Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#102


__ADS_3

Tiga minggu berlalu begitu saja. Kian sudah terbiasa dengan kehidupan barunya, yang dimana pagi ia harus sekolah sedangkan siang sampai malamnya ia harus bekerja, tanpa orang tua. Sekarang ia mengerti bahwa kehidupan seperti itu tidaklah mudah. Pantas saja ayahnya sangat marah ketika dirinya tak menuruti permintaannya. Dan bicara dengan omongan yang pedas malam itu. Iya, ia tau itu adalah kalimat yang menyakitkan namun semua itu benar. Benar adanya.


Selain itu juga ia harus bisa pandai-pandai membagi waktu, apalagi sebentar lagi ia harus menghadapi ujian nasional untuk menentukan lulus tidak-nya ia dari sekolah. Ia harus belajar ekstra, bahkan beberapa hari ini ia harus bergadang malam demi belajar. Untuk apa? Agar bisa mendapatkan nilai ujian yang bagus dan mendapatkan beasiswa kuliah.


Ia tau, ia takkan sanggup untuk membiayai kuliahnya. Jangan kan itu, biaya untuk pelunasan hutang pun belum bisa ia kumpulkan. Apalagi dengan uang kuliah? Kuliah dengan biaya sendiri itu sangat mahal baginya. Maka ia hanya bisa mengharapkan beasiswa. Hanya bisa tersenyum kecut, yah itulah keadaannya sekarang.


"Ki, ngapain masih di luar hm? Udah malem loh, dingin. Ngelamun apa sih? Gak mungkin kan lo masih mikirin masalah beberapa hari lalu itu? hahaha..." Canda seseorang di balik tembok yang hanya setinggi dada, yang menjadi pembatas antar dua pintu kontrakan.


Kian menoleh dan hanya tertawa renyah. Ntah lah, ia sampai tak habis pikir dengan Devan yang sampai seperti itu. Ternyata walaupun ia memiliki sifat dingin ia juga mudah di tipu. Hanya karena omongan Nari yang tak spesifik membuatnya sudah kalut dalam pemikiran itu dan hampir frustasi olehnya.


"Kak Nari sih. Devan udah sampai takut gitu loh kak. Hahaha..."


"Abis nya Ki, gue kesel banget pas liat dia keluar tanpa pake baju waktu itu. Lo tau, hal itu sampai sampai buat anak kos depan jadi menjerit histeris." Ucapnya sembari berjalan mendekati Kian, duduk di samping Kian di kursi panjang itu.


"Oh ya? Masa sih? Tapi untung aja mereka gak mikir yang macem-macem. Takut Kian kak kalo sampe di serang fans Devan. Hahaha..."


"Iya, gak percaya banget lo. Lagian bu Eti juga udah bilang, kalo cuma Devan yang ada di kontrakan itu. So, lo gak bakal kena masalah lah, tenang aja. Tapi kalo dipikir pikir Devan lucu ya, sampe nyusul lo ke sana." Tawanya lagi, seperti sangat bahagia setelah mengerjai Devan hari itu.


Kian hanya bisa tertawa renyah, yang di detik selanjutnya wajah itu berubah murung lagi. Membuat Nari yang tadinya tertawa menjadi ikut diam dan memperhatikan.


"Ki, kalo ada masalah cerita. Bukan di pendam sendiri doang."


"Hm.. Kian lagi pusing kak. Kian belum setor pembayaran di bulan terakhir ini ke sekolah. Bisa-bisa Kian gak di bolehin ikut ujian nanti. Padahal abis itu dah lulus."


"Loh emang sekolah lo harus bayar Ki? Kirain kakak lo sekolah negeri."


"Gak kak. Kian sih dulunya mau sekolah negeri aja, cuma ayah gak kasih. Jadi disuruh sekolah di sekolahan swasta itu."


"Ohh, kalo gak salah ya, katanya orang-orang yang sekolah disana rata-rata dari lingkungan elite? Iya kah?"


"Gak juga sih kak. Yang penting bisa bayar uang bulanannya aja. Kian bukan dari lingkungan elite, biasa aja, tapi alhamdulillah selalu bisa uang spp-nya."


"Terus kenapa lo bisa ngontrak disini Ki? Padahal kan... Kayaknya orang tua lo sayang banget sama lo?"


Kian terdiam sejenak. Tak ada jawaban bahkan menoleh pada Nari saja tidak, membuat Nari merasa tak enak hati sebab bertanya seperti itu.


"Ya udah gak apa-apa kalo gak mau jawab." Buru Nari, takut Kian akan semakin tersinggung


"Sebenarnya Kian mau dijodohin kak." Suara Kian terdengar begitu pasrah dan lemas


"Ha?? Yang bener aja dong Ki. Ini jaman modern, bukan jaman Siti Nurbaya pake jodoh jodohan segala." Nari yang mendengarnya hampir tertawa sebab hal itu. Namun tidak dengan Kian, Bahkan mengingat hal itu matanya terasa perih.


"Bener kak. Kian juga gak dibolehin sama ayah buat lanjutin sekolah. Karena Kian gak mau Kian harus keluar dari rumah. Dengan syarat harus lunasin biaya hidup yang selama ini ayah tanggung." Senyum kecut dengan air mata yang sudah mengalir.


Nari yang menyadari hal itu langsung merengkuh bahu itu, membuat Kian bersandar di bahunya, mengusap usap bahu itu agar Kian lebih tenang. "Maaf gue gak maksud buat ngetawain lo. Gue yakin lo bakal kuat Ki. Sabar ya, inget disini lo gak sendirian. Ada gue dan Devan. Tapi gue gak nyangka aja orang tua lo bisa segitunya, sampe gak bolehin lo kuliah. Terus Devan udah tau?"


"Belum kak. Jangan kasih tau Devan ya kak. Kian gak mau ntar malah di suruh pulang ama dia."


"Loh?? Ya udah gak apa-apa. Gue bakal jaga rahasia ini. Tapi maaf gue gak bisa bantu lo masalah keuangan Ki. Lo tau kan gue aja anak rantau, yang harus kerja sambil kuliah. Tapi mungkin gue bisa kasih ide. Gimana kalo lo jualan masakan lo yang waktu itu. Lo tau kan sekarang makin unik makin orang orang penasaran. Siapa tau bisa laris Ki." Usulnya dengan penuh semangat


"Kian takut gak enak kak. Lagian jualan kan perlu modal kak."


"Enak kok. Iya juga sih. Kenapa gak pinjem ama Devan Ki?"


"Gak deh kak. Nanti nambahin hutang Kian. Lagian ini juga hutang Kian udah banyak. Mungkin ide itu bisa kita coba kalo Kian udah dapet gaji bulan ini kak, yang masih ada seminggu lagi baru dapet. Tapi Kian juga bingung harus jual dimana?"


"Lo tenang aja. Gue bakal promosiin itu di kampus gue. Temen gue juga banyak Ki. Gue bakal bantu lo promosiin itu, lagian pengikut IG gue lumayan banyak. Gue bisa rekomen ke mereka nanti."

__ADS_1


Kian bangkit dari rengkuhan Nari, menatap wajah Nari dengan berbinar, "Bener kak?" Sumringah Kian


"Iya. Tenang aja." Ucapnya sambil menepuk bahu Kian


"Makasih ya kak. Jadi gini rasanya punya kakak perempuan. Kian jadi iri sama orang lain yang punya kakak perempuan, pasti baik juga kayak kak Nari." Senyum Kian mengembang, namun dengan mata yang berkaca.


"Hahaha.. Biasa aja kali Ki. Emang lo gak punya sodara?" Tanya nya sedikit tak percaya, namun Kian hanya menggeleng sedih.


"Em, lo bisa anggap gue jadi kakak lo Ki, kalo lo mau. Lagian gue rasa Devan juga gak kalah baik sama lo." Kian tersenyum senang mendengarnya, yang pasti itu yang akan dilakukan Kian menganggap Nari kakaknya.


Namun sedetik kemudian senyum itu kembali ke titik awal. "Devan emang baik sih kak. Tapi kadang juga nyebelin. Apalagi kalo sakitnya kumat, dah kayak kulkas jalan kak. Dingin banget. Tapi Kian bersyukur sih, Kian di deketin sama orang orang baik kayak kalian. Jangan tinggalin Kian ya..."


Nari mengangguk, "Yah, gue mau mewek nih Ki. Gue keinget adek gue yang masih kecil banget di kampung. Hiks... Hiks..."


Malam itu ditutup dengan Nari dan Kian yang saling berpelukan, seperti sodara kandung. Sejenak Kian memejamkan mata, bersyukur kalau Tuhan begitu adil dalam hidupnya. Ketika masalah datang bahkan sampai ada yang membencinya, maka ia di dekat kan dengan orang orang baik. Dulu Zanna yang selalu menjadi tempat bersandarnya, dan sekarang ketika hal itu terjadi lagi ternyata ada Nari, dan yang lainnya, terutama Devan yang selalu ada di sampingnya.


__________


Hari ini, Kian berangkat sendiri ke sekolah. Yang merupakan hasil dari keras kepalanya terhadap Devan. Biaya bus? Beberapa minggu bekerja, cafe begitu ramai dan ia pulang selalu membawa uang tip dari konsumen cafe.


Sebab ia bisa menjaga bayi atau anak-anak ketika para orang tua mereka sibuk menyantap makanan. Kian juga bisa membujuk dan mengasuh bayi yang menangis, itu adalah kelebihannya. Hingga membuat para konsumen menjadi nyaman, disaat itulah uang akan membereskan semuanya.


Bukannya ingin sombong, hanya saja ia tak mau harus selalu merepotkan Devan untuk selalu menjemput dan membayar semua kebutuhan dirinya. Hingga ia memutuskan untuk berangkat sendiri dengan uang yang ia punya. Namun tetap saja untuk membayar uang sekolah itu tidaklah cukup. Paling hanya bisa membeli kebutuhan sehari hari dan hal-hal kecil lainnya.


Sesampai di sekolah, ia melihat sudah banyak orang yang berkumpul di depan papan pengumuman. Ntah ada kabar atau berita besar apa yang membuat siswa siswi jadi mengerumuni papan itu.


Kian berjalan santai ke arah sana, ia ternyata juga kepo dengan isi pengumuman. Suara-suara bak lebah terdengar dari kerumunan, seperti membicarakan seseorang. Kian menyingkirkan satu persatu orang yang ada di depan menerobos benteng yang sepertinya sulit di tembus.


"Loh Kian."


"Orang pada kenapa sih, ribut banget?" Lanjut Kian


"Lo gak tau? Nih liat nama siapa yang terpampang jelas di urutan dua puluh lima." Tegasnya sambil menunjuk nunjuk kolom nama itu


"Ha? Devan Kavindra Bagaskhara? Gak salah?" Herannya yang tiba-tiba melihat hal itu bak sesuatu yang sedikit membuatnya kurang percaya dengan perubahan yang ada.


"Justru itu Ki. Kita semua juga gak percaya. Bisa bisanya nama Devan terpampang jelas di nomor 25, padahal lo tau kan biasanya paling kalo gak 99 ya 100. Aneh gak sih?" Curiganya


"Tapi kan ini baru TO. Ya bisa aja kan. Lagian Devan akhir-akhir ini juga giat belajar." Jelas Kian, walaupun ia tak tau benar atau tidaknya ucapannya barusan.


"Oh ya? Tapi kok nama lo jadi nomor sepuluh sih?" Kian dengan segera melihat kembali kertas pajangan itu. Dan benar saja nama dirinya ada di nomor sepuluh. Padahal dari TO pertama dan dua belum separah ini turunnya.


"Ti, namanya hidup. Pasti kadang di atas kadang di bawah. Em.. Jadi semua orang disini....?" Pertanyaan Kian menggantung


"Iya, cuma mau buktiin si anak last rank beneran naik drastis atau gak. Banyak sih yang heboh dari tadi dan gak ada yang percaya sama sekali."


"Ohh gitu."


Kian dan Siti masih asik di depan papan pengumuman, sampai satu orang guru datang ke sana. Membuat kerumunan itu pecah.


"Kian??"


"Eh iya bu. Kenapa?"


"Ikut ibu sebentar."


Kian pun menurut, mengikuti guru yang memanggilnya, yang tidak lain adalah wali kelasnya sendiri. Kian yang masih menyandang tas abu-abunya membuntuti Bu Dwi hingga sampai di kantor.

__ADS_1


"Kian? Ini bulan terakhir bisa full sekolah. Dan harusnya sekarang kamu tetap pertahankan nilai mu. Tapi kok makin kesini ibu liat nilai kamu malah turun. Kian kalau sampai nilai ujian kamu juga jatuh, ya mungkin saja akan berpengaruh terhadap kelulusan dan diterimanya kamu di universitas favorit." Ibu Dwi yang sudah duduk di kursinya, menatap Kian yang menunduk di depannya.


"Iya bu. Maafin Kian, Kian akan berusaha lagi."


"Ada apa? Sepertinya kamu ada masalah sehingga kamu jadi seperti ini. Bilang sam ibu Kian, siapa tau ibu bisa bantu."


"Eh, enggak kok bu. Kian baik-baik aja. Maaf untuk nilai Kian. Tapi Kian janji gak bakal kecewain ibu." Yakin nya


"Ya sudah."


"Kian!! Bisa kamu kemari?" Panggil seorang guru yang sedari tadi memperhatikan Kian. Bu Dwi pun memberi isyarat agar ia datang pada guru itu.


"Iya bu?"


"Kamu belum bayar spp bulan ini Kian. Nilai kamu turun, dan kamu gak bisa dapet dispensasi untuk tidak bayar. Ini sudah hampir akhir bulan. Awal bulan depan kalian sudah harus ujian dan lulus. Sampai kapan kamu akan menunda pembayaran?" Tegasnya.


"Iya bu. Kian akan segera bayar uang nya habis bulan ini. Beri Kian waktu ya bu..." Mohon Kian


"Ibu beri kamu waktu sampai besok. Kalau kamu tidak bayar, ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi."


"Iya bu. Kian bakal bayar besok."


"Ya sudah, keluar sana." Titah guru berkacamata itu.


Kian langsung berjalan keluar kantor dengan wajah yang begitu cemas dan khawatir. Pokok permasalahan hidupnya sekarang adalah uang dan uang. Ia bekerja demi uang sehingga melalaikan belajar, dan karna uang nya tak cukup, maka mungkin saja minggu depan ia tak bisa ikut ujian.


Kian berjalan dengan pikiran penuh hingga ia melamun. Tak perduli dengan sekitar apalagi orang lain.


Srekhh


Tangannya di tarik seseorang membuat ia tersentak terkejut.


"Lo apa apaan sih!" Teriak Kian yang tak tau siapa yang menariknya. Orang itu tak menggubris sama sekali, Bahkan tarikan tangan itu tak terlepas sama sekali, hingga sampai rooftop.


"Devan, ngapain sih lo ngajak gue kemari. Gak pake izin lagi, bentar lagi pak bambang bakal masuk kelas Van." Roceh Kian, namun tak dijawab sama sekali oleh Devan. "Oh ya btw selamat ya. Akhir-akhir ini nilai lo naik terus. Gak nyangka gue, pasti lo rajin belajar, iya kan. Bagus Van tingkatkan terus, gue yakin kalo..." Ucap Kian dengan penuh semangat dan senyum.


"Gak usah senyum kalo hati lo lagi gak baik-baik aja." Tukasnya menatap tajam Kian.


"Siapa bilang? Gue baik-baik aja kok." Bantahnya dengan wajah yang di buat buat cemberut.


"Bisa gak lo berhenti hm!! Berhenti buat kerja, cukup sekolah aja." Tegasnya


"Loh kenapa? Kan gue harus bayar uang spp sekolah Van. Salah kalo gue kerja?" Kian berusaha selemah lembut mungkin,


"Salah!! Karna nilai lo jadi turun. Lo ngerasa kecewakan dengan hal itu? Gak usah sok kuat Kian. Dengerin gue lo gak usah khawatirin apapun. Gue yang bakal tanggung semuanya." Rocehnya sambil memegang kedua bahu Kian.


Mendengar itu telinga Kian terasa panas. Benar-benar terlihat, kalau ia manusia yang lemah tak bisa apapun tanpa orang lain. Ia menepis kasar kedua tangan Devan, "Siapa lo yang harus gue dengerin? Siapa lo yang bisa ngelarang gue? Siapa lo yang bisa nanggung semua kebutuhan hidup gue? Gua kayak gini karna gak mau berhutang budi banyak ke lo Van. Tapi lo? Lo malah cegah gue. Gue gak punya masalah dengan keadaan gue yang kayak gini, gue mau usaha. Sedangkan lo? Kenapa lo yang harus ribet sih?!"


.


.


.


.


tbc

__ADS_1


__ADS_2