Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#125


__ADS_3

Karena makanan yang sudah tak layak makan lagi, Kian berjalan ke arah rumah makan yang ramai pengunjung. Sedih? Tentu. Makanan yang harusnya ia sedekahkan pagi ini malah harus berbagi dengan tanah. Itu salah ia juga yang kurang berhati-hati sampai menabrak orang lain.


"Hush! Hush! Sana!! Pasti kamu mau minta makan kan? Tolong, saya saja baru buka warung malah kamu datang buat minta-minta." Ucap seorang ibu yang sepertinya pemilik dari warung makan yang di datangi oleh Kian.


"Tapi bu...." Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya ada seorang wanita lagi datang.


"Makanya kerja jangan minta-minta mulu! Kamu pikir bapak kamu nanam saham di sini sampai mau minta makan terus!"


Kian bingung sekali dengan kalimat yang dilontarkan oleh para wanita yang di depannya ini. Padahal kedatangan dia ke sana tentu memang mau meminta makanan tapi dengan membayar pula. Bukan sekedar meminta seperti yang mereka sebutkan.


"Maaf ibu, sepertinya ibu salah paham. Saya memang mau..."


"Mau apa ha?! Kami sudah sering kedatangan orang orang seperti kalian. Hanya tau meminta, kamu pikir kami berdagang tidak pakai modal?!"


"Sudah-sudah sana pergi!"


Kedua orang itu mengusir Kian di tengah banyaknya orang yang berada di sana. Sampai-sampai salah satunya mendorong Kian membuat kepala badut itu terlepas berguling ke jalanan.


"Cih, ternyata seorang perempuan. Neng, lebih baik cari kerja yang benar." Titahnya.


"Tapi bu, saya mau membeli..."


"Hah! Kamu pikir saya bodoh. Pakaian lusuh dan keadaanmu yang seperti itu cukup membuat saya tau. Dari mana kamu bisa hasilkan uang ha? Ck!"


Kian kembali berjalan, mencari tempat makan lain yang tentu bisa membantunya. Hingga akhirnya Kian mendapatkan apa yang dia inginkan setelah berjalan selama sepuluh menit.


Tanpa berbasa-basi Kian langsung menghampiri keempat bocah yang masih berteduh di bawah pohon di depan pemakaman umum di pinggir jalan.


"Kalian udah makan?"


Pertanyaan yang dijawab gelengan oleh mereka yang ada di sana. Dua orang anak laki-laki yang sedang duduk termenung dan seorang anak perempuan berdiri tanpa lelah. Menimang seorang bayi yang terlihat kepanasan di gendongan itu.


"Ini buat kalian. Udah siang ayo makan dulu."


Kian membagi satu per satu bungkusan itu pada tiga orang anak tersebut. Ada rasa lega melihat mereka, jujur saja setelah pertemuan hari itu membuat Kian khawatir dan terus jemu pada keempat orang anak itu. Terlebih lagi sang bayi.


Namun dengan datangnya hari ini, seolah membuat rasa itu terobati untuk beberapa saat. Aneh? Haha iya. Kian juga merasakannya. Mereka bukan siapa-siapa tapi Kian merasa khawatir dan jemu. Mungkin karena rasa kemanusiaan atau iba semata.


Mereka bertiga hanya menatap lekat makanan dan Kian secara bergantian. Bukan Kian lebih tepatnya badut yang ada di depan mereka. Memperhatikan Kian dari atas sampai bawah, mungkin terlihat aneh.

__ADS_1


"Kak Kian ya?" Celetuk seorang anak perempuan.


"Hehehe... Kok tau sih?" Kian yang sedari tadi berdiri merubah posisi berjongkok dan membuka kepala badut itu. Jujur saja rasanya sangat engap. Bahkan wajah putih itu kini sudah memerah karena hawa panas dalam badut.


"Sebenarnya kita udah perhatiin kakak dari tadi. Jalan kak Kian kan emang beda dari cewek lain. Ditambah lagi suara kak Kian."


"Hahaha... Padahal kita baru satu kali bertemu, eh kalian udah tau banget."


"Kak Kian ngapain pake kostum ini? Terus itu kakak serem mana?"


"Cari hiburan aja. Kakak serem lagi ada kerjaan."


"Beneran kak Kian ya Tar?"


"Iya Marcel. Dia kak Kian."


"Tara sama Nando kenapa liat kak Kian gitu sih? Aneh ya? Haha...." Kian tertawa renyah, walaupun sedikit canggung juga.


Tak lama anak yang bernama Nando itu memperagakan sebuah gerakan yang kemudian langsung diterjemahkan oleh seorang perempuan.


"Nando bilang kakak cantik. Walaupun terbalut sama kostum badut kak Kian tetep cantik, bahkan terlihat lucu."


Hahaha.... Kian tersenyum malu. Anak kecil gak pernah bohong ya Ki -Author


"Emang cantik banget ya Nan, Tar?"


"Iya, Marcel."


"Hehe, jadi pengen liat wajah kak Kian juga. Tapi sayangnya gak bisa." Kini bocah itu tersenyum murung.


Melihat hal itu, membuat Kian mendekat kearah Marcel dan mengarahkan kedua tangan Marcel ke depan wajahnya. Sedikit demi sedikit Marcel meraba wajah itu, mulai dari kening, alis, mata, hidung, mulut hingga kedua pipinya.


"Kak Kian emang cantik banget. Alis matanya tebel, bulu matanya juga lentik, dan hidung kak Kian yang ketarik sama kedua pipi gembul kakak bikin tambah lucu. Hahaha...."


"Marcel punya ingatan yang bagus loh kak walaupun dia gak bisa liat. Bahkan dia bisa ngebayanginnya persis dengan apa yang orang normal bisa liat."


Tidak di ragukan lagi jika soal itu, orang-orang yang spesial tentu memiliki keistimewaan seperti itu. Kian yakin setiap kekurangan yang terlihat pasti memiliki kelebihan yang tersembunyi.


14.09

__ADS_1


Pukul dua siang yang lebih sedikit, seharusnya sekarang dia sudah berada di tempat bimbel. Beberapa hari ini Kian terus melalang buana mencari pekerjaan sampingan kala cafe di renov. Menjadi badut di lampu merah dari pagi sampai siang tentu tidak akan mencukupi keperluannya.


Cukup untuk kebutuhannya, namun ia juga tidak lupa dengan masalah hutang piutangnya. Terlebih lagi pada ayahnya. Sebenarnya ia cukup beruntung bisa mengisi jadwal bimbel anak-anak sekolah dasar itu. Jika dilihat dia hanya tamatan SMA yang baru saja tamat, apakah bisa?


Namun dia tertolong karena prestasi dan banyak sekali piagam yang ia terima semasa sekolah. Dan kenapa ia bisa di terima di komunitas itu, maka jawabannya ia menjadi guru pengganti kala guru yang yang sebenarnya sedang cuti melahirkan.


Kegiatan bimbel itu di luar sekolah, yang artinya di bangun oleh komunitas itu sendiri. Kian sangat beruntung bertemu dengan para guru bimbel yang baik itu. Dan dia juga sangat bersyukur akan hal tersebut.


Tapi ada kenyataan lain yang harus di terimanya. Kejadian siang itu membuat dirinya sedikit terlambat untuk pergi kesana. Konsekuensinya adalah membuat para anak-anak itu menunggu. Sungguh Kian tak enak hati namun apa yang bisa ia perbuat.


Belum lagi angkot yang sebelumnya ia naiki malah mogok. Kini perjalanan yang biasa ia tempuh hanya sekitar sepuluh menit menjadi dua kali lipat.


It's okey Kian, hidup gak selalu mulus dan lempeng. Tetap semangat!! -Author


"Huh.. Huh... Huh... Maaf bu, Kian telat." Ucapnya diambang pintu kelas.


Tenyata, waktu yang seharusnya ia sudah masuk di gantikan dulu dengan guru lain. Agar anak-anak tak terlalu banyak main dan menunggu. Jujur saja bagi Kian yang baru pertama kali masuk dalam dunia ajar mengajar bukan hal mudah.


Memposisikan diri agar orang lain mengerti, dan memahami masalah yang di emban masing-masing anak dalam belajar itu bukan lah hal mudah menurutnya. Pemahaman setiap anak yang berbeda itu juga menjadi bahan pertimbangan Kian untuk memikirkan metode apa yang bisa ia gunakan agar semua anak bisa paham dan mengerti.


Sebab pada dasarnya anak-anak mengambil jalan menambah jam belajar karena mereka kurang memahami materi sekolah. Bagi Kian sendiri ia memang sangat memerlukan uang, namun uang bukan lagi menjadi tujuan utamanya kala apa yang ia lakukan menjadi sia-sia untuk anak-anak tersebut.


Dalam kelas itu memang tak terlalu banyak anak. Kian hanya mengajar sekitar dua puluh lima orang anak dengan waktu empat jam yang di bagi menjadi dua kelas. Cukup menguras energi bagi ia yang tak sesehat dulu.


"Tidak apa, yang penting kau sudah datang. Baiklah kalau begitu silahkan kelas kamu ambil alih ya Kian. Saya pergi dulu." Seorang guru, yang memang bertitel sarjana pendidikan itu berucap. Bisa dibilang dia yang merupakan ketua dari komunitas bimbel yang sedang Kian jalani sekarang. Seorang perempuan yang lemah lembut tutur bahasanya, cantik parasnya, dan tentu saja baik pula orangnya.


Sungguh beruntung kamu Kian....


.


.


.


.


.


#tbc

__ADS_1


__ADS_2