
Saat Devan keluar kelas, ia melirik Kian yang juga berada di depan pintu bersama Febbry. Setelah itu ia pergi lagi. Sedangkan Febbry dan Kian langsung menghampiri Sarah yang masih terdiam mematung di samping meja Devan.
"Lo gpp Sar?" tanya Febbry yang melihat Sarah. "Emang bener bener tu cowok ya. Gak bisa dibaikin."
"Yang sabar ya..." Ucap Kian.
Setelah tak ada balas jawaban dari ucapan mereka berdua oleh sarah, Sarah pun membuka mulut.
"Heh! gw bakal lumpuhin sifat keras kepala tuh manusia dan sombongnya bakal menjadi sebaliknya. Gw yakin nantinya dia bakal ngejar ngejar gw." ucap Sarah penuh penekanan. Tentu saja kedua anak manusia yang berada di sampingnya merasa sedikit terkejut dengan kalimat sarah. Bagaimana tidak, mereka pikir sarah adalah perempuan kalem dan biasa saja. Tapi ternyata mereka salah....
Sepulang sekolah Kian ditawari untuk pulang bersama Febbry dan Sarah. Namun ia menolak dengan alasan ingin mengembalikan jaket si tukang ojek. Mereka berdua pun hanya ber-oh saja dan langsung pulang. Kian berjalan menuju pangkalan ojek yang kemarin ia datangi.
Namun, saat sampai disana ia tak melihat motor
itu terparkir. Ia pun menanyakan si ojek pada ojek lainnya.
"Permisi pak. Saya mau tanya abang ojek yang pake motor ninja kemarin mana ya?" tanya nya pada tukang ojek lain.
"Oh dia, Dia gak masuk. Hari ini katanya orang tuanya kritis di rumah sakit."
"Oh gitu ya pak. Kalo gitu saya titip jaket ini ya pak. Kemarin saya pinjem jaketnya abang ojek."
"Lebih baik neng kasih sendiri aja. Karna saya juga gak yakin dia besok bakal masuk atau mangkal lagi disini. Dia mangkal pindah-pindah, gak tentu."
"Oh gitu ya. Saya boleh minta alamatnya pak kalo gitu?"
"Kita juga gak tau sih neng. Dia gak pernah bilang alamat rumah dia dimana."
"Huh...gitu ya. Ya udah deh kalo gitu. Saya permisi dulu. Makasih ya pak"
Kian pun beralih melanjutkan jalannya. Karna malas dan suntuk di rumah, ia memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki agar lebih lama sampai. Lagi pula di rumah tak ada siapapun. Sehingga dia sedikit bebas.
Tiiiinn... Tinnnnn!!!
Grepp....
"Kamu gpp dek? hem?" Tanya Kian pada bocah yang baru saja ia selamatkan. Ternyata anak itu hampir saja ditabrak mobil karena menyeberang sembarangan.
__ADS_1
"Iya kak aku gpp kok. Makasih ya"
Kian berlutut mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak itu. Melihat wajah sang anak yang terbilang pucat dan sedikit kebingungan.
"Lain kali kalo keluar tuh harus sama orang dewasa ya. Bahaya loh di luar sini. Nanti kamu di culik orang jahat gimana?"
"Iya kak."
"Ya udah kakak antar pulang ya. Nanti di cariin sama orang tuanya."
"Orang tua aku lagi di rumah sakit kak. Ini lagi cari kakak, biasanya jam segini dah jemput buat pergi ke rumah sakit. Tapi sampai sore kakak belum pulang juga." ucapnya yang hampir menangis.
Kian yang iba melihatnya pun bermaksud menolongnya.
"Emm... ya udah kakak antar kamu ke rumah sakit aja."
"Wah beneran kak. Makasih ya" ucapnya dengan mata yang berbinar.
"Iya, tapi kamu tau kan rumah sakit yang ditempati orang tua kamu?"
"Tau kok."
Karena tak tega, dan kebetulan kian juga belum makan. Ia memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu. Mereka makan di warung kaki lima yang tak jauh dari sana. Dua mangkuk soto, dua porsi nasi, ayam goreng dan sate itulah menu makan mereka. Anak itu terlihat lahap sekali makan. Kian termasuk anak yang lumayan hemat, sehingga uang jajannya masih tersisa banyak untuk bulan ini yang kemudian digunakannya untuk makan bersama. Setelah makan Kian membawanya ke supermarket dan membeli apapun yang dimau si anak.
"Udah semua kan? kita ke rumah sakitnya naik angkutan umum aja ya.."
"Iya kak." ucap si anak dengan senyum lebar.
"Oh ya nama kamu siapa?"
"Gio kak. Gio Ananta Alfarezel. Panggil aja Gio, hehehe."
"Ya ampun panjang banget nama kamu ya. Ya udah dh kita langsung ke rumah sakit aja ya."
Setelah menaiki bus untuk beberapa menit akhirnya mereka sampai. Kian dan Gio langsung melesat masuk mencari kamar orang tua gio. Karna harus makan dulu tadinya dan menunggu bus membuat mereka sampai di rumah sakit sudah sore. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Tapi untung saat tiba, mereka tak kebingungan mencari kamar pasien. Saat Kian hendak membuka pintu kamar pasien tersebut, telponnya malah berdering dan menunjukkan nama bundanya di layar.
"halo assalmulaikum bund."
__ADS_1
"Kamu dimana nak? Kok jam segini belum pulang?" suara dari sebrang. "Kamu liat kan anak kamu jadi seperti ini!!!!" terdengar suara kedua dari balik telpon. Tentu saja Kian tau suara siapa itu. Dan sedikit cemas juga dengan keadaan di sana.
"Bunda sama ayah udah sampai di rumah ya? kian pikir besok atau besok lusa."
"Sudah sudah. Mending kamu pulang sekarang ya sayang. hati hati dijalan."
"Iya bunda. Assalamulaikum."
tut...... sambungan telepon terputus.
Kian kembali berlutut di hadapan gio.
"Emm ini benerkan kamar orang tua kamu gio?" tanya Kian untuk memastikan
"Iya kak bener kok. Lagian gio juga udah sering kesini."
"Syukur dh kalo gitu. Kakak cuma bisa anter kamu sampai sini. Soalnya kakak masih ada urusan."
"Yah, kenapa gak masuk dulu sih kak. Ketemu kakak sama Mama gio."
"Lain kali aja ya sayang. Nanti kakak janji bakal kesini kalau ada waktu buat jenguk mama Gio. oke?" ucap Kian dan Gio pun mengangguk.
Setelah berpamitan Kian langsung bergegas pulang. Mendengar suara dari balik telpon tersebut sepertinya keadaan sedang tidak baik-baik saja. Dengan menggunakan ojek kian pun sampai rumah.
"Assalamulaikum..." ucap Kian yang masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam" ucap bunda kian dengan suara yang bergetar. Dan langsung memeluk Kian.
"Kamu dari mana aja sih nak. Kan bunda bilang setelah pulang sekolah langsung pulang."
"Iya bunda, maaf. Tadi Kian nganter seorang anak ke rumah sakit dulu....Kian juga....." belum selesai Kian berucap sudah dipotong
"Alah alasan kamu!!! Udah mau jadi berandalan kamu sekarang he??! baju belum diganti, mana urakan seperti itu, gak liat jam udah jam berapa!!! kamu ngapain aja di luar jam segini baru pulang!!!" rocehnya, siapa lagi kalau bukan ayah Kian. Kian hanya menunduk pasrah.
"Yah udah yah. Yang penting kan Kian udah pulang."
"Kamu juga!!! Belain aja terus anak kamu. Kamu tau gak sih tugas seorang ibu itu apa!! jaga anaknya di rumah. Bukan ngikutin suaminya kemana mana. Jadi seorang ibu kok gak becus!!"
__ADS_1
"Yah, bunda gak salah. Yang salah itu Kian. Pulangnya telat. Jangan marahin bunda lagi."
"Kamu juga!! ngapain aja kamu di luar he?! jangan jangan kamu bergaul dengan orang yang gak bener ya!! jangan malu maluin keluarga kamu Kian!! Mentang mentang orang tua kamu gak ada di rumah kamu seenaknya saja buat main. Jadi anak kok gak bener!!!"