Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#88


__ADS_3

"Hey, kalian sedang menggosipiku ya.." Ucap seseorang yang baru datang dengan suara yang ramah dan sepertinya Kian kenal dengan suara itu.


'Astaga apa mungkin?!'


"Akhirnya kamu dateng juga." Ucap Wanita cantik yang ada di hadapannya.


Semua orang tersenyum kecuali Kian. Saat laki-laki itu datang menghampiri meja dan langsung menyalami semua orang yang ada di sana tak terkecuali Kian sendiri.


Dan betapa terkejutnya Kian, jika orang tersebut adalah,


"Jerry?!" Ucapnya tak percaya dengan suara yang teramat kecil. Namun laki-laki di depannya itu seolah tak terkejut sama sekali dengan kehadiran Kian. Bahkan ia hanya menyunggingkan senyum yang begitu manis membuat semua orang terlena.


Ia engulurkan tangannya hendak berjabat dengan Kian, namun Kian enggan membalas jabatan tangan itu. Hanya menatap dalam Jerry. Dengan rasa tak percaya menyeruak dalam dirinya.


"Ekhem... Tante sudah bilangkan Kian. Kamu akan langsung menyukainya." Timpal Tasya.


Intan yang sadar dengan perlakuan Kian, membuatnya manyenggol sedikit lengan Kian untuk membangunkan Kian dari lamunan dan menerima uluran tangan itu.


"Kian..." Bisiknya, Sadar dengan hal itu, terpaksa Kian menjabat tangan orang yang benar-benar ia benci.


Ya, selama Kian berteman dengan Jerry, ia tak tau sama sekali dengan siapa orang tua Jerry atau pun tempat tinggal Jerry. Mereka memang tak sedekat itu, lagi pula saat mengobrol mereka berdua hanya membahas organisasi, terkadang juga Jerry sedikit memancing topik yang bersifat pribadi. Namun Kian langsung menepis kasar itu, ia bahkan tak mau orang lain tau tentang dirinya dan keluarganya.


"Kamu cantik Ki malem ini." Ucap Jerry sambil menyunggingkan senyum manis yang biasa ia tebarkan di sekolah.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya wanita cantik itu lagi dengan senyum sumringah, dan diangguki oleh Jerry menandakan memang benar begitu.


"Wah, baguslah kalau begitu. Maka semua ini tak kan canggung lagi dan juga tak perlu berlama-lama lagi. Bagaimana kalau kita langsung putuskan tanggal pernikahannya?" Usul laki-laki yang ia adalah ayah dari Jerry sendiri.


Dan tawa mereka pun terdengar, seakan itu adalah hal yang sangat bagus dan mereka tunggu-tunggu. Semuanya tersenyum bahagia kecuali Kian. Otaknya penuh dengan pertanyaan dan memang hanya bisa di jawab oleh Jerry.


"Permisi Taun dan Nyonya, ini pesanannya." Suara seorang pelayan itu membuyarkan lamunan Kian.


Saat semua makan sudah tersaji di meja, semuanya menyantap dengan bahagia namun lagi-lagi tidak dengan Kian. Bahkan melihat makanan itu ia menjadi tak berselera. Bukan karena diet yang ia bilang pada mama Jerry melainkan ia benar-benar tak berselera. Ditambah lagi dengan melihat Jerry yang seakan tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.


"Kian, ada apa sayang? Apa kau masih terkejut karena Jerry yang akan menjadi calon suamimu? Hahah... Lihatlah Intan, Bram, Rio, betapa menggemaskannya Kian kita ini. Apa kalian pernah punya hubungan sebelumnya?" Tanya Tasya yang sangat ramah dengan senyum penuh arti, seperti mencari sebuah kebenaran dari pertanyaannya itu.


Kian hendak menjawab, namun langsung di dului oleh Jerry, "Iya ma. Kita temen satu organisasi di sekolah. Iya kan Ki?" Ucapnya.


"Oh jadi kalian satu sekolahan? Oh astaga, sepertinya mama terlalu banyak menghabiskan waktu liburan mama di London hingga mama tak tau tentang kalian nak. Maaf ya."


"It's okey ma. Don't worry. Anak mama sekarang sudah besar, dan sebentar lagi akan memiliki keluarga sendiri." Jerry tersenyum nakal dan mengedipkan satu matanya ke arah Kian.


Kian tak membalas sepatah kata pun, melainkan memandang Jerry dengan tatapan tajamnya. Seperti ingin mencekik Jerry saat ini juga. Ntah kenapa dari sikapnya tadi siang membuat Kian merasa berbeda pada Jerry. Tak senyaman ia menganggap Jerry sebagai temannya lagi.


"Baiklah semua, lebih baik kita santap dulu makannya selagi masih hangat. Setelah ini kita akan mengobrol membahas pernikahan anak kita." Ucap Rio menyela, dan semunya pun mulai makan.


Namun tidak dengan Kian. Ia tak merasa lapar saat ini. Otaknya terus berpikir bagaimana cara ia menggagalkan pernikahannya ini.


Selain ia tak memiliki perasaan terhadap Jerry, ia juga tak mau menyakiti perasaan sahabatnya. Bagaimana Sarah menyukai Jerry, bahkan ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sarah jika tau hal ini. Jerry adalah orang kedua yang disukai oleh sahabatnya itu. Ia tak mau jika sahabatnya akan beranggapan bahwa ia selalu merebut kebahagiaan dirinya.


Namun ketika ingatan beberapa waktu lalu kembali berputar di otaknya, ia juga merasa kesal dan tak suka jika Sarah memiliki hubungan dengan Jerry. Ia sangat kecewa dengan Jerry yang memperlakukan perempuan seperti itu. Ia tak mau jika Sarah akan merasa sakit hati untuk kesekian kalinya, hanya karena laki-laki.

__ADS_1


"Kian ada apa?" Tanya Tasya padanya, membuat Kian menoleh. Kian ingin sekali mengeluarkan semua uneg-uneg saat ini. Dimana semua orang menganggap sikap Jerry itu baik, mungkin beberapa waktu lalu ia akan setuju dengan hal itu namun untuk saat ini tidak! Ia menolak besar kenyataan itu.


"Maaf sebelumnya, om, tante, ayah dan bunda. Boleh Kian permisi dan pinjam Jerry sebentar? Kian perlu bicara dengannya, berdua." Ucap Kian dengan ragu tapi menampakkan wajah memohon pada mereka, namun mereka semua hanya terdiam setelah mendengar suara Kian di sela makan itu.


"Hahaha... Iya Kian. Silahkan saja. Om paham dengan situasi sekarang. Kalian boleh bicara, kalian juga pasti perlu waktu berdua, jadi silahkan." Suara berat itu, terdengar santai dan ramah agar tak terlalu canggung hingga memecahkan keheningan setelah Kian berucap.


"Kian... Kian, jadi dari tadi kamu termenung hanya ingin bicara pada Jerry? Hahaha... kamu lucu sekali. Nak, Jerry juga akan menjadi suamimu sebentar lagi. Jadi nanti kau tak hanya meminjamnya sebentar, melainkan memilikinya seumur hidup. Maka silahkan saja jika kau ingin bicara padanya." Seru Tasya menyetujui ucapan suaminya.


"Kau benar Tasya. Kian ada-ada saja tingkahnya." Bram ikut bersuara, takut jika mereka akan mencurigai sesuatu.


Kian tak perduli dengan kalimat-kalimat menyeramkan yang dilontarkan para orang tua. Yang ia fokus sekarang adalah Jerry, ia menatap Jerry dengan serius seolah memintanya untuk ikut bersama dirinya. Jerry yang mulanya terlihat santai menikmati makanan, menjadi menatap Kian dengan wajah datar. Seolah tau apa yang akan diucapkan Kian padanya.


Ia bangkit dan berjalan ke arah Kian. Menuruti permintaan perempuan kecil itu. Mereka berdua langsung berjalan beriringan meninggalkan para orang tua. Dengan Kian menarik tangan Jerry yang ada di belakangnya.


"Lihatlah anak muda sekarang, malu-malu tapi mau." Timpal Bram, yang masih memperhatikan kepergian mereka.


"Haha... Kau benar Bram. Aku tidak menyangka kalau kita akan menjadi besan sebentar lagi." Seru Rio.


Keempat orang itu hanya tersenyum-senyum melihat kepergian mereka berdua yang terlihat menggemaskan. Padahal berbanding terbalik dengan keadaan hati Kian saat ini. Ia ingin marah sekali rasanya, tak suka, kesal, semuanya bercampur aduk. Hingga ia tak menyadari kalau sekarang ia berjalan dengan terburu-buru dan menarik Jerry dengan seenaknya.


Sedangkan mpu yang ditarik hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan. Tak ada bantahan, tak ada penolakan, ataupun tak ada kalimat yang mengatakan lepas! menyingkir! atau ada apa! Hanya diam, tak berkutik. Ntah apa yang ia pikirkan sekarang, hingga membuatnya seperti itu.


Sesampai di suatu lorong panjang di cafe, Kian berhenti. Serasa keempat orang itu tak lagi dapat melihat mereka, Kian segera melepaskan genggaman tangannya. Berbalik ke arah Jerry yang ada di belakang.


Kian melihat Jerry dengan wajah santai tanpa dosa. Bahkan tak merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Membuat Kian sangat kesal dan menarik nafas kasar.


"Huh... Oke Jer, gue bakal langsung to the point aja. Gue mau batalin perjodohan ini. Gue belum mau nikah dan gue gak punya perasaan apa-apa sama lo dan gue rasa lo juga gitu. Gue juga gak mau nyakitin perasaan sahabat gue. So, ayo kita kerja sama buat batalin ini." Ucap Kian dengan satu tarikan nafas tanpa berhenti, dan dengan wajah yang serius.


"Tapi gue bener-bener gak punya perasaan sama lo Jer. Plis lepasin gue dari rantai ini." Mohon Kian, berusaha bicara baik-baik dengan Jerry agar ia mengerti. "Lagian gue gak mau nyakitin perasaan sahabat gue Jer. Lo tau kan Sarah suka sama lo."


"Kenapa?! Karna cowok itu kan!! Cowok aneh, gila dan miskin itu kan?!!! Apa kurangnya gue sama dia Ki? Bahkan gue punya segudang keunggulan dari dia! Dia gak guna! Dan satu hal lagi gue gak pernah ada rasa sama sagabat lo tuh. Dia aja yang mudah baperan." Wajahnya berubah santai setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Heh! Omongan lo tuh gak bener ya!!. Gue sama Devan gak ada apa-apa. Dan gue gak nyangka, mulut lo bisa sepedes itu ngehina orang Jer. Padahal dia juga anggota tim basket lo!! Dan gue ingetin ke lo ya Jer, jangan pernah lo coba buat permainin sahabat gue!!"


"Gak bener apanya!! Gue jelas-jelas lihat akhir-akhir ini lo sering deket sama dia. Jalan bareng, nugas bareng. Apalagi alasan lo he? Lo pikir gue takut sama ancaman lo Ki? Yang harusnya takut itu lo. Karena sekarang lo gak bisa nolak gue lagi!" Kini Jerry berjalan kearah Kian, dan memojokkan Kian.


"Jer!! Lo mau apa!!! Mundur gak lo! Atau mau gue tampar lagi lo!" Kian terus berjalan mundur, sebab Jerry terus maju ke arahnya.


"Lo? Mau tampar gue? Silahkan kalo lo bisa. Karena gue gak bakal ngebiarin itu terjadi lagi!" Ucapnya licik penuh penekanan.


Kian tak mau kejadian di sekolah itu terjadi lagi, hingga ia sudah mengangkat tangan hendak menampar Jerry, agar laki-laki itu sadar. Tapi tangan itu bukannya mengenai pipi Jerry malah di tangkap oleh si mpu, dan langsung mendorong Kian ke tembok yang ada di belakang Kian.


Kini Kian terhimpit ke tembok dengan tangan yang diangkat Jerry ke atas kepalanya. Mengunci pergerakan tangan Kian agar tak bisa mengenai wajahnya lagi.


"Jerry lepas!! Lo udah gila ya!!"


"Kan lo sendiri yang narik gue ke sini. Lo mau apa? Jangan-jangan lo cuma pura-pura ngehindar tadi siang supaya gue bisa ngulang lagi hal itu kan." Ucapnya menyeringai.


"Cuih, gak sudi gue!! Singkirin pikiran kotor lo itu! Lo pikir gue gak tau, tuh bibir udah bercap dari berbagai cewek. Haha Jerry, gue gak selemah dan sebodoh itu. Gue liat lo ngelakuin hal itu ke adek kelas sepulang sekolah tadi. Gue gak nyangka cowok yang dikenal baik, berhati lembut, ramah, dan penyayang kayak lo, punya sifat gila kayak gitu. Gimana kalo kedua orang tua lo tau? Malu gak ya mereka? Dan gue bersyukur, walaupun lo gak punya perasaan ke Sarah itu akan lebih baik. Supaya Sarah gak dapet cowok segila dan semenjijikan lo!! Lo juga gak pantes buat Sarah, dengan perilaku lo kayak gini!!!" Kian tak kalah sinis.


Mendengar ucapan Kian membuat Jerry begitu marah. Apalagi sampai Kian menghina dirinya seperti itu. Jerry mencengkeram rahang Kian dengan kuat, sedangkan satu tangannya lagi mengunci pergerakan tangan diatas kepala Kian dengan Kuat pula.

__ADS_1


"Akhh!!" Rintih Kian kesakitan karena cengkeraman itu.


"Lo denger ya! Apa pun yang gue lakuin, lo gak berhak buat ikut campur dan bilang ke siapa pun termasuk orang tua gue. Lo tau Kian? Tanpa perusahaan papa gue, perusahaan papa lo tuh cuma sampah! Gak usah belagu jadi cewek lo. Dan apapun yang terjadi lo tetep nikah sama gue." Seringai itu muncul lagi, Kian sudah mengeluarkan bulir bening dari matanya. Sebab mendapati perlakuan Jerry yang biasanya lembut, menjadi sekasar ini.


"Dan satu hal lagi Kian. Pantes gak pantesnya seseorang buat gue, cuma gue yang nentuin. Bukan lo!!" Hardik Jerry, melepaskan cengkraman itu, ketika melihat Kian sudah menangis.


"Jadi maksud lo? Pernikahan ini cuma karena bisnis?"


"Iya. Papa lo gak mau berhutang sama papa gue. Dan gue cuma minta lo. Setelah itu timbal balik selesai, tak ada rasa hutang piutang lagi setelahnya." Ucapnya enteng dan melepaskan Kian.


Kian yang mendengarnya hanya bisa menangis, seluruh tubuhnya terasa lemah dan kaku, untung saja ada dinding yang bisa menopang tubuhnya agar tak tumbang sekarang. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa ayahnya yang begitu dipercaya dan disayanginya bisa berbuat seperti ini. Seperti menjual anaknya sendiri pada orang lain, hanya karena bisnis?


"Tapi Jer, gue mohon sama lo. Cuma lo yang bisa batalin pernikahan ini." Pinta Kian sendu, kembali berucap dengan nada yang masih bergetar.


"Lo kenapa sih Ki, gak mau nikah sama gue?! Apa kurangnya gue sampai lo nolak he? Cuma karena Devan? Anak yang gak ada apa-apanya itu, iya?!" Bentaknya.


"Dari kejadian siang sampai malem ini, buat gue lupa sama temen gue yang namanya Jerry. Gue tau dia anaknya playboy, tapi gue gak pernah nyangka kalo dia bakal sejahat ini. Bahkan tega ngehina temen satu timnya. Yang gue tau, Jerry tuh anak baik, dan lemah lembut sama yang dibilang orang tuanya." Ucap Kian membuang muka dari hadapan Jerry, sambil terisak.


Sepersekian detik kemudian, kembali menoleh ke arah Jerry dengan mata yang tetap sendu dan nada yang memohon, "Kembaliin temen gue Jerry bisa? Dia gak bakal seegois ini. Dia baik, hiks.. hiks."


Bukannya mereda, Jerry tambah murka karena ucapan Kian seolah sekarang menganggap bukan dirinya melainkan orang lain.


"Lo emang gak pernah anggap gue temen lo Ki. Dan biarkan anggapan itu ada!!" Marahnya langsung mendekati Kian, hendak mengincar bibir ranum itu, namun...


Bukh


Kian menendang Jerry hingga termundur beberapa langkah. "Gue udah minta dengan baik-baik Jer. Dan gue juga udah janji sama diri gue, gue gak akan bilang sikap gila lo ini ke orang lain! Tapi lo tetep aja maksa dan gila. Maaf Jer, gue gak akan mau jadi milik lo, sekarang ataupun nanti!!" Ucap Kian dengan serius dan menghapus air matanya. Berlalu pergi meninggalkan Jerry sendiri dan kembali ke meja para orang tua itu.


Mereka tersenyum mekar ke arah Kian saat Kian sudah berada di hadapan mereka.


"Udah selesai Ki? Haduh lama banget ya, sampai habis makanan tante nungguin kalian. Oh ya dimana Jerry?"


Wajah Kian masih datar dengan mata yang masih memerah, terlihat seperti orang habis menangis.


"Ki, mata kamu kok basah?" Tanyanya lagi.


Kian menarik nafas dalam dengan posisi yang masih berdiri memandangi wajah mereka satu persatu.


"Om, tante, Kian dengan teramat sangat minta maaf sebesar-besarnya atas keputusan ini. Tapi Kian gak bisa terima perjodohan ini." Ucap Kian mantap, yang tentu saja membuat ke empat orang itu membulatkan mata tak percaya. Tak bisa bicara dan hanya menatap Kian dengan tatapan marah.


"Kian!!!!"


.


.


.


.


tbc

__ADS_1


__ADS_2