
Brakh
"Arghhh!!!" Gusar seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan yang dihuni oleh tiga orang itu. Yang tentu saja tengah bersantai ria tanpa beban hidup.
Satu berada di kursi game menikmati game kesukaannya, satu berada di sofa panjang dengan kopi tersuguhkan di sana sambil membaca majalah terbaru yang pasti tentang dirinya. Sedangkan satunya lagi sedang berkutat dengan adonan, nampan dan wajah yang sudah comeng karena tepung yang ada di meja. Untung saja ia memakai celemek hingga baju bagusnya tak kotor sama sekali.
Ketiga orang yang sedang sibuk dengan pekerjaannya itu memandangi seseorang yang baru sampai dengan tatapan aneh, setelah membuka pintu dengan kasar.
"Ada apa Theo. Kenapa wajahmu begitu suram hari ini?" Tanya perempuan yang sedang asik membolak balikkan adonan kue.
"Bagaimana paman? Apakah paman Geor puas?" Tanya seseorang yang sedang duduk di kursi game.
Srupp, "Kau kena hinaan lagi?" Tebak seseorang dengan nada dingin setelah menyesap kopi hangatnya.
Semuanya bertanya dengan serentak, membuat si mpu merasa terserang sekarang.
"Diamlah kalian!! Bisakah kalian bertanya satu per satu!! Dimana Geor?! Aku benar-benar muak padanya!" Marahnya yang terdengar begitu sarkase.
Tentu semua orang langsung menghentikan aktifitas mereka setelah mendengar omongan Theo yang sedikit sarkase itu. "Hei bung, ada apa ini?"
"Aku hanya ingin bertemu Geor, Lusy." Pinta Theo.
"Apa kau punya masalah terhadapnya Theo? Apakah serius??" Tanya lusy melepaskan pernak pernik yang ada di tangannya.
"Aku tadi menemuinya ke kantor, sebab dari kepulangamnya dari Jerman, ia tak lagi menunjukkan wajah di sini."
"Lalu?" Dingin Jeemy, yang juga membenarkan kalimat Theo. Geor terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku memberikan informasi tentang anak yang kami selidiki selama dua hari belakangan ini padanya. Namun dia hanya menatap serius dan menyuruhku untuk mencari tau lebih dalam tentang anak itu. Tapi ia tak berucap sepatah katapun setelahnya. Aku benar-benar penasaran apa yang terjadi. Jadi aku ingin bertanya apa dia ada kemari?"
"Yah, satu jam lalu memang dia kemari." Ucap Lusy seperti merasa aneh juga, namun tak terlalu memusingkannya. Ia tau jika teman-temannya aneh semua, jadi bukan hal besar bila mengetahui ada sesuatu yang tersembunyi.
"Kenapa aku tidak tau?" Tanya Jeemy.
"Hm, aku juga." Lanjut Arnold juga.
"Tanya pada diri kalian sendiri, dimana kalian satu jam lalu? Dia terlihat begitu terburu-buru, ku pikir itu biasa. Sehingga aku hanya mengerjakan pekerjaan ku tanpa mempedulikannya yang lewat begitu saja." Enteng Lusy.
"Apa kau membuat adonan itu juga sudah dari satu jam yang lalu Lusy?" Tanya Theo sedikit mengerinyit.
"Ehhem.. Aku sedang mencoba membuat resep kue baru. Yang tentunya belum ada orang lain yang tau resepnya. Kalian harus mencobanya nanti. Oke." Ucapnya senang, dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.
"Uhhuk... Uhhuk..." Arnold langsung terbatuk-batuk.
"Em... Lusy. Harusnya kau membuat kue dari resep koki saja. Lagi pula makananmu selalu enak jika mengikuti resep-resep itu." Jeemy sedikit menjelas.
Mereka sedikit khawatir dengan makanan yang dibuat dengan resep Lusy. Makanannya memang selalu enak, namun itu mengikuti resep bukan membuat resep. Pernah satu kali mereka memakan makanan Lusy dengan resepnya sendiri, membuat ketiga manusia itu langsung mendapat impus setelahnya. Membuat mereka menjadi trauma sampai saat ini.
Setelahnya Lusy masih tidak menyerah, membuat makanan lagi hingga mereka berempat berakhir memasuki wc bergantian. Dan pada percobaan terakhir ia juga membuat adonan kue. Semuanya terlihat baik-baik saja, sampai secara tak sengaja Theo mengejutkan Lusy yang sedang fokus dengan adonan kue nya, dari belakang. Dan sukses membuat adonan kue itu terlempar ke depan, mengarah ke Jeemy yang sedang duduk santai di sofa kebesarannya sambil menyeruput kopi. Alhasil Jeemy menjadi terlentang ke belakang karena lemparan adonan itu dan membuat jidatnya berdarah serta harus dijahit sebanyak lima jahitan.
Bayangkan saja Jeemy yang terkenal ketus dan dingin itu, dibuat konyol oleh Lusy gara-gara adonannya yang terlalu keras. Dan mengharuskan Jeemy masuk rumah sakit.
Hingga dari sanalah George dengan tegas melarang Lusy untuk membuat makanan dengan resepnya sendiri. Namun ntah apa yang merasukinya saat ini, sampai lupa dengan amanah dari Geor itu.
"Oh ayolah guys. Apa kalian tidak ingat dengan hari ini? Bisakah aku menikmati kebebasan hari ini saja?" Ucapnya sendu, namun teman-temannya hanya memandang Lusy dengan terheran.
"Kalian bahkan tak ingat hari ini hari apa. Aku benar-benar kecewa pada kalian!! Bahkan kalian tak memberi kebebasan untukku pada hari ini saja!!" Marahnya yang langsung berbalik ke depan meja kebesarannya.
__ADS_1
Ketiga orang itu langsung saling melempar pandang satu sama lain, sebab tingkah Lusy sedikit aneh hari ini. Bahkan mendengar nama Geor pun tak seperti biasanya. Biasanya ia tertarik dan langsung seperti cacing kepanasan, namun tadi dia biasa saja.
Theo yang terlihat begitu berfikir keras, cepat-cepat langsung membuka handphonenya, dan...
"Dam*!!! Guys, kita sedang berada dalam masalah besar!" Ucap Theo dengan suara yang rendah namun penuh penekanan.
Kedua orang itu langsung terlonjak dan mendekat kearah Theo, melihat apa yang dimaksud oleh Theo.
"Astaga... Aku benar-benar lupa. Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita sudah terlanjur ketahuan tidak mengingatnya." Keluh Arnold.
"Apakah kita akan dicincang oleh Lusy kalau begini? George juga terlihat sibuk sendiri. Matilah kita bertiga kalau pawang Lusy tak ada disini." Rengek Theo, yang tadinya terlihat marah sekarang merengek seperti meminta uang jajan pada ibunya.
"Jika sudah begini, mungkin kita hanya bisa pasrah" Ucap Jeemy enteng.
"Hey!!! Bagaimana bisa kau mengatakan itu!! Kami sangat berharap dengan manusia jenius sepertimu. Namun kau!! Kau mengatakan hal seperti itu. Seperti tak ada jalan untuk hidup lagi. Gunakan IQ mu yang diatas rata rata itu!!"
"Aku memang pintar, tapi untuk masalah menenangkan seorang perempuan itu bukanlah hal mudah. Apalagi sudah terjadi hal seperti ini. Perempuan yang marah, matanya akan lebih tajam dari seekor elang, garangnya melebihi seekor singa lapar, dan kekuatannya akan seperti Scarabaeus Viettei!!" Ucap Jeemy dengan penggambarannya.
"Yak!!! Maksud kalimat terakhirmu itu apa hah?" Sergah Theo.
"Kau tau Scarabaeus Viettei, dia adalah salah satu kumbang terkuat di dunia yang bisa mengangkat beban 1000 kali dari berat tubuhnya. Bisa saja kalau Lusy menghempaskan kita bertiga dalam satu kali saja. Lagi pula Lusy bukanlah wanita biasa."
"Ya, kau benar paman. Dia adalah wanita pemegang taekwondo sabuk hitam. Walaupun noona cantik, tapi kekuatannya bukan main. Habislah kita bertiga." Pasrah Arnold.
Ketiga orang itu sangat cemas saat ini. Ketiga orang itu yang sedang menggigit kukunya masing-masing seolah-olah ini adalah akhir dari kehidupan mereka.
"Jeemy, apakah kita akan mati dengan keadaan seperti ini? Tanpa pasangan hidup!" Tanya Theo khawatir.
"Lalu apa aku juga akan berakhir mati muda seperti ini? Aku saja masih belum menyatakan perasaanku pada perempuan yang ku sukai." Ketus Arnold.
Ckiittt, Brukh!!!
"Arnold!! Apa maksud kalimatmu barusan hm?!" Sergah mereka berdua.
Dan akhirnya bukannya memikirkan bagaimana nasib mereka, agar bisa kabur di situasi dimana Lusy sangat marah. Melainkan mengintrogasi pengakuan Arnold barusan.
_________
Pagi ini seperti biasa Kian yang bangun pagi, memasak untuk sarapannya. Untuk sendiri tanpa ada kedua orang tuanya. Sepi? Jelas tentu sepi. Kian tak pernah tau mereka kemana, bahkan niatnya ingin mengatakan tentang apa yang di idapnya pun sampai tak kunjung tersampaikan pada keduanya.
Hanya duduk, menikmati makanan dan segelas susu yang sudah ia buat sendiri. Pagi yang tak terlalu sunyi sebab ada dentingan dari sendok dan garpu yang menemaninya.
Setelah menghabiskan sarapannya, kini ia sudah siap untuk berangkat sekolah. Tak lupa ia kunci pintu rumah itu agar maling tak bisa masuk. Hari ini ia bangun tepat waktu dan tak kesiangan sehingga ia tak perlu terburu-buru untuk sampai di halte depan kompleks.
Saat sampai di halte, ia harus menunggu sekitar sepuluh menit. Barulah Bus itu datang. Terlihat begitu penuh, semua orang sudah menduduki bangku masing-masing. Namun saat Kian mengedarkan pandangannya masih ada satu kursi yang belum ada penghuninya.
Tapi salah satu kursinya itu sudah di duduki oleh seseorang yang memakai baju yang sama dengannya. Sedikit heran namun akhirnya ia tau siapa itu. Ya, sekolah mereka adalah sekolah elite, yang tentu saja tak ada siswa atau siswi yang mau menaiki angkutan umum. Kalau tidak diantar jemput, ya mengendarai sendiri mobil atau motor mereka.
Kian berdiri di depan kursi itu belum duduk, hendak ingin permisi pada si mpu. Namun terlihat si mpu masih asik memejamkan mata seperti orang yang benar-benar tidur, dengan melipat kedua tangannya di dada seolah tak perduli dengan sekitar.
Kian melihat sebentar ke sekitar, meyakinkan dirinya apakah ada tempat duduk lainnya lagi yang bisa ia duduki selain di sini. Atau apa masih ada orang lain yang tak terbagi tempat duduk. Tapi,
Zrukh
Tangannya di tarik dan langsung terduduk di sana.
"Jangan biarin orang lain duduk di kursi ini. Gue udah rebut kursi ini buat gue sama lo. Jangan sia-sia in usaha gue pagi ini." Ucapnya dengan mata tertutup, masih menyandarkan punggungnya di kursi dengan nyaman. Tanpa ekspresi dan masih tetap dingin.
__ADS_1
Kian sedikit tersentak kaget dengan kalimat itu. Ntah apa maksudnya tapi jujur saja ada sedikit rasa senang dalam dirinya, sebab Devan mengatakan hal tersebut. Namun tak ditunjukkan di wajahnya. Ia seolah biasa saja dan tak perduli dengan kalimat itu.
"Kalo lo rebut kursinya...." Belum selesai Kian bicara, dia sudah menghentikannya dengan menempelkan jari telunjuk di bibir Kian, agar Kian bisa diam. Tentu saja membuat si mpu melotot dan langsung menepis jari itu.
"Gak usah banyak tanya. Gue mau tidur! Gue bangun pagi banget hari ini, sebab harus dapet nih kursi."
"Terus..." Kian kembali diam, lagi-lagi jari itu ada di depan bibirnya, membuatnya begitu kesal. Untung saja mereka berada di kursi nomor dua dari belakang sehingga tak banyak yang bisa melihat adegan mengesalkan itu bagi Kian.
"Gue suruh lo diem, gak nurut banget lo ya!! Gio diantar sama Mikko. Jadi gak usah khawatir."
Mendengar hal itu Kian hanya ber-oh, kembali menatap ke depan. Tanpa memperdulikan Devan yang selalu saja berbuat semaunya. Ia ingin sekali memarahi Devan sebab tindakannya yang pasti menolak orang lain duduk di sampingnya. Perilaku yang egois, seperti itu gumam Kian. Karena tak mau menjadi pusat perhatian ia memilih untuk diam saat ini, tapi ntahlah untuk nanti.
Tanpa disadarinya Devan memasangkan sebelah headset di telinganya, membuat ia tersentak kaget dengan hal itu. Ia tau Devan selalu berbuat seenaknya tanpa persetujuan dari dirinya juga, tapi masih terlalu pagi untuk hal seperti ini, menurutnya.
Ingin ia melayangkan Devan dari bus ini lewat jendela saat ini juga. Namun masih ia sabar karena masih pagi dan tak baik pagi-pagi sudah marah, sebab itu akan membuat wajah menjadi dua kali lebih berkerut, itu menurut Kian ya. Jadi ia akan berusaha untuk tetap sabar pagi ini.
Melihat tak ada respon dari Kian, Devan malah membesarkan volume musik itu. Membuat Kian terkejut dan langsung menepis handset dari telinganya. Ia menatap Devan dengan wajah yang begitu tenang, berbeda dengan dirinya yang saat ini sudah begitu marah sampai berada di ubun-ubun kepala rasanya.
Kian kembali duduk dengan tenang, namun tangannya tak tinggal diam, tentu saja untuk membalas perbuatan Devan. Perlahan tangannya mendekati pinggang Devan dan,,,,,
"Akhh!!" Devan langsung memelototkan matanya ke arah Kian. Ternyata Kian dengan sengaja mencubit pinggang Devan dengan lumayan kuat. Membuat si mpu menjadi kesakitan dan kesal setengah mati.
Ia memadangi wajah Kian dengan perasaan kesal sangat terlihat dari wajah Devan yang begitu merah. Namun Kian dengan santainya malah membalas tatapan wajah menyeramkan itu dengan senyuman manis di pagi hari. Membuat Devan menatap tajam Kian.
Tentu saja, karena teriakan dadakan dari Devan membuat seisi bus menjadi memandangi mereka dengan tatapan bertanya.
"Maaf pak bu, mengganggu ya. Biasa kakak saya emang gini. Digigit semut aja langsung teriak. Maaf ya pak, bu." Ucap Kian dengan seulas senyum.
"Oh kakaknya ya neng. Kirain pacarnya tadi." Ucap salah satu ibu-ibu yang memegang keranjang sayuran.
"Enggak bu. Ini kakak saya."
"Lemah banget kakaknya neng. Gitu aja sampe meringis." Ucap yang satunya lagi, dua ibu itu berdampingan.
"Ahahah... Iya bu. Dirumah cuma makan ikan doang, jadi lemes kayak ikan gak dapet aer deh bu." Remeh Kian dengan tawanya.
"Haduh neng, lain kali kakaknya disuruh makan sayur dong. Biar kuat kayak poppy." Celetuknya.
"Ha?? Poppy siapa bu? Anak ibu? Atau siapa?" Tanya Kian yang hampir tergelak tertawa.
"Bukan atuh neng. Itu tuh film kartun yang sering di tonton anak saya itu. Yang bisa kuat setelah makan sayur itu loh."
"Oh itu popeye bu, bukan poppy." Kian membenarkan kata-kata si ibu.
"Oh itu ya. Terserah lah neng, pokoknya itu deh. Oh ini deh kalo gitu." Si ibu yang sedang menggenteng satu keranjang sayuran, memberikan Kian beberapa ikat sayuran. "Itu buat kakaknya neng. Biar bisa kuat ya, jangan letoy. Malu neng dia kan cowok, ya masa nanti kayak poppy."
Devan yang mendengar ejekan si ibu malah menatap tajam ke arah Kian. Ya, tentu saja ia menyalahkan Kian untuk kondisi saat ini. Berbeda dengan Kian yang senyum sambil terkikik sebab ucapan si ibu.
Tak lama bus berhenti di halte pertamanya, si ibu pun keluar dan tak lupa Kian berterima kasih pada si ibu atas sayuran yang diberikannya.
Berbeda dengan Devan, yang malah senang melihat dua ibu itu turun dari bus.
.
.
.
__ADS_1
.