Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#96


__ADS_3

"Kian!!! Kemarin lo kemana aja sih?! Serigala kutub jadi nyariin lo kemana-mana. Sampai gue juga dimarahin ama tuh anak. Gila gak sih!!" Febbry menenteng kedua tangannya di pinggang, menatap tajam Kian yang baru saja datang ke kelas


"Serigala kutub? Oh Devan ya? Dia bilang apa aja sama lo? Wah bener-bener tuh anak, ntar bakal gue...."


Febbry langsung memotong omongan Kian, "Udah, itu gak penting. Kemana lo kemarin he?!"


"Eh? Em itu anu Feb...." Kian menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Anu apa? Lo kenapa hn?! Terus kenapa juga tuh anak sampai nyariin lo. Lo gak dimacem-macemin dia kan?"


"Enggak Feb. Dia cuma mau balikin buku doang kok. Tapi gue gak ada di rumah. Iya, gue keluar sebentar."


Mata Febbry memicing melihat Kian yang sedikit gugup. Menyelidiki lebih dalam lewat mata Kian.


"Duduk." Seseorang menarik tangannya, Kian hanya memasang wajah cengok.


"Heh! Devan gue belum selesai ngomong ama Kian somplak!" Dengus Febbry melihatnya.


"Cih!!" Seseorang memandang jijik pada Kian.


"Apa lo? Iri bilang neng! Hahaha.... Inget woy, masih sodara. Gak usah gila lu mau ama sodara sendiri. Ih!" Cibir Febbry ketika lewat di sampingnya, di balas tatapan tak suka oleh sang mpu.


________


Tak terasa jam istirahat berbunyi, seperti biasa Febbry akan mengajak Kian ke kantin. Namun Kian menolaknya. Febbry pun berlalu keluar dari kelas itu. Menyisakan Kian dan Devan, duduk di bangku masing-masing.


"Van, lo punya buku kosong?" Kian memecahkan keheningan di sana.


"Banyak." Cueknya tanpa melihat Kian. Ya! Kian sepertinya lupa. Selama ini, Kian selalu menangkap basah Devan hanya tertidur tanpa memegang pena atau pun buku. Yang artinya selama ini ia sangat jarang untuk mencatat materi bahkan hampir tidak pernah. Bahkan kalau bukan dirinya, Devan akan selalu mendapat teguran saat pemeriksaan catatan tiap senin karena tak pernah mencatat.


Ia sedikit merutuki dirinya sendiri yang terlalu banyak basa-basi pada makhluk cuek seperti Devan, yang jelas-jelas ia tau bagaimana makhluk satu ini.


"Pinjam, mana?" Pintanya mengulurkan tangan yang menengadah.


Devan memberikan satu buku yang masih bersih dan kosong yang memang tak tersentuh pena sedikit pun. Seperti dugaan dirinya selama ini terhadap Devan tidak salah. Kian menerimanya dan mencoret sesuatu di sana.


Kian yang asik dengan kerjaannya, membuat Devan penasaran. Sesekali mengintip diam-diam apa yang sedang dilakukan Kian, tanpa sepengetahuan gadis itu tentunya.


Namun saat Kian melirik Devan sebaliknya, ia nampak tak perduli. Hingga Kian tetap melanjutkan apa yang ditulisnya.


"Van, nih!" Kian mengembalikan buku itu, sejenak setelah selesai. Devan hanya diam melirik lalu mengambil buku tersebut.


Perjanjian Pelunasan Hutang


Pihak satu : Kian


Pihak dua : Devan


Yang sudah dilakukan pihak dua terhadap pihak satu.


• Pihak dua memberikan makanan gratis terhadap pihak satu di UKS.


• Pihak dua menolong pihak satu malam itu, mencarikan kontrakan dan membayarnya selama satu bulan.


• Pihak dua sudah beberapa kali membayar uang bus pihak satu.


• Pihak dua membeli satu porsi sate kemarin untuk pihak satu.


• Pihak dua juga selalu memberikan makan siang dan malam pada pihak satu.


• Jika ada tambahan hutang piutang maka akan di tulis pada laman berikutnya.


Pelunasan hutang oleh pihak ke satu pada pihak dua.


• Selama pihak ke satu belum mendapatkan pekerjaan, pihak kedua harus bersabar.


• Jika selama itu pihak ke satu belum juga bisa membayar, maka pihak kedua boleh meminta sesuatu dan sudah menjadi kewajiban pihak satu untuk mengabulkannya.


• Dalam permintaan pihak kedua, tidak boleh bersifat negatif.


• Pihak kedua harus menerima, apabila pihak ke satu membayar hutang dengan cara mencicil.


• Apabila pihak ke satu sudah mendapatkan pekerjaan, maka pihak kedua tidak diharuskan untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya (Point dot 1 sampai 5) pada pihak satu.


• Tak ada alat pelunasan selain uang dan perlakuan baik.


Sekian


Pihak satu

__ADS_1


ttd


Kian


Pihak dua


ttd


Devan


Devan mengangkat sebelah alisnya saat Kian memberikan tekanan buju yang terdapat coretan itu. Seolah ia bertanya Apa ini?


"Itu perjanjian pelunasan hutang Van. Gue gak mau terus-terusan berhutang sama lo Van. Jadi...."


"Harusnya gue yang jadi pihak ke satu. Dan kenapa semua isinya cuma nguntungin lo doang? Gak adil!" Ucap Devan setelah membaca singkat tulisan tersebut.


"Eh... itu adil ya. Lo liat aja point dot ke dua. Lo bisa minta apa aja ke gue." Senyum sumringah itu terpancar di sana.


"Maksud lo hal negatif apa?" Wajah Devan mendadak menjadi suram, sepertinya ia tak suka dengan istilah itu.


"Hehehe... itu gue takut Van. Ntar lo malah nyuruh gue buat jual ginjal atau semacamnya lagi. Kan gue gak mau. Tapi gue janji kok bakal lunasin semuanya."


Tuk


Devan memukul kepala Kian dengan buku yang ia pegang, dengan pelan.


"Otak lo selalu negatif sama gue. Harusnya perjanjian kayak gini gue yang buat bukan lo! Karena lo hutang ke gue."


"Ya kan gue cuma takut Van. Kalo di film-film tuh gitu. Lagian lo atau gue juga sama aja. Intinya gue yang punya hutang."


"Kebanyakan nonton lo. Gue bukan aktor dalam film lo ya! Siapa lo yang bisa ngatur gue seenaknya?" Sinisnya.


"Lo emang bukan aktor dalam film yang gue tonton. Tapi lo aktor dalam hidup gue yang selalu nolongin gue. Ya udah lo tambahin aja apa yang lo mau dalam kertas perjanjian itu, sebelum di tandatangani." Kian tersenyum begitu sumringah, setelahnya kembali pada mode julid.


"Cih! Dasar bocah. Buat pernyataan Pihak satu akan selalu jadi partner pihak dua sampai waktu yang di tentukan oleh pihak dua."


Kian sedikit menimbang-nimbang pernyataan dari Devan, yang tak lama kemudian ia pun mengiyakan. Lagipula hanya partner, tidak akan selamanya bukan? pikirnya, dan juga ia takkan rugi apapun. Dan lagi partner bukannya seperti teman? Apa yang bisa Devan lakukan dengan hal itu?


"Deal!!"


Sret


"Hehe sorry. Makasih Van, gue janji bakal lunasin itu semua." Ucap Kian lalu melangkah, sebenarnya ia pergi untuk menghindari kegugupannya.


"Mau kemana lo?"


"Mau ke perpustakaan. Pinjem buku buat kita belajar. Jangan lupa kita bentar lagi mau ujian, dan lo masih punya tantangan sama anak IPA satu." Setelah berucap seperti itu ia langsung melesat pergi dari sana.


Devan hanya memandang sekilas punggung itu, yang ternyata ada sedikit lengkungan sudut bibir terbentuk di wajah kaku itu.


__________


Selesai mencari buku, Kian hendak kembali ke kelas namun ia tak sengaja melihat Sarah yang sedang sendirian.


"Sarah!" Panggilnya yang lalu menghampiri Sarah.


"Ngapain lo ke sini? Gue gak punya urusan sama lo. Minggir lo manusia munafik!" Cercanya.


Namun Kian malah menghadangnya, "Lo emang gak punya urusan sama gue. Tapi gue punya Sar."


'Apa ini waktu yang tepat buat bilang ini ke Sarah ya? Tapi kalo gue tunda juga gue gak mau Sarah nanti sakit hati.'


"Udah lah Ki! Gue gak mau ngomong sama lo!!" Bentaknya, membuat Kian memejamkan mata sebentar.


"Plis Sar, dengerin gue."


"Buat apa gue dengerin lo hah? Lo tuh cuma perebut kebahagiaan gue doang! Gue adalah manusia tersial yang pernah ada! Orang tua gak pernah ngakuin gue! Dan sekarang gue punya temen, yang gue pikir adalah orang baik dan setia sama gue! Tapi apa!! Lo malah nusuk gue dari belakang!!"


"Lo boleh marah atau benci sama gue terserah lo Sar. Tapi gue cuma mau lo jauhin Jerry."


"Kenapa? Setelah Devan, sekarang lo mau Jerry juga. Haha.. lucu lo Ki. Gue cuma mau bahagia, kenapa lo selalu gak suka heh? Lo mau rebut juga! Selain Jerry gak ada yang peduli sama gue!!"


"Tapi Jerry cuma manfaatin lo Sar!"


"Gue gak peduli. Semua manusia kan emang gitu! Saling memanfaatkan!! Udah tanggung Ki. Hancurin aja sekalian!" Senyum miringnya, bukan karena licik namun karena meratapi nasib yang seolah selalu tak adil untuknya.


"Sar, lo gak tau Jerry kayak apa. Lo salah, masih banyak orang peduli sama lo Sar. Gue peduli sama lo. Makanya gue bilang gini! Lo tau kalo Jerry itu gak baik!!"


"Cukup Ki. Gue cuma mau hidup dengan cara gue. Dan lo gak usah sok peduli sama gue! Karena lo bukan siapa-siapa gue!! Minggir!"

__ADS_1


Kian di dorong kasar oleh Sarah agar minggir dari jalannya. Kian yang kesal, meneriaki Sarah, "Lo gak tau Jerry kayak apa Sar! Jerry itu..."


"Gue kenapa Ki?" Sambar seseorang berada di balik tembok. Ia keluar dan menatap Kian bagai seorang mangsa.


Mendengar kalimat itu, membuat Kian langsung berhenti berucap. Memandang orang itu dengan tatapan mata bulatnya. Ia tau kalau sekarang atmosfer disekitarnya menjadi menurun drastis.


"Jawab gue Kian! Gue kenapa?!"


"Tanpa gue jawab, lo juga udah tau Jer. Gue cuma minta lo jauhin aja Sarah. Jangan sakitin dia. Bahkan dia udah percaya sama lo Jer."


"Oh ya? Menurut gue ini tuh lebih baik. Permainan tambah seru. Kalo lo mau dia baik-baik aja, lo harus terima gue. Gimana?" Seringainya yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain, ia tunjukkan pada Kian. Seringai licik dan menakutkan itu, layaknya seorang psyco, membuat Kian sedikit merinding.


"Hah! Mimpi lo! Gue yakin tanpa itu gue bisa buat Sarah sadar dan tentunya orang lain juga." Kian yang tak mau kalah, dan membalas seringai lelaki itu dengan ucapan penuh penekanan.


Bukh


Jerry mendorong Kian ke tembok dengan kuat, lalu mengukungnya. "Denger ya Kian. Jangan pernah bilang ke orang lain tentang apa yang lo tau. Atau lo bakal nyesel seumur hidup lo!" Kalimat yang dihasilkan Jerry di telinga Kian juga penuh penekanan dan amarah.


"Kalo gitu deal-nya, gue diem dan lo jauhin Sarah." Ntah kenapa, semenjak Kian tau sifat asli dari Jerry membuatnya selalu berkata dengan nada kasar dan penuh kebencian, walaupun ia tau akan di balas dengan perlakuan kasar pula oleh Jerry.


"Bukan seperti itu juga permainannya shortie." Bisiknya lagi.


Duakh


Kian menendang tulang kering Jerry membuatnya mengaduh bahkan mengumpat, dan kungkungan itu pun lepas. "Kalo gitu biarin gue sendiri yang bilang ke Sarah." Kian langsung melangkah pergi. Takut Jerry akan berbuat lain hal.


"Lo bakal nyesel Kian! Bakal nyesel!! Gue pastiin itu." Teriaknya di koridor yang begitu sepi.


____________


"Van kita mau kemana?" Tanya Kian yang ada dalam bus saat ini.


Sepulang sekolah, Devan dengan sengaja mengantar sekaligus menunggu Kian untuk berganti pakaian di kontrakannya. Kian tak tau kenapa ia melakukan hal itu, namun sesuai perjanjian kalau dirinya akan menuruti permintaan Devan saat ia belum bisa membayar semua hutangnya.


Untuk Devan sendiri, ia sudah berganti pakaian menjadi baju kaos oblong dengan tetap memakai sepan abu-abunya. Tanpa pulang ke rumah. Tentu saja Kian protes, sebab bagaimana dengan Gio jika ia tak pulang.


Namun ternyata Devan sudah menitipkan uang pada Mikko, dan selama Mikko tinggal di rumahnya, Gio menjadi tanggung jawab Mikko. Mulai dari mengantar, menjemput dan mengurusi Gio di rumah. Benar kata Gio jika ia seperti memiliki keluarga lengkap. Mikko yang memiliki tugas seperti seorang ibu, dan Devan yang memiliki tugas seperti seorang ayah yang selalu mencari uang.


Kini mereka berdua berada dalam bus. Ntah kemana Devan akan membawanya ia pun tak tau. Ketika ia bertanya pun Devan tak menjawab sama sekali. Membuatnya kesal setengah mati.


Saat sedang berada di bus, mereka berdua memilih untuk berdiri sebab semua kursi penuh. Bahkan mereka memberikan kursi mereka untuk seorang kakek dan ibu hamil.


Tapi sepanjang perjalanan Kian terlihat begitu gelisah. Karena ia tak terlalu sampai menggapai besi pegangan itu, hingga terpaksa memegang tali tas Devan, dan sebelah tangannya berada di sandaran kursi.


Sedangkan Devan, memegang besi itu dengan sebelah tangan kanan, dan tangan kirinya berada di saku sepan abu-abunya. Awalnya Devan tenang tenang saja, membuat Kian juga nyaman walaupun harus berdiri.


Namun semakin lama Devan malah bergeser ke arah Kian yang berada di sebelah kirinya. Yang tentu saja membuat Kian juga ikut bergeser. Kian langsung mencari alasan kenapa dengan Devan yang seperti itu. Dan ternyata...


Devan POV


Hari ini gue terus ngikutin Kian. Mulai dari ngaterin dia sampai nungguin dia di kontrakan. Beberapa kali dia nanya sama gue, kenapa gue ngikutin dia. Cuma gue males aja jawab. Paling kalo di jawab dia bakal ngajuin pertanyaan lagi. Males banget gue harus jawab pertanyaan beruntun.


Sampai kini, kita berada dalam bus. Bus siang memang selalu ramai, membuat sedikit berdesakan. Sebenarnya kita udah dapet kursi sebelumnya. Cuma Kian lagi di mode emak-emak, ngelarang gue duduk dan ngalah sama kakek dan bumil. Ya udahlah, gue iya-in aja dari pada ribet.


Karena nih bocah pendek, gue suruh dia kayak biasa pegangin tali tas gue supaya gak jatoh. Gue sih ogah ngerangkul dia, or genggam tangan dia. Tau kenapa? Gue gak mau dia nuduh gue yang aneh-aneh. Liat aja selama ini, kalimat frontal yang selalu di sugguhkan ke gue. Buat gue serasa mati sesak. Udah tuduhannya negatif, ngomongnya gak mikir lagi. Untung gue sabar.


Awalnya emang semua baik-baik aja, gue nyaman dan gue liat juga Kian nyaman-nyaman aja. Tapi itu gak berlaku sampai seorang cewek memakai jas dan rok pendek hadir di samping gue. Dia gak bisa diem. Tangannya merembet mulu ke tangan gue. Buat gue ilfiel aja. Sampe akhirnya gue terus geser ke arah Kian buat jauhin tuh cewek.


Kembali ke author POV


Kian langsung melihat sekeliling Devan, mencari tau apa yang terjadi dengan serigalanya saat ini. Setelah lama, akhirnya ia tau ada seorang perempuan di samping Devan yang sedikit modus.


Kian hanya menahan tawa dan mengulum kedua bibirnya. Agar Devan tak tambah marah. Namun keadaan tambah parah disaat mobil bus mengerem dadakan membuat wanita itu menjadi terlonjak dan tak sengaja memeluk Devan.


Terlihat wajah Devan sudah merah, bukan karena malu atau salting melainkan marah. Ia langsung menegakkan wanita itu lagi agar tak berlama-lama di dadanya.


Lalu menyeret Kian ke samping kanannya. Kini posisi Kian berada di antara Devan dan wanita itu. Kian hanya memandang Devan sekilas dan wanita itu. Wajahnya seperti tak suka melihat Kian. Kian sedikit memperhatikannya, gaya seperti pegawai kantoran, membuat Kian menebak jika wanita itu adalah sekretaris bosnya.


Kian hampir saja kelepasan untuk terkikik namun ia berusaha keras agar tak membuat heboh bus. Kian menatap Devan dengan penuh arti, membuat Devan hanya melirik tajam. Seperti ia tau dengan isi otak Kian yang selalu saja aneh menurutnya.


.


.


.


.


tbc

__ADS_1


__ADS_2