
Pagi yang begitu cerah, membuat Kian terpaksa bangun dari tidur panjangnya. Bangkit dari tempat tidur yang sangat nyaman, merenggangkan sedikit ototnya dan langsung menuju kamar mandi.
Tubuhnya terasa begitu berat karena kelelahan dan begitu pun dengan matanya. Kedua mata yang sudah bengkak dan hitam karena menangis semalaman. Membuatnya begitu terlihat mengenaskan pagi ini.
Setelah selesai mandi, ia hendak mencuci pakaiannya. Namun karena air yang ada di kontrakan itu terbatas hanya bisa untuk mandi, hingga membuat para penghuni kontrakan harus mencuci baik itu alat makan atau pun pakaian, di sumur belakang. Sumur yang ada di belakang kontrakan Kian, sebab kontrakan Kian berada di paling belakang.
Kian keluar lewat pintu belakang, dilihatnya ternyata sudah banyak ibu-ibu, dan perempuan sebayanya di sana, sedang asik mencuci juga. Kian mencuci baju dalam jumlah banyak, karena ia tak terlalu sempat harus mencuci setiap harinya, ditambah lagi jika ingin mencuci ia harus menimba air terlebih dahulu. Hingga hal itu sedikit sulit dilakukannya di hari biasa.
Suara canda dan tawa begitu ramai di tempat itu. Semua orang berbicara dengan riangnya, kecuali Kian. Ntah mungkin karna keadaanya yang masih lelah hingga ia begitu pendiam pagi ini. Yah, semalam setelah pulang ia berlanjut mandi dan langsung belajar. Membuatnya bergadang kembali dengan waktu yang lebih lama dari malam-malam sebelumnya. Otaknya tak terlalu fokus hingga belajar pun sedikit sulit semalam. Namun selalu ia paksakan untuk belajar agar nilainya tak tambah menurun.
"Loh Ki. Wajah kamu kenapa? Kamu sakit ya?" Nari yang baru saja selesai dengan kegiatannya melihat Kian sedang fokus mencuci tanpa memperdulikan sekitar.
"Biasa itu, paling sakit hati."
"Sakit hati kenapa?"
"Yah jelas lah. Mungkin karna Devan lah. Bisa aja kan Devan cuma anggap dia temen, tapi dia mengharapkan lebih. Iya gak? Hahaha.."
"Emang iya?"
"Inget, Devan tuh ganteng pake banget. Untung aja dia adek gue, kalo seumuran atau diatas gue udah gue gebet dari kemaren. Lagian kayaknya kelas Devan bukan dia deh."
"Loh, tapi kan sekarang lagi nge-trand tuh, cowok lebih muda dari ceweknya."
"Lagian dengan wajah gitu mana mau Devan ama dia. Hahaha..."
Penuh cibiran di sana tentang Kian dan Devan. Membandingkan mereka berdua yang seolah tak ada kata cocok jika disatukan. Namun Kian hanya memandang datar mereka. Tidak berniat membalas atau marah. Lagi pula apa yang mereka katakan itu benar adanya hanya bagian sakit hati karena Devan yang tidak-nya. Kian memilih untuk tetap melanjutkan kegiatannya dari pada harus meladeni fans Devan yang begitu over.
"Bener banget. Devan kan masih muda, gak mungkin mau sama tante tante kayak kalian. Udah fokus aja sama kerjaan lo pada, dari pada gunjingin orang!" Marah Nari, yang berlalu pergi.
Terdengar bisikan-bisikan iblis yang menyeruak di telinga Kian, dari siapa lagi kalau bukan para fans yang belum selesai menggunjing dirinya. Kian tetap diam walaupun telinganya terasa panas. Lagi pula walaupun mereka menjengkelkan mereka juga pernah baik pada dirinya. Terbukti ketika awal masuk ia ke dalam kontrakan, walaupun dengan tanda kutip ada maksud di balik itu.
Setelah selesai, ia langsung beranjak pergi menuju jemuran yang juga masih ada di belakang kontrakannya. Menjemur satu per satu bagian dengan begitu rapi. Tak lama, terdengar seseorang meneriaki dirinya,
"Ki!!! Kian....!!"
Merasa namanya di panggil Kian pun menoleh, "Kenapa kak?"
"Tuh ada pacar lo nungguin di depan." Ucapnya sengaja di besar besarkan.
"Pacar?" Kian mengerinyitkan dahi, bingung karena merasa kata itu salah.
"Iya... Siapa lagi kalo bukan Devan. Dia bilang mau ngajak lo jalan."
Sedetik kemudian terdengar lagi bisikan-bisikan yang membuat telinga terasa begitu panas. Nari melirik ke arah sumur itu, dengan wajah yang begitu bahagia dan senyum tersungging di sana, seolah mengejek mereka berlima yang sedang asik bergosip.
"Ya udah kak, Kian siap-siap berangkat kerja dulu." Ucapnya hendak masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.
"Lo serius Ki? Lo kerja dimana sih, sampe hari minggu aja lo harus kerja dan berangkat sepagi ini? Bener-bener deh tempat kerja lo!" Kesal Nari
"Hari minggu gak kerja kak, yang kerja cuma khusus buat yang mau lembur kak. Kian butuh banget uang sekarang, jadi hari minggu pun..."
Belum selesai ia bicara sudah dipotong oleh Nari duluan, "Hari minggu pun kerja.. Iya udah. Good luck aja. Lo yang kerja, gue yang ngerasa capek Ki, Ki..." Dumel Nari meninggalkan Kian.
Kian memilih masuk ke dalam kontrakan dan melirik jam dinding yang masih menunjukan pukul tujuh pagi. Sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk bekerja, sebab Cafe buka saja pukul sembilan pagi. Jika dalam perjalanan mereka habiskan waktu sekitar lima belas menit di mobil bus dan dua puluh menit mereka berjalan di sepanjang gang dan sampai di halte tujuan, maka sisa waktu masih satu jam dua puluh lima menit. Apa yang akan mereka lakukan di sepanjang waktu itu? Apakah membersihkan Cafe dari dalam sampai luar ruangan? Atau ada hal lain? Kira-kira seperti itulah pemikiran dari seorang Kian.
__ADS_1
Dengan memakai celana kulot cream, dipadu kemeja biru polos dengan lengan di gulung menjadi 3/4, sepatu putih dan tas hitam selempang satu-satunya yang ia miliki. Serta tak lupa rambut yang selalu di kuncir satu, membuatnya terlihat cantik dan sedikit menambah kesan dewasa. Sebenarnya pagi ini ia tak mau memakai baju itu, hanya saja bajunya sudah habis terpakai dan masih dalam proses pengeringan.
Ceklek
Pintu terbuka, menampakkan punggung Devan yang lebar dan menjulang tinggi.
"Gue biasa pergi jam setengah sembilan. Lagian kenapa lo ke sini? Harusnya kan lo langsung aja ke Cafe. Biasanya aja gitu." Ucap Kian sembari mengunci pintu kontrakannya.
Bukannya menjawab Devan yang berbalik malah memperhatikan Kian dari ujung kaki sampai ujung kepala. Yang tentu membuat Kian merasa risih dan aneh.
"Kenapa? Lo liat lagi gue colok tuh mata!!" Seru Kian, menatap tajam Devan.
"Aelah Ki, yang peka dikit dong." Seseorang ikut nimbrung di sana. Kian menoleh dan menatap heran ke arahnya. "Devan tuh ngajak lo jalan bukan kerja. Ya setidaknya lo dandan gitu. Gak usah tebel-tebel, cukup lipstik tipis aja sama blush on dikit di pipi." Lanjutnya, sambil mengedipkan matanya ke Devan,
"Iya kan Van?"
Kian langsung mengarahkan pandangannya ke Devan, meminta kejelasan apakah yang dibilang oleh Nari itu benar? Namun Devan tak menjawab sama sekali, ia langsung berlanjut melangkah meninggalkan Kian yang masih mematung melihat punggungnya.
Kian kembali melihat Nari, tapi Nari malah menunjukkan ekspresi aneh. Ntah apa itu, seperti senyum penuh arti. Kian melihatnya sebentar lalu melangkah pergi menyusul Devan.
"Oh astaga, kenapa tingkah manusia ini sungguh berbeda dari manusia lainnnya? Ia datang seenaknya lalu pergi juga begitu. Gue juga tau pasti yang dibilang kak Nari itu salah, tapi ya gak usah pake acara ngambek juga kali. Gue juga gak suruh dia datang!! Arghhh!! Dasar manusia aneh!!!" Gerutu Kian dalam hati sambil menyeimbangkan langkah dirinya dan Devan.
__________
Jalanan begitu ramai pagi ini, padahal ini masih terbilang sangat pagi. Tapi ntah lah, mungkin karna weekend semua nya menjadi keluar rumah dan jalanan pun menjadi ramai. Tapi bukankah seharusnya jika weekend itu adalah waktu yang biasa di habiskan seseorang bersama keluarganya di rumah?
Lagi pula, minggu sebelum sebelumnya tak seramai ini. Tapi Devan seperti memiliki sesuatu yang bisa memprediksikan hari. Hingga mereka bisa datang lebih cepat dari biasanya. Namun datang cepat pun tak menutup kemungkinan akan baik-baik saja. Yah, seperti kebagian kursi dalam bus.
Terlihat, begitu banyak orang yang sudah menunggu di halte. Kian berpikir sejenak, apakah hari ini adalah hari istimewa? Atau ada sebuah perayaan? Ia kembali membuka ponselnya hendak mencari tau sesuatu namun nihil. Tak ada yang tau, sampai sampai saking asiknya ia hampir menabrak tiang halte yang begitu besar. Untung saja dengan cekatan Devan langsung melindungi kening itu hingga benjol pun bisa dihindari.
Sepuluh menit berlalu, mereka semua menunggu di sana, akhirnya bus yang ditunggu pun datang. Kian dan Devan yang awalnya berada di depan malah di dahului oleh orang-orang yang ada di belakang dan sampingnya. Hingga pada saat itu terjadilah desak-desakan. Membuat Kian langsung terpontang panting bahkan menabrak lengan Devan. Ia langsung menarik Kian, agar tak terjadi korban serobotan para penumpang.
"Van! Lo mau kemana? Bus nya mau berangkat!" Teriak Kian, tapi Devan malah tetap fokus ke langkahnya.
Kian tetap di dalam mobil dan,
"Wahhhh....!!" Teriak orang-orang yang ada di luar bus. Kian segera turun dan melihat.
"Maaf mbak, ini kenapa ya?"
"Lo gak liat tadi? Itu tuh cowok ganteng itu udah nyelametin seorang nenek yang hampir di tabrak motor. Terus sekarang malah negbantu tu nenek nyebrang jalan. Gila, udah ganteng, baik, jiwa sosial pula. Keren sih nih cowok." Ucapnya penuh bangga, dan tak sedikit orang yang mulai membuat heboh hal itu dengan mengunggah kejadian barusan.
Kian melihat dan mendelik siapa yang sedang disebut oleh perempuan tadi. "Devan? Nenek itu?"
_________
"Makanya kalo nolongin orang lain tuh mesti hati-hati. Ini malah buat luka sendiri." Ucap Kian mengelap sisa darah, mengobati dan menempelkan plester di sikut Devan ketika mereka sudah sampai di Cafe.
Cafe mereka buka sendiri dan masih sangat sepi. Bahkan tak ada karyawan lain selain mereka berdua. Biasanya karyawan yang ada di hari minggu akan lebih sedikit dari hari biasanya. Sebab banyak karyawan yang ingin libur di hari ini.
"Kenapa lo gak pake jaket hari ini Van? Kalo aja lo pake mungkin gak bakal luka kayak gini." Ucap Kian setelah selesai mengobati lengan Devan.
"Lagi gak pengen." Singkatnya lalu berlalu mengambil posisinya sebagai pembuat Coffe di Cafe itu. Kian hanya mendelik sebentar lalu membersihkan kotak P3K.
"Oh ya Van, kenapa hari ini kita buka pagi banget? Baru jam delapan. Lebih cepat dari hari minggu biasanya."
__ADS_1
"Kalo siang rezekinya nanti di patok ayam."
Ntah itu semacam bualan dikala sepi atau bagaimana Kian tak tau. Ia membenarkan kalimat yang dilontarkan Devan, hanya saja Devan sangat jarang bisa berkata seperti itu. Apalagi kata-kata yang keluar bukan seperti Devan biasanya.
"Wah, pagi banget kalian dateng." Sapa Arya yang baru saja tiba.
"Hehehe... iya kak. Kian juga gak tau, Devan tiba-tiba mau buka jam segini."
"Ouh gitu, tumben banget. Em, oh ya Ki, mulai malam ini kalian gak usah kerja ya."
"Loh kenapa kak? Kian buat salah ya?" Terlihat Kian begitu cemas.
"Enggak-Enggak. Cuma kan besok kalian harus ujian, kalian perlu waktu belajar kan pastinya. Gunain waktunya buat belajar aja Ki."
"Kak Arya tau dari mana?"
"Gak penting. Yang penting mulai malam nanti sampai satu minggu penuh, lo sama Devan gak usah kerja. Masuk kerja siang aja dan malam buat belajar. Buat gue bangga sama hasil ujiannya ya Ki." Ucap Arya tersenyum dan mengacak lembut rambut Kian, kemudian berjalan pergi menuju ruangannya.
Kian langsung menghampiri Devan yang masih sibuk bekerja. "Pasti lo yang bilang ke kak Arya kan? Ngapain sih Van?! Gue bener-bener bisa urus semuanya. Gak usah sok jadi pahlawan deh. Gue bisa belajar pulang dari kerja malam." Marah Kian.
"Itu keputusan dari bos. Kenapa lo marah sama gue? Lagian kalo lo mau protes ke dia lah ngapain ke gue. Dan aturan dari kerja di sini emang gitu, berlalu untuk karyawan lain juga yang masih sekolah. Gak usah kePDan lo." Cueknya.
Kian hendak berkata lagi, namun keduluan para pelanggan datang. Karna baru mereka berdua yang ada, maka Devan memilih untuk langsung keluar dan melayani mereka.
Beberapa menit berlalu Devan tak kunjung kembali, hanya terdengar beberapa teriakan gadis dari luar yang begitu heboh. Membuat Kian menjadi penasaran apa yang terjadi.
Kian mengintip dari kaca pintu dapur, terlihat kalau Devan sedang dikerumuni beberapa perempuan. Bahkan ada yang meminta foto bersama nya.
"Kak, boleh kan foto sama aku juga. Nanti aku akan borong semua menu yang ada."
"Aku juga kak, aku juga."
"Ternyata ini cowok yang lagi viral tadi pagi itu. Memang sangat tampan."
"Yah, aku menyebutnya tampan dan baik. Dia benar-benar seperti prince charming."
"Ya aku setuju. Aku tidak akan melewatkan ini. Jika dia pelayan dari cafe ini, maka aku akan sering sering datang kemari. Jadikan aku pelanggan tetap di Cafe ini ya!!"
Dan masih banyak lagi kalimat yang terlontar di sana. Yang tentu saja membuat Kian malah menggerutu. Padahal bukan dia yang menjadi buah bibir di sana.
"Hmm, baru aja nolongin nenek-nenek tadi, sekarang udah viral aja. Padahal kan berbuat baik itu bisa dilakukan siapa aja dan sudah menjadi kewajiban dari manusia untuk saling tolong menolong. Kenapa ini malah seperti baru saja Devan menyelamatkan dunia dari serangan alien. Apa jangan-jangan perbuatan baik udah mulai langka ya? Gue rasa gak mungkin deh. Pake minta foto lagi, terus bilang ganteng. Wajah Devan aja gak seganteng yang mereka banggain. Ihh!!"
"Kenapa Ki? Lo punya masalah sama tuh cewek cewek?"
"Astaga, kak Arya... Kian jadi kaget. Sejak kapan sih di situ?!" Tanya Kian yang ternyata Arya berada di sisi luar kaca sebelah kirinya.
"Udah dari tadi sih Ki. Liat lo aneh banget nemplok di kaca usah kayak tokek aja. Pake acara menggerutu lagi. Kenapa? cemburu ya?" Arya tersenyum kikuk ke arah Kian.
"Ih enak aja. Gak ya kak. Cemburu apaan, males banget cemburu ama orang kayak gitu. Lagian Kian dari tadi tuh nungguin pesanan nya loh kak. Eh malah mereka asik foto-foto. Bikin kesel aja." Setelah mengatakan hal itu Kian langsung beralih ke meja toaster-nya.
"Hmm, jadi gini rasanya di cemburuin ya? Hahahaha..."
.
.
__ADS_1
.
tbc