Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#65


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, hubungan Kian dan Devan kini berubah mulai dari hanya teman sekelas menjadi teman yang selalu bisa diandalkan. Dalam artian tentu saja di luar sekolah mereka tetap menjadi teman tidak seperti yang lain. Tapi sifat Devan sendiri masih terbilang keras hati dan dingin, walaupun tak terlalu pada Kian.


"Yey.... Happy birthday bestie." Febbry yang langsung saja memeluk Kian yang baru datang di kelas.


"Hahahaha... Makasih Febbry. Gak capek apa lo dari semalem spam gw mulu? Pagi ini masih tetap aja ngomong." Pelukan yang sudah renggang


"Gak lah. Sampai reward keluar." Ucapnya dengan cengiran yang menampakkan gigi serta gusi depannya itu.


"Udah ketebak sih. Harusnya gw dong yang di gratisin masa elo yang minta gratisin. Emang ya anak bu Nani penyuka gratisan."


"He... he... kan setahun sekali aja Ki." Rayunya


"Iya-in aja ntar nangis kalo gak di turuti."


Hari ini tepat tanggal 23 Februari, yang artinya hari ini Kian tepat berusia 17 tahun. Harapan yang pertamanya pasti ia ingin diucapkan oleh kedua orang tuanya di pagi hari. Namun tepat jam dua belas malam malah banyak spam dari Febbry, Jerry dan beberapa teman lainnya yang mengucapkan selamat untuknya. Sampai pagi ia masih berharap yang sama. Namun lagi lagi harapan itu di patahkan oleh keadaan.


Pagi ini kedua orang taunya pergi ke luar kota lagi sepertinya, ntah kemana itu Kian tak tau. Sebab Kian melihat rumah itu begitu sepi, dan ia juga sampai masuk kamar kedua orang tuanya. Dilihatnya tempat itu begitu rapi, dengan beberapa barang tak ada, seperti koper, tas dan sepatu yang biasa di pakai oleh orang taunya serta sweater tebal yang biasa tergantung di sana. Lagi dan lagi tanpa kabar, tanpa ucapan sepatah kata pun mereka meninggalkan Kian sendiri di rumah. Jangankan untuk mengucapkan selamat, pamit saja tidak padanya. Ia benar benar merasa seperti dianaktirikan oleh mereka.


Tapi harapan itu tidak lah berhenti dalam benaknya. Ia berharap nantinya ada kejutan dari orang tuanya, jika pun tidak maka ia berharap bahwa tahun depan dia bisa diucapkan dan merayakannya bersama kedua orang tuanya. Walaupun kenyataannya sejak usianya tujuh tahun kedua orang tuanya tak pernah tepat mengucapkan hari itu dan semakin besar semakin Kian tak mendapatkan lagi ucapan itu.


'Mungkin karna gw yang udah besar kali ya, jadi bagi mereka ucapan itu tidaklah penting lagi. Huh... andai kalian tau yah ... bund, Kian cuma pengen waktu kalian sama perhatian kalian aja.'


Batinnya selalu menjerit akan hal itu, namun berbeda dengan otaknya. Otaknya menyuruh dirinya untuk selalu tidak menuntut apa pun, bahkan perhatian sekali pun. Otaknya menyuruhnya untuk dewasa dan harus selalu mengerti dengan keadaan ortunya yang sibuk itu.


Sebenarnya yang ia harapkan bukan lah hadiah melainkan hanya doa dan waktu yang dihabiskan bersama antara ia dan kedua orang tuanya. Kian ingin sekali bisa bercerita banyak hal, namun keadaan selalu bilang kalau ia tak akan mendapatkan hal itu. Terlihat saat kedua orang tuanya yang ada di rumah, Kian ingin bicara pun mereka selalu saja menyibukkan diri. Mengingat itu Kian hanya bisa tersenyum kecut.


Namun berbeda ketika ia berada di luar rumah maka snyum tipis selalu melekat di bibirnya seolah membuktikan ia sedang baik baik saja begitu pula dengan keluarganya. Sama seperti hari kemarin, hari ini pun senyum itu tersungging di bibir pink nya itu di tambah lagi hari ini adalah hari spesialnya, walaupun ia tak mengharapkan sesuatu dari orang lain, ataupun berharap orang lain tau dengan harinya.


Bel istirahat yang berbunyi langsung membuat Febbry begitu bersemangat menarik Kian pergi ke kantin. Bagaimana tidak, ucap Kian pagi tadi yang akan menyraktirnya kini ia tagih.


"Sabar sedikit Feb. Ngapain pake acara kayak gini sih?"


"Gw gak mau nasi uduk kesukaan gw nanti malah kehabisan. Ntar malah gak jadi lo traktir gw." Rocehnya yang masih tetap menarik Kian.

__ADS_1


"Ya ampun. Bisa bisa nya lo mikir gitu. Habis nasi uduk ntar kan bisa pilih menu lainnya Feb."


"Gak pokoknya gw cuma mau tuh nasi uduk. Jangan sampai abis lagi hari ini. Udah cukup kemaren aja gw gak makan tuh nasi uduk. Awas aja kalo mereka pada gak sisain buat gw. Bakal gw porak poranda tuh kantin."


"Iya sabar. Kenapa sih pake ngamuk segala."


Akhirnya mereka sampai dan Febbry langsung memesan apapun yang ia mau. Bahkan yang katanya hanya ingin nasi uduk itu, ia sampai memesan tiga porsi nasi uduk, soto, bakso dan makanan lainnya belum lagi minumannya yang sampai empat macam. Sedangkan Kian hanya memesan satu porsi soto dan es jeruk. Kian yang melihat Febbry seperti itu hanya menggelengkan kepala.


"Gila, selain lambe turah lo gentong juga ya Feb." Ucap seseorang yang lewat di samping mereka dengan gerombolan teman temannya.


"Kurang ajar lo Bagas!!"


"Hahahaha... Btw hbd Ki dari kita semua. Gak ada traktir an buat kita gitu?" Candanya


"Thanks. Oh..."


"Enak aja lo pada minta gratisan. Pegi sana lo pada. Gangguin aja, bikin gw enek liatnya." Ketus Febbry pada mereka yang juga memotong ucapan Kian.


Lima belas menit berlalu, mereka berdua selesai makan dan pergi ke kelas.


"Gila, kenyang banget gw."


"Ngomongnya.. Harusnya alhamdulillah bukan gila Feb."


"Hehe.. sorry Ki. Alhamdullilah, thanks traktirannya."


"Hn... iya sama sama"


"Kiannn...." Panggil seseorang membuat kedua manusia itu berhenti dan menoleh.


"Iya Bu. Kenapa?"


"Sudah berapa hari ini Sarah tidak sekolah. Kalian tidak dapat kabar apapun dari Sarah?" kedua anak itu hanya menggeleng.

__ADS_1


"Huh... Ya sudah. Ki, ibu minta tolong ya. Ini beberapa buku tugas dan kertas ulangan Sarah beberapa hari lalu. Tolong kamu kasih ke dia. Dan tolong tanyakan juga kenapa ia sampai tak sekolah." Tutur Bu Bianca sebagai Wali kelas.


"I... iya bu." Ibu itu langsung berlalu pergi setelah memberikan bebrapa lembar buku dan kertas pada Kian.


"Lo tau rumahnya Ki? Mau gw temenin gak? Gw juga penasaran kenapa tuh bocah sampe gak sekolah. Emang lo sama dia masih berantem ya Ki?"


"Tau kok. Gak usah Feb. Gw juga gak tau. Tapi gw bakal minta maaf sama dia nanti, gw juga takutnya dia gak sekolah gara gara gak suka sama gw."


"Ngapain sih lo minta maaf. Toh lo juga gak salah. Harusnya dia juga ngerti kan Devan kayak apa. Itu urusan dia sama Devan. Kenapa jadi lo yang di bawa bawa masalah hubungan dia sama Devan. Dan kalo gw liat liat juga Devan sukanya sama lo bukan ke dia. Jadi disini lo tuh korban keegoisan Devan sama Sarah." Roceh Febbry tanpa henti ditambah lagi wajah julidnya yang begitu membuat orang lain kesal melihatnya.


"Itu...."


Tap.... Tap...


Seseorang berjalan ke arah mereka dengan menyandang tas sebelah, wajah yang datar dan dingin. Kian dan Febbry yang tadi asiknya mengobrol sambil bercanda di depan pintu kelas malah jadi terdiam.


"Ikut gw."


Simple namun mengandung unsur paksaan di sana. Kian hanya menautkan kedua alisnya tak paham dengan orang yang sedang ada di depannya saat ini. Wajahnya yabg begitu datar di tambah lagi mata sadis itu terlihat begitu menakutkan.


"Ya udah Ki, sini bukunya biar gw tarok di meja lo. Gw gak ikutan ya. Tuh anak serem banget." Bisik Febbry pada Kian sambil merebut buku dan kertas yang ada di pelukan Kian.


.


.


.


.


.


💬💬❤❤

__ADS_1


__ADS_2