Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#54


__ADS_3

Dengan perasaan campur aduk, Devan keluar dari Cafe Arya tanpa pamit pada bosnya maupun pada Gio. Dengan memakai motor di tempatnya bekerja, ia melaju ntah kemana, tanpa tujuan. Melajukan motor itu sesuka hatinya, bahkan di jalanan seramai itu Devan masih saja berani kebut kebutan sendiri. Ia yang melaju seperti itu bagai melaju di arena balap.


Tak memikirkan pengendara lain, yang penting ia puaskan amarahnya siang itu. Menyalip satu persatu kendaraan yang ada ntah itu motor atau pun mobil yang ia temui. Sedangkan hatinya tak berhenti hentinya meroceh dan memaki. Siapa lagi kalau tidak memaki dirinya dan Daren.


Hingga berhenti di sebuah jembatan panjang yang membentang di sepanjang sungai berarus deras itu. Ia turun dari motornya, dan berjalan mendekati tiang tiang pinggiran jembatan.


Ia bersantai menikmati angin yang begitu kencang disana, berharap amarahnya bisa ikut terbang bersama angin. Di tempat itu begitu sangat sepi sehingga membuat Devan lebih tenang. Menumpukan kedua lengan tangannya disana, dengan tangan kanan memegang atau foto dan tangan satunya lagi meneguk alkohol, yang ia beli sebelum datang ke sana.


Sungguh pikirannya saat ini begitu ruet. Ia meneguk minuman itu sambil memandangi satu foto yang selalu ia bawa kemana mana.


'Ma, apa yang harus Devan lakukan sekarang. Kenapa ia selalu muncul di kehidupan ini. Di saat Devan sudah benar benar merasa tak membutuhkannya lagi, kenapa ia baru kembali. Devan takut Gio yang akan menjadi sasarannya. Devan takut gak bisa jaga Gio, ma.'


Gluk.... Gluk...


Wushhh.....


Angin bertiup begitu kencang membuat Devan menutup matanya. Merasakan kedamaian dan sejuk dari angin itu.


"Hey nak. Sebesar apapun masalahmu, kau harus menghindari yang namanya bunuh diri." Ucap seseorang yang mendekati Devan lalu menepuk bahunya.


Membuat Devan tersadar dan membuka mata.


"Heh... Apa kau pikir aku manusia yang tak punya otak? Menyia-nyiakan hidup satu kali yang diberikan ini?."


"Ku pikir juga begitu. Anak yang sering menantang maut sepertimu tidak mungkin ingin mati tanpa gaya seperti ini. Ha.... Ha... Lalu apa yang kau lakukan he?" Tanya dengan senyum miring dan alis mata terangkat sebelah.


"Hanya menikmati suasana mendung di siang hari. Anda sendiri?" Simple Devan


"Benarkah? Aku pikir seseorang tidak akan minum jika ia tak sedang dalam masalah. Apa yang membuatmu seperti ini? Seorang perempuan?"


"Ntah kenapa kau terlalu banyak ingin tau tuan George. Tapi yang kau katakan memang benar, minuman hanya pelarian yang hanya bisa membuat masalah terlupakan sementara."


"Hey nak. Di usiamu saat ini tidak baik jika terlalu banyak minum. Kau masih muda, apa kau ingin mati muda karna minuman yang akan merusak tubuh mu, hm?" Jedanya


"Jika sudah cinta memang susah untuk melupakan. Namun bukan berarti kau tidak bisa menemukan cinta yang lain." Sambungnya menatap ke langit.

__ADS_1


"Kenapa kau pikir begitu? Apa kau benar benar berpikir jika aku minum hanya karna seorang perempuan?"


"Tentu saja. Apalagi melihat foto yang ada di tanganmu yang sudah begitu lusuh. Terlihat kau begitu menbucininya." Remehnya sambil tertawa.


"He.. he... Kau benar tuan George. Seorang perempuan yang begitu kucintai ada dalam foto ini."


"Begitukah? Aku ingin lihat bagaimana rupanya, sampai membuat seorang anak laki laki yang tidak kenal takut malah menjadi takut kehilangan dia."


Pintanya yang keadaan foto itu masih telungkup.


"Tidak. Kau tidak boleh melihatnya. Foto ibuku hanya aku yang boleh lihat. Lagi pula ini harta berharga yang ku miliki."


"Dan kau juga harus tau tuan George. Sekejam dan sepintar apapun seorang laki laki, ia hanya akan terlihat bodoh dalam urusan cinta."


"Apa ibumu? Oh ya pasti, cinta anak laki laki terhadap ibunya begitu besar. Lalu untuk apa kau menjual motormu waktu itu?"


"Ku tau. Demi seseorang yang kau cintai kau akan selalu ingin mengorbankan apapun yang kau miliki saat ini. Sama seperti kau yang ingin mengorbankan sesuatu demi anak dan istri mu. Seperti itulah aku."


"Oh ya aku paham. Walaupun aku tak punya anak dan istri."


"Apa!? Hahahaha.... Kau sangat lucu tuan George. Di usia mu saat ini sangat tidak baik jika belum memiliki keduanya... (Devan yang berucap sambil tertawa). Lagi pula kau sangat kaya tidak mungkin kau tidak memiliki keduanya."


"Huh.... (George menarik napas panjang dalam rasa menyesalnya) Aku tak mengenalnya, sampai satu hal ku lakukan padanya saat itu. Membuatku benar benar menyesal telah melakukannya. Lalu ia pergi ntah kemana. Aku memang bukan manusia yang baik tapi aku ingin bertanggung jawab dengan apa yang kulakukan. Aku mencarinya, berniat ingin meminta maaf karena kejadian itu bahkan akan bertanggung jawab. Namun nyatanya sampai sekarang aku tak kunjung menemukannya. Mungkin jika hari itu dia hamil, anak itu sudah seumuran mu."


"Hah... Lagi (Devan tertawa kecut). Bahkan terkadang hal seperti itu membuat ku malu mengakui diriku sebagai seorang laki laki. Yang lebih parah lagi ayahku tak mengakui kedua anaknya. Ada apa dengan orang orang seperti kalian ini." Sinis Devan.


"Yah aku tau aku salah. Bahkan aku sudah menerima akibat dari perbuatanku padanya. Hingga saat ini melihat perempuan pun rasanya tak tertarik karena dia. Apakah ini benar benar karma? Mungkin ini lah dia. Aku habiskan sisa hidup ini sendiri tanpa dia. Jika saja aku bisa bertemu dengan dia atau pun anaknya, aku benar benar ingin menebus segalanya." Sesalnya


"Lalu kenapa kau sampai tidak diakui oleh ayahmu? anak sepertimu? Ah... ku rasa ayahmu harusnya menyesal dengan hal itu."


"Tidak bukan aku. Melainkan dua anaknya yang lain. Lalu kau ingin menebus apa? Hal itu sudah terjadi. Lebih baik lupakan dan bersikaplah lebih baik sebagai bentuk suatu penyesalanmu."


"Ya hahaha.. Kau benar nak. Jika aku bisa melupakannya tentu saja akan ku lupakan. Aku juga ingin melakukan apa yang kau katakan. Kau tau aku semakin tertarik dengan kau yang memiliki pemikiran seperti ini. Lebih baik kau ikut denganku, ambil motormu dan bergabung denganku kau akan menjadi pembalap hebat dan bisa membahagiakan ibumu nanti. Lepaskan saja celemek konyol itu."


Devan melirik pakaiannya. Dan benar saja seperti yang dikatakan oleh George. Ia benar benar lupa melepas celemeknya.

__ADS_1


Plak...


Ia menepuk jidatnya.


"Astaga... Kenapa bisa aku lakukan hal bodoh ini. Yah baiklah sekarang aku harus kembali bekerja. Terima kasih tuan George atas peringatan dan tawarannya. Tapi kau perilu tau kalau celemek konyol ini lah yang menjadi pekerjaanku untuk menghidupi keluargaku selama ini." Ucap Devan yang menjauh darinya.


Keduanya sama sama tersenyum simpul karena tanpa mereka sadari mereka telah melakukan sesi curhat tanpa di duga.


"Tapi jika boleh ku katakan..." Ucap Devan menggantung.


"Ibuku sudah tiada. Jadi tawaranmu ku pikir tidak harus ku terima." Ucapnya dengan senyum paksa ala kedewasaan.


Semburat senyum di bibir George pun hilang setelah mendengar yang dikatakan oleh Devan.


Brumm... Brumm...


Motor itu melesat pergi.


"Hey!! Nak!!! Tunggu!!! Kau menjatuhkan barang berhargamu." Teriak George yang awalnya menggema lalu berubah biasa sebab Devan sepertinya tak mendengarkan.


George mengambil selembar barang berharga milik Devan yang tak sengaja jatuh itu.


.


.


.


.


Teruntuk yang baca, terima kasih ya🥰


🌻Happy Reading🌻


Oh ya Jangan lupa like, komen dan subscribe eh gak deh, hehehe....

__ADS_1


Kasih komen sama kritik aja sama like nya juga...


See u next eps ya👋👋


__ADS_2