Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#43


__ADS_3

Selesai makan Kian dan Gio duduk di ruang tv.


"Gio, gak ada tugas?"


"Ada kak." masih sibuk ngemil dan menonton film kesukaannya di samping Kian.


"Udah dikerjain?" tanya Kian yang dijawab gelengan kepala oleh Gio.


"Loh kenapa?"


Karena merasa terusik dengan pertanyaan dari Kian sehingga membuatnya tidak fokus menonton, Gio pun menoleh ke arah Kian dengan tatapan kesal.


"Males kak. Bu guru bilang, sesuatu yang bikin sakit harus dijauhi."


"Lah apa hubungannya Gio??"


"Ada dong. Setiap kali Gio liat soalnya, mata Gio mendadak gabur terus kayak muncul burung burung berputar gitu di atas kepala Gio. Jadi ya udah dari pada Gio sakit liat soalnya mending jangan dikerjain." ucapnya gampang.


"Gioooooo..... Ayo cepet kerjain tugasnya. Gimana mau pinter kalo belajar aja masih males. Ayo ambil bukunya." paksa Kian.


"Yah... Kak Kian gak asik ah." cemberutnya.


"Heh... Gio gak inget pesan terakhir mama apa?" Tanya Kian, yang membuat Gio nampak berfikir. Dan tanpa sengaja air matanya keluar.


"Mama bilang harus rajin belajar supaya pinter dan sukses. Hiks... hiks..."


"Nah, tuh tau. Jangan nangis lagi ya. Ntar mama sedih kalo liat Gio kayak gini. Mending sekarang kita belajar. Supaya buat mama bangga." ucap Kian yang mengusap air mata Gio dan menuntunnya ke kamar untuk mengambil bukunya.


Sore itu pun mereka habiskan untuk belajar bersama. Kian yang menjelaskan dengan perlahan agar anak itu tidak terlalu pusing. Dan akhirnya bisa mengerjakan soal itu sendiri.


Tak terasa malam pun tiba. Gio yang sudah mandi dan makan kembali ke ruang Tv untuk menunggu kakaknya.


"Kak Kian, kok kakak pulangnya lama ya? Apa dia lupa sama Gio?"


Tanpa dipungkiri Kian juga merasa cemas sebenarnya, namun tak mau terlihat oleh Gio.


"Ohh gak mungkin Gio. Mungkin kakak lagi lembur aja. Makanya pulangnya malam. Kalo lembur uangnya bakal lebih banyak loh." Kian yang berusaha memberikan pengertian terhadap Gio.


Gio yang saat ini duduk di pangkuan Kian sambil menonton.

__ADS_1


"Oh ya. Tapi Gio gak perlu uang banyak kak. Gio cuma mau kakak selalu ada waktu buat Gio aja. Lagi pula uang banyak yang kakak simpan di kamar kak Kavin itu buat apa? Uang sebanyak itu bisa untuk biaya seumur hidup. Untuk apa lagi bekerja?"


"Em... uang itu memang banyak. Namun untuk biaya seumur hidup tidak mungkin Gio. Biaya hidup itu mahal loh."


"Mahal? Memang seberapa mahal? Apakah tanpa uang kita gak bisa hidup? Lalu apakah ada sesuatu yang dengan uang tidak akan pernah bisa di beli?"


Kian benar benar mati kutu rasanya menjelaskan semua pertanyaan yang Gio lontarkan. Entah kenapa semuanya sangat komplit membuatnya tak bisa merangkai kalimat lagi untuk menjawab.


"Begini, Gio makan bukan? Nah bahan makanan itu kan harus di beli dulu. Lalu Gio sekolah? pasti juga membayar uang setiap bulan bukan?" Semua pertanyaan itu diangguki oleh Gio.


"Namun walaupun begitu tidak semua hal dalam kehidupan itu menggunakan uang. Ada yang tidak bisa di beli dengan uang."


"Apa itu?"


"Kasih sayang Gio. Menyayangi seseorang tidak harus dengan uang. Sama seperti Gio yang sayang sama kakak Kavin."


"Sama mama juga?"


"Iya. Sama mama juga."


Obrolan itu terus berlanjut hingga Gio terlelap di pelukan Kian.


Kian yang keluar dari kamar Gio dan menoleh ke jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Namun Devan belum juga pulang. Ia ingin segera pulang takut ayah dan bundanya pulang dadakan seperti waktu itu. Tapi ia juga tak tega meninggalkan Gio sendirian di rumah selarut ini.


Kian mondar mandir, kesana kemari menunggu Devan namun tak kunjung pulang juga. Ia bahkan menelpon serta mengirim pesan pada Devan namun tak satu pun di jawab oleh Devan.


Kian berusaha tenang dan duduk di sofa itu. Walaupun dengan rasa khawatir ia juga tak bisa meninggalkan Gio demi mencari Devan.


Hingga akhirnya ia tak sadar tertidur di sofa.


Tok....tok.....tok.....


Suara pintu itu membuat Kian terbangun dan segera membukanya. Namun ketika di buka ia malah melihat tampang yang begitu urakan bahkan ada seseorang lagi yang tak ia kenal.


"Loh Devan kenapa?" tanya Kian.


"Biasa, Devan kalo lagi banyak pikiran suka mabok dan ujung ujungnya berantem."


"Tolongin gw bawa dia masuk ke kamar ya."

__ADS_1


Kian menuntun orang tersebut masuk ke kamar Devan.


Setelah selesai Kian mengucapkan terima kasih padanya.


"Terima kasih sudah anter Devan pulang. Dan maaf sudah merepotkan." ucap Kian


"Santai aja. Lo siapa nya Devan? Perasaan gw gak pernah liat lo di sini?"


"Oh iya, gw Kian temennya Devan. Dan lo?"


"Gw Mikko Gabinno sahabat Devan. Dan partner balap dia juga."


"Maksudnya?"


Mikko menjelaskan siapa dirinya pada Kian. Bagaimana ia kenal dengan Devan dan alasan apa yang membuat ia bersahabat dengan Devan. Bahkan ia menceritakan kejadian beberapa hari lalu pada Kian mengenai Devan dan motornya.


"Ouh... Pantes aja waktu mama lagi di rumah sakit Devan bawa uang banyak banget."


"Iya. Itu hasil jual motornya sama ketua geng balap. Dia bilang mamanya udah butuh banget tuh duit buat operasinya. Oh ya gimana keadaan tante Zanna sekarang? Gio juga mana? Tadi gw denger Devan nyebut nyebut nama tante Zanna dan Gio. Cuma gw gak ngerti. Tuh bocah kalo lagi ada mabok ya gitu suka ngelantur. Emang Devan punya masalah apa Ki?"


"Huh... Devan gak cerita ke elo Mik? Mama Zanna udah meninggal beberapa hari lalu. Kalo Gio, dia udah tidur di kamarnya."


"Ha? innalillahi. Gila si Devan tega banget sama gw. Dia gak bilang apa apa sama gw Ki. Pantes aja beberapa hari lalu dia gak keliatan batang hidungnya. Sumpah gw bener bener gak tau Ki. Pantes dia mabok hari ini."


"Dan gw pikir waktu bawa uang itu dia udah...."


"Belum sempat operasi Mik. Mama Zanna lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya." ucap Kian yang matanya sudah berkaca.


"Gw turut berduka Ki. Maaf gw gak pergi. Gw bener bener gak tau soal itu."


"Iya." ucap Kian dengan senyum paksa.


"Oh ya ini udah malem. Gw pulang dulu."


"Iya. Sekali lagi Thanks ya."


Mikko keluar dari rumah Devan dan langsung pulang. Kian kembali ke kamar Devan. Membenarkan Devan yang tertidur. Melepas kedua sepatunya dan menyelimutinya.


Kian yang sudah di luar kamar, melihat kembali jam dinding yang ada di sana. Yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Kian ingin pulang namun sudah larut. Tapi jika ia tidak pulang ia khawatir orang tuanya akan pulang malam ini. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bermalam di sana. Ia tidur di sofa ruang tamu tanpa selimut.

__ADS_1


__ADS_2