
Tap.... Tap.... Tap....
Kian menuruni anak tangga di pagi itu. Hari minggu yang begitu cerah ia sambut dengan wajah biasa saja. Jika bagi keluarga lain hari minggu adalah hari yang paling ditunggu tunggu oleh semua anggota keluarga. Yang dimana hari itu mereka akan menghabiskan waktu bersama, baik itu bersantai maupun berlibur.
Namun tidak bagi Kian. Bagi nya hari minggu adalah hari yang sama seperti biasanya. Hanya saja ia tak pergi sekolah pada hari itu. Keadaan rumah yang sepi, menurutnya sungguh berbeda dari rumah orang lain. Biasanya mungkin saja akan ramai di rumah. Hari minggu memang merupakan hari libur tapi ntah untuk kedua orang tuanya. Ia memiliki anggota keluarga yang lengkap namun seperti tak ada.
Kedua orang tuanya yang sering pergi tanpa memberitahu padanya hinggs membuatnya terbiasa di abaikan. Ia berpikir sungguh tak adilnya kehidupan, ia selalu saja di marah jika keluar rumah tanpa memberitahu kedua orang tuanya sedangkan kedua orang tuanya tidak. Bahkan menanyakan kabar dirinya saja tidak sewaktu mereka pergi. Bahkan hampir delapan puluh persen dari seratus persen persentase hari minggu, malah mereka tak ada di rumah. Kian berpikir mungkin pagi ini juga begitu.
'Sungguh sudah terbiasa dengan keadaan ini. Semoga saja kalian sadar suatu hari nanti sebelum benar benar hilang.'
Walaupun ia baru turun dari kamarnya saat ini, namun ia sudah melaksanakan ritual mandi dan membereskan kamarnya meski tidak terlalu berantakan. Ia turun memakai setelan santai, baju kaos berukuran besar, sepan pendek, dan sandal rumah, tak lupa juga dengan rambut yang selalu di kuncir.
Kian yang sudah sampai di bibir tangga ingin berbelok ke ruang dapur untuk minum dan membuat sarapan.
Tok.... Tok.... Tok....
Mendengar pintu rumah yang di ketuk, Kian pun mutar balik ke arah pintu depan.
Krakk……
Nampak seorang wanita dengan dandanan yang begitu chetar dan menor. Tak lupa juga dengan baju kemeja putih dan rok yang membentuk lekukan tubuhnya yang begitu mencolok serta high heels bercorak maung dengan hak yang super tinggi melekat di kakinya yang mulus itu. Terdapat beberapa berkas berada di tangan kanan dan tas tangan yang di tenteng di tangan kiri.
'Siapa wanita maung ini? Apa teman bunda? Tapi kayak gak deh. Selera bunda masih normal. Gak kayak gini modelannya. Apa dia rentenir? Ah... Tapi masa iya sih. Ayah yang kerja terus sampai harus ngutang sama modelan cacing lentik ini.'
Kian memandangnya dari ujung kaki sampai ujung rambut wanita itu. Dengan gaya yang bak model namun dandanan bak ondel ondel, dengan PD nya ia tersenyum ramah pada Kian.
"Maaf bu. Kami tidak memesan koran pagi ini." Ucap Kian dengan tatapan anehnya.
"Hey! Enak saja kau bicara. Nama ku Divia yang merupakan seorang sekretaris dari CEO perusahaan Abiguna bukan tukang koran. Dimana pemilik rumah ini?"
'Ouh ternyata sekertaris ayah. Tapi kenapa modelan seperti ini?'
"Ohh anda sekretaris Pak Bram Abiguna. Apakah di hari minggu juga bekerja?"
"Apa urusannya denganmu? Aku hanya ingin bertemu pak Bram."
__ADS_1
'Wanita ini sungguh menyebalkan'
"Kian...." Panggil seorang perempuan dari dalam rumah. Kian tersentak kaget. Ia pikir di rumah tak ada siapa siapa.
"Iya bund." Jawab Kian
"Kamu dimana?" Tanya nya sambil mencari Kian, hingga bertemu dengan Kian dan Divia di depan pintu.
Ia mematung dan terdiam melihat ke arah luar. Tak bisa Kian pungkiri jika mata bundanya seperti menampakkan sesuatu.
"Haaah.... " Seseorang yang juga baru muncul di depan pintu, yang terlihat seperti habis jalan jalan dengan memakai setelan olahraga.
"Pak Bram..."
"Kau? Sudah datang. Baiklah ayo masuk." Ajaknya pada Divia dan mempersilahkan Divia untuk masuk.
Ternyata dia adalah ayah Kian yang baru saja selesai berlari pagi di sekitar kompleks. Ia langsung mengajak sekretarisnya itu masuk ke dalam. Kian yang berada ditengah pintu pun menyingkir. Dengan eloknya ia berjalan di depan Kian.
"Intan buatkan minum untuk Divia." Titahnya, yang tentu saja membuat Kian murka.
"Ayah! Bunda bukan pembantu yang bisa disuruh suruh, apalagi hanya untuk membuat minuman wanita maung ini."
"Ini hari minggu, apa tidak salah jika untuk bekerja. Hari minggu itu...."
"Kian, ayah dengannya ada urusan pekerjaan yang tak bisa ditunda. Jika kau hanya ingin berdebat dengan Ayah pagi ini lebih baik kau masuk kamar saja."
"Pak Bram... sudahlah. Kian benar ini hari minggu. Jadi kedatangan saya harusnya tak mengacaukan hari minggu kalian. Maaf. Kian kau tak perlu untuk membuatkan ku minum. Aku tak lama disini." Ucap nya dengan nada yang lemah lembut nan baik.
"Hey! Bagaimana bisa. Mungkin masalah pekerjaan ini akan lama. Biarkan Kian membuatkanmu minum."
Kian yang kesal hendak membalas omongan ayahnya namun Intan mencegahnya.
"Sudahlah Kian. Ayo.... "
"Tidak bunda. Bunda santai saja biar Kian yang buatkan."
__ADS_1
Kian segera menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk sekretaris ayahnya itu.
'Kenapa bunda selalu saja menurut pada ayah. Dan kenapa ayah terlihat begitu senang dengannya.'
Kian yang membawa satu cangkir teh itu menuju ruang tamu. Lalu meletakkannya di meja. Kian menatap wanita itu dan begitu juga dengan dia. Tatapan yang bertemu sama sama me campakkan ketidak sukaan.
______________
"Kak.... Kak Kian gak bakal dateng juga ya hari ini?"
"Gak Gio. Kak Kian lagi istirahat terus banyak tugas juga. Jangan ganggu kak Kian dulu ya."
"Hmm... Baiklah. Apakah kita akan menghabiskan waktu bersama hari ini?"
"Tidak bisa Gio. Kakak harus bekerja. Kamu ikut kakak ya."
"Hari ini hari minggu kak. Harinya untuk libur. Lagi pula untuk apa kakak bekerja? Uang kakak kan banyak." Ucapnya menatap melas pada Devan.
"Uang?" Devan mengerinyitkan dahinya.
"Kak Kian kemarin menerima uang yang banyak dari petugas rumah sakit. Apa kak Kian tak memberitahu kak Kavin?"
Yah, dia hampir lupa dengan uang itu. Uang yang harusnya untuk biaya operasi mamanya yang tak terpakai. Uang itu masih tersisa begitu banyak, walaupun sudah di gunakan untuk membayar tagihan rumah sakit yang sempat menunggak.
"Baiklah Gio. Kita anggap uang itu sebagai tabungan kita. Hari ini hari minggu kakak punya sip kerja pagi hari. Dan nanti sore baru kita akan jalan jalan, bagaimana? Kau tau jalan jalan di sore hari lebih menyenangkan loh." Bujuk Devan. Dan bocah polos itu pun mengangguk pasrah walaupun dihatinya sedikit merasa tak senang.
'Kalau kak Kian ikut psti lebih menyenangkan, huh.'
.
.
.
.
__ADS_1
.
🌹HAPPY READING🌹