
Suasana perjalanan pendakian gunung siang ini begitu ramai. Banyak canda tawa dari mereka yang menghiasi siang itu.
"Woy!"
"Ape sih Jer! Minggir lo, gak tau berat juga bawaan gue nih." Ketus Febbry yang memang berbeda suasana dari siswa lain. Jika mereka mendaki dengan senangnya, berbeda dengan Febbry malah bersungut-sungut. Bahkan kini ia tak memiliki teman bercerita untuk berbagi rasa berat yang di tanggung sebab ranselnya yang begitu besar dan penuh dari orang lain.
"Tau gini, mending pinjem bodyguard mama tadi buat bawain nih barang barang" Dumelnya, yang masih fokus dengan jalan yang ia susuri takut terpeleset dan membuatnya malah berguling dari posisinya saat ini.
"Tumben banget lo senyap? Gak ada Kian ya? Sama gue juga. Rasanya ada yang kurang." Ia berjalan sejajar dengan Febbry
"Heh!! Lo buaya cap kapak gak usah deh deketin Kian. Urus aja pacar lo tuh yang udah ngilang berapa hari! Dasar buaya berkepala kadal emang, ada Sarah lo pepetin dia. Giliran gak ada, lo pepetin Kian." Roceh Febbry yang merasa tak terima dengan apa yang dilakukan Jerry.
"Lah kok lo malah marahin gue sih. Pake nyolot lagi. Gue sama Sarah belum jadian kali! Lagian gue juga mau tanya lo, Sarah kemana ya? Pesan gue gak ada satu pun yang dibales, terus telpon juga gak dijawab."
"Syukurin lo kadal berekor biawak! Emang enak dikacangin?! Lagian juga gara gara lo Kian sama Sarah berantem. Jauh-jauh deh lo dari sahabat gue. Bikin rusuh aja!"
"Kok salah gue? Emang mereka berantem apa Feb?" Tanya Jerry, namun Febbry sudah berjalan duluan meninggalkan dirinya.
"Woy tunggu!! Lambe turah!!!"
___
Sore hari akhirnya mereka sampai juga di tempat camping. Dengan keringat yang membanjir, Febbry langsung saja berselonjor di tanah dan menghempaskan ranselnya yang begitu berat.
"Oke anak-anak, kalian bisa bangun tenda kalian bersama kelompok yang sudah bapak bagikan sewaktu di bawah tadi. Dan kita bisa mulai study tournya besok hari. Sore ini sampai malam kalian istirahat saja untuk menyambut besok. Oke?! Siap semua?!"
"Siap pak." Ucap mereka serentak.
Setelah kepala pembina memberi perintah, mereka semua langsung mengerjakannya. Dan sampai sore itu semua tenda sudah terbangun dengan cepat dan rapi. Mereka melanjutkan dengan acara makan malam bersama di depan api unggun yang besar dan mereka mengelilinginya.
Grrrrtt...
'Haduh... Kampret banget sih! Kenapa harus sekarang? Kenapa gak besok aja sih. Ini udah malem juga.'
"Lo kenapa Feb? Wajah lo kok aneh."
"Aduh duh, Sit tolong gue nih." Ucap Febbry sambil memegang sebelah tangan Siti yang baru saja lewat di sampingnya.
"Iya tolong kenapa ceunah?"
"Adu du duh..." Febbry dengan posisi yang setengah berjongkok dengan sebelah tangan memegang perutnya.
"Lo kenapa Feb? Mau lahiran? Aduh yang bener aja dong."
Plak...
"Sembarangan lo ngomong yak! Gue mau bab Ti. Tolongin gue."
"Ya udah bab aja. Kok malah minta tolong sama gue?"
"Dimana? Temenin gue. Gue takut sendiri." Pintanya dengan mata yang berkaca.
"Hmm.. gini nih kalo gak ada Kian. Ya udah ayok. Tapi abis ini bantu gue bersihin piring kotor anak-anak yang selesai makan tadi ya. Malam ini gue kena piket."
"Aelah.. belum apa-apa, udah minta balas budi duluan aja nih orang." Cibir Febbry.
"Mau apa gak? Kalo gak pun, gak apa-apa sih. Gue tinggal ya, mau bersih-bersih dulu. Bye..."
"Ye... jangan dong. Ya udah iya." Febbry menahan Siti yang hendak pergi.
Kini Febbry dan Siti sudah berada di dalam hutan, lumayan jauh dari perkemahan mereka. Yah wajar saja, untuk membuang hajat itu. Daripada bau nya sampai ke perkemahan.
"Udah sono. Jangan lupa gali lobang dulu baru
€€k. Gue bakal kasih penerangan dari sini."
"Iya-iya tau. Tapi jangan lo sorot ke gue juga ntar."
"Ya gak lah."
Srakh.. srakh....
Febbry menyingkirkan pepohonan kecil yang menutupi jalannya. Hingga sampailah ia di tempat yang di tuju, dan mulai menggali.
Lima belas menit berlalu, akhirnya ia selesai menuntaskan hajatnya. Lalu kembali ke titik awal ia bersama Siti. Namun,
"Ti... Siti!!! Lo dimana sih! Woy jangan nakut-nakutin gue dong! Ini lagi bukan rumah ya Ti. Pantang banget Kalo disini lo mau maen gituan." Roceh Febbry sambil menyoroti sekitarnya. Namun tak juga menemukan Siti.
Hiks....
__ADS_1
Hiks....
Suara tangisan mendadak di dengar oleh Febbry, yang seketika membuat bulu kuduknya merinding. Ditambah lagi angin sepoi pegunungan yang dingin dan mengalun lembut itu, menerpa Febbry dengan santainya. Langit malam yang begitu gelap tanpa bulan dan bintang membuat malam itu menjadi horor baginya. Dengan satu senter yang masih menyala dan satu ponsel ia tetap memberanikan diri dan tegar.
"Haduh Ti, gak usah maen-maen deh lo. Gue beneran takut woy!!"
Drrttt... drrttt...
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Febbry.
"Feb, sorry ya gue malah ninggalin lo. Dadakan kepala pembina manggil gue, jadi harus balik. Tapi lo tenang aja, gue udah kasih petunjuk di setiap pohon yang gue laluin tadi, lo tinggal ikutin itu aja. Sekali lagi maaf ya🙏🙏🥺."
Kira-kira seperti itu isi pesan dari Siti, yang tentu membuat Febbry kesal setengah mati tak terkecuali juga mengutuk Siti dari jauh.
Hiks...
Hiks...
Lagi dan lagi tangisan itu terdengar, begitu memilukan sampai kakinya benar-benar lemah tak bisa lagi berlari. Kaki sampai badannya bergetar hebat, yang kemudian membuatnya ikut menangis.
Febbry sangat takut, bahkan untuk mengeluarkan suara sekecil apapun rasanya sangat sulit. Tenggorokannya terasa kering dan tercekak. Sedangkan keringat sudah banjir di sekitaran dahinya.
Srakh...
Srakh...
Semak-semak yang berada tak jauh dari sana bergerak sendiri, seperti ada yang bersembunyi di baliknya.
Febbry sudah banjir dengan air mata, ia mencoba menghubungi nomor siapa saja yang bisa ia pencet, namun malah na'as ponselnya mati tiba-tiba karna habis batre. Febbry ingin pingsan saat itu juga, tapi ia takut ia akan dimakan binatang buas.
"Ya ahli gunung, tolong jangan ganggu gue ya. Daging gue gak enak, sumpah bener-bener gak enak. Siapa pun kamu, tolong biarin gue pergi ya mbak/mas/akang/teteh/kakek/nenek/ganteng/cantik. Gue cuma anak tunggal yang di sayang ama emak sama bapak, anaknya biasa aja, gak suka dendaman sama orang, terus mana jomblo lagi. Jangan deh, mending lepasin aja ya." Ucap Febbry yang sudah kalut dengan pemikiran anehnya memandang ke semak-semak yang terus bergoyang itu. Bahkan kata-kata yang ia lontarkan terdengar begitu anehnya.
Srakh...
"Huwa..." Teriak Febbry yang memudian lari pontang panting tak tentu arah, tak mau lagi bertahan di sana. Bahkan ia sudah tak memperdulikan tanda di setiap pohon seperti yang dipesankan Siti. Yang ia pikirkan sekarang adalah menjauh sejauh-jauhnya dari ntah benda apa itu.
Brakh....
Ia tersandung akar kecil yang menjalar tertanam di tanah.
Hiks...
Hiks....
Dengan terus menangis, berjalan pincang, menyebut nama kedua orang tuanya, dan terus memandang ke belakang untuk berjaga ia menyusuri hutan itu. (Teruntuk Febbry dari author, harusnya kamu tuh salawat bukan nangis. Teruntuk para pembaca juga ya, kalo lagi takut inget sama sang pencipta, biar takutnya bisa hilang).
Bukh....
"Akhhh...." Teriak keduanya.
Febbry langsung bangkit, setelah menabrak sesuatu yang begitu besar hingga membuatnya terduduk.
"Lo?!" Serentak keduanya.
"Lo ngapain gentong di sini pake acara nangis segala. Gue takut oon.!" Marah Febbry pada seseorang itu.
"Lah kenapa juga lo harus takut. Gue ganggu lo juga gak." Bentahnya.
"Ya jelas ganggu gue lah Bimo!! Lo nangis kenceng banget sampe gue kira suara apaan!!!"
Ternyata Febbry menabrak Bimo yang sedang duduk di pohon besar yang sudah tumbang, sendiri, dan menangis.
"Maaf."
"Lo ngapain sih malem-malem di hutan gini nangis, itu juga lo kenapa megang foto sepupu gue? Lo mau apain tuh foto he? Mau lo guna-guna yak!!!"
Serkas Febbry menunjuk foto di tangan Bimo. Kini air matanya sudah mengering dan sedikit berkurang rasa takutnya.
"Ngomong lo gak pake dipikir dulu ya Feb. Gue lagi berduka juga!"
"Ma.. maksud lo? Sepupu gue udah.. udah meninggal gitu?!" Febbry tak percaya.
"Ih amit-amit oon. Ya gak lah, gue berduka karena gu putus sama dia. Hiks... Hiks..."
"Lah kok bisa? Bukannya kemarin lo sama dia rayain ultah bareng, terus gue liat di sw lo, lo sempet foto sama dia dan kado yang gw beliin itu. Gimana ceritanya bisa jadi mantan gini sih?!"
"Lo gak lagi dendam kan sama gue kan Feb?"
"Ya gak lah. Ngapain sih gue masih dendam sama lo. Lo kenapa sama dia? cerita sama gue!!"
__ADS_1
"Itu gara-gara ini..." Bimo mengeluarkan sebuah buku tebal dengan gambar yang begitu ekstrim, membuat Febbry mengerinyitkan dahi dan langsung berfikir yang macam-macam terhadap Bimo.
"Cara berc**** dengan berbagai gaya." Kian membaca satu per satu kata yang tercantum di buku itu. "Wah parah lo Bim. Pantes aja si Noni putusin lo. Gila otak lo ya! Gak nyangka gue. Hahaha...."
Plak...
"Sembarangan lo ngomong ya!! Ini tuh buku yang lo kasih ke gue sebagai kado waktu itu. Yang harusnya gak nyangka itu gue oon."
"Eh... Gak kok. Enak aja lo. Gue beliin tuh buku bener ya. Gue gak kasih buku kayak gitu kok, gue juga gak lagi ngerjain lo. Kemaren bener semuanya udah gue siapin dan bungkus juga."
"Tapi nyata nya gini Feb..." Bimo menceritakan semuanya, dimulai dia yang merayakan ulang tahun bersama pacarnya yaitu sepupu dari Febbry sendiri sampai keesokan harinya, pacarnya meminta putus setelah membuka kado itu. Tak hanya itu Bimo juga di beri oleh-oleh berupa cacian dari dirinya. Mengatai Bimo itu mesum dan lain sebagainya.
"Astaga Bim. Maafin gue, kayaknya waktu itu tuh kadonya ketuker sama orang deh. Ya udah besok gue bakal jelasin sama Noni masalah ini. Lo jangan khawatir ya." Ucap Febbry yang sudah mengingat masalah kado itu.
"Gak usah."
"Kenapa?"
"Dia juga udah jujur sama gue kalo dia tuh malu. Karena gue gendut."
"Wah gila, lo gak boong kan Bim? Bisa-bisanya sepupu gue ngomong kek gitu."
"Hm."
"Terus lo bakal diem aja gitu liat mantan lo nginjak harga diri lo gitu?"
"Ya mau gimana lagi."
"Aduh Bim. Lo buktiin dong ke dia kalo lo bisa lebih baik lagi. Buat dia nyesel. Gue bakal bantu lo Bim. Tenang aja." Febbry yang tak tega melihat Bimo sampai seperti itu, walaupun di satu sisi ia tak percaya dengan kelakuan sepupunya itu.
"Gimana? Lo mau buat gue kurus gitu? Gak mungkin. Lo liat badan gue sekarang, sama seperti yang lo bilang kayak bemo kayak gentong. Dia juga bener, gak seharusnya dia yang cantik itu pacaran sama gue yang kek gini."
Febbry sedikit terganggu dengan kalimat Bimo. Rasanya ia sedikit menyesal karna telah mengatai Bimo seperti itu sampai membuatnya menjadi down.
"Iya. Gue bakal bantu lo kurus."
"Mana bisa. Lo mau buat gue kurus kayak lo gitu? Berat badan lo aja berapa emang? Berat badan gue 95 kilo"
"45 kilo sih. Tapi kurusnya perempuan beda sama cowok. Cowo gak bakal sampe gitu juga kali, paling 60-65 kalo gitu. Udah tenang aja, pokoknya sebagai permintaan maaf, gue bakal bantu lo."
"Hn..." Bimo menyudahi itu, ia tak mau berharap banyak dari kalimat manis seorang Febbry. "Oh ya kaki lo kenapa? sampe berdarah gitu?" Melihat ke arah kaki Febbry yang sudah berdarah.
"Gak sengaja nyandung akar pohon tadi." Acuh Febbry yang juga baru tersadar kalau kakinya berdarah.
"Lain kali hati-hati. Sini."
Bimo merobek sedikit ujung bajunya, mengelap lalu mengikat luka itu agar darah yang keluar tak bertambah banyak.
______
"Theo." Panggil seseorang.
Kini Theo berada di depan pintu apartemen tempat bascame dia dan gengnya. Ia yang hendak masuk pun menjadi tertunda karena orang itu, ia menoleh ke arahnya.
"Hn... Ada apa lagi Askar? Apa ada berita baik?" Tanyanya dengan senyum penuh misteri.
"Iya. Aku hanya mau mengucapkan terima kasih saja. Berkat kau pacarku menyukai kadonya. Thanks ya bro. Abis ini tinggal bilang aja mau apa. Pasti ku turuti."
Mendengar ucapan itu membuat Theo membelakkan mata tak percaya.
'Bagimana bisa? Ku pikir ia akan menangis gara-gara ini. Tapi ternyata tidak? Apa perempuan itu suka buku yang seperti itu? Aku penasaran dengan perempuan ini, apa dia benar-benar se-extreme itu? Sampai menyukai hal-hal seperti itu. Ku pikir dia akan memacari perempuan polos dan lugu tapi ternyata perempuan ---'
.
.
.
.
.
Maaf ya kalo agak sedikit menyimpang dari garis besar cerita. Mereka hanyalah karakter pendukung yang akan menyelingi karakter utama, sehingga tak selalu setiap chapter tentang karakter utamanya.
Maaf juga kalo cerita ini tak sesuai dengan kemauan pembaca🙏🙏🙏
Dan maaf juga apabila masih terdapat banyak kesalahan kata dan penggunaan tanda baca.
Saya masih amatiran dalam menulis, bahkan menulis hanya sesuai moodnya saja, tapi di usahakan akan tetap up tiap hari.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca, sehat selalu untuk kalian❤*