
"Hei apa kau gila bocah. Barang rongsokan itu tidak sebanding dengan harganya." jawab bawahan george kesal.
"Kenapa? aku rasa tidak akan membuat jatuh miskin seorang Tuan George Govanie bukan?" tanya nya dengan wajah tanpa dosa.
"HEH BOCAH SUDAH CUKUP OMONG KOSONGMU ITU!!! KAU BISA MASUK NAMUN KAU TIDAK AKAN BISA KELUAR DARI SINI.!!" Ucap bawahannya meninggi.
Para bawahan George menodongkan pistol pada Devan dan Mikko. Mikko sudah benar benar takut karna hal itu.
"Tuhan, jika aku mati sekarang dengan cara seperti ini mohon tempatkan aku di tempat terbaikmu. Amin" Ucapnya sambil berdoa, bahkan kakinya sudah gemetar tak karuan. Ingin ia lari dari sana namun itu hanyalah sebuah kemustahilan. Begitu banyak para bodyguard dari George belum lagi orang orang yang ada di sana.
Devan? jangan ditanya anak itu. Ia bahkan memasang wajah datarnya seperti sebelumnya. Memandang santai mereka semua yang menodongkan pistol pada dirinya. Sedangkan Mikko berlindung di balik tubuh Devan.
Memang Mikko lebih tua dari Devan, namun untuk ukuran tubuh mereka sama saja.
"Tem...." Belum sempat bawahan itu menyudahi teriakannya George sudah nyeletuk duluan.
"Baiklah." ucapnya singkat padat dan tidak jelas bagi mereka yang ada disana kecuali Devan. Mereka yang melihat itu hanya bisa melongo tak percaya.
"Tu...tuan... Apa yang terjadi? Kenapa?" tanya bawahannya tak percaya.
"Berikan uang dua ratus juta itu untuknya.!" titah George pada anak buahnya yang memegang uang.
"Dan kau nak, aku pikir aku akan mengambil motormu. Jika kau ingin menebus kembali motor ini maka kau bisa datang kemari atau ke rumah ku." ucapnya santai.
Anak buah George pun memberikan amplop coklat tebal itu pada Devan dengan sejumlah uang yang diminta.
"Lo gak nyesel Van? Itu motor lo yang bakal dapet uang banyak lho." yakin Mikko.
__ADS_1
"Gw gak bakal kesini kalo gw punya jalan lain Mik. Lagian ini jalan terakhir gw supaya ortu gw selamat." ucap Devan pelan pada Mikko yang ada di sampingnya.
"Terima kasih Tuan George. Aku tidak tau untuk tawaranmu itu nantinya. Yang jelas sekarang aku tak memerlukan motor itu. Jika sudah selesai kesepakatan ini, apa aku dan temanku boleh pergi?"
"Ya ya ya. Tentu saja. Hey kalian yang disana menyingkirlah dan biarkan anak ini pulang." Titah George.
Mereka semua menurut dan membiarkan Mikko dan Devan keluar arena itu. Devan langsung berlari membawa dua kantong amplop berisi banyak uang itu.
"Tuan George apa kau tidak salah? biasanya mangsa yang datang ke sini tidak pernah kau lepaskan. Apalagi mereka yang serakah, seperti anak itu." protes bawahannya yang paling dekat.
"Huh! aku rasa otakmu sudah tak berfungsi karena terlalu sering minum."
"Tap... Tapi tuan...."
"Jika kau bicara lagi maka peluru dalam pistol itu bukan melayang ke arah anak itu melainkan ke kepalamu! paham kau!!" tegasnya. Seketika membuat bawahannya itu takut bahkan hanya menggangguk tak berani berucap.
George meneguk wine serta menghisap rokok dengan santai bagai tak terjadi apa apa sebelumnya. Membuat teman temannya yang ada di sana bingung bahkan merasa aneh.
"Ada apa?" tanya pada teman temannya yang sedari tadi melihatnya.
"Apa yang terjadi hari ini? Kau melepas anak sombong itu? Apa kau Punya hubungan dengannya?"
"Tidak. Aku hanya berbaik hati padanya hari ini. memangnya ada yang salah?"
"Tapi Geor ini seperti bukan kau. Dan anak itu lagi....argh membuatku kesal saja" bantah temannya
"Kenapa kau yang kesal? sedangkan ia punya urusan dnegan ku? lagi pula jika dilihat dari gerak gerik anak itu sepertinya dia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Dia menjual motornya padaku dan aku pun membelinya. Ada yang aneh?"
__ADS_1
"Tapi dengan harga yang seperti itu apa tidak.....?"
"Heyyy! Apa kalian meragukanku. Sama seperti yang anak itu bilang, uang dua ratus juta bahkan tak ada artinya untukku tak membuat ku jadi miskin juga. Lagi pula sepertinya dia tidak serakah. Dia mengorbankan salah satu jalan usahanya untuk mendapatkan uang dengan harga yang tinggi namun hanya sekali? Apa itu masuk akal, jika hanya untuk bersenang senang?"
"Maksudmu?"
"Kau lihat tekad anak itu ketika masuk ke arena kita. Bahkan dia sedikit gemetar namun ia tutupi dengan wajah datarnya. Anak itu begitu pandai menyembunyikan sesuatu. Dan lagi jika tidak benar benar penting, pasti dia akan mengaku pada saat pistol itu ditodongkan. Iya bukan? Kau lihat saja reaksi dari temannya yang sudah begitu takut. Aku yakin dia memilih jalan ini karna ia sangat membutuhkannya."
"Aku juga setuju. Kenapa aku mau mengorbankan kesenanganku untuk sesaat saja. Jika kesenangan itu bisa mencapai waktu panjang untuk apa harus ku korbankan sekarang? Iya tidak? Yang artinya ada sebab jika aku mengorbankan motor kesayanganku, apalagi sudah menemaniku lama. Walaupun hanya sekedar motor itu pasti ada artinya, seperti barang kesayangan" ucap teman satunya lagi.
"Kau paham maksud ku." ucap George tersenyum simpul.
'Bahkan ntah mengapa aku merasa tak asing dengan anak itu. Siapa dia? Apapun yang sedang kau perjuangkan sekarang, aku harap suatu hari nanti aku tau.'
Devan bersama dengan Mikko memberhentikan sebuah taksi. Guyuran hujan itu tak membuatnya dingin sama sekali berbeda dengan Mikko yang sudah hampir beku karena dingin. Taksi itu melaju dengan cepat menuju Rumah Sakit. Devan yang sedari tadi tenang menghadapi orang yang begitu kejam, tidak untuk sekarang. Bahkan duduknya pun sudah tak karuan.
Sopir taksi yang menjadi supir mereka, selalu di marahi oleh Devan agar ia melajukan mobilnya dengan cepat. Namun supir itu berusaha memberikan pengertian pada Devan, pada saat hujan deras seperti saat ini tidak lah baik jika berkendara dengan cepat. Namun tak mempan sama sekali pada Devan. Hingga terjadilah perdebatan antara Devan dan sopir taksi itu. Sedangkan Mikko? Ia masih diam di tempatnya bahkan hampir mematung. Menangkup kedua telapak tanganya di sela pahanya agar lebih hangat. Bahkan badannya sudah gemetar menggigil.
Tapi walaupun begitu otaknya masih memutarkan kejadian bebrapa saat lalu, saat mereka berhadapan dengan bos pembalap kejam. Bahkan dengan lantang Devan menyebut namanya tanpa rasa takut. Dalam diamnya Mikko kembali berdoa dan bersyukur sebab ia masih diberi kehidupan. Ia berpikir kalau ia akan mati pada saat itu juga namun ternyata tidak.
Zephh....
Taksi itu mogok tiba tiba di jalan. Membuat Devan kembali frustasi di buatnya. Sopir taksi itu keluar memeriksa bagian depan mobil dan ternyata ada kerusakan. Dan apabila diperbaiki akan memakan waktu yang lama. Devan yang frustasi dengan keadaan itu membuatnya ingin benar benar marah. Ia ingin mengajak Mikko untuk naik kendaraan lain. Namun terlihat ia begitu nyaman di bangkunya saat ini. Devan yang tak tega pun menitipkan temannya itu pada sopir taksi.
"Argh...Kenapa nih taksi bisa mogok disini sih. Mana jalanan sepi lagi." rocehnya sambil berlari di jalanan dan menunggu kendaraan lain yang lewat.
Namun sudah berapa lama kendaraan kendaraan itu tak ada yang lewat satu pun. Devan yang kesal akhirnya memilih untuk berlari sampai ia berada di jalan yang sudah agak ramai nantinya dengan harapan ada kendaraan yang bisa ia tumpangi.
__ADS_1