
"Van, gimana keadaan mama?" tanya Kian ketika mereka berdua sudah sampai di rumah sakit. Kian yang terlihat begitu khawatir bahkan sepanjang jalan pun ia merasa begitu namun ia tutupi dari Gio agar anak itu tak bersedih.
"Mama udah baik kok." ucapnya dengan senyum yang dipaksa.
Mereka saat ini sedang berada dalam kamar Zanna. Devan menggenggam erat tangan Zanna, terlihat jika ia seperti habis menangis.
"Lho emang mama kenapa kak?" polos gio.
"Gak kok dek, mama cuma sempet bangun terus cariin kamu tadi." ucap Devan sambil mengelus kepala Gio yang ada di sampingnya dengan penuh sayang. Sedangkan Kian mematung menahan air matanya.
"Ouh.... mama kangen Gio ya. Tenang aja ma, Gio gak pergi lama kok. Cuma sekolah doang abis itu langsung ke sini. Kan mama sendiri yang bilang ke Gio kalo selesai sekolah baru boleh ke sini. Nah sekarang Gio udah di sini mama tidurnya jangan lama lama, Gio gak mau nunggu ma." ucap anak polos itu membuat Kian dan Devan terenyuh mendengarnya.
Tak lama ada seorang suster yang masuk ke dalam memanggil Devan untuk segera ke ruang dokter. Devan menurut dan langsung pergi ke sana.
"Permisi dok." ucap Devan setelah mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Oh ya. Silahkan masuk" sambut suara yang ada di dalam.
Devan masuk dan di suruh duduk oleh Dokter. Terlihat wajah dokter yang begitu serius membuat Devan begitu khawatir dengan apa yang ingin disampaikannya.
"Ada apa ya Dok?" gugup Devan.
"Begini saya sudah mendapatkan sumsum tulang yang cocok untuk ibu kamu. Cuma tentu saja dengan biaya yang tidak murah. Lagi pula operasi ini sangat berisiko dengan keadaan ibu kamu yang lemah seperti sekarang. Apa kamu yakin ingin melakukan ini?"
Devan nampak berpikir sejenak "Apa bisa menunggu dok, sampai kondisi mama saya lebih baik?"
"Mungkin bisa saja. Tapi yang saya takutkan adalah keadaan ibu kamu yang semakin hari semakin..... (dokter itu berhenti berucap). Hari ini saja detak jantungnya sedikit menurun."
"Memangnya berapa biaya operasi itu?"
__ADS_1
"Lebih dari lima ratus juta."
"Tidak ada jalan lain dok untuk mama saya?"
"Sayangnya tidak Devan. Kami sudah berusaha untuk membantu mama kamu. Tapi........."
Setelah selesai Devan keluar dari ruangan itu. Hatinya begitu sakit bahkan semangatnya pun rasanya makin hilang. Keputusasaan melanda dirinya, air mata pun tak bisa ia bendung lagi. Ia berjalan dengan tatapan kosong, dunia nya kini hampir hancur. Ia tak tau harus berbuat apa lagi. Bahkan usahanya selama ini seperti sia sia.
Devan membuka pintu, dan Ternyata disana ada kian yang menguping pembicaraannya dengan dokter. Ia memandang datar Kian yang juga matanya sudah sembab karena menangis. Lalu ia melewati kian dan lanjut berjalan gontai ke kamar mamanya.
Sampai di sana ia duduk di samping mamanya, menggenggam kembali tangan yang masih hangat itu. Menciumnya bahkan memeluknya seakan tak ingin lepas. Gio yang melihatnya mendekat kearah Devan dan bertanya kenapa dia seperti itu. Apa yang terjadi pada mamanya. Devan yang sadar menoleh pada Gio dan menjawab setenang mungkin sambil tersenyum. Bahkan air mata yang mengalir sebelumnya, kering tak bersisa demi bocah itu.
"Gpp dek. Kakak cuma kangen mama." ucapnya sambil mengangkat Gio lalu memangku dipangkuannya. Mereka berdua terlihat begitu sangat dekat, Devan bahkan bercerita banyak hal pada Gio. Kian memperhatikan keduanya, ia hanya tersenyum tak bersuara. Berdiri lebih jauh dari mereka.
"Kak cantik sini" Panggil Gio yang membuyarkan lamunan kian. "Sini kita liat mama. Suruh mama bangun. Kenapa hari ini mama bangunnya lama ya kak?"
"Mama lagi capek sayang. Dari kemaren kita ajak ngobrol terus. Biar mama bobok dulu ya."
Devan terus menepuk pelan paha Gio, sampai ia tertidur dipelukan Devan. Sedangkan Kian yang berada di samping Devan terus memandang Zanna.
Devan meraih jari kian, membuat Kian tersentak kaget. Namun Devan langsung menarik telunjuknya di bibir agar kian tak bersuara. Kian pun mengangguk.
Devan menoleh ke arah Gio. Dan kian tau maksud dari Devan. Devan langsung memberikan gio pada Kian. Ia sedikit membungkuk mendekatkan bibirnya ke telinga Kian.
"Ki, tolongin gw. Jaga dua malaikat gw ya." ucapnya lembut. Jantung kian yang mendengar suara Devan langsung berdetak kencang. Ia pun tak tau kenapa.
Devan pun hendak berlalu namun tangannya ditahan oleh kian.
"Lo mau kemana?" dengan suara yang amat kecil, namun Devan melihat bibir kian hingga ia tau maksud gadis itu. Dia mengetuk jam tangan di tangannya, dan berkedip lama sambil tersenyum. Kian pun mengangguk walaupun ia tak tau jelas maksud Devan.
__ADS_1
Devan keluar dan kian yang tadinya berdiri memilih duduk di kursi samping tempat tidur Zanna dengan memangku Gio yang sedang tidur. Mengusap usap punggung dan kepalanya dengan lembut yang membuat Gio tambah terlelap.
Kian termenung kembali dengan ucapan dokter dengan Devan tadi. Uang sebanyak itu bagaimana bisa didapat dalam waktu singkat. Apalagi harus mengoperasi mamanya pada keadaan yang seperti ini. Bagaimana bisa? pikirnya. Ia ingin membantu Devan menyumbang namun ia tak memiliki uang sebanyak itu. Meminjam ke orang taunya? orang tuanya saja belum pulang. Bahkan sampai sekarang tak ada kabar dari orang tuanya.
Tanpa terasa kian mulai mengantuk dan tertidur di kursi itu. Walaupun keadaan yang tidak nyaman ia tetap terlelap dengan air mata juga ikut keluar tanpa henti.
Sedangkan di lain sisi ada Devan yang kembali berusaha mencari keberadaan papanya. Mencari ulang dengan petunjuk yang ada. Ia sudah tak tau harus bagaimana lagi. Biaya yang besar itu dimana ia bisa mendapatkannya. Ia berpikir satu satunya jalan hanya dengan mencari papanya. Walaupun nantinya ia akan dimaki bahkan dikatai maka ia akan terima, asalkan mamanya bisa di selamatkan.
Ia terluntang lantung mencari keberadaan ayahnya. Ntah itu dari teman atau pun kenalan ayahnya. Namun mereka semua tak tau keberadaan ayahnya.
Sampai malam pun tiba ia kembali berputus asa. Ingin rasanya ia menukar keadaan ini dengan dirinya saja. Namun itu adalah hal yang mustahil.
Ia kembali membuka hp-nya dan menelpon seseorang. Ntah siapa itu namun ia terlihat begitu serius. Dan malam itu ia langsung melesat pergi dengan cepat ke suatu tempat.
'Ma, Devan sayang sama mama. Jangan tinggalin Devan ya. Tunggu Devan, Devan bakal berusaha semaksimal mungkin buat dapet uang itu supaya mama bisa sembuh lagi. Devan masih butuh mama apalagi Gio. Devan mohon yang kuat ya. Kalo aja bisa diganti mending Devan aja, bahkan kalau sama Devan bakal kasih yang Devan punya buat mama. Mama harus kuat.... Devan sayang mama'
Derai air mata yang tak henti bahkan dadanya terasa sakit mengingat itu.
.
.
.
.
.
"Mencintai itu tidaklah mudah sebab akan dibarengi dengan pengorbanan. Ketika merasa mencintai seseorang bahkan sangat menyayanginya, sebesar apapun pengorbanan itu akan dilakukan agar ia bisa bahagia."
__ADS_1