Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#55


__ADS_3

🌹HAPPY READING GUYS🌹


________*_______*_______*_______*_______*______


Brumm..... Brumm....


Tap... Tap... Tap...


Ceklek.....


"Ini dia orangnya. Di cariin dari tadi. Dari mana tuan bos George? Jam segini baru dateng ke bascame? Sibuk banget ya?" Tanya seseorang yang berada dalam ruangan mewah nan megah itu. Barang barang yang begitu mewah dan mahal di tambah lagi cat ruangan bewarna putih polos menambah kesan klasik mahal di sana.


"Paling juga cari tuh perempuan. Iya kan Geor?" Tanya yang satunya lagi. Kedua orang yang bertanya itu duduk di sofa panjang dengan meja penuh dengan botol alkohol yang sebagian masih ada isinya dan sebagian lagi sudah kosong.


"Kapan sih bos kita nih bisa move on dari tuh perempuan. Apa tidak bosan selalu menunggu sampai selama ini? Lagian perempuan tak hanya satu Geor. Masih banyak.... Tuh juga di depan mata ada Lusy. Kenapa gak sama dia aja?" Lanjutnya lagi setelah meneguk minuman di gelasnya.


"Diam lah Theo, Jeemy!" Sinisnya dengan menatap tajam mereka berdua.


Yah dia adalah Theo anderson dan Jeemy welly. Dua orang sahabat George yang tentunya sama sama anak konglomerat. Memiliki kekayaan yang berlimpah namun tidak lebih dari seorang George Govanie.


"Hey kau sudah datang?" Ucap seorang perempuan menghampiri George dengan suara yang begitu manja dan manis.


Menggelayut di leher George sambil meraba lembut rahang keras yang ditumbuhi rambut itu.


"Kau terlihat begitu lelah. Apa kau perlu sesuatu sayang?" Ucapnya yang kian merapat dengan George bahkan tak ada jarak sedikit pun. Tubuh cantik bak gitar spanyol, kemeja yang ketat dengan dua kancing atas dibuka menampakkan belahan benda milik perempuan itu serta rok pendek yang begitu ketat menampakan lekuk bodinya. Menempel pada George tanpa ada jarak sedikit pun. Namun George sendiri tak membalas atau menyuruhnya pergi.


"Hmm... Mulai lagi nih adegan Jeem." Ucap Theo yang begitu julid pada Jeemy. Memandang tak suka pada keduanya.


"Hey... sadarlah kau wanita. Kami masih ada di sini." Sinis Jeemy.


"Yak benar itu! Tak bisa kah kau menghargai kami yang di sini dengan status jomblo ini. Jika ingin seperti itu lebih baik kalian di ruangan kalian saja. Menjengkelkan." Timpal Theo.


Yah, mereka berdua adalah dua orang yang sudah terbilang dewasa yang masing masing Jeemy berumur 35 tahun dan Theo berumur 34 tahun. Yang masih saja belum memiliki pasangan. Namun bukan berarti mereka tidak normal, hanya saja mereka berdua adalah manusia yang memiliki alasan dan prinsip belum siap untuk harus menjalin suatu hubungan yang serius dan tetap. Tentu laki laki yang tidak patut untuk di contoh.


"Dasar pengganggu. Jika kalian ingin kalian bisa cari wanita di luar." Sinis wanita itu.


"Sudahlah Lusy. Aku ingin kopi, bisa kau buatkan?" George menyudahi.


"Huh... Baiklah sayang. Kau tunggu sebentar." Ia melepas pelukannya pada George.

__ADS_1


George masih dalam keadaan berdiri di samping meja tempat Theo dan Jeemy. Berdiri menatap kedua temannya yang asik minum itu.


"Hei! Apa kau tidak tergoda dengan kecantikan Lusy. Bahkan ia saja terang terangan menggodamu? Apa kau tak tergoda?" Tanya Jeemy dengan satu alis terangkat sambil menatap punggung itu pergi ke meja kopi yang agak jauh dari mereka.


"Sudahlah dia sudah mati rasa karna perempuan itu. Bahkan seorang Lusy yang merupakan model sekaligus artis itu tidak lagi selevel untuknya." Timpal Theo.


Lusy Adolt, merupakan seorang wanita muda berumur 27 tahun. Pewaris tunggal dari keluarganya. Lusy sendiri yang sudah berumur segitu, tentu membuat kedua orang taunya ingin melihatnya menikah dan segera menimang cucu. Tapi ntah kenapa dalam kelompok itu tak ada yang beres dalam hal pernikahan. Ia lebih memilih untuk tidak melakukan hal itu, bahkan kedua orang tuanya sudah merencanakan perjodohan untuk dirinya. Ia tetap saja tak mau, ia beralasan ingin menemukan pasangan hidup sendiri. Keduanya hanya bisa pasrah, lagi pula jika dipaksakan Lusy tak akan tinggal diam. Apalagi sekarang dia sudah bekerja sebagai model dan aktris tanpa campur tangan kedua orang tuanya. Sungguh mudah baginya untuk menghidupi dirinya sendiri apabila kedua orang tuanya akan mengusir dirinya jika tidak memenuhi permintaan keduanya. Hal itu tentu akan membuat rugi kedua orang tuanya, sebab akan jauh dari anak satu satunya mereka.


"Kadang aku penasaran, bagaimana kecantikan perempuan itu hingga Lusy pun kau tolak." Lanjut Theo lagi.


"Kau menginginkannya Theo? Kau bisa ambil." Acuh George namun dengan senyum simpul, bagai ia tau bahwa Theo menyukai Lusy.


"Hey! Ingat wanita bukan barang yang bisa kau perlakukan seperti itu. Lagi pula jika wanita itu mau tentu saja aku juga mau. Tapi..."


"Tapi kenyataan berbeda. Bahkan Lusy tak mau denganmu.. Ha... Ha.... Ha..." Arnold menimpali. Ia baru saja turun dari lantai dua.


"Kurang ajar kau Arnold. Ingat usia mu lebih muda dariku. Kau tau nanti rasanya kualat dengan orang yang lebih tua." Roceh Theo.


"Ahaha... Ampun suhu."


"Baru selesai bermain game Arnold?"


"Yes sir! Ada banyak game baru yang bisa ku mainkan hari ini. Terima kasih video gamenya sir."


"Tentu saja."


Dia adalah Arnold Vinc. Anak dari sopir George. Karna sopir itu sudah meninggal menyisakan Arnold sendirian. Hingga George tak tega melihatnya. Lagi pula dalam masa bekerja, orang tuanya itu sangat telaten bahkan bisa dipercayai oleh George. Untuk itu lah sebagai tanda terima kasihnya pada sopir itu dia mengangkat anaknya menjadi CEO cabang. Usianya pun masih terbilang muda, yaitu 21 tahun.


"Emm, sir apa yang ada di tanganmu? Apakah itu target baru?"


"Huh... Ini hanya sebuah foto dan bukan target Arnold."


"Waw... Apa kau telah menemukan perempuan itu? Atau ini perempuan yang lain. Berikan padaku, aku ingin melihatnya." Semangat Theo yang hendak mengambilnya.


Sebelum Theo sampai mengambil foto yang ada di tangannya, George sudah menghindar duluan dengan tetap membalikkan foto itu dan mengangkatnya lebih tinggi. "Jangan sampai kau menyentuh apa lagi sampai melihat foto ini. Atau tidak mata itu takkan ada lagi disana." Ancam George.


"Bisakah kau tidak curang seperti itu?" Kesal Theo yang memang diantara mereka tubuh Theo lah yang paling pendek namun tak sependek perempuan juga.


"Kenapa? Apa kau takut akan aku salip lagi? Hahahaha... Tenang lah bos ku. Aku tidak akan pernah menyalip mu. Siapa perempuan itu?" Lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Kau ingin menyalipku Theo? Lusy saja tak bisa kau dapatkan apalagi perempuan yang ada dalam foto ini. Bahkan aku pun tak tau siapa perempuan yang ada di foto ini."


"Memangnya dia siapa? Kenapa kau tak melihatnya saja. Kan gampang." Celetuk Jeemy yang orangnya tak pernah mau ribet.


"Anak itu bilang bahwa foto ini tak boleh dilihat oleh siapa pun kecuali dirinya."


"Maksudnya? Anak? Anak siapa?" Tanya mereka bingung.


"Lalu kenapa foto ini ada padamu?" Lanjut Jeemy.


"Aku tadi bertemu dengan anak yang waktu itu pernah menantang di arena balap kita...."


"Ohh ya anak itu. Anak yang tak kenal takut sama sekali itu. Bagaimana kalian bisa bertemu?"


George menjabarkan apa yang terjadi tadi pada teman temannya yang ada di sana. Mulai dari pertemuan, alasan ketidaksengajaan mereka bertemu, lalu ia pergi serta tak sengaja menjatuhkan foto itu sampai ia yang mengambilnya.


"Waw... Aku mengira bahwa beruang kutub kita sekarang tidak lah semenyeramkan dulu. Buktinya kau sekarang menurut dengan apa yang dikatakan anak itu. Sebenarnya ada apa ini?" Terka Jeemy.


"Yah kau benar Jeem. Bagiamana mana bisa? Apa kau memiliki hubungan dengan anak itu?"


"Hmm.... Aku pun tak tau. Hanya saja apa yang ia katakan itu seperti sesuatu yang memang harus aku lakukan. Lagi pula bicara dengannya sangatlah menyenangkan. Anak itu pikirannya bisa satu arah denganku."


"Waw... Aku seperti melihat novel secara nyata. Tidak kah kau berpikir ini seperti novel-novel yang orang tua dan anak saling berpisah namun tiba tiba bersatu kembali karna satu hal." Usul Theo bersemangat.


"Hahahaha... Astaga Theo hal memalukan baru saja kau katakan."


"Apa maksudmu?"


"Sekarang aku tau, Kau yang terkadang terlihat sibuk ternyata sibuk membaca novel. Bagaimana bisa seorang yang terlihat memiliki kehidupan yang gelap dan suka ke bar seperti dirimu malah memiliki fakta memalukan seperti ini. Kau suka membaca novel yang notabene nya adalah kehidupan yang berwarna. Jika kehidupan kita di umpamakan sebagai seekor beruang yang ganas, besar dan tinggi maka kau adalah teddy bear yang sering di peluk oleh anak anak." Remeh Jeemy yang juga disertai dengan tawanya.


"Ahh... itu tak seperti yang kau pikirkan Jeemy." Bantahnya.


.


.


.


.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻See u guys🌻🌻🌻🌻


•__•😊


__ADS_2