keluar melihat jalanan sambil menikmati terpaan angin.
"Sorry miss. But aren't you tired of standing up and getting dizzy from staring outside? You can sit on my bench if you want." ucapnya ramah.
'Haduh ni orang ngomong apaan sih.' keluh Kian. Dia memang kurang suka dengan pelajaran bahasa inggris. Dari pada mapel itu dia lebih suka Kimia, biologi, fisika dan matematika di jadikan satu hari.
"Sorry Mister. But i can't speak english. Can you speak Indonesian only?" tanya Kian pada orang tersebut namun nampaknya orang itu masih terlihat bingung.
"Ah sudahlah. Forget it." lanjut Kian.
"Lagi pula aku juga tak tertarik untuk duduk. Lebih enak berdiri seperti ini." ucap Kian lagi. Ntah Bule itu mengerti atau tidak. Tapi nampaknya ia diam.
"Where are you going, miss?" orang itu membuka suara. Kalimat simpel itu sedikit di mengerti oleh Kian.
"Downtown bookstore" acuh kian, agar bule tersebut tak lagi bertanya pada nya. Sedangkan Kian ia merutuki kebodohannya selama ini secara ceplas ceplos.
"Makanya Kian, kalo jam bu sisi itu jangan tidur aja. Jadi kan gini. Kayak orang dongok udah gak bisa bahasa inggris😑"
"Oh really. then we can go together. I also don't know much about the streets in this city."
'ah apalagi bule ini. Jika pergi bersama pasti sangat menyusahkan.'
"I don't think so sir. I think I'm on a different path with u sir. I am right and maybe you are left. U know lh. heheh" tawa garing Kian yang memang sudah tak tau harus jawab apa.
"What your name?"
"Kian pak" ceplos Kian. "eh maksudnya Kian sir"
'ah sudahlah...' gumamnya. "Sepertinya orang ini memang benar benar tak tau bahasa gw dh. Tapi baguslah setidaknya apa yang gw bilang gak bakal paham juga dia. hehe"
"Haduh lama banget sih sampainya. Males banget gw harus ngomong sama nih bule. Mana banyak tanya lagi. Ya allah Kian harap, kian gak bakal lagi ketemu bule banyak omong ini. Ganteng sih ya allah tapi kalo dianya kayak gini kan Kian harus buka kamus dulu. Malu banget Kian. Percepatlah perjalanan ini ya Allah" keluh Kian dengan suara yang agak kecil namun masih bisa didengar oleh orang disekitarnya.
Kian menoleh ke belakang sekilas melihat bule itu yang sudah diam dan memandang ke depan.
"Ya allah...ganteng banget makhluk ciptaanmu. Kalo aja seiman Kian minta jodohin boleh?" Ucap Kian yang masih berbicara sendiri. "Tapi gak mungkin juga siapa tau udah punya orang. Ah sudahlah, sadar kian" lanjutnya sambil menepuk balik kedua pipinya. Yang kian tau adalah bule itu tak tau apa yang sedang ia bicarakan.
Sesampai di depan toko buku pusat kota yang kebetulan ada halte disana, bule itu pun turun. Dan bertanya kepada kian kenapa ia tak turun padahal tujuan mereka awalnya sama.
"Miss, why don't you come down? we have reached our destination." tanya nya namun kian hanya menggelangkan kepala. Ditambah dengan ia tak mengerti dengan ucapan bule itu.
Bule itu menghadap kian namun bule itu sudah di luar bus sedangkan Kian masih diposisinya.
"Huh....kamu lumayan menghiburku siang hari yang panas ini Kian. Lain kali lebih perhatikan Bu sisi yang sedang menjelaskan ya supaya bisa menguasai bahasa inggrisðŸ¤. Satu lagi jangan bilang tak ingin bertemu lagi, jika tuhan berkehendak maka pasti kita akan bertemu lagi. Dan walaupun tuhan kita berbeda saat ini jika kita jodoh maka suatu hari nanti tuhan kita akan menjadi sama.😊" ucapnya dengan senyum.
Kian pun membulatkan mata, benar benar tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar. Tanpa ia sadari mobil bus kini sudah melaju. Namun bule itu masih mengatakan kalimat lagi sambil berteriak dan bisa didengar oleh Kian.
"Kian jika nanti kita bertemu lagi jangan menghindariku ya. Hati hati dijalan" Teriaknya sambil melambaikan tangan ke arah Kian.
__ADS_1
Kian hanya menatap ia yang menjauh dengan rasa bingung, malu, serta tak percaya sampai spechless.