Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#101


__ADS_3

"Ki sebenernya gue...."


Cekalan itu langsung di tatap tajam Kian, dan langsung dilepaskannya.


"Kenapa lagi? Mau dianterin, tapi lo gak mau. Mendingan lo pulang sekarang Van. Istirahat di rumah."


"Masalah semalem Ki..."


"Udah... Gue maklumin kok." Ucap Kian dingin, lalu berjalan lagi.


"Ki"


"Udah Van! Mending lo sekarang keluar, gue mau ganti baju!" Kian yang setengah kesal pada Devan langsung menutup pintu kamarnya.


Sepuluh menit ia habiskan di dalam kamar, lalu keluar dengan setelan baju kaos oblong dan sepan panjang berwarna coklat, sandal jepit dan tas selempang hitam.


Dilihatnya Devan masih setia menunggu di kursi panjang teras kontrakannya. Kian mengambil sepatu Devan yang masih ada di pojokan ruang tamu, keluar dan memberikannya pada Devan. Mungkin Devan di sana sebab tak tau dimana sepatunya di simpan.


Ceklek


Kian menutup serta mengunci pintu rumahnya. Bukan bermaksud mengusir Devan dengan kasar, hanya saja ini merupakan kontrakan untuk putri, tak akan baik kalau ada seorang laki-laki yang berada di salah satu kontrakan, apa kata orang nanti. Atau bahkan berkeliaran selama berhari-hari tanpa pulang dari sana. Lagi pula Kian tau, kalau tempat tidur nya takkan senyaman tempat tidur Devan yang ada di rumah untuk beristirahat.


"Van, nih sepatunya. Lo bener gak mau dianterin? Atau mau gue minta tolong kak Nari yang anter?" Tanya Kian meletakkan sepatu itu di samping kaki Devan.


"Lo mau kerja? Gue ikut." Pintanya, bukannya menjawab pertanyaan Kian.


Kian bangkit dari jongkoknya menatap Devan dengan wajah aneh, "Lo masih sakit. Nanti gue bisa bilang sama bos kalo lo gak bisa masuk. Sekarang pulang gih." Suruh Kian, lalu meninggalkan Devan sendiri


Namun tak sampai di sana, Devan mengejar Kian dan menarik tangan itu lagi, "Ki, lo marah sama gue? Gue udah bilang gue gak sengaja. Dan gue bakal tanggung jawab!!"


"Lepas Devan!! Gue gak marah, dan lo juga gak perlu tanggung jawab." Walaupun Kian sedikit bingung, ntah tanggung jawab apa yang dimaksud Devan. Apakah karena sudah membuang waktu dirinya? Atau karena sudah memberantaki kamarnya? Atau ada hal lain? ntah lah ia benar-benar tak tau. Menurutnya sikap Devan sangat aneh mulai dari setibanya ia di rumah dan sampai sekarang.


'Apa jangan jangan gara gara....?' Batin Kian


"Kalo lo gak marah, kenapa lo ngehindar?"


"Gue gak ngehindar Devan. Gue mau kerja!"


Dengan terburu buru Kian langsung pergi meninggalkan Devan yang masih mematung menatap kepergiannya.


___________


"Siang kak." Sapa Kian saat ia sudah berada di cafe, yang kemudian berpapasan dengan Arya.


"Eiy, siang juga Ki. Nah gitu dong, kan enak gue dengernya. Em, by the way Devan mana? Kok gak ada di belakang lo? Biasanya ngintilin aja kemana pun lo pergi, dah kayak bodyguard. Hahaha...." Arya mendelik, mencari seseorang di belakang Kian.


"Devan gak masuk kak. Dia sakit." Datar Kian


"Ha?!!"


Kian sedikit tersentak, sebab Arya berteriak dengan lantangnya dan mimik wajah seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dirinya. "Kenapa kak?"


"Gak, tumben aja. Biasanya juga walaupun wajahnya babak belur sekalipun masih tetep aja kerja. Ya udah lah." Ucapnya, "Reno! Kamu gantiin posisi Devan ya hari ini. Dia gak masuk. Nanti yang bagian delivery biar si Aga aja." Titah Arya pada anak buahnya.


Semuanya menurut dan langsung mengambil posisi di tempat masing-masing, begitu pun Kian yang langsung berganti pakaian dan stay di depan toaster.


_______


Tok, tok, tok,


"Dek, itu siapa? Bukain dulu gih." Suara Mikko menggelegar di dapur, membuat Gio yang berada di ruang tv sedang belajar jadi bangkit dan meraih gagang pintu rumah.


"Iya kak."


Ceklek


"Kak Kavin...." Gio langsung menghamburkan pelukan pada Devan yang ada di depan pintu. Dengan sigap ia juga menggendong Gio.


"Dah balik lo? Kata Kian lo sakit semalem." Mikko yang keluar memakai celemek, terlihat celemek itu basah. Sepertinya ia habis mencuci piring.


Devan melangkah masuk, dengan masih mendekap Gio di gendongannya. "Kata kak Kian, kak Kavin sakit? Kakak sakit apa?"


"Gak kok. Kakak cuma demam aja, lagian semalem hujan jadi gak bisa pulang." Lirihnya, menurunkan Gio di sofa.


"Ouh.. jadi lo nginep di rumah Kian. Tapi kok bisa sih kalian ketemu?"


Devan menatap Mikko, ia lupa tak memberitahukan tentang Kian pada Mikko. Padahal sudah hampir satu minggu ini Kian tak lagi berada di rumahnya melainkan di kontrakan, dan juga mengambil part time job sama dengannya.


Ia pun menjelaskan pada Mikko apa yang terjadi pada Kian. Mulai dari malam itu sampai hari ini dan detik ini juga.


Mikko mengangguk angguk saat penjelasan itu masuk ke telinganya. "Pantas saja Kian bisa nelpon gue semalem buat bilang tentang lo. Terus kenapa dia sampai di usir?" Tanya Mikko, yang hanya dibalas gedikkan bahu oleh Devan.


Jujur saja sampai saat ini, Kian tak kunjung memberitahukan dia kenapa ia diusir, sebegitu asingkah dia bagi Kian?


"Terus kalo lo nginep di kontrakan Kian? Lo tidur dimana? Gak mungkin kan lo bakal sekamar apalagi berbagi tempat tidur, kan kalo kontrakan cuma punya satu kamar doang?" Tanya Mikko yang tertawa remeh, menolak pernyataan yang ia sebutkan sendiri itu.


Namun bukan menjawab, Devan malah menatap Mikko. Tatapan yang tak pernah Mikko lihat sebelumnya. Terlihat sekali di sana jika ia benar-benar frustasi, dan seperti sudah terjadi sesuatu. Membuat Mikko memekik tak percaya. Namun langsung di bekap oleh Devan sendiri.


Ditatapnya tajam Mikko, sebab di sana masih ada seorang anak kecil yang tak mau juga ikut heboh nantinya. Dan menganggu konsentrasinya untuk belajar.


"Terus lo udah bilang ke Kian? Maaf atau tanggung jawab gitu?"


"Gue udah berusaha, tapi Kian selalu ngehindar dan kayaknya marah banget sama gue." Suara Devan terdengar begitu lesu dan khawatir juga.

__ADS_1


"Tapi lo udah pastiin kalo itu terjadi beneran ama kalian?"


"Gue gak tau. Gue gak sadar, tapi tetangga Kian bilang, Kian keliatan kecewa banget waktu keluar rumah tadi pagi." Devan lemas, dan langsung menuju kamarnya.


"Sebaiknya lo omongin ini serius ke dia Van. Tanpa lo sadari kalo itu bener-bener terjadi, lo udah menambah luka dan beban dari seorang anak perempuan yang baru aja di usir sama orang tuanya." Jelas Mikko yang berlalu pergi setelah menepuk bahu Devan.


Devan langsung merebahkan tubuhnya di kasur, mencoba menenangkan dirinya dalam kekalutan yang ada. Ia sebenarnya juga tak percaya, bagaimana itu terjadi sedangkan ia sedang sakit bukan sedang mabuk yang bisa membuat orang bisa jadi liar dan melakukan hal 'itu'.


Hanya saja beberapa fakta yang ia temukan, tak bisa menyangkal hal itu. Dan lagi ketika mendengar nasehat dari Mikko di akhir kalimatnya, benar-benar membuat Devan terasa kacau. Ia bahkan sudah mengecap dirinya perusak dan ******. Hal yang harusnya tak ia lakukan namun nyatanya.....


Ia menjadi gusar, mengacak acak rambutnya. Tapi saat itu terjadi, ia merasakan sakit di kepala belakangnya. Ntah kenapa, ia tak tau. Dan terasa sedikit ada benjolan di sana.


____________


Pengunjung yang begitu ramai membuat Kian dan pegawai lain tak bisa berleha leha atau sekedar hanya menyandarkan punggung sebentar. Semuanya di tuntut untuk aktif. Sedikit membuat Kian yang merupakan karyawan baru disana menjadi kewalahan.


Bahkan harus terus berganti peran, belum lagi beberapa orderan menu yang harus diantar segera. Membuatnya begitu benar-benar sibuk. Hingga malam menjelang, barulah suasana cafe itu tak seramai siang tadi.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Yang artinya sudah waktunya pulang. Kian berganti pakaian dan hendak bergegas pulang. Suasana yang masih terbalut udara dingin di kota, membuat Kian beringsut kedinginan sebab tak memakai jaket.


"Ki, mau gue anterin gak?" Tanya Reno ketika mereka berdua sudah berada di luar cafe.


"Ini udah malem Ki, lagian udaranya dingin banget. Gak baik di luar lama-lama. Ntar lo bisa kena flu loh." lanjutnya


Kian sedikit berfikir, menimbang-nimbang ajakan Reno. Selain harus berhemat, ia juga harusnya tak menolak niat baik seseorang bukan? Dan juga tak boleh menaruh kecurigaan terhadap seseorang.


"Gak ngerepotin Ren?" Tanya Kian.


"Gak kok. Tenang aja." Ucapnya dengan menyunggingkan senyum manis.


Kian pun mengangguk, mereka berjalan beriringan dan menuju parkiran. Kian sedikit bingung disana, sebab tak ada lagi kendaraan selain mobil putih pajero.


"Ren, parkiran kok sepi ya?"


"Kan para pelanggan udah peluang semua Ki." Ucapnya enteng, padahal yang dimaksudkan Kian bukanlah itu.


"Yuk Ki." Reno membuka pintu mobil putih itu, membuat Kian melongo. "Ini mobil lo?"


"Hehe.. Iya. Kenapa gak suka ya?"


"Eh.. bukan gitu. Ya cuma...?"


"Aneh karena gue kerja gitu? Gue akuin sih, nih mobil punya orang tua gue. Gue kerja yah, modal buat jajan gue. Walaupun gak seberapa, dibanding yang dikasih orang tua gue, tapi yah lumayan buat beli pulsa hp, hehehe. Lagian kalo gak dipake mereka marah-marah terus."


"Oh gitu ya.." Kian cengengesan, 'Gini banget jadi orang kaya yah.'


Setelah pintu itu terbuka lebar, Kian hendak masuk ke dalam namun,


"KIAN!!!" Teriak seseorang dari jauh, membuat ke dua orang itu langsung menoleh ke sumber suara. Kian memicing aneh menatap orang tersebut, sedangkan Reno merasa terheran juga.


"Em.. Gue gak tau. Ya udah Ren, sorry ya. Lo duluan aja."


"Gak jadi naik nih?" Reno mengangkat sebelah alisnya.


"Gak. Sorry ya."


Mobil Reno pun berlalu, Kian masih menatap lekat. Bukan pada mobil bagus itu melainkan pada Devan. Ia melihat Devan yang bahkan masih menggunakan style yang sama dari rumahnya tadi.


Grep


Devan yang berlari menghampiri Kian, memegang kedua bahunya sedikit kuat. Membuat Kian merintih sakit Karena lengan besar itu.


"Lo apa apaan sih Van! Lepas gak! Badan gue yang lagi sakit semua oon!!" Kian mendorong kuat Devan, melepaskan kedua cengkraman bahunya.


"Gara-gara semalem?"


"Udah tau masih nanya lagi. Lo ngapain lagi di sini? Udah tau sakit, harusnya istirahat bukan maen keluar di tengah cuaca gini. Bodoh banget sih!!" Rocehnya.


"Gue mau ngomong."


"Ya udah ngomong aja. Heran gue dari siang tadi kok aneh banget. Kenapa sering bilang ngomong, tanggung jawab atau apalah itu. Jangan-jangan nih gara-gara kepala lo kebentur semalem kali ya. Kalo gara-gara itu, gue mau minta maaf banget sama lo. Gue gak sengaja, bener-bener gak negaja, plis plis ya..." Kian memohon pada Devan.


Sedetik kemudian setelah kalimat panjang itu terlontar kan barulah Devan tersadar, "Maksud lo??"


Mengingat hal semalam, Kian menjadi menceritakan semua kejadian pada Devan.


Flash_back


Malam dimana Devan merasa benar-2benar sedih dengan Kian yang menjadi tempat sandarannya. Devan langsung menarik Kian, menenggelamkan wajahnya di antara leher dan bahu Kian. Mengalungkan tangannya di pinggang Kian. Memeluk erat tubuh setengah bantet itu. Begitu pun dengan Kian. Tetap mengelus surai hitam pekat itu dengan lembut. Memberikan kenyamanan bagi Devan, agar ia lebih tenang.


Tak lama Kian tak lagi mendengar isakan itu, melainkan hanya suara nafas yang tenang, membuat Kian lega dengan keadaan Devan yang menurutnya sudah lebih baik. Tapi hal itu disertai dengan lingkaran tangan di pinggangnya juga ikut terlepas.


Kian langsung menegakkan kepala itu, khawatir ada apa dengan Devan. Ia memeriksa apakah Devan hanya tertidur atau pingsan. Namun tubuh itu sudah lemas, membuat Kian begitu panik. Dengan segera ia menyandarkan punggung itu di kursi dan berlari keluar.


Dor!! Dor!!!


"Kak Nari!!!! Kak!!!" Kian meneriaki nama itu sambil menggedor kuat pintu rumahnya.


"Ehmm.. Kenapa sih Ki. Gue masih ngantuk juga." Ucapnya setengah sadar ketika membuka pintu


Tanpa banyak bicara, Kian langsung menarik Nari menuju rumahnya. Membuat Nari yang nyawanya saja belum terkumpul hanya bisa pasrah. Tapi Kian sedikit terkejut dengan keadaan Devan yang sudah tergeletak miring di lantai.


"Astaga Devan!!" Mendengar teriakan Kian, Nari langsung tersenyak kaget dan segera mengucek-ucek matanya. Memastikan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Ki? Ini Devan? Devan kenapa?" Nari terlihat begitu khawatir, berjongkok di samping Devan


"Devan pingsan kak. Haduh, mungkin tadi gue letakinnya gak bener kali ya. Sampe Devan jatuh kek gini." Risau Kian, "Bantuin Kian angkat ke kamar ya kak."


"Ya udah ayuk. Dari pada nih anak tidur disini. Btw, lo angkat bagian tangannya ya."


"Lah kok Kian sih kak?"


"Nyawa kakak belum ke kumpul Ki. Ntar malah gak kuat angkatnya dan Devan malah jatoh tambah parah lagi. Biar kakak angkat kakinya aja, Oke." Yakinnya.


"Hm.. Ya udah deh kak." Pasrah Kian


Kian dan Nari pun membopong Devan ke kamar. Kian bagian tangan, dan Nari bagian kaki. Karna Kian memegang bagian tangan maka Kian harus berjalan duluan dengan mundur. Sedangkan Nari berjalan maju.


Dukh!!


Karena tak bisa melihat jalan, tumit Kian secara tak sengaja menabrak kaki kursi, yang membuat kaki kursi bergeser dan Kian pun mengaduh kesakitan. Dan dengan reflek juga, Kian melepaskan pegangannya pada Devan.


Dukh!!


Kepala dan bahu Devan jatuh ke lantai. "Astaga Kian!! Bisa gegar otak nih Devannya Ki."


"Eh, maaf kak. Kaki Kian kesentuk kursi. Lagian Devan berat banget yak!"


"Lo liat aja nih anak kayak tiang listrik. Walaupun cowok keliatan kurus ya tetep berat lah Ki."


"Tapi hebat dia ya kak. Pingsannya sampe gak bangun walaupun kepalanya kebentur. Apa jangan-jangan...."


"Ngomong apa sih Ki. Periksa dulu gih!" Nari yang masih setia dengan kaki Devan, menyuruh Kian untuk merasakan hembusan nafas Devan.


Kian mendekat ke arah Devan, menjulurkan telunjuk nya ke arah hidung Devan dengan vertikal. "Uhh.. lega. Masih hidup kak." Kian bersuara dan tersenyum.


"Astagfirullah, ya jangan gitu juga ngomongnya Ki. Tapi syukur deh kalo masih nafas. Ya udah mending bawa ke kamar aja."


Mereka berdua membopong lagi, dan langsung menidurkan Devan di atas tempat tidur Kian. Merasa wajah Devan yang sedikit pucat, Nari langsung mengarahkan tangannya ke dahi Devan.


"Ki, Devan panas banget nih. Lo ambil air hangat sana buat kompresin Devan. Inget hangat aja jangan panas."


"Iya kak tenang aja."


Kian langsung menuju ke dapur mengambil sisa air yang berada dalam teko nya tadi. Menuangkan air hangat setengah dengan air dingin juga setengah.


Dengan sigap ia langsung beranjak melangkah ke kamar namun ntah kesialan apa lagi yang menimpanya, membuat ia tersandung di tanggul kamarnya.


Alhasil air itu tumpah mengenai baju Devan, walaupun tak semuanya basah, ya tetap saja ada bagian yang basah. Dan hal itu akan memperburuk seseorang yang sedang sakit.


"Kian, pelan-pelan dong. Jangan ceroboh." Tegas Nari, Kian langsung berdiri dan meminta maaf. Sebenarnya bukan hanya Karena tanggul itu, namun Kian sudah terlalu lelah, harusnya sekarang ia istirahat bukan lagi bergerak. Ia tau tubuhnya tak senormal sebelumnya.


"Yah, terus gimana nih!"


"Kian juga gak tau kak. Kakak gak ada baju kaos gitu? Buat gantiin baju Devan?"


"Gak ada Ki. Kalo ada pun gak bakal muat buat Devan."


"Terus gimana? Oh ya kita pakein selimut tebel-tebel aja kak. Kian pinjem selimut kakak ya, Kian juga masih ada simpanan selimut nih."


"Oh ya udah oke deh. Gih lo bukain tuh baju. Buruan ntar malah tambah masuk angin nih bocah." Paksa Nari


"Ihhh!!! Gak mau Kian mah kak. Nanti mata Kian malah ternodai lagi. Kakak aja sana."


"Ya gue juga ogah kali Ki."


Tak lama terdengar seseorang dari pintu luar. Kian dengan segera keluar dan melihat pintu yang masih terbuka lebar itu. Dan ternyata itu adalah bu Eti dan Dio anaknya. Karena melihat pintu kontrakan Kian masih terbuka dan terang, bu Eti selaku pemilik kontrakan pun bergegas melihat apa yang terjadi.


"Jadi ada nak Devan disini Ki?"


"I-iya bu."


Setelah menjelaskan pada bu Eti, bu Eti pun mengurus Devan yang sudah ia anggap seperti anaknya itu. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, semua orang keluar dari kamar dan kembali ke rumah masing-masing, namun Kian masih di sana. Setia mengompres Devan hingga beberapa saat, ia juga keluar dari sana.


Ceklek


"Kak, Kian numpang tidur disini ya."


"Emm.. iya Ki. Lo tidur di kasur gue aja. Punya si Ale tempat tidurnya basah. Soalnya gentengnya bocor."


"Terus kakak?"


"Gue bisa tidur di lantai kok. Gue punya kasur tipis tuh."


"Eh gak usah kak. Biar Kian aja yang tidur di sana. Lagian Kian udah biasa tidur di sana."


Sedikit perdebatan terjadi di sana, namun akhirnya Nari mengalah. Ia tidur di tempat tidurnya sedangkan Kian tidur di lantai beralaskan kasur tipis, sarung, dan satu bantal yang menemaninya. Tak biasa memang, dan hal itu pasti akan berdampak pada esok harinya.


Falsh_back_off


.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2