Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#77


__ADS_3

Crash....


Crash....


Hujan yang begitu deras membasahi seisi kota. Sudah dari siang sampai sore ini hujan itu tak kunjung berhenti. Ada satu orang yang masih berjalan menyusuri dinginnya kota itu di tengah hujan yang begitu deras. Hanya dengan berbekal satu payung yang baru ia beli dan satu jaket lepis yang melekat di tubuhnya, ia menerjang derasnya hujan.


"Huh... harus cari kemana lagi ya? Mana dingin lagi. Udahlah gue cari kedai kopi dulu buat angetin nih badan." Gumamnya di sela perjalanan.


Kring...


Pintu cafe terbuka dan perempuan itu langsung masuk ke dalam untuk menghangatkan badan, memilih meja paling pojok namun masih bisa melihat keluar.


"Permisi, mau pesan apa kak?" Tanya pelayan perempuan menghampirinya


"Emm... hot matcha latte low sugar -nya satu."


"Oh oke. Tunggu ya kak."


Perempuan itu masih fokus dengan pemandangan jalan di luar yang diguyur oleh shower besar. Melihat orang-orang yang lewat memakai payung dan jas hujan. Ada yang begitu romantis dengan satu payung berdua, membuat perempuan itu menyungging senyum tipisnya.


"Silahkan." Suara maskulin itu memecahkan lamunannya. Membuat ia menoleh ke sumber suara.


"Devan?"


"Lo!"


Keduanya sama-sama terkejut dan tak menyangka akan bertemu. Devan memang pernah bilang kalau ia bekerja, namun dia tak tau jika ternyata Devan bekerja disini. Padahal ia sering kemari namun tak pernah melihat Devan.


"Lo kerja di sini?"


"Hn. Lo ngapain ke luar hujan-hujan gini?!" Devan yang masih dengan ekspresi datar dan berdiri di depannya


"G.. gue, gue cari Sarah."


Devan langsung berdecak kesal mendengar kalimat itu, "Ck, gak ada kerjaan banget lo buat cari manusia yang gak mau di cari. Mending lo pulang, gak usah sibuk sama orang lain. Bodoh!!" Kalimat yang lumayan dingin dan penuh penekanan dari Devan itu keluar.


"Terserah gue lah. Toh gue yang cari bukan lo. Dan lo gak mau tau kenapa gue cari dia hn?"


"Gue gak peduli dan gue juga gak mau tau!" Devan berbalik meninggalkan perempuan itu yang masih menatapnya.


"Devan!!" Panggilan itu membuat Devan berhenti, membuat ekor mata si mpu langsung melirik ke arahnya.


"Van, papa lo masuk rumah sakit. Lo harus jenguk dia. Dia nyariin lo sama Sarah." Suara itu sedikit gemetar, karena dingin.


Devan berbalik 180° menghadap perempuan yang wajahnya sedikit pucat, "Oh, dia gak ada urusan sama gue. Mungkin lebih tepatnya dia ada urusan sama anak itu! Saran gue, lo gak usah jadi pahlawan kesorean. Gak usah peduliin orang yang gak ada hubungannya sama lo. Mending lo pulang dan urus diri lo. Kalo lo sakit pria tua itu atau Sarah gak bakal peduliin lo juga." Nada yang begitu dingin dari cuaca saat ini.


"Van, dia cuma mau lo jenguk dia. Bisa lo buang sedikit keegoisan lo itu he? Dia butuh lo Van!..." Suara yang begitu memohon menyeruak di telinga Devan. Bahkan mata perempuan itu kini sudah mulai berkaca.


"Gak!"


"Kenapa?"


"Bukan urusan lo!"


"Argh... Gue gak tau harus dengan cara apa jelasin ke lo, Devan. Bahkan lo gak nanya sedikit pun keadaan papa lo! Lo gak punya rasa simpati sedikit pun buat orang tua lo?! Papa lo pingsan di trotoar siang tadi, dan sekarang dia di rawat di rumah sakit terus ada seorang perempuan ntah itu siapa gue gak tau, dia yang jagain papa lo. Dan om Daren selalu nyebut nama lo sama Sarah." Jelasnya dengan tersengal-sengal.


"Perempuan?" Devan mengangkat alisnya sebelah seperti tau siapa itu.


"Iya. Terserah lo mau jenguk atau gak, yang penting gue udah bilang." Suara yang juga begitu dingin.

__ADS_1


Bukh


Perempuan itu menyingkirkan Devan yang menghalangi jalannya. Ia terkihat begitu kesal dengan Devan yang seakan tak terjadi apa-apa, tak ada rasa empati sama sekali.


"Lo mau kemana?! Mereka bukan urusan lo!" Sergah Devan.


"Dan kemana pun gue bukan urusan lo juga!"


Kian keluar dari Cafe itu, melihat jemuran kecil yang terdapat di samping pintu tempat menaruh payung. Namun dilihatnya payung itu sudah tidak ada, kemungkinan ada yang salah ambil atau meminjamnya. Dengan perasaan ragu Kian melangkah ke luar menerjang hujan deras itu tanpa payung, hanya jaket yang melekat di badannya.


Devan yang melihat itu, tentu tidak akan tinggal diam. Walaupun dia kesal tingkah keras kepala Kian, ia juga tak akan bisa membiarkan perempuan itu keluar hujan-hujanan.


"Ar, gue pulang lebih awal hari ini ya. Dan besok gue ambil sip malem." Ucapnya sambil membuka apron dengan tergesa-gesa.


"Emang kenapa Van? Gio ya?" Tanya nya menoleh ke Devan. Sedangkan Devan hanya menggelengkan kepala


"Oke." Singkat Arya, yang tak mau memperdebatkan apapun dengan Devan. Terlebih lagi ia terlihat sangat terburu-buru.


"Ar, gue pinjem jas hujan yang waktu itu. Dimana?"


"Itu di loker. Ambil aja." Titah Arya yang masih sibuk dengan nota nya


Crash....


Crash....


Hujan malah tambah deras sore itu membuat Kian bingung harus mencari payung. Payungnya yang tadi hilang dan sekarang ia harus membeli yang baru. Namun untuk membeli pun harus memaksanya hujan-hujanan. Ia seperti tak tau harus apa, dan sekarang sedang berteduh di halte. Menunggu hujan sedikit mereda menjadi gerimis barulah ia lanjut berjalan.


"Lo batu banget ya!!"


Seketika Kian langsung menoleh, menatap dengan mata bulatnya.


"Mau cari cewek batu yang selalu bantah sama omongan gue."


"Sorry disini gak ada cewek kayak gitu. Lagian siapa lo yang harus gue denger." Cuek Kian.


Devan langsung menghampirinya, memaksa Kian untuk berdiri dan membuka jaketnya yang sudah basah.


"Lo mau ngapain hah? Lepas gak!"


"Lo yang lepas jaketnya sendiri apa mau gue paksa?!"


"Emang lo berani ngelukuin itu di sini?" Tantang Kian "Lagian kalo lo ngelakuin itu, lo pikir gue bakal diem. Gak!! Gue bakal teriak supaya orang gebukin lo!!" Mata Kian memicing menatap Devan.


"Ck, lo pikir gue takut?!" Devan meraih pundak Kian untuk membuka jaketnya


Plak


Kian menampar tangan Devan, membuat si mpu hanya melihat sekilas.


"Buka!!" Bentak Devan membuat Kian sedikit terkaget, di halte itu cuma ada mereka berdua.


"Iya...iya!" Kian pun membuka jaketnya dengan wajah dan mulut yang bersungut-sungut.


Srakh...


Devan langsung memakaikan hoodie miliknya pada Kian, membuat si mpu melebarkan matanya. Kian tentu akan melawan, namun Devan bukan tandingannya.


Setelah hoodie itu, Devan memakaikan jas hujan yang ia ambil di loker Cafe. Jas hujan berwarna biru transparan, yang membungkus tubuh kian sampai betisnya.

__ADS_1


"Sekarang pulang!"


"Gue gak mau pulang. Gue harus cari Sarah. Makasih buat jaket sama jas hujannya, besok gue kembaliin."


"Ngapain sih lo masih aja cari tuh orang hn?" Ucap Devan yang hampir frustasi di buat Kian.


"Karena om Daren lagi sakit. Dia perlu anaknya. Lagian lo gak bakal mau juga kan ke sana!" Bentak Kian balik.


Mendengar itu Devan hanya mendengus kesal. Ia melirik jam tangan di tangan kirinya, yang menunjukkan pukul enam sore. Lalu menarik tangan Kian yang terbungkus jas hujan itu. Yang membuat Kian memberontak.


"Lo apaan sih Van! Lepas gak!!"


"Lo bilang mau cara tuh manusia kan?! Ya udah ayo."


"Gue bisa sendiri. Lo bisa kembali ke tempat kerja lo sana."


"Kalo gue bilangin, bisa gak sih lo gak usah bantah hn?!" Devan sedikit memajukan wajahnya ke wajah Kian membuat nya bisa melihat bulu mata lentik itu. Kian langsung menoleh ke sembarangan arah agar wajahnya tak bersentuhan dengan wajah Devan.


Kian diam tak berkutik, tak membuka suara apalagi menatap Devan yang masih belum mengubah posisinya. Wajah yang menampakkan rasa takut, tegang, kesal bahkan marah juga ada. Bibir kecil berwarna pink itu ia lipat kedalam, pipi yang merah menahan keempat rasa itu, dan ekor mata yang selalu menatap ke arah lain. Membuat Devan yang melihatnya malah menjadi gemas.


'Nih anak kenapa modelan gini sih. Gue gak tau kalo dari deket nih anak cakep juga. Cuma rada bantet aja, ha.. ha...'


"Jadi gue ikut atau lo gue seret pulang?" Tanya Devan yang sudah tegak kembali.


"I... i... iya udah. Kalo mau ikut ya ikut aja." Ucap Kian yang sudah normal kembali, melangkah meninggalkan Devan setelah mengatakan hal itu.


Berjam-jam mereka habiskan untuk berjalan ke pelosok kota di bawah guyuran hujan dengan guntur yang cukup menyeramkan, namun tak menemukan hasil apa pun. Setiap orang yang mereka berikan foto Sarah pun tak ada yang mengaku melihat Sarah.


Kian hampir patah semangat, di tambah lagi cuaca yang begitu dingin membuatnya ingin meringkuk saja di tempat tidur saat ini. Kian juga melihat Devan yang sudah basah walaupun memakai payung, hujan yang ditambah dengan angin membuat air hujan itu bisa menggapai baju Devan yang berada di bawah payung.


Dia masih sibuk bertanya pada orang sekitarnya, tanpa di sadari Kian melihatnya. Hingga akhirnya Kian ketahuan karena memperhatikan Devan, membuatnya jadi gelagapan menoleh kesembarang arah.


"Kenapa? Udah capek?" Tanya Devan yang kemudian langsung di jawab gelengan kepala dari Kian. Devan melirik jam tangannya, terlihat bahwa saat ini sudah menujukkan pukul sembilan malam. Ternyata sudah tiga jam mereka habiskan di luar untuk mencari Sarah, namun nihil. Mereka tak menemukan apapun.


"Ini udah jam sembilan. Kita pulang, besok lanjut lagi carinya. Lo udah keliatan pucat tuh, ntar lo sakit."


Kian ikut melihat jam tangannya, dan benar saja apa yang dikatakan oleh Devan. Kian mengangguk yang artinya ia setuju untuk kembali sekarang.


Devan menghentikan bus yang lewat, dan mereka pulang menaiki bus itu. Karena sudah malam, bus itu hanya terdapat beberapa orang saja, sehingga memudahkan mereka untuk duduk dimana pun.


"Lo mau ngapain?" Tanya Devan pada Kian yang baru saja hendak mendudukkan bokongnya di salah satu kursi bus.


"Mau masak! Ya mau duduk lah Van."


"Heh gak boleh." Ucap Devan yang dibalas tatapan aneh oleh Kian. " Lo mau buat kursi nih bus jadi basah karena jas hujan lo." Lanjutnya lagi dengan menunjuk jas hujan yang Kian yang begitu basah sampai menetes.


Kian menetap apa yang ditunjuk oleh Devan dan benar saja apa yang dikatakannya. Akhirnya dengan rasa pasrah Kian berdiri menggantungkan tangannya di kaitan dalam bus.


Devan yang melihat hanya bisa menahan tawa, bagaimana mungkin anak pintar di kelasnya itu malah menjadi bodoh seperti sekarang. Ia menyandarkan punggungnya di kursi itu, merenggangkan semua ototnya yang lelah. Yang sedari tadi hanya bekerja dan berjalan saja.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2