
Diary Kian📒
Hai... Kau!!
Kau yang menyebalkan, dan tak pernah ku pahami sedikit pun. Selalu terlihat dingin dan acuh. Bahkan kata katamu begitu kasar membuat semua orang tersinggung dengan kalimat mu itu.
Tapi satu hal yang ku tau, kau hanya membalas mereka yang menantangmu tanpa berniat merundung yang lemah. Bahkan kau terlihat acuh dengan mereka yang memandangmu aneh.
Seperti apa hatimu itu sebenarnya hm? Selalu membuat diri ini memberontak penasaran.
Kadang kau terlihat begitu penyayang namun tak begitu lama berubah keras kepala. Terlihat peduli, yang kemudian bisa egois juga.
Apakah dingin mu itu bisa berubah hangat suatu hari nanti? Aku jadi teringat dengan kata-kata Febbry yang mengatakan suatu hari nanti sifatmu itu akan berubah menjadi bucin terhadap seseorang yang kau sayangi. Aku ingin lihat siapa wanita tangguh itu?
_______________
"Jadi van? Sekarang lo dah ngerti?"
Tertampak Devan memandangi Kian dengan wajah yang tak bisa diartikan.
"Van!! Jawab. Diem aja! Jangan bilang gue yang udah dari tadi jelasin nih materi yang bejibun masih gak masuk juga ke otak lo?" Ucap Kian yang setengah frustasi.
Dan benar seperti tebakan Kian, Devan hanya menggelengkan kepala dengan wajah yang memelas.
"Astaga! Gemes gue Van sama lo. Boleh gue tabok gak sih!!"
Wajah Devan kini berubah 180° mendengar Kian yang berucap seperti itu.
"Salah lo sebagai guru, ngajarin gue gak becus."
"Heh!! Gue udah jelasin serinci-rincinya ya dari tadi. Lo aja dari tadi ngapain?! Keliatan perhatiin tapi gak ngerti juga. Lo merhatiin apa sih?!"
"Lo." Singkat, padat, jelas membuat Kian merasa tak karuan.
"Ya emang lo kan yang harus gue perhatiin pas jelasin materinya. Tapi tetep aja gak ngerti. Ya udah lah, males gue." Devan menghempaskan pulpen yang ia pegang dengan kasar beralih menatap jendela yang ada di sampingnya.
"Lo udah nyerah gitu aja? Gimana sama tantangan lo sama anak kelas 12 Ipa satu hn? Ini nih yang gue takutin, Lo nantangin anak orang seenak jidat lo. Dan sekarang lo malah gini?! Hah, lain laki kalo gak mampu gak usah. Gayaan segala." Ketus Kian.
"Itu kan salah lo. Lo yang ajarinnya gak ikhlas sampe kayak gini, mana pake marah-marah lagi." Cibir Devan.
"Ah tau lah gue Van. Lo ngeselin banget! Gue mau ke kantin mau makan ikut gak?!"
"Udah pergi sana!! Bikin emosi."
Mendengar kalimat Devan barusan membuat Kian ingin murka saat itu juga. Manusia yang di tolongnya malah balik memarahinya seperti tak terima. Padahal yang memaksa kemarin adalah Devan sendiri. Kian ingin menolak namun selalu du paksa oleh dirinya.
Kian berusaha menahan emosi, berlalu pergi meninggalkan Devan sendiri di kelas. Dengan keadaan meja yang masih berantakan.
"Heh lo yakin sama omongan lo kemarin Andre?"
Terlihat satu kelompok anak yang sedang berdiri di depan gudang dengan asiknya. Kelompok mana lagi kalau bukan anak-anak ambis Ipa satu.
"Udah lo tenang aja. Gak bakalan bisa juga tuh manusia ngalahin gue. Lo liat aja peringkat dia selama ini, gak pernah naik apalagi mau menyingkin gue. Anak peringkat terakhir aja sombong. Hah!" Remehnya dengan sungging miring.
"Terus kalo dia kalah?"
"Seperti perjanjian, dia bakal nurutin semua kemauan gue. Kalian tenang aja, gue udah siapin rencana buat si anak songong bin aneh itu, haha..."
Mendengar kalimat anak-anak ambis itu membuat kian sedikit khawatir, apalagi dengan cara Devan belajar. Maka kemungkinan besar Devan akan kalah melawan Andre si ketua geng. Melihat aura Andre yang begitu ambisius, membuat Kian tak tenang. Ditambah lagi dengan ntah rencana apa yang sedang direncankannya untuk Devan. Ia takut kalau Devan sampai diapa-apakan oleh mereka. Anak-anak yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap sekolahnya.
__ADS_1
Tap
Tap
Tap
Devan menoleh ke pintu kelas yang kini berdiri seseorang dengan tubuh bantet nan cantiknya. Membawa bungkusan jajan ditangan kiri dan kanannya.
Brakh
"Ngapain lagi lo ke sini? Bukannya lo mau makan."
Srakh
Kian menaruh dua bungkus plastik yang berisi roti dan minuman. Mengeluarkan minuman dingin dari sana, dan meletakkannya di depan Devan. Kian mengambil pulpen yang di hempaskan oleh Devan tadi ke lantai. Membuka tutup pena itu dan mulai menggarisi baris demi baris tulisan yang penting dalam buku itu.
"Gak ada waktu Van. Lo harus belajar sekarang. Dan oh ya ini! Kalo lo laper makan aja sekalian minum juga boleh. Kita bakal mulai lagi. Yosh semangat!!" Ucapnya bersemangat, Devan hanya mengerinyitkan dahi merasa bingung dan aneh dengan Kian yang demikian.
Beberapa jam berlalu, karena sebagian guru ikut dalam study tour maka tak semua jadwal mapel yang ada dapat di hadiri oleh guru. Sehingga mereka di tuntut untuk belajar sendiri.
Kini rambut Kian sudah asal kuncir, yang mulanya rapi sudah berantakan. Ia benar-benar merasa sedikit frustasi dengan tingkah dan pemikiran dari Devan hampir membuat dirinya menangis muda.
Beberapa soal selesai dengan Devan yang menulis sekaligus menyelesaikannya. Kian yang harus besar hati menyuruhnya sekaligus membimbing anak yang begitu keras kepala itu.
"Dah selesai. Lo bisa liat sendiri hasilnya. Pasti seratus." Ucapnya bangga dengan senyum yang begitu menawan. Kian pun mengambil buku itu dan mengoreksi hasil kerja si anak abal-abal.
Plak
Sontak Devan sedikit terkejut.
"Lo bilang apa tadi? seratus? Mimpi aja lo sana?! Ini mata pelajaran tanpa menghitung Devan. Bahkan lo sedikit nalar aja bisa ngejawabnya. Tapi kenapa ini selama semua hm?!" Kian mendusal-dusalkan kepalanya dengan tangan, terlihat begitu stres.
"Ha.. ha... ha... Udah lah Ki. Mending lo nyerah aja udah. Gak guna juga ngajarin siswa bodoh kek gitu. Merasa paling bener lagi." suara satu dari luar kelas.
"Bodoh, nakal lagi?! Mau jadi apa lo Van?!" Ikut dengan suara tiga yang muncul.
Terdengar cibiran-cibiran yang begitu menohok hati dari luar kelas, siapa lagi kalau bukan geng anak ambis, yang pas melewati kelas mereka. Menertawakan sekaligus mencemooh Devan.
Dengan sigap Kian langsung menahan tangan Devan agar anak itu tidak bangkit dan menghajar satu persatu siswa bermulut pedas itu.
Mereka pergi melihat si mpu yang di tindas tak bergeming sedikit pun. Meninggalkan tawa mereka yang masih menggelegar di sepanjang koridor.
Devan menatap tangannya yang di genggam oleh Kian, "Lo kenapa?" Tanyanya dengan mengangkat alis sebelah.
Dengan cepat Kian melepaskan tangan itu, "Em... Gue pikir lo bakal mukul mereka gara-gara di katain gitu. Tapi lo tenang aja, gak ada orang bodoh di dunia ini kok Van. Cuma ada orang males aja. Jadi kalo lo rajin, gue yakin lo bisa kalahin mereka yang sombong itu."
"Hahaha... Lo mikir gitu?" Tawanya sebentar, "Gue gak mau mukul mereka untuk saat ini, lagian mood gue lagi bagus. Tapi gak tau kalo nanti." Devan menyeringai.
Bagaimana moodnya tidak bagus, jika perempuan yang selama ini ia pandang dari jauh berada dua jengkal saja darinya. Apalagi ia bisa membuat perempuan itu sedikit frustasi. Ada kesenangan tersendiri karena hal itu.
"Lo kenapa nyeremin gini sih? Tapi setau gue lo gak pernah mukul siswa sekolah ini deh. Kalo masuk ruang BK pun paling gara-gara ulah lo sendiri. Eeh... Tapi lo pernah deh mukul orang, siswa waktu itu. Kok dia bisa tau sama lo Van?"
Devan menatap tajam Kian, membuat dia kembali berucap, "Ya udah kalo gak mau jawab pun gak apa-apa. Biasa tuh mata, ntar gue colok nangis lo." Ucap Kian berani, padahal dalam hatinya menangis ketakutan.
Lama tak ada jawaban dari Devan membuat Kian sedikit, sedikit loh ya merasa tak enak.
"Dia murid terkaya di SMP swasta dulu. Dia dan gue sama-sama sekolah di sana. Gue sering di bully sama mereka, karena gak selevel. Kadang uang spp bulanan gue juga diambil sama mereka." Devan menatap keluar jendela, dengan pandangan lurus, sedangkan Kian malah menatap Devan dengan tatapan yang tak menyangka.
Lima tahun lalu...
__ADS_1
"Lo mau kemana heh! Dasar anak miskin! Bagi duit lo sini!"
"Lo bilang gue miskin, kenapa malah minta duit ke gue?" Bela Devan yang di cegat oleh beberapa siswa
Brakh
Bukh
Bukh
Devan sudah babak belur di hajar oleh Refan, sudut bibirnya berdarah, dan pipinya biru. Devan tak bergeming sedikit pun, tak menghindar apalagi membalas.
"Itu balasan buat lo yang berani ngebatah gue!!"
Devan bangkit dan hendak melewati mereka namun lagi-lagi ditahan dan didorong. "Lo mau ke ruangan guru kan buat bayar duit spp? Berati lo ada diut dong." Refan memberi isyarat kepada tiga temannya untuk mengambil uang yang ada di saku Devan secara paksa.
"Dah pinter boong lo sekarang ya!" Setelah mendapatkan uang itu.
Bukh
Bukh
"Lo tuh anak haram, jangan tambah haram lagi dengan sering bohong"
Puk.... puk.....
Refan menepuk-nepuk kepala Devan, kemudian meninggalkannya dengan keadaan babak belur dan uang ludes dari kantongnya.
Devan hanya memandang mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.
Off~
"Gue sedikit bersyukur karena itu, sebab gue sekarang jadi lebih biasa aja. Dan lo tau apa fungsi dari benda yang selalu gue pake ini?" Lanjutnya dengan memasangkan sebelah earphone pada telinga kiri Kian. Membuat si mpu tersadar dari lamunannya.
"Buat sumbat telinga gue supaya gak denger kalimat-kalimat siala* dan gak guna kayak gitu."
Kini lagu sudah terputar. Kian mengikuti alunan lagu itu, walaupun otaknya masih tak percaya. Tak percaya jika Devan terlihat begitu dingin merupakan mantan korban bullyan di sekolahnya, dan hal kedua ntah itu dia sadar atau tidak namun sekarang ia malah bercerita hal pribadinya pada Kian.
"Kenapa lo liat gue gitu?" Devan menoleh pada Kian.
"Gue masih gak percaya. Kenapa lo ceritain hal itu ke gue? Lo gak ngerasa..."
"Lo ngerasa kasihan? Kalo lo ngerasa gitu, mending lo jauh-jauh deh dari gue. Bahkan gue lebih benci mereka yang mengasihani gue dari mereka si pembully." Mata Devan berubah menajam.
"Gak kok, lo kan harga dirinya tinggi banget. Gue cuma gak nyangka aja, lo yang kelihatan nyeremin gini ada yang bisa bully lo. Apa mereka gak takut dihajar sama lo ya?"
"Gak tertarik gue buat ngotorin tangan nyentuh kulit mereka."
"Terus waktu itu, lo ngehajar dia kan? Berati lo...."
"Ya itu beda. Diem!"
'Gw gak mungkin liat lo di kasarin orang terus gue diem aja.!'
.
.
.
__ADS_1
.
TBC