Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#16


__ADS_3

Malam menjelang, sarah sudah pulang dari rumahnya. Menyisakan kian sendiri di rumah. Ia masuk ke kamar setelah bersih bersih dan tentunya sudah makan. Ia berniat untuk mandi lalu istirahat. Berjalan perlahan dan memasuki kamar melewati celengan celengan kosong yang sudah bolong di nakas samping pintu . Sekilas ia teringat kembali dengan Zanna yang sedang di rumah sakit.


Ada niat hati ingin memberitahukan kedua orang tuanya. Namun ia kembali teringat jika kedua orang tuanya sangatlah sibuk. Bahkan untuk menetap di rumah beberapa saat pun sangatlah sulit. Ayahnya yang selalu sibuk, dan bundanya yang tak pernah percaya dengan apa yang dilakukan ayahnya. Membuat mereka kemana pun akan selalu pergi bersama.


Kadang ia sendiri bertanya, apakah kasih sayang itu hanya berbentuk pemenuhan kebutuhan hidup agar tak merasa kekurangan? seperti yang dilakukan kedua orang tuanya. Hn, jika memikirkan itu ia tau jika kemarin ia berbohong pada Zanna yang mengatakan bahwa keluarganya baik baik saja. Namun jika ia jujur pun akan menambah cemas Zanna tentunya.


Hal ini sangat terlihat ketika Kian masih berumur lima tahun. Dan masih menjadi tetangga Zanna. Dulu bunda kian yaitu intan adalah asisten CEO yang cukup sukses. Dan ayah Kian yaitu Bram adalah karyawan biasa. Awalnya semua baik baik saja. Namun karna keharmonisan keluarga orang tua kian akhirnya mendapat ujian. Yang dimana bunda kian di buat gosip oleh teman kantornya kalau ia dekat dengan CEO itu bahkan sudah menjalin hubungan. Dari sana lah awal pertengkaran kedua orang tua kian yang sampai hari ini pun masih berlanjut.


Ayah kian merasa sangat kecewa, padahal bunda kian sudah mengatakan bahwa itu adalah fitnah. Setiap hari mereka selalu bertengkar, bram yang selalu mengungkit gosip hubungan intan dengan CEO-nya itu namun intan selalu membantah tidak melakukan hal itu. Bahkan kadang barang barang di rumah menjadi korban dari amukan Bram. Karna takut kian keluar rumah dan bertemu dengan Zanna. Kian yang menangis membuat Zanna iba. Zanna mulai menenangkan kian yang menangis itu sampai terlihat tenang. Dan hal itu akhirnya terus berlanjut ketika kedua orang tua kian bertengkar pasti ia akan lari ke rumah Zanna.


Karena tak mau diungkit tentang gosip itu sehingga intan memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengurusi kian. Namun tak lama dari itu kembali kasus Bram yang mendapat gosip seperti itu. Hingga intan berpikir bahwa Bram ingin membalas perbuatannya dulu. Dan terjadilah saling ketidakpercayaan antara dua orang itu. Dan intan pun memutuskan untuk membawa kian kemana pun ayahnya bekerja bersamanya. Hingga memasuki usia kian menduduki kelas satu SMA, Kian memilih untuk tidak akan pergi kemana pun. Ia hanya ingin tinggal dan tenang.


Ikut mereka pun sama saja. Setiap hari disuguhkan pertengkaran yang tiada henti. Yang terkadang membuat Kian depresi mengurung dirinya di kamar. Bahkan pernah kian hampir mati sebab berendam terlalu lama di bak mandi karena tak ingin mendengar pertengkaran keduanya. Hari demi hari berjalan dan waktu terus bergulir, namun kehidupan kian tetap sama dengan diwarnai aksi pertengkaran keduanya.


Pada saat kelas satu SMP kian pernah masuk rumah sakit karena penyakit tumor yang dideritanya. Pada saat itu tumor yang ada di kepalanya masih terbilang kecil dan belum merembet kemana mana. Dan akhirnya kedua orang tua kian memutuskan agar kian di operasi untuk membuang tumor itu. Namun kian harus istirahat selama berbulan bulan. Kedua orang tuanya pun seperti berbaikan dan memperlihatkan hubungan suami istri seperti sebelumnya. Kian pikir mereka sudah benar benar baik. Bahkan tak ada pertengkaran saat itu.


Namun selang enam bulan setelah kesembuhan kian. Orang tuanya kembali pada kebiasaan lama selalu bertengkar, membuat Kian sangat sangat sedih. Namun tidak untuk depresi seperti dulu, semakin ia tumbuh, Kian belajar untuk tenang dan tak terlalu memikirkan hal tersebut. Dicegah pun hasilnya akan sama saja. Kian tak pernah didengarkan oleh mereka.

__ADS_1


Sedangkan Zanna yang merupakan tetangga masa kecil kian selalu menjadi sandaran kian ketika mereka sedang bertengkar. Kian yang masih berumur lima tahun yang belum tau hal hal seperti itu membuatnya hanya menangis dan datang ke pelukan Zanna. Zanna pun pada saat itu sering di tinggal suaminya. Namun anak pertamanya selalu tak ingin pisah dari ayahnya dan membuat anak laki lakinya itu ikut kemana pun ayahnya pergi.


Dari situ lah kadang Zanna merasa kesepian, namun ternyata ada kian yang selalu datang pada Zanna. Dua orang yang saling merindukan keluarga mereka satu sama lain itu pun seperti membuat ikatan hubungan keluarga baru. Yang dimana Zanna sebagai seorang ibu dan Kian adalah anaknya. Namun hal itu tak berselang lama. Hal ini dikarnakan tugas ayah Kian yang berada diluar kota dan keinginan bunda nya yang selalu mengikuti ayahnya membuat Kian dan Zanna berpisah ketika kian berumur sepuluh tahun.


Namun beberapa tahun kemudian saat kian menginjak kelas tiga SMP ia berniat kembali ke kota asal untuk bertemu Zanna. Dengan bermodalkan uang secukupnya dan kenekatannya bahkan kedua orang tuanya pun tak tau ia pergi ke rumah lamanya. Tapi takdir berkata lain, tenyata setelah dua tahun kepindahannya, Zanna juga ikut pindah. Saat kian bertanya dengan orang yang ada di sana, tak ada yang tau alamat baru Zanna. Dengan rasa kecewa yang menggerogoti Kian pun pulang.


Tanpa sadar air mata kian mengalir mengenang peristiwa peristiwa lalu yang ia alami. Dan malam ini dia berniat untuk datang ke rumah sakit menjenguk Zanna. Ia benar benar membutuhkan orang seperti Zanna. Dengan bergegas ia mandi dan bersiap.


Namun langkahnya kembali terhenti, hatinya bimbang antara harus bertanya atau tidak pada kedua orang tuanya. Namun selama pergi, mereka juga tak pernah mengirimkan pesan sesingkat apapun pada Kian, sehingga ia berniat tidak ingin bertanya pada orang taunya. Tapi jika ia bertanya dan memberitahukan mereka, Kian sangat merasa bersalah karena melanggar perintah orang tuanya.


"Halo assalamualaikum bund. Gimana kabar bunda?"


"waalaikum salam ki. Bunda baik baik aja kok. Ada apa hm?" tanya dari sebrang dengan suara yang sengaja dipelankan namun kian bukan anak kecil yang mudah sekali di bohongi dan tidak bisa membedakan suara orang yang habis menangis dan tidak.


"Emm....Kian Itu......" belum selesai Kian berucap terdengar suara orang lain di balik hp itu.


"@*#^€@&× Kamu selalu saja curiga. Dia cuma sekretaris ku. kau paham tidak!!!!! Jangan....^@€@*×&£#£@@**"

__ADS_1


Setelah mendengar ocehan itu Kian langsung menutup telpon itu. Ia tau bahkan disaat sekarang pun orang tuanya masih saja bertengkar.


'ayah, bunda. Bahkan disaat kalian jauh pun kian masih bisa mendengar pertengkaran kalian. Kian pikir kalian hanya bertengkar karena dekat kian namun kian salah. Jika kalian hanya bertengkar saja buat apa ada hubungan ini. Jika kalian memikirkan kian maka sikap kalian juga gak akan seperti ini. ini sama saja kalian membunuh kian secara perlahan.....hiks hiks hiks....'


Kian menangis dan membantin. Begitu pedihnya menjadi seorang anak yang ada bahkan menjadi alasan suatu hubungan ada namun malah tak dianggap seperti ini.


.


.


.


.


.


"Suatu hubungan akan terus berjalan baik apabila terdapat kepercayaan dan komunikasi yang baik."

__ADS_1


__ADS_2