
Kian, Devan dan Gio sudah keluar dari kantor polisi dan pergi menuju rumah sakit. Dengan menaiki taksi mereka hanya memerlukan waktu sepuluh menit untuk sampai. Sepanjang perjalanan mereka bertiga hanya diam, dengan Gio yang selalu menggenggam tangan kian dan Devan yang berjalan seperti orang linglung.
"Van... kaki lo kenapa?" tanya Kian saat mereka berada dalam lift. Sebenarnya Kian sudah sedari tadi ingin menanyakannya. Namun suasana selalu saja rumit sehingga ia tak sempat bertanya. Namun pertanyaan itu tak dijawab sama sekali oleh Devan. Ia tetap memandang lurus ke depan dengan tatapan yang sulit di artikan.
Khawatir dengan kaki Devan, Kian memegang tangannya hingga membuat Devan berhenti berjalan sejenak. Devan melirik tajam ke arah Kian dan tangannya. Seketika kian melepaskan tangannya dari lengan Devan.
"Gw nanya. Kaki lo kenapa? kalo luka kita obatin dulu."
"Gw gpp." cueknya lanjut berjalan.
Mereka pun sampai di kamar Zanna. Ketika berada di lantai satu Devan langsung menemui pihak rumah sakit, meminta mereka untuk mengantarkan jenazah mamanya ke rumahnya untuk di kuburkan. Tak lama kemudian Sarah dan papanya juga datang ke kamar itu. Membuat Devan kembali marah dan ingin menghajarnya.
"Kenapa lagi kau kemari hah?! pergi sebelum wajahmu babak belur!" Geramnya yang tangan sudah dikepal.
"Kavin, Papa tau papa salah. Tapi beri papa satu kesempatan lagi nak. Papa mau tebus kesalahan papa. Papa mau antar mama kamu ke tempat peristirahatan nya yang terakhir. Tolong Kavin papa mohon sama kamu." Pintanya
"Kau pikir aku sudi?! silahkan tuan kau pergi dari sini!" yang enggan melihat papanya.
"Devan, sebenarnya gw benci bilang ini. Tapi dia juga papa lo. Dia juga berhak buat antar istrinya." Ucap sarah
"Istri?? (tanya nya remeh) Oh.... tapi gw pikir dia bukan lagi suami mama dan gw juga bukan anaknya lagi. Dengan adanya perceraian, mereka udah tak saling terikat lagi bukan? Dan sekarang yang jadi anaknya itu kan lo bukan gw. Dan lo yang jadi keluarganya" sinis Devan pada sarah.
"Gw tau Devan. Tapi papa pengen berubah. Papa udah jelasin semuanya ke gw. Dan gw udah terima itu. Masa lo gak sih?!" rocehnya pada Devan tak terima.
"Gw gak perduli!!! mending lo sama papa lo keluar dan jangan ganggu keluarga gw lagi!!" bentak Devan yang membuat semua orang disana terkejut. Gio yang takut melihat kakaknya yang begitu marah, malah beringsut pada Kian.
"Kak kian, Gio takut sama kakak." ucapnya dengan menarik ujung baju kian.
Kian segera menggendong dan memeluk Gio.
"Sttt... jangan takut ada kak kian di sini." Kian yang membujuk Gio.
"Ya udah pa. Ayo kita pulang. Percuma ngomong sama manusia batu kayak dia." Ucap sarah yang menggandeng papanya keluar. Mendengar kalimat Devan yang begitu pedas dan menyakitkan itu membuatnya tak tahan.
__ADS_1
Namun Daren, yang menjadi papa Sarah sekaligus Devan tidaklah menyerah. Bahkan Daren hendak berlutut di hadapan Devan namun ditahan oleh Kian dan Sarah.
"Om gak harus gini."
"Tapi Nak, kesalahan saya memang besar hingga membuat kavin benar benar benci saya."
"Memang. Sekarang gw tanya waktu mama sakit anda kemana? Dimana! Hilang ntah kemana. Dan ternyat...... pantes aja udah punya anak lagi."
"Devan stop. Bisa gak sih lebih sopan sama orang tua. Om Daren juga orang tua lo."
"Dari mana lo tau nama dia?"
"Mama yang cerita. Sekarang kasih dia kesempatan buat tebus hal kemaren."
"Kesalahan dia gak bisa ditebus ki. Kalau bisa, memang dia mampu buat hidupin mama lagi. Gak kan?!"
"Om Daren memang gak bisa lakuin itu. Tapi biarkan om Daren lakuin ini sebagai ucapan maaf buat mama."
"Kii!" kesal Devan
"Van...." panggil Kian lagi.
"Atau, lo juga gak mau ketemu gw? gpp gw bakal pergi juga. Kalo lo mau. Tapi plis satu ini gw mohon."
"Arghhh...." kesalnya. "Terserah" lanjut Devan lalu keluar.
Daren tersenyum bahagia mendengar hal itu.
"Terima kasih nak. Kamu sudah menolong om." Ucap Daren sambil menggenggam tangan kian. Kian hanya tersenyum membalas ucapan itu.
_________
Pemakaman Zanna pun selesai, setelah berdoa semua orang pun bubar. Dan hanya menyisakan Devan, Gio, Kian, Sarah dan Daren. Tentu saja di sana tangisan kembali pecah. Terlebih lagi Gio, Devan dan Daren. Satu per satu dari mereka mengucapkan kalimat perpisahan pada makam Zanna.
__ADS_1
Setelah selesai, Gio, Devan dan Kian bangkit dari posisi jongkok mereka dan berjalan menjauh dari sana melewati Daren dan Sarah.
"Kavin tunggu." panggil Daren.
Devan, Kian dan Gio berhenti. Gio dan Kian berbalik melihat Daren yang memanggil sedangkan Devan hanya berhenti yang berbalik.
"Kavin, anak yang selalu ikut itu siapa?" telunjuknya pada Gio.
Melihat Daren yang melihat ke arah dirinya, Gio bersembunyi di belakang kian. Tak mau dilihat oleh Daren terlalu lama dengan tatapan itu.
Devan yang mendengar itu pun langsung berbalik dan melihat tajam ke arahnya.
"Hm... siapa pun dia tak ada hubungannya denganmu. Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Dan jangan ganggu lagi kehidupan kami." ucapnya yang dingin.
"Jika kamu masih marah sama papa karna hal itu, Papa benar benar tak tau kalau mamamu sakit Vin. Dan papa hanya ingin tau apakah itu anak mama mu juga?"
"Sudah ku katakan tak ada hubungannya denganmu. Dan kau harus tau, tak ada lagi jembatan penghubung dalam hubungan ini."
"Vin, jika memang itu anak mama mu, berarti mamamu sudah....."
"Yah.... mama sudah menikah lagi. Dan pergilah, aku muak melihat tatapan itu. Ayo Gio" ucap Devan yang langsung menggendong Gio.
Mereka bertiga meninggalkan Daren dan Sarah yang masih da di sana. Dengan menaiki taksi mereka melaju pulang. Devan menatap ke luar jendela mobil dengan tetap memangku Gio. Kian pun tak berucap bahkan duduk mereka sangat berjarak.
"Kak kavin..." panggil Gio, yang membuyarkan lamunan Devan.
Devan menoleh ke arahnya,
"Ada apa gi? perlu sesuatu?"
"Gio mau tanya. Apa tadi papa nya kak kavin? Lalu dimana papa Gio Kak? Apa kita berbeda papa? Atau papa tidak mau mengakui Gio? Jika memang dia papa kita, harusnya ia juga kenal Gio kan kak?" pertanyaan beruntut itu Gio lontarkan pada Devan. Devan yang mendengarnya menelan saliva dengan susah payah. Ntah bagaimana ia bisa menjawab semua pertanyaan anak kecil itu.
Kian menoleh sekilas pada Devan dan Gio, dan diketahui oleh Devan. Devan bahkan yakin jika Kian tau soal ini.
__ADS_1
"Kak.... jawab Gio" rengeknya.