Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#114


__ADS_3

"Lo ngapain sih ngajak gue jalan, he? Mau modus ya lo? Gue udah bilang ya Feb, kalo lo bakal ngejar-ngejar gue dan gue bakal tolak lo terus. Dan sekarang kutukan gue lagi menimpa lo. Jadi gak usah ngarep lo buat...."


Plak!!


"Berisik ogeb!!! Gila ya! Baru kali ini gue ketemu cowok modelan lo. Yang kepedean banget. Sape yang suka sama lo? Sape juga yang mau modus ke elo derum aer??? Gue bilang kan, gue cuma mau jalan doang. Suntuk gue di rumah. Dan kebetulan hari ini supir di rumah gue lagi ambil cuti jadi gak ada yang bisa anter gue. Lagian ujian udah selesai waktunya gue free sefree free-nya. Setres gue kalo disuruh belajar mulu!!"


Kini dua orang itu berada dalam satu atap mobil yang sama. Dengan Bimo yang mengemudi dan Febbry duduk di kursi sebelahnya. Febbry yang merasa bosan di rumah, membuatnya ingin berjalan jalan. Hanya saja tak tau harus dengan siapa. Hingga ia pun mengajak, bukan mengajak lebih tepatnya memaksa Bimo untuk jadi supirnya.


"Jadi maksud lo, lo ngajak gue cuma buat gantiin supir lo yang lagi cuti??!" Tanya nya tak percaya yang kemudian diangguki Febbry tanpa dosa.


"Kurang ajar lo!! Lagian kalo mau jalan harusnya sama temen. Mana temen lo?" Lanjut Bimo lagi. Tak ada jawaban dari sana. Febbry malah membuang pandangan ke jendela sampingnya.


"Hahaha... iya Gue lupa. Satu sekolahan kan gedek banget sama lo. Tapi kenapa lo gak ngajak Kian? Dia kan sahabat lo? Atau kalian lagi ada masalah? Denger ya Feb, harusnya lo tuh ngalah sama temen sendiri. Dan kalo Kian punya masalah harusnya lo ada disamping dia buat semangatin bukan malah happy sendiri. Terus juga lo harus bisa ngerti-in dia dong. Masa Kian sebaik itu masih lo...."


"BERISIK moncong lele!!!!!! Banyak omong juga ya lo! Kalo Kian dikasih dan mau juga ngapain gue ngajak makhluk hutan kayak lo. Norak banyak omong lagi. Dan tanpa lo suruh juga gue bakal lakuin itu!! Bahkan karena gue ngerti-in Kian makanya gue ngajak elo!" Febbry yang mulanya berwajah biasa sekarang malah kesal bukan main, wajahnya merah dan menatap geram Bimo.


"Ya udah santai aja kali. Lo serem banget kalo marah." Bimo kembali fokus ke jalanan.


"Ya udah makanya, jangan buat orang emosi gentong!!"


"Tuh mulut ya, enak banget ngatain orang. Gue jahit juga nanti!!" Teriaknya tak kalah dari Febbry. "Maksud lo gak dikasih itu apa?"


"Huh! Kian gak dibolehin kemana mana, apalagi kalo orang tuanya dirumah. Untung aja bukan orang tua gue, kalo iya dah gila gue gara-gara itu. Kian tuh orang tuanya over banget. Dan mungkin beberapa hari ini orang tuanya ada di rumah. Soalnya dia pulang cepet terus. Lo tau gak sih gimana rasanya ketika kebebasan gak ada ditangan lo apalagi di kehidupan lo? Mungkin itu yang dirasakan Kian. Gue kalo mau ketemu dia, ya harus dateng ke sana. Itu juga kalo pas orang tuanya gak ada." Suara itu mulai terdengar sendu.


"Berat juga ya pertemanan kalian. Tapi wajar sih orang tua Kian gak mau dia temenan sama lo. Bisa bawa pengaruh buruk lo buat Kian. Hahahaha...." Bimo tertawa terbahak, yang ia pikir akan membuat Febbry marah dan memukulinya. Namun ternyata salah, Febbry diam dan masih dengan wajah sendunya.


"Emang gue seburuk itu ya Bim?"


Seketika tawa itu hilang, dan langsung menoleh pada Febbry yang menunduk. Menggenggam rok pendek selututnya dengan erat. Melihat cadaannya malah dibalas lain oleh Febbry, membuat Bimo merasa aneh.


"So.. sorry Feb. Gue cuma becanda kok. Jangan terlalu dimasukin ke hati." Bimo yang bingung harus berbuat apa dengan hal itu hanya bisa menatap Febbry


"Gimana gak gue masukin ke hati, gue juga punya hati Bim walaupun gue kayak gini. Lagian apa yang lo bilang ada benarnya juga. Satu sekolahan aja gak suka sama gue, untung aja ada Kian yang baik mau nerima gue."


"Kalo sama gue semuanya jangan pake hati Feb. Lagian sebenarnya yang suka dan mau jadi temen lo tuh banyak. Ya cuma kebiasaan mulut lo aja yang sering buat orang menjauh."


"Kian juga sering bilang ke gue, supaya nih mulut lebih dikontrol. Tapi mau gimana lagi, udah bawaan dari kecil. Ini juga kadang kalo ada Kian di samping gue, baru nih mulut bisa sedikit di rem."


"Kian tuh emang baik. Gue juga suka dia." Santainya.


Seketika Febbry langsung menoleh ke arah Bimo. Mata yang awalnya sudah berkaca kini kembali menatap tajam Bimo.


"Akhhhh!!" Rintih Bimo


"Awas ya lo sampe pacaran sama Kian!! Gue gak bakal terima. Mau lo cowok satu satunya di dunia pun gue gak bakal izinin lo buat pacaran apalagi nikah sama Kian. Lo tuh cuma buaya kali yang selalu mainin perasaan cewek. Gue gak mau temen gue sakit cuma gara-gara cowok modelan kayak lo!!" Ucap Febbry yang tangannya tak tinggal diam.


"I.. iya Feb. Aduh sakit!! Lepasin dulu nih tangan. Telinga gue bisa copot nanti!" Teriaknya


"Bodo amat. Jangankan buat punya hubungan ama Kian! Lo punya pikiran buat gitu juga langsung gue terjunin ke jurang lo. Mau lo hn!!!"


"Ii... iiya Feb. Enggak, kan gue cuma bilang suka. Bukan berarti mau pacarin dia apalagi nikahin dia. Aelah dasar mak-mak lo Feb!!" Ucapnya setelah jeweran telinga itu dilepas oleh Febbry, meninggalkan bekas dan membuat telinga Bimo menjadi merah.


"Gue pegang omongan lo! Awas lo sampai ngelakuin hal itu." Ancamnya sambil menunjuk Bimo.


Dua puluh menit berlalu, akhirnya mereka tiba di suatu mall terbesar di kota itu. Bimo memarkirkan mobil dan turun bersama Febbry.


"Mau ngapain sih ke sini?"

__ADS_1


"Mau jualan." Singkat Febbry sambil merapikan bajunya.


"Jualan apa? Lo gak bawa dagangan."


"Gue mau jual manusia. Gak jual orangnya organnya aja sabi lah."


"Astaga Febbry, nyebut Feb nyebut!! Gila lo! Mana ada yang mau beli organ di sini. Lagian organ siapa yang mau lo jual?"


Febbry memandang Bimo dengan tatapan anehnya, "Gue mau jual organ manusia yang cerewet, jelek, berisik kayak lo. Mau lo?!" Sergah nya, lalu berjalan meninggalkan Bimo yang masih ada di depan mobil diam tak bereaksi, mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Lo kalo cuma mau berdiri disana gak apa-apa. Gue tinggal yah." Teriak Febbry yang sudah agak jauh.


Dengan bergegas ia langsung menyusul Febbry dan masuk kedalam mall besar itu.


"Tungguin oon!!"


"Ye salah sendiri, lo malah bengong!" Ucap Febbry, sedangkan Bimo terus mengejarnya, berusaha menyamakan langkah dengan Febbry.


"Lo mau beli apa? Jangan cepet-cepet juga."


"Gue mau beli tas keluaran terbaru. Lo tau betapa langkanya itu tas? Kalo gue gak dapet, bakal gue hancurin tokonya! Gue bakal beli berapa pun harga tuh tas, pokoknya harus dapet." Ucap Febbry serius, melangkah tanpa memperhatikan Bimo.


Febbry terus meroceh tanpa henti, tanpa di disadarinya kalau Bimo tak lagi berada di belakangnya. Febbry terus berjalan sampai pada sebuah kaca lebar yang memantulkan dirinya di sana, dan begitu juga sekitarnya. Dari situ lah Febbry baru sadar bahwa Bimo tak lagi berada di belakangnya.


Ia segera mencari dimana Bimo. Hingga.... ia bertemu dan melihat Bimo yang tengah asik memandangi seseorang, berdiri di tengah riuh nya orang yang berlalu lalang. Tak jarang juga orang menabraknya.


Febbry ikut memperhatikan apa yang membuat Bimo berdiri mematung seperti itu, pandangan mata yang seolah menyimpan sesuatu, begitu dalam dan tak teralihkan hingga tak menyadari jika dirinya di senggol orang lain dan hebatnya ia tak terusik sedikit pun.


"Apa yang lo liat cuma bakal buat lo sakit Bim. Ngapain sih lo masih fokus dengan hal itu?" Tanya Febbry namun tak membuat Bimo mengalihkan pandangannya.


Geram Febbry yang ucapannya malah dikacangi oleh Bimo. Membuatnya menangkup wajah itu dan mengarahkannya tepat ke depan wajahnya. Memandang wajah itu, bahkan menatap kedua bola mata Bimo. "Inget ya yang ngajak lo ke sini tuh gue bukan orang lain! Dan tujuan lo dateng itu buat temenin gue, liatin gue! Bukan yang lain." Marahnya lalu menarik Bimo menjauh, masuk kedalam sebuah toko yang mulanya ia tuju.


Dan lebih membosankannya lagi, ketika Febbry mengajak Bimo ke tempat lain. Maka ntah dengan kebetulan atau tidak sesuatu yang dipandang oleh Bimo juga ikut berada tak jauh dari sana. Membuat tak hanya Bimo tapi juga Febbry ikut merasa frustasi.


Setelah beberapa barang ia temukan, ia menyudahi agenda belanja itu. Lanjut memilih untuk ke tempat makan cepat saji, karna perutnya sudah lapar saat ini. Melihat suasana hati Bimo yang tak baik, ia tak mau menambah beban Bimo. Ia menggenteng sendiri belanjaannya yang begitu banyak. Padahal Bimo udah menawarkan diri untuk itu, namun ditolak oleh Febbry. Kini mereka berjalan beriringan tanpa bicara.


Namun tanpa disangka-sangka, apa yang tidak ingin dilihat oleh Febbry dan Bimo bahkan mereka terus menghindari hal itu, malah bertemu dan berpapasan di depan mereka saat ini.


"Febbry?" Sapanya.


Febbry, yang melihat malah seperti benar baru bertemu walaupun sedari tadi ia sudah tau keberadaan dari sepupunya itu.


"Hai, lama gak ketemu." Ucapnya senyum terpaksa.


Tak lama ada dua orang laki laki menyusulnya. Langsung mengambil posisi di kanan dan kirinya.


"Lo!!!"


"Kau!!"


Dua kata itu serentak diucapkan oleh Febbry dan seorang laki-laki yang kini ada dihadapannya.


"Ngapain lo disini biang masalah?" Tanya Febbry yang menatap tajam orang itu.


"Dasar wanita gila!! Kau yang sedang apa disini?"


"Ya belanja lah tuan biang masalah. Itu aja lo gak tau." Ketusnya, beralih Febbry menatap sepupunya dengan tatapan tajam. Sedangkan orang-orang yang ada disana menatap Febbry dan orang itu dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Jadi, Noni. Yang mana satu pacar lo? Atau malah dua duanya?" Febbry berkata begitu sinis.


Dan dengan tiba-tiba salah satunya langsung menggenggam tangan sepupunya itu. Membuat Febbry memandang sinis dan tersenyum.


"Oh, sekarang gue tau. Jadi biang masalah disamping lo itu cuma orang ketiga atau bisa dibilang umpan nyamuk doang. Haha..." Ledek Febbry, yang kemudian mendapat tatapan dari Bimo.


"Kenapa Bim?" Tanya Febbry, yang tentu saja membuat seseorang sedikit terkejut karna hal itu.


"I..i..ini Bimo?"


"Iya Noni. Ini Bimo, mantan pacar lo yang lo putusin karena salah kasih kado, dan karena dia juga gendut waktu itu. Kenapa? Lo merasa asing? Hahaha... Ya iyalah pasti. Buat cewek matrek kayak lo." Sontak Bimo langsung megang lengan Febbry, seolah berkata jangan berkata lagi. Tapi lagi-lagi itu adalah Febbry.


Febbry melepaskan tangan itu, "Apa sih by. Kan emang bener." Membuat kedua orang yang tau pun langsung membulatkan mata sempurna.


"Kenapa Non? Lo kaget? Gini ya sebelumnya gue mau jelasin ke lo. Kalau kejadian kado itu sebenarnya bukan salah Bimo sama sekali. Bimo nyuruh gue buat beli tuh kado, dan gue pun iya-in aja. Taunya waktu di toko buku, kadonya ketuker sama kadonya biang masalah." Febbry menunjuk orang tersebut, yang ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah Theo.


"Lo tenang aja, walaupun tampang Bimo gak seberapa, dia gak pernah punya otak kotor kayak gitu. Gue berniat buat jelasin kesalah pahaman antara kalian, cuma Bimo bilang lo juga ternyata cuma terpaksa pacaran ama dia apalagi ditambah fisik Bimo yang kelebihan waktu itu. Dan karna itu gue sedikit kecewa sama lo Non, yang membandingkan fisik orang lain. Hah! Tapi makasih karena lo udah melepas Bimo. Yang sekarang udah jadi pacar gue!" Febbry malah bergelayut manja di lengan Bimo, yang tentu membuat seseorang merasa panas. Febbry tersenyum sumringah memandangi wajah Bimo. Sedangkan Bimo sendiri hanya menatap Febbry aneh. Tak tau harus berekspresi seperti apa.


"Dasar kau perempuan gila! Perusak hubungan orang lain!" Ucap Theo, namun tak digubris Febbry.


"Sayang, mereka siapa?"


"Oh ayolah tuan. Kau tidak tau? Biar ku perkenalkan diri kalau begitu. Namaku Febbry Lovata, sepupu dari Noni. Dan laki-laki yang ada di sampingku ini mantan Noni."


"Sayang?" Tanya nya tak percaya. Noni pun mengangguk.


"Ya udah kita duluan ya. Yuk by." Febbry menyeret Bimo pergi dari sana. Menjauh dari orang-orang yang begitu tak disukainya. Senyum mengembang di sana. Seolah ia menang dan berhasil.


Febbry dan Bimo memasuki tempat makanan cepat saji. Dengan santainya Febbry langsung melepas dan bersikap biasa kepada Bimo. Mereka memesan beberapa makanan yang tentu nya di sukai oleh Febbry dan Bimo sendiri.


"Bimo, ayo dimakan. Lo gak laper apa setelah seharian keliling mall?" Febbry menyorong lebih dekat nampan yang berisi dua ayam, satu nasi, dua burger, dan kentang goreng, serta tak lupa dengan salad sayur.


Terlihat Bimo hanya menadangi tanpa ada niat bahkan dari wajahnya saja sudah kentara kalau ia sekarang sedang tidak mood untuk makan.


"Bim! Bimooo.... Lo kenapa sih? Masih juga mikirin yang tadi. Yang pinteran dikit napa sih tuh otak. Sayang organ-organ yang ada ditubuh lo! Mau nyiksa mereka cuma gara-gara tuh cewek. Ihhh!!"


"Gue kan sekarang udah beda Feb. Kalo gue makan sebanyak ini, bisa-bisa gue gendut lagi nanti."


"Terus apa salahnya? Lagian kan lo tadi udah nunjukin ke dia kalo lo juga bisa kurus. Dan lo liat aja tuh wajah kayak gak rela. Udah sih, gak usah dibaikin. Terus sekarang lo bisa puas mau makan apa aja."


"Tapi kan sayang usaha lo selama ini bantuin gue? Lagian semuanya pakai usaha sama uang. Dan lo gak malu apa nanti jalan sama gue yang gendut."


Febbry yang tadinya asik mengunyah burger kini berhenti dan langsung melepaskan kembali burger itu di nampan.


"Lupain masalah usaha. Gue kayak gitu kemaren cuma gak mau harga diri lo diinjak sama sepupu gue. Lagian lo mau gendut atau kurus pun bagi gue sama aja. Gak ada bedanya juga buat gue. Bilang aja, lo mau balikkan ama dia kan?!" Febbry langsung menyudahi makannya. Berlalu pergi keluar dari tempat itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc


__ADS_2