Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#31


__ADS_3

"Dari mana aja sih lo, kian. Dah laper ya nungguinnya dari tadi." Kesal febbry ketika Kian baru sampai di kantin.


"Dari toilet lah."


"Dah.... Ayo makan aja."


Setelah makan malam mereka berjalan ke ruang serba guna. Saat berjalan mereka tak sengaja bertemu Bimo dan kawan kawannya.


"Udah mau tanding Bim?" Sapa kian


"Belum. Tapi mau ke lapangan dulu aja. Oh ya gimana kaki lo feb? udah mendingan?"


"Weh.... kayaknya kita ketinggalan berita nih"


"Kayaknya sih iya Sar" ledek kian dan Sarah.


"Kita juga nih kayaknya. Iya gak Bim?" Dion temannya Bimo.


"Bilang dong ada apa?" timpal temanya.


"Udah kok. Eh kalian apa apaan sih. Gak ya. Kita gak ada apa apa." ucap febbry yang langsung heboh.


"Lah yang bilang ada apa apa siapa?" ucap sarah.


"Oh syukur dh. Ya udah kita duluan ya Ki, Sar." ucap Bimo sambil tersenyum manis. Membuat sarah dan kian menatap aneh dan bingung.


Karna kesal febbry berjalan duluan dari mereka berdua, sambil bersungut sungut hingga tak sadar menabrak seseorang.


Brukh...


"Sorry sorry...gw Gak sengaja." ucap febbry sambil bangkit dari jatuhnya.


"Buta ya mata lo." ucap nya nyolot


Febbry yang jarang sekali bisa bilang maaf itu, terpancing emosi karna dikatai. Dan terjadilah aksi adu mulut antar keduanya. Kian dan Sarah yang melihat langsung menghampirinya.


"Weh....udah udah. Loh kalian lagi.!" ucap Kian menunjuk ketiga siswa yang menjadi lawan febbry.


"Oh... Lo siswi yang tadi. Napa? mau ngadu lagi lo?"


ucap salah satunya. Ternyata mereka adalah ketiga orang yang hendak mengroyoki Devan tadi.


"Lo bertiga bisa gak sih gak buat ulah di sekolah orang."

__ADS_1


"Yang buat ulah tu temen lo tuh. Kenapa lo mau belain juga?!"


"Ya tapi kan gw udah minta maaf tadi" celetuk febbry.


"Nah dia juga udah minta maaf. Terus ada masalah lagi? gw liat juga lo gpp. Yang jatoh malah febbry kok lo yang marah."


"Wah ref, nih cewek nantangin lo." ucap temannya pada seseorang yang berada paling depan seperti ketua diantar mereka bertiga.


"Iya gw ada masalah. Gw mau temen lo berlutut buat minta maaf."


"Cih, gw pikir anak anak dari SMA kalian tuh pada punya sopan santun. Eh tau nya malah ada siswa kayak kalian bertiga. Lo gak malu apa?"


"Heh, cewek. Lo gak usah nantangin Refan dh. Mending lo diem dan suruh aja temen lo buat lakuin yang Refan bilang."


"Gak" ucap Kian ketus.


Merasa kesal, Refan langsung menarik kian dan menyeretnya. Kian berusaha melepaskan genggaman itu namun Refan begitu kuat menggenggamnya.


"Ki....kian.." teriak sarah dan febbry.


"Waduh bakal tambah besar nih masalah." ucap Sarah.


"Lo mau kemana sar?"


"Ikut."


Mereka bertiga mencari guru untuk mengadukan hal tersebut. Sedangkan Kian yang dibawa mereka Refan terus memberontak.


Duakh...


Refan menghempaskan kian di tembok belakang kelas.


"Gw gak perduli ini sekolah gw atau bukan. Kalo gw mau juga gw bisa beli nih sekolah."


"Hah.... orang tua lo aja yang punya kaya, lo nya enggak. Jadi gak usah sombong. Sayang banget sampe gak punya attitude kayak gini cuma gara gara ortunya kaya."


"Wah...nyolot banget nih cewek. Hajar aja udah Ref."


Refan yang tambah di kompori temannya membuat ia benar benar merasa marah pada kian. Ia memegang kuat dagu kian sampai kian merintih kesakitan.


"Argh..."


"Mulut lo ini perlu dikasih pelajaran supaya bisa lebih..."

__ADS_1


Duakh.....


Satu pukulan mengenai Refan, membuatnya tersungkur ke tanah.


"Siala* Lo Devan!!!" teriaknya.


"Bisa gak, gak usah buat rusuh di sekolah orang lain. Jangan nampakin diri lo yang pengecut itu Fan."


"Siapa yang lo bilang pengecut hah!!" Refan bangun dan teman temannya siap untuk memukul Devan.


"Lo, karna lo cuma bisa kasar ke perempuan aja."


Duakhh....


Bukhh...


Tiga lawan satu membuat Devan sedikit kesulitan dan sudah mendapat beberapa luka di wajahnya. Begitu pun dengan mereka bertiga yang lebih parah dari Devan. Kian berusaha menghentikan mereka berempat, namun sangat sulit.


Hingga akhirnya guru BK datang, menghentikan mereka dan membawa mereka berempat ke ruang BK. Dan tak terkecuali dengan Kian, sarah serta febbry juga.


Guru BK beserta guru dari sekolah Refan juga hadir disana untuk menyidang mereka bertujuh. Devan hanya diam sedangkan Refan meroceh tak suka sampai mengatai kian dan kawan kawan. Lalu saat giliran febbry yang membuka suara serta kian juga mengadu tentang masalah pagi tadi yang ia lihat membuat kedua guru dari dua sekolah itu nampak berfikir. Akhirnya mereka bertujuh dihukum. Kian, sarah, febbry dan Devan di hukum membersihkan lingkungan sekolah sedangkan Refan dan teman temannya akan mendapatkan hukuman setelah sampai di sekolahnya nanti oleh guru BK-nya sendiri. Tak lupa dari pihak sekolah Refan gurunya meminta maaf pada sekolah Bakti. Refan menatap sinis pada Kian dan Devan sendiri.


Mereka berempat mulai membersihkan lingkungan sekitar, terlihat wajah dari Devan yang benar benar kesal. Bahkan menjauh dari mereka bertiga.


"Akhh...kalo bukan karna anak anak SMA itu, kuta gak bakal kayak gini" teriak febbry


"Udah lah feb. Ini juga udah terjadi. Makanya lain kali tuh kalo ngomong di pikir dulu napa?"


"Gw bahkan udah minta maaf sama dia Sar. Tetep aja gw salah. Emang gak beres tuh anak anak sekolah itu tu."


Sarah dan Febbry terus saja meroceh dan berdebat sedangkan Kian fokus pada pekerjaannya. Dan Devan? Devan udah pergi dari sana. Ia paling benci mendengar suara ribut seperti itu.


Sampai di jam berikutnya, kian tak sempat melihat adik kelasnya dalam lomba karya ilmiah dikarekan hukuman yang di dapatnya. Sehingga ia dan teman temannya memutuskan agar lomba selanjutnya tidak terlewatkan lagi.


Febbry dan sarah yang sudah lebih dulu kesana, sedangkan Kian masih duduk di bawah pohon yang rindang untuk mengistirahatkan dirinya. Ia tau kekurangan yang ia punya. Ia tak boleh terlalu lelah. Kadang olahraga pun hanya sekadarnya.


Lama beristirahat sambil meneguk tandas air dalam botol, barulah kian pergi menuju lapangan basket. Kian berjalan dan fokus mencari keberadaan teman temannya di mana mereka duduk sampai tak melihat ada seseorang yang melempar bola basket ke arahnya.


"Awas!!!"


Pukk...


Bola basket itu mengenai seseorang yang berada di samping kian. Orang itu melindungi kian dengan dengan tubuhnya yang lebih tinggi. Setelah mendengar dan merasakan ada seseorang yang hampir memeluknya dari samping, kian menoleh. Jarak mereka begitu dekat bahkan napas keduanya bisa dirasakan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2