Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#4


__ADS_3

Sarah POV


Oh astaga, demi apa gw sedekat ini sama ni orang. Tatapannya juga gak setajam tadi, dan kenapa sih nih jantung pake maraton segala. Ekspresi datar dia aja cakep apalagi dia senyum kali ya. Haduh ini jantung bisa bisa pindah turun ke ginjal gw nantinya😖😣. Pah tolong anakmu ini..........


Sementara papa Sarah yang dikantor malah...


"uhhuk...uhhuk...."


"Pak anda baik baik saja?" tanya sekretarisnya


"Iya saya baik. lanjutkan mettingnya." titah papa Sarah.


kembali ke Author POV.


"Heh, mau sampai kapan lo kayak gini huh?" ucap Devan dingin. Namun karna Sarah masih terhipnotis dengan wajah Devan yang baru benar benar bisa lihat dengan jelas dan dekat seperti ini. Dan tentu saja satu kelas juga melihat adegan romance itu.


Namun, bruukhhh...


Sarah terjatuh dari pelukan Devan.


"Aduhhh....sakittt" keluh sarah. Sontak semua orang tergelak kaget. Mereka berfikir bagaimana bisa Devan melakukan hal itu pada siswi seperti Sarah. Bahkan secantik sarah pun tak membuat hati Devan lunak. Dan tentu saja teman temannya merasa tidak terima dengan perlakuan Devan itu. Kian yang ada disampingnya langsung membantu sarah untuk berdiri. Dan febbry jangan ditanya lagi. Ia meroceh panjang lebar pada Devan. sedangkan Devan langsung mengambil kursi tersebut dan mencari posisi ternyaman tanpa membalas ucapan febbry.


"WOY DEVAN KAVINDRA BAGASKHARA!! LO DENGER GAK SIH YANG GW BILANG HAH. LO EMANG MANUSIA GAK PUNYA HATI NURANI YA. SARAH ITU PEREMPUAN WOYY JADI JANGAN SEENAKNYA DONG!!" lanjut roceh Febbry. Satu kelas melindungi telinga mereka dari teriakkan Febbry namun si empu yang dimarah malah tak perduli.


"Lo mau gw bawa ke UKS gak Sar?" tanya Kian


"Eh gw gpp kok Ki. Cuma bokong gw aja yang sedikit sakit. Ya udah gw mau ke bangku gw dulu ya. Thanks udah nolongin gw Ki. Dan thanks juga Van." ucap Sarah yang hendak berjalan ke bangkunya setelah dibantu Kian bangkit.


Melihat kehebohan itu Bagas sebagai ketua kelas pun ikut turun tangan.


"Udah Feb, gak usah teriak teriak. Pergi ke bangku lo sekarang!" titah Bagas, tentu itu membuat Febbry kesal namun ia diam dan pergi ke bangkunya untuk melihat keadaan sarah.


"Dan lo harusnya lo gak lakuin itu. Harusnya lo minta maaf sama sarah. Kalo sampai sarah kenapa kenapa lo mau tanggung jawab hah!" ucap Bagas pada Devan. Namun Devan hanya menatap sekilas tanpa bicara dan memejamkan matanya kembali.


Karna kesal dengan tingkah Devan yang seperti itu, Bagas tersulut emosi dan hendak menghampiri Devan dan memukulnya. Namun ditahan oleh beberapa orang anak kelas itu agar masalah tak semakin besar.


Tanpa terasa jam pelajaran pun berganti, dan datanglah seorang guru sejarah yang melanjutkan mata pelajarannya. sedangkan keadaan kelas sudah kembali normal seperti tak terjadi apa apa.

__ADS_1


Sementara itu dibangku Sarah dan Febbry.


"Sar, lo bener bener gpp he? Kalo ada yang sakit atau perlu ke rumah sakit bilang aja."


"Iya feb. Gw gpp kok. Lagian salah gw juga tadi kenapa gak langsung berdiri pas udah ditolong sama Devan. Yah wajar aja sih dia kesel, kan pasti gw berat banget, hehe"


"Belain aja terus pangeran lo tuh. Lama lama juga bakal lo yang di buat sakit ati ama tuh anak."


" Ish...udah lah Feb. Gw juga gpp."


Pelajaran berlanjut sampai guru memberikan tugas, dan guru itu pun permisi keluar sebentar karena di panggil oleh kepala sekolah.


Jujur saja, Kian juga merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Devan. Namun sudah semua orang memarahinya, ia masih saja tak perduli. Tanpa disadari oleh Kian, Devan tau kalau Kian terus menatap kesal ke arahnya.


"Heh! kutu buku, ngapain lo liat gw. Mau senasib sama temen lo itu hah!"


"Gak, gw liat lo karna kesel aja. Bisa bisanya lo ngelakuin itu ke Sarah." datar Kian


"Salah temen lo juga sih. Gw udah suruh bangun dia gak bangun bangun." ucapnya malas.


"Ya setidak jangan...."


"Dasar manusia aneh" gumam Kian


"Gw denger ya kutu buku"


Karna malas merespon, Kian pun memilih untuk diam dan mengerjakan tugasnya.


Seharian mereka habiskan di sekolah dan akhirnya jam pelajaran pun telah usai saatnya mereka semua pulang.


"Ki, balik sama gw?"


"Gak usah Sar. Gw masih ada yang harus dikerjain sama anak organisasi karil. Jadi kalian pulang aja dulu."


"Tapi nanti jadi kan?"


"Tenang aja jadi kok. Ini aja gak bakal lama."

__ADS_1


"Oh ya udah kita pulang dulu ya" ucap Sarah dan Febbry.


Kian langsung pergi ke ruangan anak organisasi karil. Dan melaksanakan tugasnya. Karna adik adik kelasnya akan mengikuti lomba, ia sedikit membantu mereka dalam belajar. Setelah selesai Ia pun langsung pulang.


Jam menunjukkan pukul Tiga siang. Ia buru buru pulang, namun tak melihat ada angkutan umum. Dan ia memilih untuk berjalan terlebih dahulu, siapa tau bisa mendapatkan kendaraan nantinya.


Dan benar saja di persimpangan ia melihat ojek yang sedang ngetem di pangkalan.


Tanpa pikir panjang Kian langsung menaiki salah satu dari ojek di sana. Rata rata ojek disana memakai motor biasa, seperti beat atau pun motor yang lain. Sehingga ia menaiki ojek motor beat tersebut.


"Lah neng, jangan naik motor saya"


"Kan abang tukang ojek. Jadi tolong anter saya lah."


"Tapi masalahnya saya udah di order neng. Neng naik yang sana aja" ucapnya sambil menunjukkan seseorang yang memakai motor ninja.


"Emang dia ojek juga bang?" tanya Kian yang merasa kurang percaya dengan orang tersebut.


"Iya lah neng."


"Kavin, nih ada orderan." teriak abang tersebut. Dan orang yang dipanggil pun menoleh, namun orang tersebut memakai helm dengan kaca uang dibuka namun mulut dan hidungnya tertutup helm. Sehingga Kian tak bisa melihat jelas orang tersebut.


"Nah sana neng. Sama dia aja. Walaupun liatnya kayak gitu, dia baik kok orangnya. Pasti dijamin selamat sampai rumah. Saya pamit dulu neng." ucap abang tersebut langsung pergi.


Kian mendekati orang tersebut, namun orang tersebut juga masih terpaku melihat Kian. Orang tersebut langsung menutup kaca helm nya dan menaiki motornya.


Kian sedikit bingung dengan motor yang harus ia pakai tersebut.


"Bang, apa gak salah nih. Nih motor terlalu bagus deh buat ngojek." ucap Kian yang hendak menolak menaiki motor tersebut secara halus dan membujuk abang tersebut untuk naik motor yang lain.


"Jadi apa gak nih?" ucapnya dingin


"Jadi sih bang. Cuma liat dong rok saya yang pendek. masa...aduh...itu..." ucap Kian terbata bata


"Naik aja"


Kian pun memegang pundaknya dan langsung menaiki motor itu. Namun ia begitu risih karna rok yang ia pakai semakin naik ke atas. Si abang ojek pun membuka jaketnya, dan tentu saja membuat Kian terbelak kaget.

__ADS_1


"Bang, mau ngapain??!" tanya Kian yang khawatir dengan yang dilakukan si abang.


__ADS_2